Arsip untuk Juli, 2013

Kali ini saya hanya mengutip dari situs http://www.lombalitbanghub.com.

header copy

Lomba ini anehnya tidak ada infonya di situs Kemenhub, http://www.dephub.go.id/. Bahkan browsing di google pun agak susah dapatnya. Padahal semuanya melalui online, baik pendaftarannya maupun pengiriman naskahnya.

Syaratnya mudah, usia minimal 18 tahun, mengisi formulir pendaftaran secara online dan mengunggah naskah tulisan ke www.lombalitbanghub.com. Selanjutnya persyaratan naskah dan penilaian lomba dapat dilihat di situs yang saya kutip diatas.

Lomba ini diadakan dua kali, ditingkat regional kemudian tingkat nasional. Pemenang pertama dan kedua tingkat regional akan diundang ke Jakarta untuk seleksi tingkat nasional. Hadiahnya lumayan, pemenang untuk regional mendapatkan Rp 5.000.000, sedangkan tingkat nasional mendapatkan paket tour ke Korea Selatan dan uang saku Rp 20.000.000.

REGIONAL WILAYAH CAKUPAN
1. Medan Aceh, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat, Kepulauan Riau,
Jambi, Bengkulu & Bangka Belitung
2. DKI Jakarta DKI Jakarta, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat &
Banten
3. Surabaya Jawa Timur, Jawa Tengah & D.I Jogjakarta
4. Denpasar Bali, Nusa Tenggara Timur & Nusa Tenggara Barat
5. Balikpapan Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah &
Kalimantan Timur
6. Manado Sulawesi Utara, Gorontalo, Maluku Utara & Maluku
7. Makasar Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan &
Sulawesi Tenggara
8. Jayapura Papua & Papua Barat

Temanya : ” Angkutan Umum Pilihanku, Apa Yang Harus Dilakukan?”

Pendaftaran lomba ditutup pada tanggal 23 Agustus 2013.

Yah… harapan saya banyak dari pelaku-pelaku pengguna angkutan umum yang ikutan menulis… jangan sampai cuma dipenuhi tulisan-tulisan para pakar yang belum tentu pakar dalam menaiki metromini bobrok, atau KRL yang penuh sesak. Juga dipenuhi oleh peserta dari regional yang minim angkutan umum, seperti Papua.

Kalau saya sendiri malah bingung. “Angkutan umum pilihanku, apa yang harus dilakukan?”

Ya kalau saya sih, kalau sudah dipilih, tinggal naik saja dan berdoa semoga selamat sampai tujuan.

Iklan

monas

Bagi sebagian besar penglaju yang beragama Islam, ada waktu-waktu yang rawan, yaitu saat pulang kerja. Kebanyakan jam kerja selesai jam 17, saat sholat Maghrib menjelang. Durasi waktu sholat maghrib yang pendek berhadapan dengan lamanya waktu tempuh perjalanan pulang menimbulkan permasalahan bagi para pekerja muslim. Sebenarnya ada yang membolehkan menjama’ sholat meskipun secara jarak belum mencukupi, seperti di situs ini. Namun ada lebih memilih supaya aman tetap sholat normal, mau menjama’ sholat karena keadaan terpaksa/darurat, kok rutin tiap hari.

Kalau memilih tetap sholat normal, ada dua alternatif, yaitu menunggu waktu maghrib dulu, baru pulang. Atau alternatif kedua tetap memilih pulang seperti biasa, dan sholat di perjalanan. Nah, saya kali ini khusus membahas masalah ini. Kalau naik kendaraan pribadi sih tidak masalah, karena di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya atau Bandung umumnya jumlah mesjid melimpah ruah sepanjang perjalanan. Tinggal singgah saja.

IMG-20130308-01078

Namun bagaimana dengan pengguna angkutan umum? ini agak rumit, dan memerlukan pengalaman dan taktik tersendiri agar bisa dipaktekkan.

a. Memakai jalur angkot.

Jenis angkutan umum ini paling fleksibel karena bisa naik/turun hampir disemua tempat. Jika ingin sholat berhenti saja di dekat mesjid, lalu selesai sholat naik lagi. Namun cara ini memang lebih mahal karena biayanya seperti 2x naik angkot.

b. Memakai jalur bis kota

Sebenarnya bis ini hampir sama dengan angkot, bisa naik/turun hampir disemua tempat. Namun bedanya, bis-bis tertentu (terutama yang jarak jauh) biasanya waktu tem lama, kalau turun untuk sholat bisa-bisa lama baru dapat bis lagi. Dan lebih parah kalau bis ini melewati tol, dan lama disana. Kalau begini memang tak ada kemungkinan untuk turun.

c. Memakai jalur Busway

Hampir sama seperti naik angkot, bisa berhenti di halte busway. Namun saya sendiri tidak yakin dengan fasilitas sholat di halte busway, jadi kayaknya harus keluar halte, artinya harus beli tiket lagi.

d. memakai Jalur KRL

Sebenarnya bisa turun distasiun tertentu untuk sholat, karena umumnya distasiun KRL atau dekat stasiun terdapat mushola/mesjid. Cuma dengan sistem tiket kereta seperti sekarang ini kalau tidak direncanakan bisa keluar uang lebih banyak, karena lokasi mushola diluar peron yang harus keluar pintu kartu elektronik. Misalnya dari Jakarta Kota tujuan Bogor, kita beli tiket one trip sampe Bogor, padahal mau singgah di Pasar Minggu/Manggarai untuk Sholat. Kalau multi trip sih mungkin bisa lebih pas. Cuma masalahnya, meskipun frekuensi KRL sudah banyak, karena sesaknya KRL waktu jam pulang, risikonya waktu masuk harus extra keras perjuangannya untuk masuk KRL di stasiun tengah.

e. Moda kombinasi

Ini yang paling sering dilakukan oleh para komuter, karena jarang memakai satu jenis moda angkutan. Dengan moda kombinasi ini, yang paling efektif adalah sholat di tempat pergantian antar moda. Misalnya dari angkot pindah ke KRL/Bus kota, sholat bisa di stasiun/dekat stasiun/dekat halte/terminal.

Dari sekian banyak jalur diatas diatas, yang penting dilakukan adalah rencana perjalanan. Estimasikan dimana tempat yang memungkinkan untuk singgah dalam batasan sholat, dan tidak terlalu membebani biaya/sulit mencari angkutan lagi. Jangan khawatir mencari tempat sholat, saya biasa bertanya ke orang-orang sekitar pasti ada. Bahkan pernah sholat di mushola Pos Satpam.

Kemungkinan terarakhir apabila ingin tetap bisa sholat normal, adalah mengubah pola naik angkutan umum. Saya dulu pernah mengandalkan bis yang waktu tem-nya lama. Namun kemudian mencari alternatif akhirnya sekarang berpindah-pindah angkot. Waktu tempuh sering lebih cepat karena saya bisa memotong jalur. Mungkin ongkosnya lebih mahal, namun waktu yang dibeli. Yang sering bikin malas seringkali karena sering berganti tempat duduk. Biasa, kita kalau sudah duduk lupa berdiri. Namun jadinya kayaknya lebih sehat, karena angkutan umum mana di Jakarta yang duduknya enak (kecuali taksi).