Archive for the ‘angkutan lebaran’ Category

Kereta api, seperti tahun-tahun sebelumnya, selalu diminati oleh pemudik, khususnya di Pulau Jawa. Tiket kereta api kelas bisnis dan eksekutif untuk keberangkatan dari Jakarta pada masa Lebaran tanggal 16-17 Agustus 2012 sudah habis terjual dalam waktu 30 menit.  Hal yang sama untuk arus balik, terutama tanggal 26-27 Agustus 2012. Padahal tiket sekarang sudah bisa dipesan 90 hari sebelumnya, dan juga terkena tuslah yang luar biasa, naik hingga 100%. Tarif tertinggi bisa mencapai Rp 700 ribuan, untuk KA Gajayana (Jakarta-Malang). Saya bandingkan dengan pesawat terbang, misalnya citilink Jakarta-Surabaya, mempunyai kisaran harga yang sama. Hal ini menunjukkan kereta api mempunyai pengguna fanatik.

Fenomena yang menarik yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya adalah diberlakukannya pengecekan antara tiket dengan KTP, alasannya untuk mencegah calo.  Memang gebrakan yang bagus, karena yang merusak sistem tiket KA adalah maraknya percaloan. Namun penerapannya dalam arus mudik lebaran ini menimbulkan ribuan tiket menjadi hangus, karena nama di tiket tidak sesuai KTP. Memang ada kemungkinan hal tersebut disebabkan percaloan, tapi saya kira penyebab terbesarnya adalah sosialisasi yang kurang dan momennya tidak pas.

Meskipun  dikatakan sosialisasinya telah 3 bulan sebelumnya, namun kurang bergaung. Bahkan teman saya yang tiap minggu pulang-pergi Jakarta-Tegal pun juga terkena kasus yang sama ketika lebaran ini. Nama di tiket adalah nama panggilan, yang berbeda jauh dengan nama di KTP, sehingga harus bersitegang dengan polisi KA. Paman saya juga terkena masalah karena nama di tiket adalah nama anaknya yang membelikan tiket.

Untungnya, PT KA masih memberi “keringanan”.  Tempat duduknya diperkenankan bagi yang bersangkutan namun harus melakukan pembelian ulang. Artinya… ya terpaksa beli lagi…

Kalau pengalaman teman saya, tiket hangus itu bisa ditebus lagi, tapi membayar denda 25% karena pembatalan tiket. Tetap saja keluar biaya tambahan. Kesannya seperti kereta api itu idola indonesia di pulau Jawa. Dan kenyataannya memang begitu.

Kereta Api adalah tulang punggung (yang sakit-sakitan) transportasi, terutama di pulau Jawa. Ketiadaan tiket berdiri di KA ekonomi menyebabkan turunnya jumlah penumpang KA selama mudik, yaitu sekitar 3,2 juta menjadi 2,8 juta. Berkebalikan dengan pemudik kendaraan pribadi malah meningkat volumenya, yang didominasi oleh sepeda motor yang naik 16,6% dari 2,4 juta ke 2,5 juta kendaraan. Sedangkan mobil pribadi ‘cuma’ naik 5,6% dari 1,5 juta ke 1,6 juta kendaraan.

kemacetan mudik (vivanews)

Hasilnya sudah bisa dilihat (dan sudah diramalkan tanpa ada tindakan pencegahan)… yaitu kemacetan luar biasa selama mudik 1433 H ini. Silakan dinikmati.

Alasan PT KA menghapuskan tempat berdiri adalah atas dasar menciptakan angkutan yang manusiawi. Tapi ukuran ‘manusiawi’ ini relatif. Bila mencoba dari sudut pandang yang lebih luas, KA Ekonomi adalah angkutan yang ongkosnya paling bisa dijangkau oleh masyarakat (bawah). Apabila kapasitasnya dibatasi, maka tentunya akan mencari pilihan yang juga ekonomis, meskipun berisiko. Prediksi saya, karena angkutan bis pun dirasa masih terlalu mahal, maka pilihan yang masuk akal adalah memakai sepeda motor. Maka terciptalah pemudik bersepeda motor, yang sebenarnya lebih tidak manusiawi dan berisiko tinggi. Angka kecelakaan mencapai 5.000 kasus, dengan korban jiwa hampir mencapai 1000 orang. Mayoritas dialami oleh pengendara sepeda motor. Selain kecelakaan, kemacetan kali ini sudah menjadi hal yang hampir tidak masuk akal. Waktu tempuh menjadi berlipat ganda. Contohnya Jakarta Semarang menjadi 41 jam. Atau Cikampek-Cirebon yang biasanya ditempuh 2-3 jam menjadi lebih dari 24 jam.

