Archive for the ‘kereta api’ Category

Transportasi berbasis rel adalah transportasi umum yang diandalkan di banyak negara dari jaman kolonial hingga sekarang ini. Termasuk juga di Indonesia, meskipun sering disia-sia dan dipinggirkan. Berbicara mengenai MRT, ternyata wujudnya juga moda transportasi yang mempunyai jalur khusus, atau berbasis rel. Sebelum membayangkan hal-hal besar mengenai MRT nanti, mari kita melihat kondisi transportasi rel di Indonesia, yaitu KRL atau KA.

Kereta Api dan KRL Jabodetabek.  Kedua moda transportasi yang notabene masih dalam satu atap inipun ternyata tidak terintegrasi dengan baik. Memang benar stasiunnya maupun jalur keretanya sama, tapi hanya fisiknya saja yang ‘menyatu’. Tidak dengan sistemnya. Gambarannya begini, misalnya saya dari stasiun Depok akan menuju Stasiun Gambir untuk naik KA Argo Bromo Anggrek Malam yang berangkat Jam 19.30, jadwal KRL yang paling pas adalah Commuter Line 607 relasi Bogor-Jakarta Kota, yang jadwalnya sampai di Gambir pukul 19.15. Artinya saya cuma perlu menunggu 15 menit. Kalau semua lancar, tidak jadi masalah. Tapi kalau misalnya, KRL 607 itu terlambat sehingga saya ketinggalan KA Argo Bromo, nasib yang saya terima adalah tiket KA Argo Bromo itu akan hangus. Hal seperti itu sudah lumrah, dan biasanya dikatakan kesalahan ada pada saya kenapa kok mepet waktunya.

Saya mengajak berpikir sebentar menggugat hal yang ‘lumrah’ tersebut. Masalahnya bukanlah pada mepetnya waktu, melainkan pada tanggung jawab atas service level yang diberikan, terutama pada ketepatan jadwal. Seandainya skenarionya saya ubah, misalnya saya naik KRL Commuter line 601 relasi Bogor-Jakarta Kota, yang jadwalnya sampai di Gambir pukul 18.45, jadi ada waktu tunggu 45 menit. Seandainya KRL 601 itu juga terlambat sehingga saya juga ketinggalan KA Argo Bromo, apakah tiket Argo Bromo saya juga hangus? saya kira pasti hangus juga. Karena TIDAK ADA klausul apapun mengenai penggantian tiket KA diakibatkan kita terlambat sehingga ketinggalan KA. Jadi semua dibebankan ke konsumen. Padahal KA dan KRL masih dalam naungan PT KA.

Kalau dicari-cari kesalahan kita lagi, misalnya sudah tahu KRL mengalami keterlambatan lebih dari 45 menit, kenapa tidak berpindah ke angkutan lain. Wah… ini sih tidak bertanggung jawab namanya. Ketika kita memutuskan untuk naik KRL, artinya kita sudah mengeset waktu sesuai dengan perjalanan KRL. Ketika KRL mengalami trouble ditengah perjalanan misalnya di Tanjung Barat, berganti moda transport, misalnya bis atau taksi menuju Gambir di tengah jam sibuk (jam pulang kantor) akan memakan waktu lebih dari satu jam, belum termasuk waktu transitnya. Artinya kemungkinan besar akan terlambat juga.

Kita memilih KRL karena mengandalkannya. Dan yang sudah dipilih, harusnya bertanggung jawab atas ‘janji-janjinya’. Jadwal itu janji lho.

Iklan

Kereta api, seperti tahun-tahun sebelumnya, selalu diminati oleh pemudik, khususnya di Pulau Jawa. Tiket kereta api kelas bisnis dan eksekutif untuk keberangkatan dari Jakarta pada masa Lebaran tanggal 16-17 Agustus 2012 sudah habis terjual dalam waktu 30 menit.  Hal yang sama untuk arus balik, terutama tanggal 26-27 Agustus 2012. Padahal tiket sekarang sudah bisa dipesan 90 hari sebelumnya, dan juga terkena tuslah yang luar biasa, naik hingga 100%. Tarif tertinggi bisa mencapai Rp 700 ribuan, untuk KA Gajayana (Jakarta-Malang). Saya bandingkan dengan pesawat terbang, misalnya citilink Jakarta-Surabaya, mempunyai kisaran harga yang sama. Hal ini menunjukkan kereta api mempunyai pengguna fanatik.

