Archive for the ‘angkutan umum’ Category

Gak Cukup

Posted: 30 Januari 2016 in angkutan umum

wpid-20141118_070255.jpgBagi yang biasa naik angkot, mestinya sudah kenal dengan istilah 4 – 6. Ya, kapasitas bangku angkot dirancang untuk diisi 4 orang di sebelah kiri dan 6 orang disebelah kanan. Di depan sebelah sopir diisi 1 orang. Standarnya total 11 penumpang yang bisa diangkut. Dalam prakteknya, selain kursi depan diisi 2 orang, kadang ditambah bangku ‘amatir’ kapasitas 2 orang di dekat pintu yang berguna untuk menyusahkan orang naik-turun. Jadi maksimal bisa mengangkut 14 orang. Itu tak termasuk 2 penumpang yang bisa bergelantung di pintu.

Tapi sekarang saya merasakan konfigurasi standar itu sudah goyah akhir-akhir ini.  Isian 4-6 orang di bangku sering tidak muat. Saya mulai menuduh penyebabnya adalah karena kemakmuran sudah meningkat di negara kita sehingga ukuran pantat penumpang mekar.

Kalo tuduhan saya tadi bener, artinya jenis angkot yang biasanya Suzuki Carry, Daihatsu Espass atau Toyota Kijang yang biasanya dipakai sudah tidak memadai penumpang yang semakin makmur. Memang sekarang banyak yang memakai Daihatsu Granmax atau Suzuki APV sebagai angkot. Dimensinya memangg lebih lebar. Tapi sepanjang saya naik, masalahnya bukan di lebar, tapi panjang. Sehingga problema bangku 4 – 6 ya tetap saja timbul.

Untunglah sekarang ada jenis kendaraan yang sudah mulai dipakai angkot, yaitu Tata Super Ace. Kendaraan ini tidak lebih lebar, tapi jauh lebih panjang, sehingga daya angkut lebih banyak.

Angkot Tata Super Ace_Perspective View

foto dari : http://membelipengalaman.blogspot.co.id/2015/04/angkot-india-tata-super-ace-yang-unik.html

 

Yah… semoga pengusaha angkot juga mensurvei ukuran pantat rata-rata penumpang sekarang yang seperti tuduhan saya tadi; lebih lebar daripada dekade sebelumnya. Sehingga tidak memaksakan tanpa update kondisi terkini seperti kasus bangku 4 – 6 pada angkot-angkot sebelumnya.

Bogor karena letaknya yang dekat dengan Jakarta sering menjadi tujuan wisata maupun tujuan lain. Pergi kesana pun mudah dan murah, misalnya dengan KRL. Namun, setelah turun dari KRL, ratusan angkot dengan warna hijau kadang membikin pusing. Mau kemana kita? Jangan khawatir, sekarang sudah ada panduannya via web. Cukup kunjungi situs http://angkotkotabogor.big.go.id/, maka kita akan lebih mudah untuk bepergian di Bogor dengan angkot.

peta angkot Bogor

Namun situs ini ketika saya coba via smartphone sangat berat, karena kayaknya tidak ada versi mobilenya. Jadi sebelum bepergian ke Bogor naik angkot dibuka dulu saja via komputer.

Demikian, jika penasaran langsung saja ke situs http://angkotkotabogor.big.go.id/ dan baca petunjuknya.

Tiket Bus Online

Posted: 27 November 2014 in angkutan umum
Tag:, , , ,

image

Meskipun sangat jarang, ternyata sekarang sudah ada pemesanan tiket bus dengan cara online seperti KA dan pesawat.

Berikut daftar situs pemesanan tiket Bus online :

1. Kramatdjati Bandung : khusus bus Kramatdjati Bandung

2. Easybook : khusus bus Menggala, Nusantara, Zentrum

3. Bejeu : Khusus Bus Bejeu

 

Sementara ini dulu.