mudik motor, gambar dari kolom kita detik

Kereta komunitas yang pernah diadakan PT KAI untuk mengangkut sepeda motor, ternyata tarifnya tidak murah, sehingga sepi peminat dan kemudian ditiadakan. Disitu menunjukkan dua hal, yaitu ketidakjelian menangkap pangsa pasar KA komunitas yang sangat sensitif harga, disisi lain tidak adanya komitmen dari pemerintah untuk memberikan subisidi khusus lebaran kepada angkutan umum supaya tidak ada tuslah, sehingga harganya lebih ‘masuk akal’.

Setiap harinya… bila mau disamakan, KRL sendiri juga jauh dari manusiawi dalam mengangkut penumpang. Namun keterbatasan memang dialami oleh PT KAI dan anak perusahaannya selaku penyedia jasa transportasi KA satu-satunya di Indonesia raya. Semoga hal-hal tersebut membuat pemerintah berkomitmen untuk menjadikan kereta api sebagai tulang punggung transportasi Indonesia.

Lebaran tahun ini saya tidak mudik. Tapi bukan berarti saya tidak pulang ke tanah kelahiran. Ini semua cuma masalah waktu, dan waktu adalah uang.

Ketika tiket Kereta Api sudah menyamai harga tiket pesawat, maka orang akan berpikir dua kali untuk membeli tiket kereta api. Seperti yang pernah saya tulis, ada sedikit ‘keajaiban’ pada tiket kereta api. Pada saat hari H, tiket kereta api tersedia dengan harga tidak sampai separuhnya, atau ada di batas bawah. Pemesanan pun menjadi mudah. Bisa langsung, bisa lewat call centre, atau lewat agen. Jadi perjuangannya nggak seperti di tulisansaya terdahulu. Apa mungkin gara-gara sentilan Menteri Perhubungan terkait penjualan tiket KA?

lho kok kosong?

Contohnya Argo Bromo Anggrek dari Jakarta ke Surabaya, tiketnya waktu sebelum lebaran bisa mencapai Rp 650 ribu, setelah lebaran cuma Rp 250 ribu. Kata petugas KA, harga tiket menyesuaikan dengan pasar. Benar saja, memang kereta api ke Surabaya kosong. Kakak ipar saya yang ke Surabaya tanggal 31 Agustus, cuma ditemani 7 orang dalam satu gerbongnya.

Tapi sebelum melakukan transaksi pemesanan tiket, sebaiknya cek dulu jadwal dan tarif kereta api di situs resminya. Soalnya waktu istri saya pesan tiket di stasiun, entah petugasnya salah atau gimana, harganya beda. Lalu saya telpon call centre, kok  juga masih harga batas atas. Saya langsung saja bilang aja harga di situsnya cuma Rp 300 ribuan, kemudian dilihat lagi dan diralat, harganya sesuai dengan situs resmi.

Mungkin ada yang bilang, waktu lebaran itu momennya yang tak bisa dibeli. Namun bagi yang mengutamakan budget, tanpa harus tidak pulang ke kampung halaman, bisa dengan cara melawan arus (mudik). Contohnya seperti diatas, penghematan yang bisa dilakukan melebihi budget bila mudik mengikuti arus. Mungkin yang perlu diperhitungkan adalah cuti. Bila tak bersamaan dengan libur lebaran, cuti yang diperlukan lebih banyak lagi diambil. Kalau tidak, waktu mudik jadi lebih sedikit. Bagi sebagian orang, no problem, sebab bukan kuantitas, tapi kualitas yang utama.

