Archive for the ‘angkutan laut’ Category

Kabar berlabuhnya kapal Rainbow Warrior II baru saya dengar Sabtu pagi ini. Ternyata dia sudah sandar sejak kamis, 6 Juni 2013, dan sudah dikunjungi presiden SBY Jumat kemarin. Baru hari Sabtu ini dibuka untuk umum, sampai dengan hari Minggu. Hari sudah siang, mendekati jam 11, jadi saya berpikir bagaimana cara tercepat mencapai Tanjung Priuk. Apakah naik bis PAC 82 jurusan Depok-Tanjung Priuk, ataukah naik KRL ke Stasiun Kota dulu, lalu naik angkot? masalahnya saya tidak pernah ke Tanjung Priuk. Sayangnya jadwal KRL yang ada tidak ada yang jurusan Stasiun Tanjung Priuk.

Akhirnya saya pilih KRL dengan pertimbangan kecepatan dan frekuensinya yang lumayan tinggi sekarang. Jika naik bis PAC 82, mungkin jalanan tidak semacet hari kerja, tapi jumlah penumpang lebih sedikit bisa berdampak frekuensi keberangkatan berkurang dan waktu ngetem bisa lebih lama. Meskipun pertama agak kagok dengan sistem tiket elektronik perjalanan, KRL lancar dan cepat, dengan suasana stasiun yang agak lengang, dampak sterilisasi stasiun yang baru saja dilakukan.

Sampai di Stasiun Kota, sudah tampak ngetem mikrolet 15A biru telor asin jurusan Tanjung Priuk. Ngetemnya agak lama karena nunggu sampai penuh. Tapi kebanyakan penumpang turun di Pasar Pagi. Jadi hanya saya yang sampai ke terminal Tanjung Priuk. Karena memang baru pertama kali ke Tanjung Priuk, saya bingung dimana lokasi sandarnya si Rainbow Warrior itu. Jadi saya tanya tukang ojek, kemarin Presiden SBY kemana, dengan Rp 10.000, mereka langsung mengantarakan saya ke Dermaga Pelni.

pelabuhan yang sepi

pelabuhan yang sepi

Dermaga yang sepi, namun di pintu 1, diujung tampak antrean orang. Ternyata banyak juga yang berminat melihat Rainbow Warrior itu. Ruang tunggu bersih dan nyaman ber-ac, termasuk mushola yang  memadai. Menunggu agak lama karena dibuka per gelombang agar tidak berjubel, akhirnya jam 13.00 saya sudah berada di dek Rainbow Warrior II, adik Rainbow Warrior I yang sudah karam dibom. Si Rainbow ijo itu ternyata sandar di dekat KM Titian Nusantara, kapal yang sudah familiar dengan saya waktu di Kalimantan dulu.

rainbow warrior dari arah haluan

Masuk ruang Kemudi, ternyata jurumudinya orang Indonesia, Ade Koncil. Awak kapalnya sekitar 16 orang dari berbagai negara, dan dikontrak 3 bulan. Menjalankan kapal ini memakai autopilot, namun bila cuaca buruk kemudi manual kembali dipegang. Setelah berkeliling dek, saya menyaksikan sekilas pemutaran filem mengenai Greenpeace, yang punya kapal Rainbow Warrior. Kapal ini baru kembali dari Papua, setelah singgah di Banoa, Bali. Pemutaran filem itu di ruang konfrensi, yang terletak di bawah dek.

ruang kemudi dari arah depan

ruang kemudi dari arah depan

Kesan saya sih…. bersih dan nyaman Kapal Rainbow Warrior ini, beda dengan kapal-kapal penumpang yang pernah saya tumpangi. Kapal ini diklaim ramah lingkungan, karena sering menggunakan tenaga angin (alias kapal layar). Maka terlihat perbedaan yang paling mencolok dengan kapal-kapal lainnya yang sandar disekitarnya adalah adanya tiang tinggi untuk layarnya. Video mengenai tour ke Kapal Rainbow Warrior II ini telah saya upload di sini.

