Anak sekolah bagi angkutan umum kadang menimbulkan dilema. Angkutan umum ini terutama angkutan yang dikelola oleh swasta, seperti angkot dan bis kota.

menunggu....

Disaat jam sibuk, anak sekolah cenderung dinomorduakan, dibanding dengan penumpang umum lainnya. Ya… jawabnya berawal dari masalah uang. Ongkos anak sekolah ditetapkan pemerintah (atau praktek yang berlaku umum) lebih murah daripada penumpang umum.

Sebenarnya kelihatannya kebijakan untuk memberikan dispensasi untuk anak sekolah. Itung-itung mensukseskan pendidikan, membantu transportasi untuk ke sekolah. Tapi …. kelihatannya ada yang nggak fair disini. Contohnya, bagi sopir angkut, tentunya mereka juga mempunyai hitungan mengenai pendapatan dan biaya mereka. Kalo pemerintah membuat kebijakan ongkos angkutan bagi anak sekolah yang lebih murah, jelas pendapatan sang sopir angkot bisa berkurang. Apakah pemerintah juga memberikan subsidi bagi sopir angkot bila mengangkut anak sekolah? Padahal anak sekolah juga menempati ruang tempat duduk yang sama, dan beban tubuh yang membebani angkutan juga relatif sama.

saling menunggu?

Makanya akhirnya ada ‘kebijakan’ tersendiri yang juga diterapkan sopir angkot. Pengalaman saya, angkot S16 yang ngetem (sampai penuh) di Pondok Labu menuju Depok tidak mau bila lebih dari 3 anak sekolah dalam satu angkot. Mungkin cost structure mereka sudah menghitung sedemikian. Akhirnya, anak sekolah juga membuat ‘kebijakan’ sendiri, seperti mereka sering ‘tahu diri’, tidak duduk di tempat duduk, melainkan nggandol (bergelantungan) di pintu, terutama ketika penumpang penuh. Akhirnya… masalah keselamatan pun punya ‘kebijakan’ juga. Akhirnya jadi serba salah. Mau tidak diangkut, selain kasihan, juga meskipun lebih murah, namanya juga duit. Bagi para pelajar juga kalo nggak nggandol, lama berangkat atau pulangnya, bisa-bisa terlambat atau kemalaman malah kehabisan angkot.

Kalau dipikir lebih jauh, apakah angkutan umum yang terafiliasi pemerintah, seperti Busway, Kereta Api dan KRL juga menerapkan kebijakan pembedaan tiket untuk penumpang umum dan anak sekolah? Hmm… saya tidak melihat hal itu. Jadi seakan-akan (atau memang benar adanya) pemerintah melemparkan permasalahan ke pihak lain, dalam hal ini sektor angkutan swasta. Sementara tidak ada itu yang namanya subsidi. Walah… ini namanya membunuh angkutan umum swasta pelan-pelan. Makanya mereka jadi ganas dijalan (he..he.. pembenaran ini namanya).

Tapi, biarpun dihindari pada saat penumpang umum penuh, anak sekolah tetap dirindukan oleh angkutan umum. Karena mereka penumpang rutin dan massal. Meskipun bayarnya murah, namanya juga duit. Apalagi para pekerja sekarang sudah banyak yang beralih ke kendaraan pribadi. Pendapatan makin seret. Kalau nggak percaya, coba lihat di sekolah seputaran waktu bubaran, pasti banyak angkutan umum ngetem disana. Meskipun banyak dan murah, seperti ikan teri, namanya rezeki tetap saja nikmat.

Posted from WordPress for Android

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s