gambir stat

Dengan melawan arus mudik, perjalanan menjadi lebih nyaman, biaya lebih rendah, tanpa kehilangan makna hari raya. Jangan lupa, di Jawa, hari raya masih bisa dirayakan seminggu setelah lebaran, yaitu Hari Raya Ketupat, alias “kupatan”. Jadi mudik setelah lebaran toh masih tetap berhari raya (ketupat) di kampung halaman (di Jawa). Kalau dibilang hari raya ketupat kan tradisi, jawabannya ya sama saja; mudik juga tradisi. Dalam agama tidak ada dosa bila mudik setelah lebaran dan gak ada kewajiban juga untuk mudik. Malahan terasa lebih tenang menjalankan ibadah di bulan ramadhan sampai tuntas, tak terganggu perjalanan mudik dan urusan tetek bengeknya.

Bagi saya sih… sekali-sekali melawan arus, menjadi orang yang tidak biasa (alias luar biasa).

Lebaran sudah dalam hitungan hari. Namun ada ‘keajaiban-keajaiban’ yang terjadi, khususnya di perkeretaapian.

Tiket

Seperti yang pernah saya tulis disini, kereta api merupakan angkutan favorit, dengan perjuangan memperoleh tiket yang luar biasa susah dan ajaib. Waktu pembukaan penjualan tiket, loket baru buka 30 menit, tiket KA, termasuk KA Argo Anggrek, sudah langsung habis seperti air jatuh ke pasir gurun.

Namun…. hari ini saya membuka detik.com, dan membaca bahwa tiket KA Argo Anggrek tujuan Surabaya masih banyak tersisa. Rata-rata tiap perjalanan antara tanggal 26 – 30 Agustus 2011 hanya terjual tak sampai sepertiganya.

Fakta dibelakang Fenomena aneh ini :

saya coba menduga karena;

1. Harga tiket KA Argo Anggrek sudah mendekati harga tiket pesawat.

2. Untuk jurusan Surabaya, KA menghadapi persaingan dari pesawat udara, apalagi banyak extra flight

3. Tiket yang belum habis adalah tiket KA tambahan, dimana orang yang tak kebagian di penjualan pertama sudah membeli tiket lain (KA lain atau moda angkutan lain).

Namun saya tetap heran… sudah menjadi pengalaman bertahun-tahun bahwa penjualan tiket KA eksekutif perdana selalu ludes, namun PT KA tetap tidak (berani ?) mengeluarkan tiket tambahan ketika tiket pertama sudah terbukti sukses berat. Jeda waktu antara penjualan tiket pertama dan tiket tambahan terlalu panjang, dan kesempatan antara waktu itu sudah diambil oleh pihak lain, terutama maskapai penerbangan. Para pemudik KA terutama adalah keluarga, tentu mempunyai perencanaan mudik jauh-jauh hari dan nggak mau gambling menunggu adanya tiket tambahan.

 

Sidak Semu

Rabu, 24 Agustus 2011, Wapres Boediono datang ke Stasiun Senen. Lho, apa mau mudik pake kereta? wah ini baru berita, apalagi Stasiun Senen kan pangkalannya kereta ekonomi. He, jangan salah, Pak Wapres hanya mau meninjau persiapan mudik di Stasiun Senen. Hasil kunjungan tersebut membuahkan kepuasan di muka Pak Wapres. Kereta ekonomi ternyata tertib dan tak ada yang berdiri. Padahal sebagai praktisi, saya melihat untuk perjalanan di hari biasa non lebaran saja pasti ada yang berdiri dan berdesakan, apalagi lebaran. Kok bisa ya?

Fakta dibelakang Fenomena aneh ini :

1. Ada larangan dan pembatasan penumpang masuk ke peron stasiun, saya baca disini.

2. Kelihatannya sudah dipersiapkan dan diatur kereta yang akan disidak. Ini tuduhan saya, karena faktanya banyak yang tak dapat tempat duduk.

