Rezeki takkan lari karena sudah ada yang mengatur.Tapi ungkapan itu kayaknya gak berlaku di sini, khususnya di angkutan umum. Tingginya persaingan terutama di daerah pinggiran.

image

Kenapa kok malah didaerah pinggiran? Bukannya daerah tengah kota justru penuh persaingan angkutan umumnya?

Menurut saya malah kalau di tengah kota itu lebih ke pemilihan, bukan rebutan. Pilih nyaman tapi mahal naik aja taksi. Pilih murah tapi kurang cepat dan nyaman naik bis kota. Pilih cepat naik ojek tapi tidak nyaman dan mahal. Dan lain-lain. Intinya lebih ke pemilihan sesuai dengan kepentingan dan budget. Memang di jam sibuk (berangkat dan pulang kerja) pilihannya agak menyempit karena banyaknya pengguna, tapi intinya ‘selalu ada pilihan’.

Lain halnya di daerah pinggiran. Karena angkutan umum yang tersedia sering terbatas. Kebanyakan trayeknya adalah trayek ‘purbakala’ yang tidak berkembang sejak dulu. Yah… ini kenyataan. Trayek angkutan umum tidak berkembang bahkan bila ada jalan baru atau pemukiman baru. Contohnya di Depok, ada jalan Juanda yang sudah dibangun lebih dari 5 tahun yang lalu dan banyak perumahan baru pula disana, tapi sama sekali tidak ada angkuta  umum yang melewatinya. Sama kondisinya dengan jalan MERS di Surabaya.

image

Dengan ketersediaan angkutan umum yang terbatas di didaerah pinggiran, menimbulkan angkutan yang informal, seperti ojek. Keberadaan ojek ini meskipun tarifnya mahal bila memang sangat diperlukan bagi yang tidak punya kendaraan atau memilih tidak berkendaraan sendiri.

Namun hal ini kemudian bisa menjadi persaingan yang tidak sehat. Banyak dalam prakteknya karena sudah menyangkut ke masalah kebutuhan dapur maka ojek yang sudah ada cenderung mempertahankan hegomoninya. Misalnya dulu kebiasaan angkot tidak beroperasi setelah habis maghrib (mungkin karena sepinya penumpang) maka penumpang yang tertinggal diambil alih oleh ojek. Kemudian lambat laun keadaan berubah. Penumpang ‘malam’ makin banyak sehingga memancing angkot untuk menambah jam operasionalnya. Maka konflik pun tercipta.

Hal yang klasik terjadi. Disini memang perlunya pemerintah turun tangan. Perlu ketegasan pemerintah untuk itu. Semua angkutan yang infomal seperti ojek sifatnya adalah darurat dan alternatif saja. Bukan yang utama. Baru-baru ini ada kejadian APTB yang banyak diprotes di ketika akan masuk terminal Baranangsiang, memang hanya bisa diselesaikan oleh pemerintah.

Ujung-ujungnya jika masalah ini tidak diselesaikan dengan baik yang rugi adalah penumpang. Angkutan umum semuanya akan menuju rendahnya biaya dengan sifatnya yang massal. Maka selalu ada pembaruan menyesuaikan kebutuhan dan situasi yang ada.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s