Bicara angkutan umum, khususnya angkot, kadang bicara masalah kreativitas. Meskipun sudah diseragamkan melalui warna, tulisan maupun seragam sopirnya, kayaknya susah membendung nafsu kreatif. Angkot itu lebih ‘personal’ dibandingkan dengan angkutan umum lain yang tersistem seperti KRL atau Busway. Ini karena kebanyakan angkot dimiliki oleh individu, jadi masalahnya kemudian kembali ke individu masing-masing.

Contohnya angkot D-02 jurusan Ciputat – Pondok Labu yang terkenal karena pernah menjadi lokasi pemerkosaan.

Angkot Gaul D-02 (viva news.com)

Tampak penampilannya ‘gaul’, layaknya mobil pribadi yang dimiliki anak muda. Atau dalam angkot S-16 jurusan Pondok Labu-Depok yang interiornya ditambahi sound system yang menggelegar.

Sound System

Kelihatan lebih sangar dan berbeda dengan angkot lainnya.

Tapi…. coba dipikir lagi. Apa nilai tambahnya bagi penumpang? yang kemudian timbul justru kesulitan bagi penumpangnya. Misalnya calon penumpang yang akan menumpang bisa jadi ‘pangling’ alias kebingungan dengan penampilannya yang ‘nyleneh’. Umumnya orang mencegat angkot berdasarkan warna, karena itu yang paling mudah dilihat dari jauh. Baru kemudian kode jurusannya. Kalau penampilannya berwarna-warni seperti pelangi mungkin cuma orang buta warna saja yang tidak terlalu terpengaruh.

Kemudian sound system yang ada dalam angkot, yang saya rasakan sebagai penumpang malah kesempitan. Karena bangku penumpang termakan tempat sound system. Suara musik yang menggelegar juga membuat penumpang mesti teriak-teriak kalau mau turun, kalah dengan suara dari loud speaker. Lagi pula juga bikin pekak telinga, karena pas di tempat penumpang. Jadi kreatifnya itu lebih banyak ke selera sopir/pemiliknya, bukan selera penumpang.

Kreativitas  angkot juga nggak sebatas itu. Masalah trayek, juga sering ‘kreatif’, seperti sering melewati jalur alternatif (nggak lewat trayeknya) lebih-lebih kalau macet. Atau sering nggak sampe tujuan karena penumpang sepi. Bahkan kalau malam, sering ada angkot siluman yang berkeliaran mengangkut penumpang di luar trayek resminya.

Cuma ada yang gak kreatif… Dimana-mana angkot sama saja; suka ngetem. Juga bangkunya selalu diisi berdasarkan kuantitas, bukan bobot penumpang (nggak peduli penumpangnya segajah-gajah, selalu diisi 6 dan 4 orang).

Komentar
  1. imaapriany mengatakan:

    angkot 117 jurusan stasiun bojonggede-tonjong yang sering saya naikin juga beberapa ada yang pakai sound system ini.
    yang saya perhatikan rata-rata spek angkotnya yang lebih bagus dari yang lain, bikin penumpang jadi nyaman. si sopirnya juga entah kenapa enggak pernah memaksakan penumpang untuk berjubel/ mengharuskan 7 orang orang baris panjang dan 5 orang baris pendek. Gaul abis lah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s