Saya masih bertanya-tanya, mengenai pelarangan penumpang untuk masuk ke peron. Apakah ini berkaitan dengan kunjungan Wapres, ataukah kebijakan stasiun untuk lebaran? Kereta Api kelas Ekonomi mempunyai tempat duduk terbatas, sedangkan tiket yang dijual melebihi tempat duduk. Sehingga sudah menjadi kebiasaan bertahun-tahun, banyak pemudik yang datang awal untuk berusaha mendapat posisi yang lebih nyaman di gerbong. Dan mereka datang nggak tanggung-tanggung, kadang bisa sehari sebelumnya, hanya sekadar mendapat tempat yang dirasa lebih ‘nyaman’. Menghalangi penumpang masuk lebih awal ke peron tanpa sosialisasi lebih dulu atau menyediakan tempat tunggu yang layak akan menyiksa banyak calon pemudik.

Kemudian… apa sih untungnya dengan kondisi ‘semu’ kereta ekonomi yang dilihat Pak Wapres? Apa senang kalo nanti dalam pikiran Pak Wapres itu, PT KA sudah baik & layak memenuhi kebutuhan penggunanya. Lha ngapain PT KA menyebut-nyebut kekurangan fasilitas, infrastruktur, dan keluhan-keluhan lainnya? wong nyatanya KA lebaran saja sepi, nggak ada yang berdiri kok.

Seperti yang pernah saya tulis di sini, kereta api adalah angkutan favorit untuk mudik. Pada saat sekitar lebaran, aktivitasnya bertambah, sehingga lalu lintas kereta, terutama daerah yang rawan antara Manggarai – Jakarta Kota menjadi padat sekali karena berbagi jalur dengan kereta lokal, KRL Jabodetabek.

KRL melintas Gambir

Seperti tahun-tahun sebelumnya, untuk sedikit mengatasi kepadatan itu, PT KAI melakukan ‘kebijakan’ bahwa KRL tidak akan berhenti di stasiun Gambir, jadi melintas langsung. Tahun ini mulai H-5 sampai H+3 KRL tak behenti di Gambir. Jelas ini merepotkan bagi pengguna KRL maupun calon penumpang Kereta Api jarak jauh. Bagi pengguna KRL yang biasanya bisa turun Gambir, sekarang harus menambah biaya dan waktu karena harus turun di stasiun Juanda atau Gondangdia. Bagi pengguna kereta api jarak jauh yang menyusuri Pulau Jawa, jelas ini mengurangi alternatif angkutan dan kenyamanan menuju Gambir.

Karena angkutan yang relatif cepat dan mudah di Depok adalah KRL, jelas saya naik KRL. Karena nggak berhenti di Gambir, harus turun di Gondangdia. Dari atas harus turun ke bawah lewat tangga, karena stasiun Gondangdia adalah stasiun atas. Kemudian mencari bajaj, terus menuju stasiun Gambir, naik tangga lagi dua tingkat untuk menunggu kereta di atas. Bayangkan, misalnya saya dari Depok, membawa 2 orang anak kecil yang satunya harus digendong, disamping itu juga membawa barang dan tas bawaan untuk mudik. Kok malah jadi nelangsa gini ya…

kereta jawa dari front utara

‘Kebijakan’ itu cuma di Gambir. Saya berpikir apa nggak seharusnya sebagai sesama pengguna produk kereta, berhenti sejenak di stasiun Gambir (biasanya juga cuma dalam hitungan detik) kan tidak mengganggu. Saya makin jengkel mengingat Gambir adalah pemberhentian bagi kereta eksekutif… sampai tersirat pikiran ; “oh… begini ya, memang pengkastaan itu ada. Kelas yang paling tinggi yang diutamakan”.

Boro-boro mengintegrasikan antar moda angkutan, ini yang satu perusahaan, sesama kereta aja nggak kompak, satu harus dikalahkan yang lain. Saya dulu bahkan punya pikiran… kalo saya telat naik kereta jawa (kereta jarak jauh) gara-gara KRL saya yang ke Gambir telat, bisa nggak ya dapat pengembalian tiket? kan satu perusahaan (mimpi kali yeee…).

Alasan PT KA, rencana pemindahan terminal kereta jawa ke stasiun Manggarai dan jalur double-double track antara Cikarang-Manggarai masih belum terlaksana juga, sehingga ‘kebijakan’ melarang KRL berhenti di Gambir dilakukan. Selalu masalah teknis, atau kadang masalah bisnis yang dijadikan alasan. Kalau menurut saya sih… pembuat kebijakan ini tidak pernah, atau sedikit sekali melihat dari sisi penumpang.

