Archive for the ‘Jalan kaki’ Category

Bagi perantau ex Jawa Timur atau khususnya Surabaya, sesuatu yang paling dikangeni biasanya adalah kulinernya. Karena kuliner khas Surabaya, seperti halnya guyonan dan pisuhannya, cenderung eksklusif. Maksudnya hanya bisa dinikmati dan ‘dihayati’ oleh orang Surabaya saja.

Juga di Jakarta ini. Meskipun perantau asal Jawa Timur lumayan besar jumlahnya, agak susah menemukan kuliner suroboyoan/jawatimuran yang sangat eksklusif, seperti kupang lontong. Kalo soto, bebek goreng rujak cingur atau bahkan tahu campur masih bisa ditemukan di mall misalnya java kitchen.

image

Cobalah singgah di Jalan Fatmawati, tepatnya di halaman kantor pos Fatmawati, seberang Rumah Sakit Fatmawati. Di jantung kemacetan selatan Jakarta ini rasa kangen akan kupang lontong, lontong kikil, lontong balap dan tahu campur akan terobati. Nama warungnya pawon memes. Lokasinya sangat mudah dijangkau transportasi umum dan dekat terminal Lebak Bulus.

Rasanya sesuatu banget menikmati kupang lontong, sate kerang ditemani segelas es sinom ditengah obrolan suroboyoan (kayaknya baik yang beli maupun penjualnya semua orang jawa timur). Dengan rasa yang cukup otentik dikenal lidah surabaya, sejenak seakan-akan kita terbawa ke timur jawa dwipa.

image

Sayangnya warung-warung ini hanya buka malam hari, karena siang hari memang parkiran kantor pos.

Iklan

Image

Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) disebut sebagai sarana keselamatan pejalan kaki. Namun kondisi JPO di depan Mesjid Raya Pondok Indah dan Pondok Indah Office Tower ini malah menjadi ancaman bagi penggunanya. Atapnya banyak yang sobek, beberapa menggantung terayun-ayun, siap menjadi malapetaka bagi yang ‘kejatuhan durian runtuh’.┬áSelain mengancam pejalan kaki, juga bisa menjadi kejutan bagi lalu lintas di bawah JPO ini yang selalu padat siang malam.

20140410_140053

Bagi pengguna angkutan umum, berjalan kaki sudah hampir pasti dijalani. Serupa dengan nasib angkutan umum, begitu pula dengan fasilitas bagi pejalan kaki/pedestrian. Pengalaman saya berjalan kaki di Jakarta seakan-akan tidak punya teman. Seakan terasing terkepung ribuan kendaraan yang ada.

Kemarin, saya mencoba berjalan kaki dari Stasiun Cawang menuju Bidakara, Pancoran. Jarak saya ukur hanya 2,5 kilometer, sehingga saya memutuskan berjalan kaki daripada menyeberang jalan, naik bis lalu menyeberang lagi, karena posisi Pancoran memang arah arusnya berlawanan bila dari Stasiun Cawang.

Start, Stasiun Cawang

Naik KRL dari Depok, lancar dan tidak terlalu penuh, meskipun jam sibuk sekitar jam 7.45 pagi. Menyeberang rel untuk keluar kesisi seberang stasiun, kemudian menyisir jalan ke arah utara. Karena saya tidak naik busway, jadi tidak perlu menyeberang dibawah fly over.

Trotoar memang masih relatif layak digunakan, tidak ada pedagang kaki lima maupun kendaraan yang parkir. Namun sayang ada pot-pot besar yang menempati trotoar.

Pot penjajah trotoar

Selebihnya tidak ada pengganggu yang signifikan selain trotoar yang berlubang-lubang (tapi awas bawahnya got) dan tidak rata.

Fasilitas umum pun tersedia, seperti telepon umum, kelihatannya gak ada yang pakai, entah masih berfungsi apa nggak. Tapi sekilas terlihat masih terawat. Di era semua orang bawa hape ini, keberadaan telepon umum membuat saya terkagum-kagum. Jadi teringat nostalgia semasa sekolah dulu … ha…ha…ha…ha…

telepon umum yang kesepian

Tapi jangan puas dulu, mendekati tugu pancoran, trotoar menghilang, dan pejalan kaki harus ‘turun jalan aspal’. Untungnya, karena melawan arah, jadi kita bisa melihat kendaraan yang datang, sehingga kejadian seperti ditabrak Xenia di Tugu Tani bisa lebih diantisipasi.

Pedestrian turun jalan

Hambatan terbesar adalah Perempatan di Tugu Pancoran itu. Jalannya luas, banyak jalur dan lalu lintasnya ramai sekali, bahkan ketika lampu merah banyak yang menetap di zebra cross. Jadi pejalan kaki harus zigzag melewati kendaraan yang ada.

aspal tugu pancoran

Perjalanan kaki ditempuh hampir setengah jam. Lumayan, sampe di Bidakara jam 9, jadi total sekitar satu jam dari Depok. Lumayan juga khan waktunya, bandingkan kalau naik mobil pribadi.