Fenomena yang menarik yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya adalah diberlakukannya pengecekan antara tiket dengan KTP, alasannya untuk mencegah calo.  Memang gebrakan yang bagus, karena yang merusak sistem tiket KA adalah maraknya percaloan. Namun penerapannya dalam arus mudik lebaran ini menimbulkan ribuan tiket menjadi hangus, karena nama di tiket tidak sesuai KTP. Memang ada kemungkinan hal tersebut disebabkan percaloan, tapi saya kira penyebab terbesarnya adalah sosialisasi yang kurang dan momennya tidak pas.

Meskipun  dikatakan sosialisasinya telah 3 bulan sebelumnya, namun kurang bergaung. Bahkan teman saya yang tiap minggu pulang-pergi Jakarta-Tegal pun juga terkena kasus yang sama ketika lebaran ini. Nama di tiket adalah nama panggilan, yang berbeda jauh dengan nama di KTP, sehingga harus bersitegang dengan polisi KA. Paman saya juga terkena masalah karena nama di tiket adalah nama anaknya yang membelikan tiket.

Untungnya, PT KA masih memberi “keringanan”.  Tempat duduknya diperkenankan bagi yang bersangkutan namun harus melakukan pembelian ulang. Artinya… ya terpaksa beli lagi…

Kalau pengalaman teman saya, tiket hangus itu bisa ditebus lagi, tapi membayar denda 25% karena pembatalan tiket. Tetap saja keluar biaya tambahan. Kesannya seperti kereta api itu idola indonesia di pulau Jawa. Dan kenyataannya memang begitu.

Kereta Api adalah tulang punggung (yang sakit-sakitan) transportasi, terutama di pulau Jawa. Ketiadaan tiket berdiri di KA ekonomi menyebabkan turunnya jumlah penumpang KA selama mudik, yaitu sekitar 3,2 juta menjadi 2,8 juta. Berkebalikan dengan pemudik kendaraan pribadi malah meningkat volumenya, yang didominasi oleh sepeda motor yang naik 16,6% dari 2,4 juta ke 2,5 juta kendaraan. Sedangkan mobil pribadi ‘cuma’ naik 5,6% dari 1,5 juta ke 1,6 juta kendaraan.

kemacetan mudik (vivanews)

Hasilnya sudah bisa dilihat (dan sudah diramalkan tanpa ada tindakan pencegahan)… yaitu kemacetan luar biasa selama mudik 1433 H ini. Silakan dinikmati.

Alasan PT KA menghapuskan tempat berdiri adalah atas dasar menciptakan angkutan yang manusiawi. Tapi ukuran ‘manusiawi’ ini relatif. Bila mencoba dari sudut pandang yang lebih luas, KA Ekonomi adalah angkutan yang ongkosnya paling bisa dijangkau oleh masyarakat (bawah). Apabila kapasitasnya dibatasi, maka tentunya akan mencari pilihan yang juga ekonomis, meskipun berisiko. Prediksi saya, karena angkutan bis pun dirasa masih terlalu mahal, maka pilihan yang masuk akal adalah memakai sepeda motor. Maka terciptalah pemudik bersepeda motor, yang sebenarnya lebih tidak manusiawi dan berisiko tinggi. Angka kecelakaan mencapai 5.000 kasus, dengan korban jiwa hampir mencapai 1000 orang. Mayoritas dialami oleh pengendara sepeda motor. Selain kecelakaan, kemacetan kali ini sudah menjadi hal yang hampir tidak masuk akal. Waktu tempuh menjadi berlipat ganda. Contohnya Jakarta Semarang menjadi 41 jam. Atau Cikampek-Cirebon yang biasanya ditempuh 2-3 jam menjadi lebih dari 24 jam.

mudik motor, gambar dari kolom kita detik

Kereta komunitas yang pernah diadakan PT KAI untuk mengangkut sepeda motor, ternyata tarifnya tidak murah, sehingga sepi peminat dan kemudian ditiadakan. Disitu menunjukkan dua hal, yaitu ketidakjelian menangkap pangsa pasar KA komunitas yang sangat sensitif harga, disisi lain tidak adanya komitmen dari pemerintah untuk memberikan subisidi khusus lebaran kepada angkutan umum supaya tidak ada tuslah, sehingga harganya lebih ‘masuk akal’.

