Archive for the ‘transport air’ Category

Ada kenangan dengan Marina, yang tak terlupakan sampai sekarang. Mengingat Marina, jadi teringat dengan hari-hari pertama pernikahan saya. Bukan, Marina bukan istri saya, juga bukan kekasih gelap saya.

KM Marina Nusantara semasa jaya

Dia adalah KM Marina Nusantara, kapal ro-ro trayek Surabaya-Banjarmasin milik PT Prima Vista. Kapal itu yang mengantarkan saya dan istri saya ke Banjarmasin beberapa hari setelah pernikahan kami. Jadi kami ‘berbulan madu’ di kamar VIP kapal itu. Itulah pengalaman pertama kami naik kapal antar pulau lebih dari 12 jam. Selama perjalanannya 20 jam ke Banjarmasin, kami merasakan sendiri begitu jauhnya jarak antara kampung halaman menuju tanah perantauan (beda ketika naik pesawat yang cuma 1 jam).

Kini Marina tinggal kenangan. Senin, 26 September 2011, KM Marina Nusantara terbakar setelah bertabrakan dengan tongkang batubara. Kejadian ini saya menjadi ingin menangis, bukan semata untuk kenangan masa lalu, tapi mengenai jeleknya transportasi di Indonesia, khususnya transportasi laut.

KM Marina ketabrak tongkang batubara

KM Marina Nusantara on fire

KM Marina Nusantara setelah 'dipanggang'

Negeri ini kepulauan…

nenek moyang kita pelaut…

Tapi semua sepertinya tinggal kenangan, seperti KM Marina Nusantara yang pelan-pelan akan terhapus kenangannya.

Waterways, transportasi alternatif melalui sungai di Jakarta, yang diresmikan oleh Sutiyoso pada tanggal 6 Juni 2007. Banyak masalah yang didapat daripada hasilnya, karena memaksakan angkutan sungai pada masyarakat yang tidak berbudaya sungai. Jangankan mengangkut penumpang, membebaskan baling-baling dari jerat sampah saja susahnya minta ampun. Akhirnya operasional waterway berhenti setahun setelah diresmikan.

Dermaga Waterway

Saya malah punya ide bagaimana kalau Bang Yos di dikirim ke Banjarmasin saja untuk mencoba ide brilian ini.

Bisa dilihat tulisan sebelumnya mengenai angkutan sungai ini.

https://maskomuter.wordpress.com/2011/04/09/transportasi-sungai/

Sayang sekali kemunculan waterway yang prematur dan terkesan sekadar cari sensasi ini kemudian hilang ditelan waktu. Banyak masalah, antara lain sungai sudah sangat terpolusi, jembatan yang rendah, tata ruang dan bangunan yang membelakangi sungai (bukan budaya sungai), tapi yang jelas adalah : tak adanya komitmen.

Namun rupanya ide ini masih membekas di benak masyarakat. Bahkan, pelaku transportasi pun ingin mewujudkan ide ini secepatnya. Mungkin stress melihat macet yang luarbiasa

Berikut ini penampakan upaya percepatan waterway dari Metromini :

metromini kecebur

Metromini Waterway

Rupanya sang legenda, Metromini ingin menjadi pelopor waterway.

ngetem di waterway

Namun rupanya kebiasaan lama tetep aja, si Metromini ini ngetem, gak berhenti di dermaga Waterway seperti di Dukuh Atas.

Di kota-kota besar di Indonesia, terutama yang berada di luar Jawa, jenis transportasinya meskipun tidak bermacam-macam seperti di Jakarta, namun pilihannya malah lebih dahsyat. Jika di Jakarta wacana waterway pernah mencuat, di negeri seribu sungai, Banjarmasin, malah lebih duluan. Maklum, sungai ada lebih dulu daripada jalan.

Klotok

Meskipun sekarang sungainya tak sampai seribu, Banjarmasin, ibukota provinsi Kalimantan Selatan ini masih mempunyai transportasi air yang lebih baik daripada Kopaja, yaitu taksi air, yang terkenal dengan sebutan klotok.

Klotok di Banjarmasin

Klotok mengarungi Sungai Martapura

Klotok adalah perahu bermesin tempel. Klotok ini dikemudikan oleh motoris. Klotok masih diandalkan oleh masyarakat pinggiran sungai di Banjarmasin, meskipun sekarang terancam kepunahannya oleh populasi sepeda motor. Pada tahun 2008, saya menaiki taksi klotok ini cuma membayar Rp 1.500 dari Sungai Andai ke Pasar Lama, dimana kalau naik taksi kuning (angkot) membayar Rp 2.000, belum kalau mau naik ojek untuk mencapai jalan raya. suprisenya, saya menemukan tulisan di badan klotok bahwa penumpang klotok telah diasuransikan.

Namun klotok ini lebih jarang dijumpai daripada angkutan lain seperti taksi kuning, apalagi ojek. Juga kalau masuk ke anak sungai utama, seperti di Sungai Andai ini harus pas dengan jam anak sekolah, atau pasang surut. Sebab ada kemungkinan tidak ada penumpang, dan bisa kandas. Sekarang kebanyakan penghasilan klotok dari carteran, terutama wisatawan ke pasar terapung.

Ferry penyeberangan

Angkutan Sungai yang lain adalah Ferry. Ini jika di Banjarmasin ada di Sungai Barito, dekat kuin. Karena di sana tidak ada jembatan, adanya jembatan Barito di luar kota, harus memutar jauh.

Ferry Penyeberangan

Ferry ini menyeberangkan pekerja perkayuan dari kota Banjarmasin ke lokasi kerja di Jelapat.

Speed (long) Boat

Perahu ini mempunyai ukuran panjang, dan mempunyai mesin yang lebih kuat, bahkan mesin ganda, sehingga lebih cepat daripada klotok. Di sekitar Banjarmasin, perahu ini biasa digunakan oleh penduduk daerah kuala, daerah hulu sungai, dan daerah aliran Sungai Barito untuk ke Banjarmasin, p.p. Biasanya mereka adalah pedagang, sehingga dermaganya ada di sekitar Pasar Sudimampir.

Longboat

Saya pernah menaiki speed boat ini dari Muara Teweh ke Buntok , yang lumayan bebas hambatan. Namun jika tidak biasa akan mabuk karena guncangan lebih terasa daripada naik klotok.

Kemunduran Angkutan Sungai

Satu hal yang saya sesalkan, bahwa pola pembangunan di Indonesia di komando oleh Pusat, yang notabene adalah orang-orang daratan. Sehingga mode transportasi dan pembangunan acuannya selalu jalan darat. Melihat kondisi geografis kota-kota seperti Banjarmasin dan Palangkaraya, apakah tidak sebaiknya mengembangkan warisan yang sudah ada, yaitu budaya sungai?

Seharusnya yang dilakukan adalah merawat sungai, dengan menjaga hulu, pengerukan alur dan pencegahan erosi, bukannya malah mengurug sungai dijadikan jalan. Bukan melulu membangun jalan dan jembatan, namun juga membangun terusan dan dermaga.

Tunggu sebentar… sebelum banyak bicara lebih jauh, tahukah para pemimpin dan penentu kebijakan di gedung-gedung tinggi di Jakarta itu bahwa Banjarmasin itu sebenarnya tak ada daratan, karena rata-rata selalu tergenang air pasang surut?

Lihat:  http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Banjarmasin

“…ketinggian tanah asli berada pada 0,16 m di bawah permukaan laut dan hampir seluruh wilayah digenangi air pada saat pasang…”

Welcome to water world, brother