Sebenarnya agak malas menulis ini, karena bagi saya nggak ada seninya. Tapi kalo ada ‘seninya’ misalnya ada turbulence, atau rodanya nggak bisa keluar, ngeri juga lho. Saya sendiri hanya bisa menikmati naik pesawat kalo cuaca cerah dan tenang, sehingga bisa menikmati pemandangan, karena sebenarnya saya takut terbang.

B-737 menurunkan landing gear, final position, Juanda, SUB. Foto diambil dari kawasan Aloha

Jadi saya hanya memakai pesawat terbang waktu mudik hanya ketika di Banjarmasin. Ketika pindah ke Jakarta, banyak alternatif angkutan darat yang lebih sering saya pakai.

Tiket pesawat terbang sebenarnya juga nggak mahal-mahal amat, bahkan jauh lebih murah daripada kereta api eksekutif, kalo pesan jauh hari, eh jauh bulan sebelumnya. Tiket pesawat yang murah itu tiket promo, yang bersifat mengikat dan non refundable.  Biasanya kelas harga tiket pesawat terbagi menjadi 2 kelas yaitu kelas bisnis dan kelas ekonomi. Kelas ekonomi terbagi lagi menjadi beberapa sub kelas. Misalnya tiket sub kelas terbawah (harga promo) seperti kelas V atau X untuk Lion Air, kelas Z atau W untuk Batavia Air, kelas P atau R untuk Sriwijaya Air. Namun jumlahnya terbatas, apalagi pada saat puncak (peak season), makanya memesannya jauh-jauh hari. Ada juga triknya memesan tiket malah pada saat mepet, tapi ini biasanya malah dapat tiket murah. Cuma ini efektif kalo sendirian. Kalo berombongan, gambling juga.

Dari jendela kabin, tampak flap pesawat turun maksimal, posisi pesawat dalam final approach untuk mendarat. Landing gear sudah diturunkan, menimbulkan hentakan halus yang terasa oleh penumpang. Ujung sayap meninggalkan kabut garis tipis akibat gesekan udara. Pilot mengumumkan prepare position for landing ke awak pesawat.

Bahkan, pernah juga teman saya naik pesawat TNI AU, jenisnya sama dengan pesawat komersil, dan bayarnya juga sama. Pertama kali saya selalu pakai taksi bandara, tapi belakangan saya tahu bahwa banyak angkutan lain di bandara. Contohnya di Sukarno-Hatta, CGK, banyak bis (DAMRI) bandara, travel, ojek, taksi lain, bahkan kendaraan lain (termasuk kendaraan angkutan maskapai) yang ngompreng. Di Juanda, SUB, ada bis DAMRI, taksi lain, dan ojek.

Pemilihan tempat duduk sebenarnya tergantung selera. Ada yang suka duduk di dekat jendela, biar bisa melihat pemandangan. Ada yang lebih suka di koridor, biar lebih gampang keluar atau ke toilet. Ada yang suka di dekat pintu darurat, karena kaki lebih luas.

Yang perlu diingat, ada tambahan biaya kalo naik pesawat. Umumnya jarak Bandara jauh dari kota, sehingga transport kesana lumayan mahal. Bahkan bis Bandara pun mempunyai tarif yang berbeda, jauh lebih mahal daripada bis lain. Selain itu ada airport tax yang besarnya tidak sama di tiap Bandara. Selain itu, kadang ada Pemda yang memungut retribusi di Bandara, selain airport tax.

Angkutan Pesawat Udara adalah angkutan umum yang mendapat perhatian paling besar dari media massa dan pembuat kebijakan. Saya tebak jawabannya karena mereka juga penggunanya, soalnya nggak mungkin naik mobil dinas atau mobil pribadi menyeberang lautan.

