Ada kejadian tadi pagi waktu naik angkot yang mengganggu pikiran saya. Sebenarnya kejadiannya sederhana, ada seorang bapak tunanetra yang mencegat angkot di jalan TB Simatupang. Angkot saya menghampirinya dan sopir menyebutkan jurusannya. Dengan bersenjata tongkat bapak tersebut bisa masuk ke pintu angkot, dan berpesan ke sopir angkot agar diturunkan ke Yayasan Kanker. Kejadian tersebut tidak sampai 15 menit, namun membekas dalam benak saya.

IMG-20130215-01022

Selama ini saya sering ngobrol dengan teman-teman saya, yang mayoritas memakai kendaraan pribadi. Katanya yang paling praktis dan fleksibel adalah naik kendaraan pribadi. Terlebih bila memakai sepeda motor, anti macet dan murah meriah. Makanya pengendara motor jumlahnya makin menjamur.

Bicara mengenai sepeda motor, ingatan saya jadi menerawang kejadian yang lalu, saat saya masih sering naik bis. Saat itu ada ‘penumpang baru’, yang tidak biasanya naik bis itu duduk sebelah saya. Ternyata dia biasanya naik motor, namun karena kecelakaan motor, terpaksa dia naik bis karena masih cedera, tak bisa berkendara sementara waktu.

Jadi, apa yang berkecamuk dalam pikiran saya cuma satu. Meskipun punya dan mampu berkendara kendaraan pribadi, ada saat-saat dimana kita lemah. Saat kurang sehat, cacat, miskin, ataupun tua. Atau saat mental kita tidak memungkinkan berkendara. Mungkin belum terasa saat kita masih muda, sehat dan mampu.

Saat-saat kita lemah seperti itu, tidak semua mampu naik taksi, ojek ataupun menyewa sopir. Tidak mesti semua orang siap siaga membantu/mengantar kita dalam bepergian. Saya bayangkan diri saya sendiri, akhirnya juga kembali ke angkutan umum bila tetap harus bepergian.

Namun…. saya menerawang kembali mengenai fasilitas bagi orang-orang yang lemah di transportasi umum yang ada, khususnya di ibukota. Sepertinya tidak masuk akal berebut naik KRL, busway atapun bis kota dalam kondisi lemah. Tampaknya adalah suatu anomali bila ada orang diffabel atau orang yang lemah lainnya dalam transportasi massal di Jakarta, bahkan mungkin tidak terpikirkan bagi pembuat kebijakan transportasi di sini. Mungkin pilihan paling masuk akal adalah naik angkot yang lebih kecil dan lebih manusiawi, meskipun sangat tergantung perilaku individu sopirnya.

Saat kita lemah, namun tetap harus mencari nafkah, mau tidak mau kita harus menghadapinya. Setidaknya kejadian tadi pagi di jalan TB Simatupang membuktikan bahwa tunanetra pun bisa naik angkutan umum di Jakarta pada jam sibuk.

Komentar
  1. opix mengatakan:

    setuju mas. angkutan umum = angkutan’a semua masyarat gak memandang kondisi. klo supirnya baek, biasa’a yg tunanetra gitu digratisin.

    oya, skalian numpang nanya nih. klo dr blom M. bus/metro/kopaja yg kearah jl. margonda raya ada gak ya?

  2. Chung mengatakan:

    semoga indonesia semakin makmur saja…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s