Archive for the ‘bus kota’ Category

Mungkin karena saya jarang naik transjakarta, saya tidak begitu memperhatikan rambu dan larangan  di dalam bis transjakarta. Namun sepinya penumpang di hari kamis 9 April lalu membuat saya leluasa mengamati interior bis. Ada satu rambu/tanda larangan yang menarik perhatian saya :

image

Lha… apa maksudnya ini… sepertinya ini dimaksudkan sebagai larangan untuk melakulan pelecehan seksual, karena rasanya tidak mungkin kalo ada larangan memakai rok pendek di negara ini.

Tapi… kenapa kok jadi ada rambu seperti itu? Bukankah pelecehan seksual sendiri adalah masalah pidana?

Larangan di bis transjakarta ini harusnya adalah larangan yang bersifat khusus, seperti makan/minum, membawa piaraan dll, yang dibolehkan di tempat lain. Lha kalo masalah pidana ya gak perlu dibuat lagi larangannya. Masak perlu dibuat juga larangan mencopet, secara sama-sama kejadian yang sangat mungkin terjadi di bis.

image

Ini nanti malah menimbulkan inspirasi. Lagipula tendensius sekali gambarnya mendiskreditkan salah satu gender. Yang paling saya takutkan malah memberikan pelajaran yang salah bagi pengguna bis transjakarta, bahwa pelecehan seksual hanya masalah normatif seperti rambu larangan lain yang tertempel sejajar.

Bener-bener gak bener.

Kebijakan angkutan umum terkesan sepotong-sepotong dan eksklusif alias tidak melibatkan banyak pihak (yang berkepentingan). Contohnya? banyak, misalnya untuk Bandara Internasional Sukarno Hatta (CGK), hanya dilayani oleh Bis Damri. Memang ada taksi, namun taksi bukan jenis angkutan umum massal, yang imbasnya bisa lebih high cost dibanding kendaraan pribadi. Akses KRL bandara masih sekadar wacana. Padahal arus transit di Bandara CGK saya pikir sudah sangat padat. Contoh lain seperti di tulisan saya sebelumnya mengenai kereta api.

Eksklusif-nya suatu moda angkutan bisa dilihat pula pada jalur busway transjakarta. Sejauh ini jalur busway hanya diperbolehkan bagi bis transjakarta, dan baru-baru ini diperbolehkan bagi APTB (Armada Perbatasan Terintegrasi Busway). Namun dalam prakteknya lebih banyak angkutan umum lain yang tidak menyatu dengan busway. Sehingga kalau ingin berpindah ke moda angkutan lain seperti bis reguler atau sebaliknya, maka harus meninggalkan atau menuju halte busway, karena berbeda halte. Mungkin yang diutamakan adalah sistem tiketnya yang lebih mudah apabila khusus Bis Transjakarta atau APTB.

Tapi sepertinya busway itu memang tidak melibatkan, atau bahkan cuma sekadar memikirkan pelaku transportasi yang sudah ada lebih dulu. Misalnya bis kota reguler yang ada sebelumnya. Alih-alih menggandeng bis kota yang ada sebelumnya untuk terintegrasi dalam sistem busway, malah membuat angkutan baru seperti APTB. Seakan-akan berpikiran bahwa Kopaja, Metromini atau bis kota lainnya tidak bisa lagi diatur atau dilibatkan. Artinya sama saja dengan ‘membunuh’ pelan-pelan armada yang sudah ada tersebut.

Untungnya, seiring dengan pergantian kepemimpinan di Jakarta, wacana untuk integrasi bis kota kembali muncul. Jadi nanti bis-bis non Transjakarta bisa masuk jalur busway, atau bisa mempergunakan halte-halte busway yang ada untuk transit. Tentunya akan membutuhkan banyak modifikasi agar bis-bis kota lain itu bisa beroperasi dengan baik di jalur dan fasilitas busway.

Semoga saja cepat terlaksana, dan bisa lebih mengoptimalkan Busway Transjakarta dan APTB, yang terbatas jumlah armadanya. Jangan sampai malah timbul kekhawatiran akan persaingan baru antara Transjakarta vs bis kota lainnya, sehingga memilih untuk memproteksi jalur Busway dari bis-bis non Transjakarta/APTB.

Seperti perang, siapa yang mengenal medan lebih baik, dia akan menang. Informasi yang sering dibutuhkan bagi pengguna angkutan umum adalah jalur yang dilalui angkutan umum, jadwal, dan apa moda yang dipilih. Sekarang Google map menyediakan fasilitas yang memudahkan pengguna angkutan umum.

Misalnya, kalo kita dari Slipi, kita bisa melihat apa saja angkutan (bis) yang melewati halte disana, sekaligus jadwalnya.