Setiap harinya… bila mau disamakan, KRL sendiri juga jauh dari manusiawi dalam mengangkut penumpang. Namun keterbatasan memang dialami oleh PT KAI dan anak perusahaannya selaku penyedia jasa transportasi KA satu-satunya di Indonesia raya. Semoga hal-hal tersebut membuat pemerintah berkomitmen untuk menjadikan kereta api sebagai tulang punggung transportasi Indonesia.

Oleh-oleh dari perjalanan mudik kemarin, karena pulang sendirian, jadi lebih banyak memperhatikan interior KA Sembrani yang saya tumpangi. Karena perjalanan dengan KA sangat jarang saya lakukan (paling setahun sekali), mungkin informasi ini tak banyak berarti bagi ‘Asep’ (alias arek sepur) atau penglaju yang sangat berpengalaman karena tiap minggu p.p. naik kereta api.

1. Colokan listrik dan meja kecil

Jangan khawatir kehabisan batere hape, karena colokan listrik sudah ada dalam gerbongnya. Letaknya nempel di dinding gerbong, tepatnya dibawah meja kecil dibawah jendela. Jadi kalo mau kursi yang strategis memang kursi di dekat jendela, bisa ngecharge sekaligus ada meja kecil tempat naruh hape (sebenarnya tempat naruh botol/gelas)

2. Bagasi model pesawat

Penampilannya sudah keren, mirip pesawat, ada tutupnya. Memang tidak semua gerbong, cuma gerbong-gerbong yang sudah dipermak saja. Jadi kalo ada orang ngambil bagasi lumayan ketahuan karena harus buka tutupnya.

3. Televisi

Seperti terlihat di gambar sebelumnya, ada televisi di arah depan gerbong sebelah kiri. Tapi TV ini tidak untuk menyetel siaran TV, cuma untuk filem.

4. Pintu otomatis

Ini kadang sering orang bingung bukanya. Ada yang memaksa didorong sekuat tenaga. Padahal ada tombol dan tulisan yang jelas terbaca. Maklum… kadang orang gak membayangkan kereta api bisa canggih.

5. Pengubah arah hadap kursi

Kalau kebetulan punya empat tiket dalam satu gerbong yang urutannya seri, bisa dibuat berhadapan. Caranya injak aja tuas dibawah kursi, dan putar sampai berhadapan dan berbunyi klik. Jika memilih berhadapan, fasilitas pijakan kaki menjadi hilang. Juga rebahan kursi menjadi kurang landai karena terhambat kursi di belakang.

6. Reclining seat, pijakan kaki dan meja tatakan makan

Reclining seat artinya kursi buat berbaring. Jadi kursi ini bisa direbahkan sampai landai, dengan menekan tombol di sandaran tangan. Sandaran tangan itu sendiri juga bisa dibuka, maka didalamnya ada semacam meja untuk tatakan makan (kalau di pesawat, tatakan itu ada di sandaran kursi depan kita). Tarik keluar, jadilah meja. Pijakan kaki ada di bagian bawah kursi depan kita. Dudukannya bisa disesuaikan.

7. Lampu baca

Lampu baca ini dihidupkan cukup menekan saklarnya, dan cahayanya cukup diarahkan untuk menerangi bacaan. Semoga tidak rusak seperti yang saya alami.

8. Toilet

Maaf fotonya kabur, soalnya goyang terus. Toilet disini lumayan bersih (kalo dibersihkan). Ada wastafel dan WC disini, yang terbuat dari stainless stell/alumunium. Airnya lumayan (maksudnya masih ada selama perjalanan). Ada anjuran untuk mempergunakannya ketika kereta berjalan. Kenapa hayo?? sebabnya… saluran pembuangannya langsung ke rel, nggak ditampung. Jadi kalo kereta berhenti, dan ada yang BAB, pasti tercipta ‘gunung’ di bawah toilet. Kalau berhenti di stasiun, pasti nggak enak dilihat (dan dicium).

Sebenarnya sih lumayan nyaman dengan fasilitas seperti itu, cuma kalo menurut saya ada satu kekurangan, yaitu AC nya terlalu dingin. Entah karena saya yang udik, mata dan muka saya sampai kering dan badan menggigil. Namun dengan interior seperti itu, rupanya masih ada kemunduran bila dibandingkan dengan kereta tempo doeloe, yaitu kereta Bima (doeloe) yang mempunyai kompartemen untuk tidur.

