Archive for the ‘Transport Daerah’ Category

Kramat Djati (bisnis) tujuan Palembang - Rawamangun-Lebakbulus

Melanjutkan tulisan sebelumnya, dengan ojek saya meninggalkan Palembang menuju terminal Karya Jaya. Tapi sebelum sampai terminal, terlihat Bis Kramat Djati (KD) yang ada di poolnya (lebih mirip lapo tuak), jadi saya tanyakan apa bener ini bis yang ke Lebak Bulus. Ternyata bener, jadi saya berhenti di pool KD saja, nggak usah menunggu di terminal Karya Jaya. Sialnya, keputusan ini kayaknya nggak pas. Rencana saya mau makan, apa daya di pool ‘lapo tuak’ ini nggak ada tempat makan yang layak. Mendingan saya ke terminal saja.

'lapo tuak', eh pool KD Palembang

Menjelang Pukul 13.00, Bis  berangkat menuju terminal. Terminal Karya Jaya tampak lengang, dengan genangan air disana-sini habis hujan. Karena sulit mencari warung, akhirnya ketemu asongan yang berjualan pempek, harganya cuma seribuan. Bedanya dengan di Jakarta yang digoreng garing, di sini cenderung masih ‘basah’. Jadilah makan siang dengan pempek saja dalam bis.

Kramat Djati tujuan Palembang - Bandung

Serombongan bis berangkat hampir bersamaan. Bis KD ini tipenya bisnis, tempat duduknya 38, beda dengan eksekutif yang 32 seat. Saya memandang iri pada bis KD eksekutif yang jurusan Bandung (agen KD Jl, Atmo bilang tujuan Jakarta gak punya kelas eksekutif). Namun info yang saya dapat, KD Bandung ini beda manajemen walaupun masih satu bagian perusahaan.

interior Kramat Djati klas Bisnis

Baru ketika masuk bis saya sadar kalo kursi saya gak seperti yang saya inginkan. Saya sebenarnya mau di sebelah kiri, tapi malah dapat yang kanan. Jadi berpapasan kendaraan dari arah sebaliknya. Saya agak ngeri, juga ketika malam, kena sorot lampu kendaraan dari depan. Jadi susah tidur deh.

Selama perjalanan lancar saja. Di Ogan Ilir, dua orang Sarkawi masuk. Jadi semua kursi bis terisi penuh.

dalam naungan gerimis pada sebuah perhentian di Ogan Ilir

Dihitung-hitung, sudah lebih dari sepuluh tahun saya nggak naik bis jarak jauh. Bis ini dilengkapi TV (yang nggak pernah nyala), AC, kursi kelas bis Patas AC, selimut, bantal kecil dan tersedia toilet. Untung saja AC nya nggak seberapa ‘menggigit’. Selama perjalanan, mampir hanya 2 x di restoran Padang, sekali di Ogan ilir, jam 15.00 (waktu yang nanggung) dan kedua di Lampung, malam atau dinihari (saya nggak tahu jam berapa, soalnya ngantuk banget). Makanannya bayar sendiri, jadi nggak ditanggung bis. Selama perjalanan saya nggak ke toilet sama sekali, jadi nggak tahu kebersihannya. Bis berhenti sebentar di mengisi solar yang dimanfaatkan beberapa penumpang untuk buang air.

Kelihatannya semua PO bersatu melawan hegemoni si ijo

Selama perjalanan, hampir berbarengan dan sering saling ngeblong dengan PO lain seperti Pahala Kencana (PK), Maju Lancar (ML), Ladju Prima (LP), Sari Harum (SH), dan Handoyo, tapi anehnya saya nggak lihat genk ijo yang mendominasi (Lorena), atau saya yang silap ya?

Sampai Bakeheuni, lancar-lancar saja, tak ada antrean yang berarti. Pukul 04.00 bis sudah siap dalam KMP Duta Banten. Bis dimatikan mesin dan AC nya, dan penumpang ‘diusir’ keluar bis. Ini juga sesuai dengan anjuran keselamatan dari perhubungan. Ada kisah ‘horor’ dimana ada ferry tenggelam, ada satu bis yang tewas tenggelam gara-gara malas keluar bis ketika dalam kapal.

kelas lesehan KM Duta Banten

Saya memilih kamar lesehan, sambil menonton TV, maklum berjam-jam duduk terus. Jadi karcis ‘upgrading’ dari kelas III ke kelas lesehan Rp 8.000 saya tebus (ditarik ketika saya sedang enak-enak tidur), karena jatah penumpang bis adalah kelas III. Peluit berbunyi 3 kali, dan kapal mulai berlayar (padahal gak ada layarnya).

Subuh di Pelabuhan Merak

Subuh di Pelabuhan Merak

Pukul 6 pagi, kapal merapat di pelabuhan Merak, menandai akhir perjalanan pertama saya ke Sumatera. Lepas Merak, memasuki tol menuju Jakarta dan disuguhi suasana yang tak asing lagi : MACET. Setelah melepas penumpang di Terminal Rawamangun, bis berhenti di Terminal Lebak Bulus pukul 10 lebih. Alhasil, saya baru sampai rumah pukul 12 siang. Jadi total perjalanan adalah 24 jam dari pool KD ke rumah saya.