Halte di Slipi di Google Map

Coba klik saja halte (icon bertanda bis), dan muncul informasi seperti diatas. Jika kita klik lagi kode bis yang ada, maka akan muncul jadwalnya.

jadwal bis di Google Maps

Ok bukan? bukan….

Sekilas memang sangat membantu, tapi harap diingat, bahwa informasi diatas kurang valid. Banyak bis yang tidak tercantum dalam informasi tersebut, bahkan juga banyak bis ‘fiktif’, entah informasinya salah atau bis itu telah tidak lagi beroperasi. Belum lagi masalah jadwal, maupun halte yang ada. Sebab sangat susah untuk melakukan pemutakhiran dan validasi data  dalam kesemrawutan angkutan umum di Jakarta. Namun setidaknya usaha Google ini bisa membantu, namun di lapangan, kita yang harus aktif mencari tahu sendiri dengan banyak bertanya, kalau perlu crosscheck dengan banyak orang karena informasi juga sering salah.

Untuk halte busway, lebih valid karena sumbernya mengacu pada pengelola transjakarta, disamping transjakarta sendiri sudah tersistem. Namun untuk tampilan lebih bagus di program Aplikasi Android, Komutta, yang menampilkan track dan halte busway di google maps.

Upaya Komutta sudah mendekati informasi angkutan di Singapura.

informasi jalur dan track di publictrans.sg

Kapan ya… kita punya transportasi umum seperti negara jiran itu? Bukan sekadar informasi mengenai angkutan umum, namun penerapan sistem angkutan umumnya… wahhh… mimpi kali yeeee…

Amuk massa di jalan tol karena penutupan terminal (bayangan) Jatibening pada hari Jumat di minggu pertama puasa kemarin akhirnya mengurungkan usaha pengelola jalan tol untuk menutup terminal Jatibening.

image

Kejadian ini membuat saya berpikir, bahwa memang jalan tol didesain untuk kendaraan pribadi. Tak ada desain yang memungkinkan pengguna transportasi umum untuk transit dalam ruas tol. Namun kenyataannya, banyak bis kota (kalo di jabodetabek sih sudah antar provinsi) yang melalui jalan tol, misalnya ke Bekasi atau Cikarang. Tidak semua penumpangnya penumpang ‘batu’, dari ujung ke ujung. Banyak yang harus berpindah jurusan.

Keputusan bis penumpang umum untuk lewat tol juga logis, untuk mempersingkat waktu (artinya junlah tripnya meningkat) daripada bermacet-macet ria. Umumnya bis yang masuk tol adalah bis-bis yang jarak panjang, meliputi areal komuter di Depok, Bogor, Tangerang, Bekasi, sampai yang benar-benar bis antarkota. Tentunya tak efektif bila bis tersebut keluar-masuk tol untuk menaik-turunkan sejumlah penumpang, karena keluar dan masuk pintu tol memerlukan perjuangan terutama di jam sibuk, selain juga berat di ongkos.

image

Akhirnya setelah aksi bakar-bakaran, baru terpikir untuk mengakomodasi masyarakat penumpang umum untuk transit di tol. Menurut saya sih… amuk massa di Jatibening itu harusnya lebih dipandang sebagai tuntutan agar pengguna angkutan umum jugai berhak mendapat fasilitas di jalan tol. Selama ini di jalan tol dibuat rest area, pompa bensin, restoran dll, tapi tak ada tempat bagi penumpang umum untuk transit.
Namun fasilitas transit itu juga harusnya dibuat sistem yang baik dan ditertibkan agar tak mengganggu jalannya arus di tol. Sebab sudah jadi kebiasaan kalo yang namanya terminal di Jabodetabek identik dengan kesemrawutan dan kemacetan. Dan pastinya juga dibuat atau disesuaikan dengan dasar hukum yang ada.
Sebab, sungguh tak adil bila lancarnya tol tak bisa dinikmati penumpang umum.

Posted from WordPress for Android

Apa sih yang membedakan bawa kendaraan sendiri dengan naik angkutan umum? bisa lirak-lirik kanan kiri. Jangan berpikir negatif dulu, karena lirak-lirik ini artinya memperhatikan suasana pinggir jalan.

Ini sih pendapat saya pribadi. Soalnya bila saya nyetir mobil atau motor, fokus perhatian adalah jalan dan lalu lintasnya, sehingga jarang bisa melihat pinggiran jalan, bila tidak macet.

Jadi seringkali di jalan yang sama, bila saya naik angkot atau bis, saya baru tahu misalnya ada toko X, atau warung Y, atau POI (point of interest) lain yang tidak saya perhatikan bila saya menyetir sendiri.