Ingin mencari rute angkutan umum di Jakarta secara interaktif?

klik situs ini :

http://www.transportumum.com/jakarta/peta-angkutan-umum-jakarta/

Lumayan untuk mengetahui trayek mulai dari KRL, busway, sampai angkot/mikrolet. Meski tidak semua tercakup namun cukup membantu.

Tampilannya adalah seperti ini :

peta transportumum

peta transportumum

Masih tentang kenaikan BBM subsidi. Buntut kenaikan BBM subsidi ini ternyata belum selesai dengan naiknya berbagai tarif angkutan (dan harga harga lain tentunya). Organda sebagai organisasi yang menaungi pengusaha angkutan darat ternyata mengancam mogok  dan anggotanya merealisasikannya dibeberapa daerah.

image

Kenapa sih pakai acara mogok? kan tinggal naikin aja tarifnya? Tadinya saya juga berpikir begitu. Namun setelah baca-baca media (terutama bukan media mainstream) akhirnya saya sedikit paham kalau masalahnya bukan cuma di naiknya tarif. Pertama, dengan menaikkan tarif, maka hanya akan ‘mengalihkan’ kenaikan harga BBM itu ke penumpang sebagai konsumen, artinya beban kenaikan itu ditanggung pengguna angkutan umum. Kedua, load factor angkutan umum sekarang rata-rata kurang dari 50%. Artinya cara ‘pengalihan kenaikan BBM kepada penumpang’ tadi juga maksimal terserap separuhnya, yang berdampak pada operasional pengusaha angkutan. Ketiga, akhirnya sejumlah penumpang yang merasa terbebani dengan tarif angkutan umum tersebut, bisa beralih ke moda yang yang paling ekonomis meski berisiko, yaitu sepeda motor pribadi.

Jadi dimana keberpihakan pemerintah kepada angkutan umum? Ign. Jonan, seperti dalam tulisan saya sebelumnya ketika belum jadi menhub lebih sering memakai pikirannya sendiri. Dan sekarang malah cuek dengan desakan organda itu dengan memakai pemikiran sebagai PT KAI yang mempunyai jalur sendiri (baca: monopoli) dan dulu didukung public service obligation dari pemerintah. #shameonyoujonan

Pemerintah mungkin sedang dan (katanya) akan mengupayakan angkutan umum yang lebih baik. Tapi pengusaha angkutan umum yang beroperasi saat ini juga sedang melayani (meskipun dianggap buruk pelayanannya) rakyat dalam bertransportasi. Bahwa menyelenggarakan transportasi itu sebenarnya tanggungjawab pemerintah lho. Pemerintah mewakilkan tanggung jawab itu ke pengusaha angkutan.

Jangan cuma BUMN dan BUMD transportasi saja yang diperhatikan. Kalau angkutan umum sampai punah, kami yang susah.

Hari Selasa 18 November 2014, ternyata sudah ada pengumuman kenaikan premium dari Rp 6.500 ke Rp 8.500 dan solar dari Rp 5.500 ke Rp 7.500. Saya beranikan diri naik angkot pagi-pagi. Ternyata keadaan masih normal-normal saja. Bahkan tarif belum dinaikkan. Mungkin karena pengumuman yang mendadak banyak yang belum tahu, atau formulasi tarif yang belum dirumuskan.

image

Sampai saya berpindah ke metromini juga belum ada kenaikan tarif. Jadi sepertinya para sopir masih mensubsidi penumpangnya 😂. Mungkin karena operasional pagi ini tangki bensinnya masih terisi stok harga lama.

Keadaan berubah ketika saya pulang senja hari. Semua angkutan yang saya tumpangi naik seribu rupiah. Biasanya waktu dulu ada SK walikota yang mengatur tarif, tapi sekarang seakan terabaikan (atau memang urusan walikota terlalu banyak yang lebih penting sehingga terlambat).

