Kebijakan angkutan umum terkesan sepotong-sepotong dan eksklusif alias tidak melibatkan banyak pihak (yang berkepentingan). Contohnya? banyak, misalnya untuk Bandara Internasional Sukarno Hatta (CGK), hanya dilayani oleh Bis Damri. Memang ada taksi, namun taksi bukan jenis angkutan umum massal, yang imbasnya bisa lebih high cost dibanding kendaraan pribadi. Akses KRL bandara masih sekadar wacana. Padahal arus transit di Bandara CGK saya pikir sudah sangat padat. Contoh lain seperti di tulisan saya sebelumnya mengenai kereta api.

Eksklusif-nya suatu moda angkutan bisa dilihat pula pada jalur busway transjakarta. Sejauh ini jalur busway hanya diperbolehkan bagi bis transjakarta, dan baru-baru ini diperbolehkan bagi APTB (Armada Perbatasan Terintegrasi Busway). Namun dalam prakteknya lebih banyak angkutan umum lain yang tidak menyatu dengan busway. Sehingga kalau ingin berpindah ke moda angkutan lain seperti bis reguler atau sebaliknya, maka harus meninggalkan atau menuju halte busway, karena berbeda halte. Mungkin yang diutamakan adalah sistem tiketnya yang lebih mudah apabila khusus Bis Transjakarta atau APTB.

Tapi sepertinya busway itu memang tidak melibatkan, atau bahkan cuma sekadar memikirkan pelaku transportasi yang sudah ada lebih dulu. Misalnya bis kota reguler yang ada sebelumnya. Alih-alih menggandeng bis kota yang ada sebelumnya untuk terintegrasi dalam sistem busway, malah membuat angkutan baru seperti APTB. Seakan-akan berpikiran bahwa Kopaja, Metromini atau bis kota lainnya tidak bisa lagi diatur atau dilibatkan. Artinya sama saja dengan ‘membunuh’ pelan-pelan armada yang sudah ada tersebut.

Untungnya, seiring dengan pergantian kepemimpinan di Jakarta, wacana untuk integrasi bis kota kembali muncul. Jadi nanti bis-bis non Transjakarta bisa masuk jalur busway, atau bisa mempergunakan halte-halte busway yang ada untuk transit. Tentunya akan membutuhkan banyak modifikasi agar bis-bis kota lain itu bisa beroperasi dengan baik di jalur dan fasilitas busway.

Semoga saja cepat terlaksana, dan bisa lebih mengoptimalkan Busway Transjakarta dan APTB, yang terbatas jumlah armadanya. Jangan sampai malah timbul kekhawatiran akan persaingan baru antara Transjakarta vs bis kota lainnya, sehingga memilih untuk memproteksi jalur Busway dari bis-bis non Transjakarta/APTB.

Komentar
  1. lambangsarib mengatakan:

    Memperbaiki perilaku kita disaat mengendarai kendaraan, salah satu kunci jawaban.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s