100_5671

Setelah puas berkeliling, saya melihat sudah mendung tebal. Daripada naik ojek kehujanan, saya melihat ada Taksi B****, saya naik saja ke Stasiun Kota, sementara hujan sudah mulai turun. Tapi ini pengalaman saya yang paling buruk dengan Taksi B****, ternyata argonya tidak dari nol (mulai dari sekitar Rp 60 ribuan). Dia juga menyarankan lewat Sunter, dan cara mengemudikannya yang kasar, dan ketika saya bayar beralasan tidak ada kembalian. Padahal taksi ini termasuk taksi ‘kelas satu’ di Jakarta. Entah kenapa pengalaman saya di Jakarta dengan taksi-taksi dari terminal, pelabuhan atau stasiun pelayanannya jelek, kecenderungan ‘mengeruk uang penumpang’. Apa dikira penumpang dari pelabuhan itu orang udik semua yang jadi sasaran empuk?

Sayang sekali lokasi terminal dan stasiunnya agak jauh dari pelabuhan. Setidaknya sarana transportasi massal seperti KRL atau Transjakarta Busway, atau bahkan sekadar kopaja/angkot bisa lebih ‘aman’ karena tarif dan rute-nya tidak bisa bohong, dan banyak orang/penggunanya yang saya bisa bertanya kelazimannya.

Ada kenangan dengan Marina, yang tak terlupakan sampai sekarang. Mengingat Marina, jadi teringat dengan hari-hari pertama pernikahan saya. Bukan, Marina bukan istri saya, juga bukan kekasih gelap saya.

KM Marina Nusantara semasa jaya

Dia adalah KM Marina Nusantara, kapal ro-ro trayek Surabaya-Banjarmasin milik PT Prima Vista. Kapal itu yang mengantarkan saya dan istri saya ke Banjarmasin beberapa hari setelah pernikahan kami. Jadi kami ‘berbulan madu’ di kamar VIP kapal itu. Itulah pengalaman pertama kami naik kapal antar pulau lebih dari 12 jam. Selama perjalanannya 20 jam ke Banjarmasin, kami merasakan sendiri begitu jauhnya jarak antara kampung halaman menuju tanah perantauan (beda ketika naik pesawat yang cuma 1 jam).

Kini Marina tinggal kenangan. Senin, 26 September 2011, KM Marina Nusantara terbakar setelah bertabrakan dengan tongkang batubara. Kejadian ini saya menjadi ingin menangis, bukan semata untuk kenangan masa lalu, tapi mengenai jeleknya transportasi di Indonesia, khususnya transportasi laut.

KM Marina ketabrak tongkang batubara

KM Marina Nusantara on fire

KM Marina Nusantara setelah 'dipanggang'

Negeri ini kepulauan…

nenek moyang kita pelaut…

Tapi semua sepertinya tinggal kenangan, seperti KM Marina Nusantara yang pelan-pelan akan terhapus kenangannya.

Dari segala jenis angkutan lebaran yang pernah saya tumpangi, yang paling ‘berasa’ adalah kapal laut. Kapal laut disini bukan kategori penyeberangan selat, tapi kapal antar pulau. Jelas berasa karena waktu tempuhnya biasanya diatas sehari (12 jam), bahkan saya pernah 25 jam dengan kapal cadangan. Jadi bebar-benar terasa pulang dari rantau. Kapal laut satu-satunya angkutan dimana saya bisa tidur dengan nyenyak.

KM Kumala persiapan sandar, Bandarmasih

Seperti halnya kereta api di Jawa, kapal laut juga favorit untuk masyarakat dimasa lebaran ini, mungkin karena tarifnya yang murah. Meskipun sejak booming maskapai penerbangan, popularitas kapal laut mulai pudar, dan pada low season lebih banyak dipakai sebagai angkutan barang (penyeberangan truk).

Namun bagi saya, kapal laut memiliki kelebihan yang tak dimiliki oleh pesawat terbang, yaitu daya angkutnya. Jika kita naik pesawat, extra bagasi mungkin akan di-charge mahal. Namun di kapal, asalkan mampu dibawa tidak ada charge. Yang paling asyik, kalo berangkat sendiri atau berdua, saya bisa membawa motor saya ikut menumpang kapal, dengan ongkosnya sama dengan penumpang kelas III. Sebelumnya lapor ke kantor polisi di pelabuhan untuk legalisir STNK. Kalau membawa mobil, tarifnya bisa mahal banget, jutaan rupiah (mendingan nyarter ya?).