Penutup, saya tampilkan foto jadul interior kereta eksekutif Jakarta-Surabaya tahun 80-an, yaitu KA Mutiara (lupa, mutiara selatan atau utara), sebagai perbandingan.

interior KA Mutiara jadul

Lebaran tahun ini saya tidak mudik. Tapi bukan berarti saya tidak pulang ke tanah kelahiran. Ini semua cuma masalah waktu, dan waktu adalah uang.

Ketika tiket Kereta Api sudah menyamai harga tiket pesawat, maka orang akan berpikir dua kali untuk membeli tiket kereta api. Seperti yang pernah saya tulis, ada sedikit ‘keajaiban’ pada tiket kereta api. Pada saat hari H, tiket kereta api tersedia dengan harga tidak sampai separuhnya, atau ada di batas bawah. Pemesanan pun menjadi mudah. Bisa langsung, bisa lewat call centre, atau lewat agen. Jadi perjuangannya nggak seperti di tulisansaya terdahulu. Apa mungkin gara-gara sentilan Menteri Perhubungan terkait penjualan tiket KA?

lho kok kosong?

Contohnya Argo Bromo Anggrek dari Jakarta ke Surabaya, tiketnya waktu sebelum lebaran bisa mencapai Rp 650 ribu, setelah lebaran cuma Rp 250 ribu. Kata petugas KA, harga tiket menyesuaikan dengan pasar. Benar saja, memang kereta api ke Surabaya kosong. Kakak ipar saya yang ke Surabaya tanggal 31 Agustus, cuma ditemani 7 orang dalam satu gerbongnya.

Tapi sebelum melakukan transaksi pemesanan tiket, sebaiknya cek dulu jadwal dan tarif kereta api di situs resminya. Soalnya waktu istri saya pesan tiket di stasiun, entah petugasnya salah atau gimana, harganya beda. Lalu saya telpon call centre, kok  juga masih harga batas atas. Saya langsung saja bilang aja harga di situsnya cuma Rp 300 ribuan, kemudian dilihat lagi dan diralat, harganya sesuai dengan situs resmi.

Mungkin ada yang bilang, waktu lebaran itu momennya yang tak bisa dibeli. Namun bagi yang mengutamakan budget, tanpa harus tidak pulang ke kampung halaman, bisa dengan cara melawan arus (mudik). Contohnya seperti diatas, penghematan yang bisa dilakukan melebihi budget bila mudik mengikuti arus. Mungkin yang perlu diperhitungkan adalah cuti. Bila tak bersamaan dengan libur lebaran, cuti yang diperlukan lebih banyak lagi diambil. Kalau tidak, waktu mudik jadi lebih sedikit. Bagi sebagian orang, no problem, sebab bukan kuantitas, tapi kualitas yang utama.

gambir stat

Dengan melawan arus mudik, perjalanan menjadi lebih nyaman, biaya lebih rendah, tanpa kehilangan makna hari raya. Jangan lupa, di Jawa, hari raya masih bisa dirayakan seminggu setelah lebaran, yaitu Hari Raya Ketupat, alias “kupatan”. Jadi mudik setelah lebaran toh masih tetap berhari raya (ketupat) di kampung halaman (di Jawa). Kalau dibilang hari raya ketupat kan tradisi, jawabannya ya sama saja; mudik juga tradisi. Dalam agama tidak ada dosa bila mudik setelah lebaran dan gak ada kewajiban juga untuk mudik. Malahan terasa lebih tenang menjalankan ibadah di bulan ramadhan sampai tuntas, tak terganggu perjalanan mudik dan urusan tetek bengeknya.

Bagi saya sih… sekali-sekali melawan arus, menjadi orang yang tidak biasa (alias luar biasa).

Lebaran sudah dalam hitungan hari. Namun ada ‘keajaiban-keajaiban’ yang terjadi, khususnya di perkeretaapian.

Tiket

Seperti yang pernah saya tulis disini, kereta api merupakan angkutan favorit, dengan perjuangan memperoleh tiket yang luar biasa susah dan ajaib. Waktu pembukaan penjualan tiket, loket baru buka 30 menit, tiket KA, termasuk KA Argo Anggrek, sudah langsung habis seperti air jatuh ke pasir gurun.

Namun…. hari ini saya membuka detik.com, dan membaca bahwa tiket KA Argo Anggrek tujuan Surabaya masih banyak tersisa. Rata-rata tiap perjalanan antara tanggal 26 – 30 Agustus 2011 hanya terjual tak sampai sepertiganya.