— tribute to my wife, teman ‘tidur’ selama perjalanan —

Iklan

Melanjutkan tulisan di Part-1, setelah bermalam di Jambi, dan perjalanan yang melelahkan dengan mobil travel, perjalanan lintas Sumatera dilanjutkan di kota Palembang. Baru sampai jam 14.00. Kota ini tidak akan saya lewatkan karena ada even Sea Games. Karena kesalahan prediksi waktu perjalanan (yang ternyata lebih lama), saya tidak sempat menjelajahi kota ini lebih jauh. Sebenarnya saya rencana tidak menginap, langsung naik KA Limeks yang berangkat jam 21.00 dari Palembang menuju Lampung, dan menginap di Lampung karena hotel yang layak di Palembang sudah full booked karena even Sea Games.

Pertama kali yang saya cari adalah tiket bis. Saya datangi pool Lorena di KM 9, yang ternyata kehabisan tiket untuk bis Executive tujuan Jakarta atau Bogor. Segera saya menuju Jl. Kolonel Atmo, dimana banyak agen PO bis, ternyata saya nggak keburu karena sudah tutup semua. Saya coba ke Stasiun Kertapati, menyeberangi Jembatan Ampera. Dibandingkan Jambi, Palembang adalah kota besar (metropolitan), dan saya segera mendapatkan aura kota besar, yaitu MACET. Macetnya cukup parah karena dengan menggunakan motor juga susah jalan. Sampai stasiun, tiket baru buka jam 18.00, dengan antrean yang panjang, dengan pertimbangan waktu saya urungkan naik KA, dan mencoba cari tiket bis besok pagi.

Melintas Jembatan Ampera yang mulai macet

Karena banyak yang full booked, akhirnya saya terpaksa menginap di hotel kelas melati di daerah Sudirman, yang menurut saya terlalu mahal (337 ribu untuk fasilitas dan kebersihannya yang nggak bagus). Pertimbangannya hanya karena di tengah kota, sehingga gampang kemana-mana. Agak susah tidur karena tempat tidur yang keras dan AC yang berangin kencang tanpa remote juga ramenya kendaraan terdengar jelas sampai dini hari. Setelah mandi pagi (air panasnya gak berfungsi), saya berjalan ke arah jembatan Ampera. Masih terlalu pagi, Pasar 16 ilir (bagi yang mau cari songket), masih tutup. Di bawah Jembatan Ampera, banyak yang menawari naik ketek (perahu motor kecil) ke Pulau Kemaro. Karena pertimbangan waktu juga, saya hanya berjalan ke Benteng Kuto Besak, sekitar 300 meter dari Jembatan Ampera.

Trans Musi

interior Trans Musi

Yang menarik dari kota Palembang ini adalah Bis Trans Musi. Seperti halnya Bis Trans Jakarta, bis ini punya halte khusus yang lebih tinggi. Lebih mirip Bis Trans Solo (Batik Trans) yang berukuran kecil dan tak punya jalur khusus, bis ini mengantar kemana-mana meski banyak yang harus transit. Namun biarpun transit tetap tarifnya Rp 3.000. Karcis ditarik ketika dalam bis, jadi halte tak menyediakan penjualan karcis. Haltenya ada yang berbentuk ruangan kaca, namun banyak yang menggunakan halte bis biasa dengan tambahan undak-undakan tangga untuk naiknya penumpang. Jadi sepertinya orang cacat masih kesulitan naik bis Trans Musi ini.

Saya coba naik di Halte di bawah Jembatan Ampera, mau coba ke Jakabaring, venue Sea Games 2011. Benar saja, harus transit-transit, namun petugasnya menginformasikan kita harus transit dimana. Mengenai rutenya, dapat dilihat disini. Bis ini cukup nyaman, namun kayaknya lebih lambat karena berjalan pelan dan harus transit. Sebenarnya banyak bis kota atau angkutan kota lain, namun bagi saya yang pertama kali ke Palembang, naik moda ini terasa lebih aman dan murah, tanpa khawatir tersesat atau disesatkan atau ketipu.

suasana di Halte Trans Musi

Respon petugasnya cukup baik. Mereka tak segan menjelaskan kita harus transit dimana. Juga tanggap dengan keadaan. Saat itu banyak penumpang yang hendak menuju stadion di Jakabaring (maklum, Sea Games), namun bis Trans Musi yang menuju kesana tak datang jua. Kemudian bis Trans Musi yang kearah Plaju, menjadi bis penolong yang berganti arah ke Jakabaring, sehingga penumpukan penumpang bisa teratasi.

