Arsip untuk Juli, 2012

Seperti perang, siapa yang mengenal medan lebih baik, dia akan menang. Informasi yang sering dibutuhkan bagi pengguna angkutan umum adalah jalur yang dilalui angkutan umum, jadwal, dan apa moda yang dipilih. Sekarang Google map menyediakan fasilitas yang memudahkan pengguna angkutan umum.

Misalnya, kalo kita dari Slipi, kita bisa melihat apa saja angkutan (bis) yang melewati halte disana, sekaligus jadwalnya.

Halte di Slipi di Google Map

Coba klik saja halte (icon bertanda bis), dan muncul informasi seperti diatas. Jika kita klik lagi kode bis yang ada, maka akan muncul jadwalnya.

jadwal bis di Google Maps

Ok bukan? bukan….

Sekilas memang sangat membantu, tapi harap diingat, bahwa informasi diatas kurang valid. Banyak bis yang tidak tercantum dalam informasi tersebut, bahkan juga banyak bis ‘fiktif’, entah informasinya salah atau bis itu telah tidak lagi beroperasi. Belum lagi masalah jadwal, maupun halte yang ada. Sebab sangat susah untuk melakukan pemutakhiran dan validasi data  dalam kesemrawutan angkutan umum di Jakarta. Namun setidaknya usaha Google ini bisa membantu, namun di lapangan, kita yang harus aktif mencari tahu sendiri dengan banyak bertanya, kalau perlu crosscheck dengan banyak orang karena informasi juga sering salah.

Untuk halte busway, lebih valid karena sumbernya mengacu pada pengelola transjakarta, disamping transjakarta sendiri sudah tersistem. Namun untuk tampilan lebih bagus di program Aplikasi Android, Komutta, yang menampilkan track dan halte busway di google maps.

Upaya Komutta sudah mendekati informasi angkutan di Singapura.

informasi jalur dan track di publictrans.sg

Kapan ya… kita punya transportasi umum seperti negara jiran itu? Bukan sekadar informasi mengenai angkutan umum, namun penerapan sistem angkutan umumnya… wahhh… mimpi kali yeeee…

Amuk massa di jalan tol karena penutupan terminal (bayangan) Jatibening pada hari Jumat di minggu pertama puasa kemarin akhirnya mengurungkan usaha pengelola jalan tol untuk menutup terminal Jatibening.

image

Kejadian ini membuat saya berpikir, bahwa memang jalan tol didesain untuk kendaraan pribadi. Tak ada desain yang memungkinkan pengguna transportasi umum untuk transit dalam ruas tol. Namun kenyataannya, banyak bis kota (kalo di jabodetabek sih sudah antar provinsi) yang melalui jalan tol, misalnya ke Bekasi atau Cikarang. Tidak semua penumpangnya penumpang ‘batu’, dari ujung ke ujung. Banyak yang harus berpindah jurusan.

Keputusan bis penumpang umum untuk lewat tol juga logis, untuk mempersingkat waktu (artinya junlah tripnya meningkat) daripada bermacet-macet ria. Umumnya bis yang masuk tol adalah bis-bis yang jarak panjang, meliputi areal komuter di Depok, Bogor, Tangerang, Bekasi, sampai yang benar-benar bis antarkota. Tentunya tak efektif bila bis tersebut keluar-masuk tol untuk menaik-turunkan sejumlah penumpang, karena keluar dan masuk pintu tol memerlukan perjuangan terutama di jam sibuk, selain juga berat di ongkos.

image

Akhirnya setelah aksi bakar-bakaran, baru terpikir untuk mengakomodasi masyarakat penumpang umum untuk transit di tol. Menurut saya sih… amuk massa di Jatibening itu harusnya lebih dipandang sebagai tuntutan agar pengguna angkutan umum jugai berhak mendapat fasilitas di jalan tol. Selama ini di jalan tol dibuat rest area, pompa bensin, restoran dll, tapi tak ada tempat bagi penumpang umum untuk transit.
Namun fasilitas transit itu juga harusnya dibuat sistem yang baik dan ditertibkan agar tak mengganggu jalannya arus di tol. Sebab sudah jadi kebiasaan kalo yang namanya terminal di Jabodetabek identik dengan kesemrawutan dan kemacetan. Dan pastinya juga dibuat atau disesuaikan dengan dasar hukum yang ada.
Sebab, sungguh tak adil bila lancarnya tol tak bisa dinikmati penumpang umum.

