Sejak kenaikan BBM bersubsidi dibatalkan (atau ditunda) per 1 April 2012, Pertamax makin nggak laku, karena perbedaan harganya terlalu jauh dengan premium. Sekarang harga Pertamax saja lebih dari dua kali lipat harga Premium. Jadi makin sedikitlah orang mau beli Pertamax.

Akhirnya pemerintah cuma bisa ‘menghimbau’ dan ‘mengingatkan’. Bahwa BBM bersubsidi untuk golongan tidak mampu (tapi nggak jelas semua apa batas ketidakmampuan itu).

Akhirnya… suka-suka lah. Yang mau beli Pertamax silakan, yang beli Premium juga nggak dilarang. Meskipun saya cuma sepeda motor, tapi saya selalu beli Pertamax, karena saya masih mampu (dan nggak mau antri). Banyak yang memprediksi Premium akan menjadi langka. Namun kenyataan yang saya alami, malah Pertamax yang seringkali hilang. Misalnya di SPBU di Jalan Pramuka, Depok, dan SPBU di Jalan Pitara, Depok serta SPBU di Karang Tengah Raya, Jaksel. Saya seringkali ‘gagal’ merasa mampu, karena Pertamax habis. Akhirnya saya terpaksa beli Premium. Lha gimana lagi, Pertamax akhirnya jadi persediaan slow moving. Jadi ordernya pun nggak seketat Premium.

Saya heran kenapa masalah harga jadi acuan dalam mengendalikan BBM bersubsidi. Padahal nggak semua orang peduli harga. Kenapa yang dibuat Pertamina (dan pemerintah) selalu promosi negatif, agar tidak menggunakan BBM bersubsidi. Bukannya Pertamaxnya yang dipromosikan secara positif. Akhirnya orang berpikiran bahwa BBM bersubsidi dengan BBM non Subsidi adalah barang yang sama, namun beda harga. Lha kalau untuk Premium vs Pertamax, tidak bisa disamakan, karena ada perbedaan spek produknya, dimana Pertamax sebenarnya lebih baik daripada Premium.

Dengan promosi/kampanye negatif seperti itu, dalam pikiran orang justru makin tertanam kata-kata BBM bersubsidi. Jadinya muncul anggapan hanya orang teler yang mau beli Pertamax. Jadi makin kering saja itu keran Pertamax.

Promosi untuk Pertamax kayaknya nggak ada. Hanya di struknya ditulis jargon “Premium untuk golongan tidak mampu” dan ucapan terimakasih. Cukup itulah, untuk produk yang harganya lebih dari dua kali lipat dari Premium.

struk pertamax

Saya jadi jengah… kenapa sih kok orang yang beli Pertamax jadi kayaknya tidak dihargai. Bukannya minta penghargaan, tapi manusia wajar minta pamrih. Contohnya orang menyumbang saja dipromosikan di koran, ” Si X, PT Y, menyumbang bla..bla..bla… sebesar Rp zzzz”. Atau misalnya di kendaraan-kendaraan tertempel stiker “Save Earth” misalnya, karena telah menjadi donatur yayasan pecinta lingkungan.

Nggak usah jauh-jauh, Shell saja sering kasih undian atau cuma berikan sekaleng Coca-cola karena beli produknya. Kenapa sih pemerintah atau Pertamina nggak lebih galak lagi promosikan Pertamax. Produk yang sama (atau bahkan lebih jelek pun) kalau promosinya bagus, bisa lebih laris di pasaran.

Yang perlu dibidik adalah golongan “menengah ke atas” atau golongan yang (merasa) mampu, dimana harga bukan masalah yang terlalu sensitif, namun lebih sensitif masalah kualitas dan prestise. Yang perlu dibangkitkan adalah kebanggaan memakai Pertamax. Misalnya kasih saja merchandise tiap kali beli Pertamax X liter, atau mendapat kupon yang bisa ditukarkan secara akumulasi, atau yah…. stikerlah, daripada struk ucapan terimakasih (yang kadang-kadang printernya habis tinta pula). Harga untuk penghargaan bagi yang mau pakai Pertamax pasti jauh lebih murah daripada subsidi BBM.

Kalau mau, sewa sajalah tim promosi yang terbaik di dunia untuk promosikan Pertamax. Efeknya saya yakin juga lebih murah daripada subsidi BBM yang nggak tepat. Kalau promosinya gencar, Pertamax bisa jadi tren, tren kesadaran bagi golongan mampu, mampu secara finansial dan mampu berempati. Kalau sudah jadi tren di Indonesia… wah, masalah harga sudah tidak sensitif lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s