Bukan sekadar penglihatan visual saja, namun informasi tambahan lain bisa berasal dari sopir/kenek atau penumpang lain. Misalnya di daerah Pondok Labu, saya baru tahu di sebuah rumah yang ramai sekali, banyak ibu-ibu datang kesana, ternyata adalah tempat pijat bayi/anak-anak yang terkenal. Informasi tersebut dari penumpang yang turun disana.

Jadi, kalau naik angkutan umum, kita bisa bertanya, atau bahkan tanpa perlu bertanya, maka informasi bisa datang sendiri dari pihak yang berpengalaman di daerah itu. Bahkan POI di GPS Garmin saya yang mengandalkan peta Navnet dan peta City Navigator pun kalah lengkap. Namun pengalaman saya informasi yang lebih sahih adalah angkot, daripada bis. Mungkin karena jalur bis lebih panjang dan kompleks.

Memang sih, dalam beberapa keadaan saya tidak bisa lirak-lirik kanan-kiri. Misalnya saat di KRL atau bis yang penuh sesak (dan posisinya berdiri). Maka itu posisi saya favorit saya di angkot adalah di belakang sendiri (dekat kaca).

Lirak-lirik juga bisa ke pengguna jalan. Misalnya saya sering melihati helm orang-orang, kok bagus-bagus ya, nggak kayak helm saya yang seperti batok. Atau melihat aksesoris/modifikasi kendaraan-kendaraan yang lewat, lumayan buat ide.

Dalam beberapa keadaan, lirak-lirik tidak perlu ke jalan atau pinggir jalan, namun cukup dalam angkutan umum. Keadaan apa itu? Keadaan tersebut : kalau ada makhluk manis dalam bis/angkutan umum.

contoh pemandangan yang bisa dinikmati dalam angkutan umum

Anak sekolah bagi angkutan umum kadang menimbulkan dilema. Angkutan umum ini terutama angkutan yang dikelola oleh swasta, seperti angkot dan bis kota.

menunggu....

Disaat jam sibuk, anak sekolah cenderung dinomorduakan, dibanding dengan penumpang umum lainnya. Ya… jawabnya berawal dari masalah uang. Ongkos anak sekolah ditetapkan pemerintah (atau praktek yang berlaku umum) lebih murah daripada penumpang umum.

Sebenarnya kelihatannya kebijakan untuk memberikan dispensasi untuk anak sekolah. Itung-itung mensukseskan pendidikan, membantu transportasi untuk ke sekolah. Tapi …. kelihatannya ada yang nggak fair disini. Contohnya, bagi sopir angkut, tentunya mereka juga mempunyai hitungan mengenai pendapatan dan biaya mereka. Kalo pemerintah membuat kebijakan ongkos angkutan bagi anak sekolah yang lebih murah, jelas pendapatan sang sopir angkot bisa berkurang. Apakah pemerintah juga memberikan subsidi bagi sopir angkot bila mengangkut anak sekolah? Padahal anak sekolah juga menempati ruang tempat duduk yang sama, dan beban tubuh yang membebani angkutan juga relatif sama.

saling menunggu?

Makanya akhirnya ada ‘kebijakan’ tersendiri yang juga diterapkan sopir angkot. Pengalaman saya, angkot S16 yang ngetem (sampai penuh) di Pondok Labu menuju Depok tidak mau bila lebih dari 3 anak sekolah dalam satu angkot. Mungkin cost structure mereka sudah menghitung sedemikian. Akhirnya, anak sekolah juga membuat ‘kebijakan’ sendiri, seperti mereka sering ‘tahu diri’, tidak duduk di tempat duduk, melainkan nggandol (bergelantungan) di pintu, terutama ketika penumpang penuh. Akhirnya… masalah keselamatan pun punya ‘kebijakan’ juga. Akhirnya jadi serba salah. Mau tidak diangkut, selain kasihan, juga meskipun lebih murah, namanya juga duit. Bagi para pelajar juga kalo nggak nggandol, lama berangkat atau pulangnya, bisa-bisa terlambat atau kemalaman malah kehabisan angkot.

Kalau dipikir lebih jauh, apakah angkutan umum yang terafiliasi pemerintah, seperti Busway, Kereta Api dan KRL juga menerapkan kebijakan pembedaan tiket untuk penumpang umum dan anak sekolah? Hmm… saya tidak melihat hal itu. Jadi seakan-akan (atau memang benar adanya) pemerintah melemparkan permasalahan ke pihak lain, dalam hal ini sektor angkutan swasta. Sementara tidak ada itu yang namanya subsidi. Walah… ini namanya membunuh angkutan umum swasta pelan-pelan. Makanya mereka jadi ganas dijalan (he..he.. pembenaran ini namanya).