13131135791896246557

Saya baca disini , Pemkab Bogor memperbolehkan pemakaian mobil dinas pegawainya untuk mudik pada Lebaran 1432 ini. Banyak alasannya, karena masalah pengawasan, pemanfaatan kendaraan dan lainnya. Dari sisi leadership, tentu saja tindakan itu sangat populis di kalangan pegawai, kelihatan mengayomi. Namun ada satu kalimat yang membuat saya terenyuh, yaitu :

“Sayang bila tidak dimanfaatkan, dan kasihan kalau mereka pulang kampung naik angkutan umum. Asal ada izin dari pimpinan silakan saja,” ungkapnya, kepada wartawan, Kamis, 11 Agustus 2011 (vivanews).

Kelihatannya ini jawaban yang polos… mengungkapkan apa sebenarnya apa isi benak para pejabat pemerintahan ini. Sehingga teka-teki yang sulit mengenai mengapa angkutan umum di negara ini morat-marit dan dipandang sebelah mata, seakan telah terjawab.

KASIHAN kalo naik angkutan umum. Berarti memang dari pejabat negara ini sudah punya pemikiran bahwa angkutan umum itu memang sudah parah. Penggunanya hanya perlu dikasihani, dan jangan sampai… amit-amit jabang bayi…. jangan sampai jadi penumpang umum yang sial dan kasihan itu.

Saya jadi teringat kisah Khalifah Umar bin Abdul Azis yang mematikan lampu di kantornya ketika membicarakan urusan pribadi dengan anaknya hanya karena tidak mau menggunakan fasilitas negara. Atau nggak usah jauh-jauh, saya baca disini Pemprov DKI Jakarta yang melarang penggunaan mobil dinas untuk mudik. Dan kayaknya sebenarnya pegawai yang memanfaatkan mobil plat merah juga dalam hatinya sadar (atau nggak mau nimbulkan perhatian), seperti paman saya yang selalu mengganti plat merah di mobil dinasnya dengan plat hitam saat keluar kota untuk urusan pribadi.

1313113777285627781

Sial, saya termasuk pengguna angkutan umum. Kini saya terasa benar menjadi seperti tontonan belaka, berimpitan berdesakan dalam kereta api, kapal laut, bis …. Dan hanya dipandang dengan kasihan dari dalam mobil dinas pejabat. Mungkin dalam hati mereka bersyukur, tidak menjadi saya dan jutaan penumpang umum lainnya, yang hanya masuk berita kalo kereta apinya tabrakan, kapalnya kelelep, atau bisnya terguling.

Kami tidak butuh kasihan! kami butuh tindakan, sebab kami bukan tontonan.

Dari segala jenis angkutan lebaran yang pernah saya tumpangi, yang paling ‘berasa’ adalah kapal laut. Kapal laut disini bukan kategori penyeberangan selat, tapi kapal antar pulau. Jelas berasa karena waktu tempuhnya biasanya diatas sehari (12 jam), bahkan saya pernah 25 jam dengan kapal cadangan. Jadi bebar-benar terasa pulang dari rantau. Kapal laut satu-satunya angkutan dimana saya bisa tidur dengan nyenyak.

KM Kumala persiapan sandar, Bandarmasih

Seperti halnya kereta api di Jawa, kapal laut juga favorit untuk masyarakat dimasa lebaran ini, mungkin karena tarifnya yang murah. Meskipun sejak booming maskapai penerbangan, popularitas kapal laut mulai pudar, dan pada low season lebih banyak dipakai sebagai angkutan barang (penyeberangan truk).

Namun bagi saya, kapal laut memiliki kelebihan yang tak dimiliki oleh pesawat terbang, yaitu daya angkutnya. Jika kita naik pesawat, extra bagasi mungkin akan di-charge mahal. Namun di kapal, asalkan mampu dibawa tidak ada charge. Yang paling asyik, kalo berangkat sendiri atau berdua, saya bisa membawa motor saya ikut menumpang kapal, dengan ongkosnya sama dengan penumpang kelas III. Sebelumnya lapor ke kantor polisi di pelabuhan untuk legalisir STNK. Kalau membawa mobil, tarifnya bisa mahal banget, jutaan rupiah (mendingan nyarter ya?).