Fakta dibelakang Fenomena aneh ini :

saya coba menduga karena;

1. Harga tiket KA Argo Anggrek sudah mendekati harga tiket pesawat.

2. Untuk jurusan Surabaya, KA menghadapi persaingan dari pesawat udara, apalagi banyak extra flight

3. Tiket yang belum habis adalah tiket KA tambahan, dimana orang yang tak kebagian di penjualan pertama sudah membeli tiket lain (KA lain atau moda angkutan lain).

Namun saya tetap heran… sudah menjadi pengalaman bertahun-tahun bahwa penjualan tiket KA eksekutif perdana selalu ludes, namun PT KA tetap tidak (berani ?) mengeluarkan tiket tambahan ketika tiket pertama sudah terbukti sukses berat. Jeda waktu antara penjualan tiket pertama dan tiket tambahan terlalu panjang, dan kesempatan antara waktu itu sudah diambil oleh pihak lain, terutama maskapai penerbangan. Para pemudik KA terutama adalah keluarga, tentu mempunyai perencanaan mudik jauh-jauh hari dan nggak mau gambling menunggu adanya tiket tambahan.

 

Sidak Semu

Rabu, 24 Agustus 2011, Wapres Boediono datang ke Stasiun Senen. Lho, apa mau mudik pake kereta? wah ini baru berita, apalagi Stasiun Senen kan pangkalannya kereta ekonomi. He, jangan salah, Pak Wapres hanya mau meninjau persiapan mudik di Stasiun Senen. Hasil kunjungan tersebut membuahkan kepuasan di muka Pak Wapres. Kereta ekonomi ternyata tertib dan tak ada yang berdiri. Padahal sebagai praktisi, saya melihat untuk perjalanan di hari biasa non lebaran saja pasti ada yang berdiri dan berdesakan, apalagi lebaran. Kok bisa ya?

Fakta dibelakang Fenomena aneh ini :

1. Ada larangan dan pembatasan penumpang masuk ke peron stasiun, saya baca disini.

2. Kelihatannya sudah dipersiapkan dan diatur kereta yang akan disidak. Ini tuduhan saya, karena faktanya banyak yang tak dapat tempat duduk.

Saya masih bertanya-tanya, mengenai pelarangan penumpang untuk masuk ke peron. Apakah ini berkaitan dengan kunjungan Wapres, ataukah kebijakan stasiun untuk lebaran? Kereta Api kelas Ekonomi mempunyai tempat duduk terbatas, sedangkan tiket yang dijual melebihi tempat duduk. Sehingga sudah menjadi kebiasaan bertahun-tahun, banyak pemudik yang datang awal untuk berusaha mendapat posisi yang lebih nyaman di gerbong. Dan mereka datang nggak tanggung-tanggung, kadang bisa sehari sebelumnya, hanya sekadar mendapat tempat yang dirasa lebih ‘nyaman’. Menghalangi penumpang masuk lebih awal ke peron tanpa sosialisasi lebih dulu atau menyediakan tempat tunggu yang layak akan menyiksa banyak calon pemudik.

Kemudian… apa sih untungnya dengan kondisi ‘semu’ kereta ekonomi yang dilihat Pak Wapres? Apa senang kalo nanti dalam pikiran Pak Wapres itu, PT KA sudah baik & layak memenuhi kebutuhan penggunanya. Lha ngapain PT KA menyebut-nyebut kekurangan fasilitas, infrastruktur, dan keluhan-keluhan lainnya? wong nyatanya KA lebaran saja sepi, nggak ada yang berdiri kok.

Seperti yang pernah saya tulis di sini, kereta api adalah angkutan favorit untuk mudik. Pada saat sekitar lebaran, aktivitasnya bertambah, sehingga lalu lintas kereta, terutama daerah yang rawan antara Manggarai – Jakarta Kota menjadi padat sekali karena berbagi jalur dengan kereta lokal, KRL Jabodetabek.

