Arsip untuk Februari, 2012

Bicara angkutan umum, khususnya angkot, kadang bicara masalah kreativitas. Meskipun sudah diseragamkan melalui warna, tulisan maupun seragam sopirnya, kayaknya susah membendung nafsu kreatif. Angkot itu lebih ‘personal’ dibandingkan dengan angkutan umum lain yang tersistem seperti KRL atau Busway. Ini karena kebanyakan angkot dimiliki oleh individu, jadi masalahnya kemudian kembali ke individu masing-masing.

Contohnya angkot D-02 jurusan Ciputat – Pondok Labu yang terkenal karena pernah menjadi lokasi pemerkosaan.

Angkot Gaul D-02 (viva news.com)

Tampak penampilannya ‘gaul’, layaknya mobil pribadi yang dimiliki anak muda. Atau dalam angkot S-16 jurusan Pondok Labu-Depok yang interiornya ditambahi sound system yang menggelegar.

Sound System

Kelihatan lebih sangar dan berbeda dengan angkot lainnya.

Tapi…. coba dipikir lagi. Apa nilai tambahnya bagi penumpang? yang kemudian timbul justru kesulitan bagi penumpangnya. Misalnya calon penumpang yang akan menumpang bisa jadi ‘pangling’ alias kebingungan dengan penampilannya yang ‘nyleneh’. Umumnya orang mencegat angkot berdasarkan warna, karena itu yang paling mudah dilihat dari jauh. Baru kemudian kode jurusannya. Kalau penampilannya berwarna-warni seperti pelangi mungkin cuma orang buta warna saja yang tidak terlalu terpengaruh.

Kemudian sound system yang ada dalam angkot, yang saya rasakan sebagai penumpang malah kesempitan. Karena bangku penumpang termakan tempat sound system. Suara musik yang menggelegar juga membuat penumpang mesti teriak-teriak kalau mau turun, kalah dengan suara dari loud speaker. Lagi pula juga bikin pekak telinga, karena pas di tempat penumpang. Jadi kreatifnya itu lebih banyak ke selera sopir/pemiliknya, bukan selera penumpang.

Kreativitas  angkot juga nggak sebatas itu. Masalah trayek, juga sering ‘kreatif’, seperti sering melewati jalur alternatif (nggak lewat trayeknya) lebih-lebih kalau macet. Atau sering nggak sampe tujuan karena penumpang sepi. Bahkan kalau malam, sering ada angkot siluman yang berkeliaran mengangkut penumpang di luar trayek resminya.

Cuma ada yang gak kreatif… Dimana-mana angkot sama saja; suka ngetem. Juga bangkunya selalu diisi berdasarkan kuantitas, bukan bobot penumpang (nggak peduli penumpangnya segajah-gajah, selalu diisi 6 dan 4 orang).

Bagi pengguna angkutan umum, berjalan kaki sudah hampir pasti dijalani. Serupa dengan nasib angkutan umum, begitu pula dengan fasilitas bagi pejalan kaki/pedestrian. Pengalaman saya berjalan kaki di Jakarta seakan-akan tidak punya teman. Seakan terasing terkepung ribuan kendaraan yang ada.

Kemarin, saya mencoba berjalan kaki dari Stasiun Cawang menuju Bidakara, Pancoran. Jarak saya ukur hanya 2,5 kilometer, sehingga saya memutuskan berjalan kaki daripada menyeberang jalan, naik bis lalu menyeberang lagi, karena posisi Pancoran memang arah arusnya berlawanan bila dari Stasiun Cawang.

Start, Stasiun Cawang

Naik KRL dari Depok, lancar dan tidak terlalu penuh, meskipun jam sibuk sekitar jam 7.45 pagi. Menyeberang rel untuk keluar kesisi seberang stasiun, kemudian menyisir jalan ke arah utara. Karena saya tidak naik busway, jadi tidak perlu menyeberang dibawah fly over.

Trotoar memang masih relatif layak digunakan, tidak ada pedagang kaki lima maupun kendaraan yang parkir. Namun sayang ada pot-pot besar yang menempati trotoar.

Pot penjajah trotoar

Selebihnya tidak ada pengganggu yang signifikan selain trotoar yang berlubang-lubang (tapi awas bawahnya got) dan tidak rata.

Fasilitas umum pun tersedia, seperti telepon umum, kelihatannya gak ada yang pakai, entah masih berfungsi apa nggak. Tapi sekilas terlihat masih terawat. Di era semua orang bawa hape ini, keberadaan telepon umum membuat saya terkagum-kagum. Jadi teringat nostalgia semasa sekolah dulu … ha…ha…ha…ha…

telepon umum yang kesepian

Tapi jangan puas dulu, mendekati tugu pancoran, trotoar menghilang, dan pejalan kaki harus ‘turun jalan aspal’. Untungnya, karena melawan arah, jadi kita bisa melihat kendaraan yang datang, sehingga kejadian seperti ditabrak Xenia di Tugu Tani bisa lebih diantisipasi.

Pedestrian turun jalan

Hambatan terbesar adalah Perempatan di Tugu Pancoran itu. Jalannya luas, banyak jalur dan lalu lintasnya ramai sekali, bahkan ketika lampu merah banyak yang menetap di zebra cross. Jadi pejalan kaki harus zigzag melewati kendaraan yang ada.

aspal tugu pancoran

Perjalanan kaki ditempuh hampir setengah jam. Lumayan, sampe di Bidakara jam 9, jadi total sekitar satu jam dari Depok. Lumayan juga khan waktunya, bandingkan kalau naik mobil pribadi.