Trisakti Banjarmasin, ready to board

Disinilah pengkastaan manusia terasa begitu menyengat. Kalo kita memilih kelas ekonomi, maka disinilah perjuangan hidup dimulai. Biasanya di musim mudik lebaran, kapal penuh sesak, untuk sekadar berbaring lurus sangat susah. Penumpang kelas ekonomi bertebaran mulai dari dek yang bertiupkan angin laut (bukan angin sepoi-sepoi lho!) sampai lorong-lorong. Mau jalan ke toilet, mushola, restoran atau sekadar cari angin susah karena tiap jengkal bertebaran penumpang. Namun ada batas dimana penumpang ekonomi tidak bisa masuk ke area penumpang kelas.

Kabin VIP KM Kumala

Jika memilih tiket VIP, maka tidak perlu berebutan untuk memilih tempat karena sudah ditentukan. Kalau kita memilih kamar, maka kita lapor dulu ke petugas untuk dipilihkan kamarnya. SOP-nya adalah penumpang dikelompokkan sesuai jenis kelamin, namun prakteknya tidak seperti itu terutama untuk keluarga, yang biasanya berkumpul dalam satu kamar. Di lemari kamar VIP ada pelampung, TV, kasur, AC, kasur dan bantal yang empuk, diberikan welcome snack & drink, makanan diantarkan, toilet yang lumayan (bahkan di Kapal Pelni mempunyai kamar mandi dalam) dan akses ke sekoci penyelamat yang dekat.

geladak (deck) kapal, tempat ideal masuk angin

Surabaya-Banjarmasin saat ini hanya dilalui oleh kapal jenis ro-ro, dengan operator perusahaan swasta. Pelni sudah tidak mengambil rute ini sekarang, seiring dengan makin surutnya penumpang kapal laut. Namun saya ada pengalaman yang menyenangkan dengan kapal Pelni, yaitu ketika menumpang KM Pangrango. Kapal ini tidak mempunyai dek untuk kendaraan, jadi cuma mengangkut penumpang saja (kapal beneran, bukan ro-ro). Saya beli tiket kelas II, berdua dengan istri saya yang hamil tua. Ketika naik di kapal, awak kapal bingung karena kamar kelas II (yang diisi 4 orang) sudah terisi dengan keluarga-keluarga, jadi artinya saya beda kamar dengan istri saya karena harus ‘nyempil’ di tempat tidur yang sisa. Lalu kemudian kapten kapal membuat keputusan, memerintahkan awak kapal untuk menempatkan saya dan istri saya di kamar kelas I, tanpa perlu bayar tambahan biaya lagi. Setelah membayar jaminan kunci, langsung saya check-in di hotel terapung ini. Kamar kelas I benar-benar seperti hotel, dengan tempat tidur, TV, kamar mandi dalam yang bersih. Makanan di kapal ini termasuk enak, dibandingkan masakan di kapal ro-ro.

KM Pangrango, sekarang melayani Indonesia bagian timur

Yang perlu dipersiapkan bila naik kapal tentu saja yang pertama adalah berdoa, karena dengan musim yang tak menentu sekarang ini, ombak di lautan bisa tiba-tiba membesar, dipadukan dengan pemeliharaan kapal yang tidak maksimal. Yang kedua obat anti mabuk, karena goyangan kapal benar-benar bisa hot sekali. Yang ketiga, hapalkan letak sekoci dan cara-cara evakuasi, termasuk pemakaian pelampung penyelemat. Yang keempat, bila di ekonomi, jika terpaksa tidur di dek terbuka, siapkan jaket dan segala pakaian pelindung, atau lebih baik masuk karena angin laut benar-benar tanpa kompromi. Kalau di kamar, jika nggak tahan AC jangan tidur di tempat tidur atas, karena dekat dengan lubang semburan AC (sentral). Kalo membawa motor, perhatikan posisinya agar jangan sampai roboh karena goyangan kapal, dan siap-siap di kendaraan sebelum sandar, kalau nggak mau kedahuluan penumpang atau kendaraan lain yang lebih besar. Yang kelima, kapal rentan dengan cuaca. Jadwal sandar dan labuh kapal bisa berjam-jam bedanya dengan kenyataan. Jadi kalo mau nggak nunggu lama di pelabuhan, tanyakan informasi posisi kapal pada perusahaan kapal.