Dari pemerintah sih ada saya baca kisaran kenaikan antara 10% menurut hitungan kenaikan tarif angkutan umum oleh pemerintah.
Formulasi itu mungkin benar secara hitungan, tapi prakteknya hampir gak mungkin. Misalnya angkot saya Rp 5.000. Gak mungkin naik cuma Rp 500, cari uang cepek sekarang susah banget. Apalagi metromini sebelumnya Rp 3.000 masak jadi Rp 3.300? Maka saku kenek akan semakin bergemerincing oleh uang yang sudah tidak lagi diproduksi BI.

Akhirnya Organda mengancam mogok nasional. Lagi-lagi pemerintah malah menyindir dengan menganalogikan dengan PT KA.

image

Ya sudahlah… sebagai rakyat yang goblok saya mau apa… cuma setahu saya dalam keseimbangan, kalau ada yang naik harus ada yang turun, agar kehidupan bisa terus berjalan.

Rebutan

Posted: 17 Februari 2014 in angkutan umum, Transport Jakarta

Rezeki takkan lari karena sudah ada yang mengatur.Tapi ungkapan itu kayaknya gak berlaku di sini, khususnya di angkutan umum. Tingginya persaingan terutama di daerah pinggiran.

image

Kenapa kok malah didaerah pinggiran? Bukannya daerah tengah kota justru penuh persaingan angkutan umumnya?

Menurut saya malah kalau di tengah kota itu lebih ke pemilihan, bukan rebutan. Pilih nyaman tapi mahal naik aja taksi. Pilih murah tapi kurang cepat dan nyaman naik bis kota. Pilih cepat naik ojek tapi tidak nyaman dan mahal. Dan lain-lain. Intinya lebih ke pemilihan sesuai dengan kepentingan dan budget. Memang di jam sibuk (berangkat dan pulang kerja) pilihannya agak menyempit karena banyaknya pengguna, tapi intinya ‘selalu ada pilihan’.

Lain halnya di daerah pinggiran. Karena angkutan umum yang tersedia sering terbatas. Kebanyakan trayeknya adalah trayek ‘purbakala’ yang tidak berkembang sejak dulu. Yah… ini kenyataan. Trayek angkutan umum tidak berkembang bahkan bila ada jalan baru atau pemukiman baru. Contohnya di Depok, ada jalan Juanda yang sudah dibangun lebih dari 5 tahun yang lalu dan banyak perumahan baru pula disana, tapi sama sekali tidak ada angkuta  umum yang melewatinya. Sama kondisinya dengan jalan MERS di Surabaya.

image

Dengan ketersediaan angkutan umum yang terbatas di didaerah pinggiran, menimbulkan angkutan yang informal, seperti ojek. Keberadaan ojek ini meskipun tarifnya mahal bila memang sangat diperlukan bagi yang tidak punya kendaraan atau memilih tidak berkendaraan sendiri.

Namun hal ini kemudian bisa menjadi persaingan yang tidak sehat. Banyak dalam prakteknya karena sudah menyangkut ke masalah kebutuhan dapur maka ojek yang sudah ada cenderung mempertahankan hegomoninya. Misalnya dulu kebiasaan angkot tidak beroperasi setelah habis maghrib (mungkin karena sepinya penumpang) maka penumpang yang tertinggal diambil alih oleh ojek. Kemudian lambat laun keadaan berubah. Penumpang ‘malam’ makin banyak sehingga memancing angkot untuk menambah jam operasionalnya. Maka konflik pun tercipta.

Hal yang klasik terjadi. Disini memang perlunya pemerintah turun tangan. Perlu ketegasan pemerintah untuk itu. Semua angkutan yang infomal seperti ojek sifatnya adalah darurat dan alternatif saja. Bukan yang utama. Baru-baru ini ada kejadian APTB yang banyak diprotes di ketika akan masuk terminal Baranangsiang, memang hanya bisa diselesaikan oleh pemerintah.

Ujung-ujungnya jika masalah ini tidak diselesaikan dengan baik yang rugi adalah penumpang. Angkutan umum semuanya akan menuju rendahnya biaya dengan sifatnya yang massal. Maka selalu ada pembaruan menyesuaikan kebutuhan dan situasi yang ada.