Tapi, biarpun dihindari pada saat penumpang umum penuh, anak sekolah tetap dirindukan oleh angkutan umum. Karena mereka penumpang rutin dan massal. Meskipun bayarnya murah, namanya juga duit. Apalagi para pekerja sekarang sudah banyak yang beralih ke kendaraan pribadi. Pendapatan makin seret. Kalau nggak percaya, coba lihat di sekolah seputaran waktu bubaran, pasti banyak angkutan umum ngetem disana. Meskipun banyak dan murah, seperti ikan teri, namanya rezeki tetap saja nikmat.

Posted from WordPress for Android

Selama menggunakan angkutan umum ini, ada satu hal yang membuat saya bebas dari tanggung jawab mematuhi aturan lalu lintas. Jelas saja, karena bukan saya sopirnya. Jadi kalau angkutan saya yang melanggar aturan, yang di tilang ya sopirnya. Sebenernya mau melanggar lampu merah, mau nerobos jalur busway, mau melawan arah ok aja asal cepet. Toh kalo ada urusan bukan kita yang nanggung.

Bahkan kalau mau coba pengalaman teman saya pengguna setiap Angkot D-106 jurusan Parung-Lebak bulus, kalau pagi di Jalan Pondok Cabe Raya, angkot itu kalau ikut antrean macet pasti penumpangnya pada protes, sopirnya disuruh ambil jalur kanan melawan arah biar lancar jalannya. Dan sopirnya kebanyakan ‘terpaksa’ ikut ‘perintah’ itu. Nah, kalau ada masalah, seperti kena tilang, atau nabrak kendaraan lain, ‘pemberi perintah’ pasti lepas tangan. Jawabannya ya cuma satu, meskipun penumpang adalah ‘raja’, siapa dong sopirnya?

ngetem di perempatan

Ini ada cerita yang saya alami berkaitan dengan masalah tilang. Kejadiannya di perempatan Lebak Bulus – Pondok Indah (Poins). Obyeknya adalah Metromini 72, jurusan Lebak Bulus – Blok M. Sesuai aturan, disitu memang nggak boleh stop (ada tanda dilarang stop). Tapi sudah jadi kebiasaan banyak bis yang ngetem, karena penumpang banyak yang datang menyeberang dari arah poin square. Nah, kali ini ceritanya ada polisi, sehingga bis nggak ada yang berani ngetem. Dan bis yang saya naiki ini juga nggak berhenti ngetem. Karena kepadatan lalu lintas, maka bis 72 ini berjalan pelan. Karena penumpang juga banyak disana, dan pintu bis juga terbuka lebar (mana ada kopaja/metromini pintunya nutup kalo beroperasi), maka penumpangpun berlompatan naik.

Hasil dari peristiwa itu adalah sopir bis 72 itu ditilang, alasannya karena menaikkan penumpang tidak pada tempatnya. Sampai disini saya jadi berpikir, yang ditilang jadinya sopirnya, padahal yang melanggar juga penumpangnya. Hmmm…. kok sepertinya nggak fair ya… bukannya apa. Nggak sampai 50 meter dari perempatan itu ada sebuah halte bis, tepatnya di depan gedung BCA di Jalan Arteri Pondok Indah. Kenapa kok penumpangnya nggak mencegat di halte? kenek bis 72 itu cuma bisa ngedumel,” Wong penumpang mau naik masak nggak boleh”. katanya. Tidak menyalahkan penumpang, melainkan kesal pada polisinya (yang sebenarnya menjalankan aturan). Jelas kalau berurusan dengan polisi, ada biaya dan waktu yang terbuang, padahal setoran harus jalan, dan asap dapur juga harus terus ngebul.

Memang sih risiko penumpang yang naik/turun ditempat terlarang ya lumayan, karena seringkali bis tidak berhenti. Jadi bisa saja jatuh. Tapi sekali lagi, kalau ada penumpang yang jatuh dan cedera, apalagi sampai meninggal, sopir bis jelas (lagi-lagi) berurusan dengan polisi.

Jadi memang saya rasakan kalo tidak dipaksa memang susah tertibnya. Busway dan KRL menaik turunkan penumpang pada halte/stasiun juga karena konstruksi dan sistemnya tidak mengkondisikan penumpang naik/turun tidak pada tempatnya.

Satu hal lagi yang membuat saya trenyuh… Sopir dan kenek bis tadi ternyata satu keluarga. Saya lupa bilang, kenek itu seorang ibu, istri sang sopir. Wanita kurus asal Pasar Turi, Surabaya itu menggendong anaknya yang terkecil, yang berusia 2,5 tahun. Sebentar-sebentar dia meletakkan anaknya itu di dekat kursi bapaknya, untuk menarik uang penumpang.

Mungkin kejadian ini membuat saya sebagai penumpang menjadi sedikit mencoba berempati pada sopir-sopir dan kru angkutan umum, bukan cuma melulu protes, klaim dan mengeluh.