Trisakti Banjarmasin, ready to board

Disinilah pengkastaan manusia terasa begitu menyengat. Kalo kita memilih kelas ekonomi, maka disinilah perjuangan hidup dimulai. Biasanya di musim mudik lebaran, kapal penuh sesak, untuk sekadar berbaring lurus sangat susah. Penumpang kelas ekonomi bertebaran mulai dari dek yang bertiupkan angin laut (bukan angin sepoi-sepoi lho!) sampai lorong-lorong. Mau jalan ke toilet, mushola, restoran atau sekadar cari angin susah karena tiap jengkal bertebaran penumpang. Namun ada batas dimana penumpang ekonomi tidak bisa masuk ke area penumpang kelas.

Kabin VIP KM Kumala

Jika memilih tiket VIP, maka tidak perlu berebutan untuk memilih tempat karena sudah ditentukan. Kalau kita memilih kamar, maka kita lapor dulu ke petugas untuk dipilihkan kamarnya. SOP-nya adalah penumpang dikelompokkan sesuai jenis kelamin, namun prakteknya tidak seperti itu terutama untuk keluarga, yang biasanya berkumpul dalam satu kamar. Di lemari kamar VIP ada pelampung, TV, kasur, AC, kasur dan bantal yang empuk, diberikan welcome snack & drink, makanan diantarkan, toilet yang lumayan (bahkan di Kapal Pelni mempunyai kamar mandi dalam) dan akses ke sekoci penyelamat yang dekat.

geladak (deck) kapal, tempat ideal masuk angin

Surabaya-Banjarmasin saat ini hanya dilalui oleh kapal jenis ro-ro, dengan operator perusahaan swasta. Pelni sudah tidak mengambil rute ini sekarang, seiring dengan makin surutnya penumpang kapal laut. Namun saya ada pengalaman yang menyenangkan dengan kapal Pelni, yaitu ketika menumpang KM Pangrango. Kapal ini tidak mempunyai dek untuk kendaraan, jadi cuma mengangkut penumpang saja (kapal beneran, bukan ro-ro). Saya beli tiket kelas II, berdua dengan istri saya yang hamil tua. Ketika naik di kapal, awak kapal bingung karena kamar kelas II (yang diisi 4 orang) sudah terisi dengan keluarga-keluarga, jadi artinya saya beda kamar dengan istri saya karena harus ‘nyempil’ di tempat tidur yang sisa. Lalu kemudian kapten kapal membuat keputusan, memerintahkan awak kapal untuk menempatkan saya dan istri saya di kamar kelas I, tanpa perlu bayar tambahan biaya lagi. Setelah membayar jaminan kunci, langsung saya check-in di hotel terapung ini. Kamar kelas I benar-benar seperti hotel, dengan tempat tidur, TV, kamar mandi dalam yang bersih. Makanan di kapal ini termasuk enak, dibandingkan masakan di kapal ro-ro.

KM Pangrango, sekarang melayani Indonesia bagian timur

Yang perlu dipersiapkan bila naik kapal tentu saja yang pertama adalah berdoa, karena dengan musim yang tak menentu sekarang ini, ombak di lautan bisa tiba-tiba membesar, dipadukan dengan pemeliharaan kapal yang tidak maksimal. Yang kedua obat anti mabuk, karena goyangan kapal benar-benar bisa hot sekali. Yang ketiga, hapalkan letak sekoci dan cara-cara evakuasi, termasuk pemakaian pelampung penyelemat. Yang keempat, bila di ekonomi, jika terpaksa tidur di dek terbuka, siapkan jaket dan segala pakaian pelindung, atau lebih baik masuk karena angin laut benar-benar tanpa kompromi. Kalau di kamar, jika nggak tahan AC jangan tidur di tempat tidur atas, karena dekat dengan lubang semburan AC (sentral). Kalo membawa motor, perhatikan posisinya agar jangan sampai roboh karena goyangan kapal, dan siap-siap di kendaraan sebelum sandar, kalau nggak mau kedahuluan penumpang atau kendaraan lain yang lebih besar. Yang kelima, kapal rentan dengan cuaca. Jadwal sandar dan labuh kapal bisa berjam-jam bedanya dengan kenyataan. Jadi kalo mau nggak nunggu lama di pelabuhan, tanyakan informasi posisi kapal pada perusahaan kapal.