Posted from WordPress for Android

JPO atau singkatan sebenarnya jembatan penyeberangan orang, memang prakteknya bisa ‘serba guna’. Karena memang fungsinya bisa lebih dari menyeberangkan orang saja. Orang Indonesia memang kreatif, sepertinya gak rela kalau ada prasarana kok cuma ‘menguntungkan’ salah satu pihak saja (apalagi pihak itu pejalan kaki yang sewajarnya selalu minggir).

image

Kejadian ini saya alami sendiri di JPO sekitar Gelora Bung Karno, yang juga merupakan JPO menuju halte busway. Tiba-tiba saja ketika di tengah jembatan, dari arah belakang melaju sepeda motor yang dikendarai 2 orang berboncengan. Perilaku mereka tampaknya sudah pernah melakukan hal itu disitu, karena tampak terbiasa. Meskipun sempat terjepit di tikungan JPO yang memang dibuat banyak karena melandai, akhirnya biker itu berhasil melakukan misi penyeberangan.

image

Hebat banget mental biker itu, sangat cool ditengah tatapan mata para penyeberang jalan dan asongan yang menggelar dagangan di JPO. Pejalan kaki akhirnya minggir, terjepit antara asongan, pengemis, biker ‘cool’ dan besi pagar jembatan. Tadinya saya pikir kenapa JPO itu tidak diberikan besi saja di tengah agar tak ada ruang gerak bagi sepeda motor. Tapi saya jadi ingat kalo JPO yang dibuat melandai tanpa anak tangga itu agar penyandang cacat juga bisa mempergunakannya.

Jadinya para pejalan kaki menjadi pihak yang tertindas di rumah sendiri. Sedikit saja ada ruang gerak yang memungkinkan, pasti dimasuki para penindas seperti biker ‘cool’, pengemis dan asongan. Bahkan saya yakin kalau JPO itu lebih lebar lagi, bisa-bisa muncul mobil ‘cool’ juga. Maka tak heran usia JPO jadi lebih pendek, seperti lantai-lantainya jadi sering lepas. Kalau gini bisa-bisa dituduh korupsi di pengerjaan atau perawatannya, padahal ada juga faktor penggunaan diluar kewajaran desainnya.

Sebagai pihak yang tertindas sementara ini hanya bisa berdoa. Jangan khawatir, doa orang teraniaya itu meskipun lirih di dunia, namun nyaring terdengar Tuhan.

Posted from WordPress for Android

Setelah ‘sukses’ meluncurkan Kopaja AC S-13, Kopaja resmi meluncurkan 30 bus baru dengan AC, GPS, wi-fi, kartu pembayaran elektronik, layanan SMS khusus untuk kedatangan bus, dan tripod barrier pada pintu masuk, pada 5 Juli 2012. Kalo ada yang tanya buat apa GPS itu, apa sopirnya nggak hapal jalan? Oh, ternyata GPS itu untuk mengontrol jalur dan kecepatan kendaraan akan dikontrol. Dengan sistem dualcontrol, kendaraan yang melanggar aturan kecepatan maupun keluar jalur bisa dihentikan, mesinnya dimatikan dari pusat kontrol. Wah… ini baru berita.. misalnya saja kurang koordinasi dengan kantor pusat karena ada pengalihan arus…. mesin dimatikan, he..he..he..

Bus-bus baru tersebut akan melayani rute P-19 (Ragunan-Tanah Abang) dan P-20 (Lebak Bulus-Senen). Jalur ini terkenal ramai, dengan jumlah armada yang relatif banyak. Tentunya dengan fasilitas yang ada, harganya tidak bisa disamakan dengan yang biasa. Rencananya tarif akan dipatok Rp 5.000, meskipun kemungkinan (besar) bisa dinaikkan menjadi Rp 7.000.

Sepanjang pengalaman saya naik S-13, Kopaja AC itu tak pernah sampai kepenuhan. Berhentinya sama saja seperti kopaja lainnya, hanya ‘kelakuannya’ lebih tenang dari Kopaja biasa. Tripod barrier juga tidak berfungsi maksimal, malah saya sering kecantol (banyak yang kemudian ditiadakan keberadaannya).

Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya disini, memang Kopaja AC tidak menawarkan kecepatan atau berkurangnya waktu tempuh, namun memilih ‘berkompromi’ agar lebih nyaman ‘menikmati’ kemacetan yang ada.

cafe bus (gambar dari okinawahai)

Saya jadi punya ide, gimana kalo membuat bus kota seperti Kopaja menjadi seperti cafe berjalan yang lengkap? jadi daripada nunggu macet di cafe-cafe di mall, mendingan sekalian ngafe sambil pulang. Masalah tarif… gak masalah… kan ini cafe…

Mumpung masih liburan, saya mau cerita tentang berlibur ke Yogyakarta. Kota ini menarik untuk dikunjungi. Lokasinya strategis, mudah dicapai dari Surabaya maupun Jakarta. Kota ini juga nyaris berdampingan dengan kota Solo. Banyak angkutan menuju Yogya, misalnya kereta api (ini angkutan favorit, jadi sering kehabisan waktu liburan).

Contohnya KA Eksekutif dari Stasiun Gambir meliputi Bima, Gajayana, Taksaka malam dan Argolawu. Kalau dari Pasarsenen tujuan Tugu, ada KA bisnis Senja Utama Yogya dan Senja Utama Solo, serta KA Ekonomi Bogowonto yang ber-AC.  Dari Stasiun Gubeng Surabaya, bisa ditempuh dengan KA Bima, Turangga dan Mutiara Selatan. Dari Bandung  ditempuh dengan Turangga, Mutiara Selatan dan Lodaya Malam.

Yogyakarta sebenarnya terlalu banyak untuk bisa diceritakan dalam blog ini. Jadi saya tulis saja yang saya tahu. Saya kemarin naik KA bisnis Senja Utama Yogya, yang tepat waktu sampai Yogyakarta (sekitar jam 5 pagi). Karena saya menginap di Hotel Grand Quality, jadi ada fasilitas penjemputan free. Saya kaget juga karena dijemput pakai Toyota Alphard (jadi baru pertama kali itu saya naik Alphard).

KA Senja Utama Yogyakarta, tak bisa tidur karena “diserang” para asongan

Masalah hotel, jangan khawatir, karena banyak sekali mulai dari bintang lima sampai losmen. Cuma di musim liburan sebaiknya booking dulu karena banyak yang penuh. Saya pesan online direct langsung dan satunya lewat Agoda.

Trans Jogja melintas Tugu

Masalah transportasi… gak masalah cari yang murah dan gak bisa dibohongi. Ada Trans Jogja. Saya lihat jurusannya sudah bisa kemana-mana. Kalo nggak sampai tujuan, bisa tanya mana lokasi terdekat, terus oper apa. Contohnya saya mau ke Borobudur, dijelaskan oper dimana dan naik apa. Kalau mau lebih cepat atau nyaman, bisa naik taksi. Tapi hati-hati, ada yang nggak pakai argo. Kalo mau lebih lancar, bisa sewa mobil, kisarannya antara Rp 300 ribu – Rp 500 ribu.

Info mengenai Yogyakarta secara lebih lebih lengkap, contohnya di http://gudeg.net/id/index.html. Kalau di android malah ada aplikasi Jogjatik, meskipun tak selengkap di internet.

Masalah tujuan wisata… wah banyak banget. Mau yang natural, seperti Pantai, banyak, seperti Parangtritis, Depok dan lain-lain. Ada juga wisata gunung Merapi, yang tetap eksotik biarpun disaat ngamuk atau tenang. Mau yang candi, ada Prambanan dan Borobudur. Ada juga yang bernuansa edukasi, seperti rumah pintar, yang tarifnya cuma Rp 8.000. Apalagi yang bernuansa tradisional… banyak sekali. Saya malah cukup naik becak keliling Malioboro, Tugu, sampai Keraton.

Saya menikmati ngobrol dengan tukang becak atau sopir taksi, yang bisa menjadi guide. Namun memang harus diperjelas dulu keinginan kita. Misalnya mau makan dimana (karena tergantung selera dan kocek), mau kemana, harganya berapa. Saya tetap pakai argometer untuk taksi. Lalu selebihnya saya kasih tips karena puas dengan jasa guidenya.

Naik Becak keliling (pusat) Jokja

Bahkan seandainya Yogyakarta belum cukup memuaskan dahaga, mau ke Solo juga dekat, naik Kereta Prameks atau Bis juga sekitar 1 jam.

Nah, pesan saya …. jangan lupa pulang. Angkutan pulang pun bisa penuh sesak dimusim liburan gini.