KRL melintas Gambir

Seperti tahun-tahun sebelumnya, untuk sedikit mengatasi kepadatan itu, PT KAI melakukan ‘kebijakan’ bahwa KRL tidak akan berhenti di stasiun Gambir, jadi melintas langsung. Tahun ini mulai H-5 sampai H+3 KRL tak behenti di Gambir. Jelas ini merepotkan bagi pengguna KRL maupun calon penumpang Kereta Api jarak jauh. Bagi pengguna KRL yang biasanya bisa turun Gambir, sekarang harus menambah biaya dan waktu karena harus turun di stasiun Juanda atau Gondangdia. Bagi pengguna kereta api jarak jauh yang menyusuri Pulau Jawa, jelas ini mengurangi alternatif angkutan dan kenyamanan menuju Gambir.

Karena angkutan yang relatif cepat dan mudah di Depok adalah KRL, jelas saya naik KRL. Karena nggak berhenti di Gambir, harus turun di Gondangdia. Dari atas harus turun ke bawah lewat tangga, karena stasiun Gondangdia adalah stasiun atas. Kemudian mencari bajaj, terus menuju stasiun Gambir, naik tangga lagi dua tingkat untuk menunggu kereta di atas. Bayangkan, misalnya saya dari Depok, membawa 2 orang anak kecil yang satunya harus digendong, disamping itu juga membawa barang dan tas bawaan untuk mudik. Kok malah jadi nelangsa gini ya…

kereta jawa dari front utara

‘Kebijakan’ itu cuma di Gambir. Saya berpikir apa nggak seharusnya sebagai sesama pengguna produk kereta, berhenti sejenak di stasiun Gambir (biasanya juga cuma dalam hitungan detik) kan tidak mengganggu. Saya makin jengkel mengingat Gambir adalah pemberhentian bagi kereta eksekutif… sampai tersirat pikiran ; “oh… begini ya, memang pengkastaan itu ada. Kelas yang paling tinggi yang diutamakan”.

Boro-boro mengintegrasikan antar moda angkutan, ini yang satu perusahaan, sesama kereta aja nggak kompak, satu harus dikalahkan yang lain. Saya dulu bahkan punya pikiran… kalo saya telat naik kereta jawa (kereta jarak jauh) gara-gara KRL saya yang ke Gambir telat, bisa nggak ya dapat pengembalian tiket? kan satu perusahaan (mimpi kali yeee…).

Alasan PT KA, rencana pemindahan terminal kereta jawa ke stasiun Manggarai dan jalur double-double track antara Cikarang-Manggarai masih belum terlaksana juga, sehingga ‘kebijakan’ melarang KRL berhenti di Gambir dilakukan. Selalu masalah teknis, atau kadang masalah bisnis yang dijadikan alasan. Kalau menurut saya sih… pembuat kebijakan ini tidak pernah, atau sedikit sekali melihat dari sisi penumpang.

Mudik pas lebaran selalu menjadi agenda besar bagi para perantau. Diantara segala angkutan umum, bagi saya, angkutan yang paling seru perjuangan mendapatkannya adalah kereta api.

Spoor van Java

Kereta api adalah angkutan favorit pengguna angkutan umum pas libur lebaran. Alasan saya mengklaim begitu adalah mengenai mendapatkan tiketnya. Kalo tidak favorit, mana mungkin ada orang yang rela bermalam di stasiun demi mendapatkannya, atau bagaimana tiket bisa terjual hanya dalam waktu 2 menit sejak dibuka, khususnya kereta api eksekutif/bisnis.

Mungkin harganya yang ‘miring’ dibandingkan dengan moda transportasi lain? Mungkin, tapi untuk waktu tempuh kayaknya nggak sebanding dengan pesawat. Misalnya, jalur Jakarta – Surabaya, tarif tertinggi KA Argo Bromo Anggrek saat lebaran Rp 650.000, itupun sudah habis terjual, sedangkan tiket pesawat masih tersedia dijual dengan kisaran harga mulai Rp 800.000. Selisihnya hanya sekitar Rp 150.000, namun selisih waktunya sekitar 10 jam. Kalo saya hitung kereta api masih menang soalnya gak ada airport tax, misalnya di Sukarno Hatta Rp 40.000, dan akses ke bandara yang hanya bisa ditempuh moda transportasi yang relatif mahal. Tapi di kereta api kemungkinan besar beli makan karena lamanya waktu tempuh. Kalo saya boleh berpendapat, kereta mempunyai konsumen sendiri yang loyal (contohnya lansia yang dapat potongan harga, atau orang yang takut terbang).

Mengenai tiket… saya nggak bisa ngomong deh. Pengalaman bila ‘bersentuhan langsung’ dengan PT KA waktu musim mudik begini, hasilnya adalah seperti ini pengalaman teman saya ini :

1. Menghubungi call centre untuk pemesanan online :

” Terimakasih telah menghubungi kami, silahkan menunggu dan kami akan segera membantu anda…. ”

Lalu menunggu selama 30 menit ya tetap begitu. Dihubungi kembali dari pagi sampai siang, hasilnya sama. Entah berapa pulsa terbuang.

2. Cara tradisional, antre langsung di loket :

– Antre di stasiun Gambir. Tiket dibuka jam 7 pagi.

Hari I, mulai antre jam 2 dinihari. Hasilnya : gagal. Sebab kegagalan :  mungkin terlalu jauh dari urutan depan

Hari II, mulai antre jam 11 malam. Hasilnya : gagal. Sebab kegagalan :  masih terlalu jauh dari urutan depan

Hari III, mulai antre jam 9 malam. Urutan ke-2 dari depan. Hasilnya : gagal. Belum sampai 2 menit login, tiket habis. Sebab kegagalan : (nggak bisa menganalisis lagi sebab kegagalan ini, cuma marah & mengumpat)

antre tiket di Gambir (foto Centro One)

Alasan PT KA karena tiket diberlakukan sistem online. Sehingga tak ada jaminan meskipun antrean awal, tapi ketika logon, secara bersamaan terjadi pembelian secara serentak (diseluruh tempat penjualan), sehingga wajar 2 menit sudah habis.

Nggak tahu ya… tapi dua tahun terakhir saya selalu bisa mendapatkan tiket tanpa mengantre. Caranya melalui agen, namun tentunya ada biaya tambahan untuk fee-nya (kayak calo ya, tapi resmi). Katanya dia sudah ada link ke tiket KA (jatah???). Dan juga saya heran kenapa kok banyak calo nawarin tiket, padahal antreannya seperti itu.

Kasihan juga bagi yang sudah antre (dan gak kapok sampai berjuang 3 hari), hasilnya gak dapat tiket. Gimana sih PT KA…

Lalu saya jadi bingung dengan berita bahwa kemungkinan ada penurunan jumlah penumpang :

http://nasional.vivanews.com/news/read/237154-pemudik-kereta-api-diperkirakan-menurun

Tiket laris terjual kok malah turun jumlah penumpangnya…. Dari sisi teknis mungkin PT KA punya banyak alasan, tapi dari sisi bisnis saya nggak ngerti deh jawaban yang pas untuk itu.

OK, kalo tiket sudah didapat, mari lanjut ke prakteknya.

Akses dari dan ke stasiun

Pengalaman saya tiga tahun mudik kemarin, akses menuju stasiun besar Gambir malah agak susah. Saat mendekati lebaran, KRL tidak boleh berhenti di Gambir, karena traffic kereta jarak jauh tinggi sekali. Jadi malah susah karena turun di Juanda atau Gondangdia, terus naik bajaj ke Gambir. Juga yang perlu diingat, ketika balik mudik, mencari taksi yang bener (yang pake argometer-lah) agak susah, kebanyakan taksi odong-odong. Tapi kabarnya di Gambir taksi bluebird sudah ada.

Suasana dalam gerbong

Kemudian, suasana dalam gerbong juga nggak nyaman, karena banyak penumpang (gelap) yang gak dapat duduk, berserakan di bordes dan kereta makan, bahkan sampai masuk di gerbong penumpang, tidur di koridornya. Sehingga jika ingin ke toilet atau ke kereta makan pasti susah sekali melangkah. Tak ada petugas yang (berani) menegur penumpang (gelap) tersebut.

Waktu tempuh

Karena banyaknya perjalanan kereta, maka banyak kress antar kereta. Maklum… lebih banyak jalur tunggal. Bahkan sang raja jalur utara pun, Argobromo Anggrek tak jarang berhenti untuk berbagi jalur.

Tapi… ya itu.. apapun kondisinya, tetap saja diserbu dan banyak penggemar setianya (termasuk saya).

Meskipun begitu, mbok ya jangan kebangeten dong PT KA. Jangan mentang-mentang gak ada saingan dan banyak penggemarnya lantas gak ada improvement. Tapi sebenarnya pemerintah ya jangan kebangetan sama PT KA juga… mentang-mentang pejabatnya gak pernah naik kereta  mbok ya jangan dipinggirkan terus kereta api itu.