Becak, angkutan untuk atlit di Jakabaring venue

Persiapan pulang, Bis AKAP

Sampai di Jakabaring dan membeli masuk ke arena stadion, mengambil gambar dan membeli souvenir, saya ingat harus balik lagi ke Jalan Kol. Atmo untuk cari tiket bis ke Jakarta. Naiknya tetap sama, Trans Musi, saya turun di Ampera lagi. Tiket PO Lorena sudah habis, jadi saya cari Pahala Kencana. Tiket ke Jakarta Rp 160.000, lebih murah dari Lorena yang Rp 225.000 (karena katanya beda kelas, Pahala Kencana Bisnis, Lorena Eksekutif). Tapi, lho, kok berangkat jam 15.00? terpaksa saya cancel dan cari PO Kramat Jati di seberangnya. Sebenarnya ada juga PO lain seperti Laju Prima, Maju Lancar atau Sari Harum, namun saya cari yang tujuan Lebak Bulus yang lebih dekat ke Depok.

Jalan Kol. Atmo, Palembang. banyak agen PO Bis malam dan travel

Tiket Kramat Jati juga sudah hampir habis terjual, jadi saya kebagian tempat duduk di sebelah kanan bagian belakang, yang tidak saya sukai. Tapi daripada menunggu Pahala Kencana yang berangkat jam 15.00, saya tebus saya tiket bisnis Kramat Jati seharga Rp 180.000, berangkat jam 13.00 dari Terminal Karya Jaya. Dengan waktu yang semakin mepet, saya sempatkan mandi, makan martabak Har dan belanja sebentar, kemudian check out dan mencoba mencari Taksi, karena waktunya mepet jika naik bis atau angkot.

Bis Kota biaso di Palembang

Karena Taksi bluebird susah sekali ditelpon, maka saya coba tanya Taksi Kopatas yang mangkal dekat Pertokoan IP, jalan Sudirman. Tanpa Argometer, sopirnya menawarkan tarif Rp 100.000 yang langsung saya tolak. Melihat kemacetan parah, akhirnya pilihan jatuh pada Ojek yang sedari tadi merayu-rayu. Permintaan mereka Rp 25.000 tidak saya tawar sama sekali, karena saya memang tidak tahu jaraknya berapa jauh, dan miris melihat kemacetan jalan.

Ditengah gerimis ojek kemudian melaju menembus kemacetan di sekitar Jembatan Ampera. Kayaknya macet itu karena banyak yang ke Jakabaring. Sepanjang jalan tukang Ojek bercerita tentang perkembangan Kota Palembang yang semakin pesat, sejak adanya PON. Dia juga menunjuk ke arah Sungai Musi, berkata bahwa sebentar lagi dibangun Jembatan Musi III. Sayang sekali Bis Kramat Jati ini tidak seperti Lorena yang pool nya di terminal KM 9, atau Pahala Kencana di KM 11, jadi rencana saya mau beli Pempek di KM 12 tidak terlaksana.

Palembang, wong kito galo

Selamat tinggal, Palembang. Sayang kito ndak kate banyak waktu disini.

— special thanks to Om Masri, Tante Bet, Aldi, Rian, dan Rini —

image

Latar belakang Sungai Batanghari, GA 130 persiapan mendarat

Inilah perjalanan yang sudah lama sekali saya rencanakan, tapi baru terlaksana sekarang. Sebenarnya saya merencanakan ke Padang, namun ada dua kota yang ‘wajib’ saya singgahi yaitu Jambi dan Palembang, dan setelah berhitung dengan jarak, waktu dan kemampuan tubuh saya putuskan hanya ke Jambi dan Palembang (yang kebetulan berlangsung Sea Games).

Perjalanan ke Jambi dari Jakarta tak banyak yang perlu diceritakan karena menggunakan pesawat terbang sekitar 1 jam. Dari udara terlihat Sungai Batanghari yang berkelok, dan hamparan sawit. Bandara Sultan Thaha di kota Jambi (kode DJB) relatif kecil dan tak jauh dari kota. Kota Jambi cukup besar namun tidak ramai. Angkutan kota relatif banyak namun kayaknya jalan di Jambi ini kebanyakan berputar-putar saja. Sayang saya tidak banyak menjelajahi kota ini karena singkatnya waktu. Waktu satu hari hanya habis untuk mengunjungi situs komplek candi di Muaro Jambi, yang menarik perhatian saya karena baru dikunjungi presiden.

sepinya jalan di Muaro Jambi

image

Situs Candi Muaro Jambi, tampak guest house di latar belakang

Komplek candi Muaro Jambi sekitar 30 km dari kota Jambi, melewati jalur lintas timur Sumatera, yang kemudian bersimpang jalan. Dari simpang jalan itu, tak ada kendaraan umum menuju candi, jadi harus pakai ojek atau sewa mobil. Di lokasi, karena arealnya luas, disediakan sewa motor atau sepeda bila merasa berjalan kaki mengelilingi komplek candi terlalu jauh. Memang komplek candi ini cukup luas. Bahkan ditemukan candi baru yang lokasinya di luar komplek. Jadi ada kemungkinan komplek candi akan semakin luas.

image

Candi Astano di situs Muaro Jambi

Setelah itu mencari oleh-oleh. Sebenarnya makanan khas Jambi yang terkenal adalah tempoyak durian, tapi tidak saya jumpai, mungkin karena belum musim durian. Akhirnya cuma terbawa kopi AAA (kopi kesenangan masyarakat Jambi), lempok durian, dodol kentang dan sirup kayumanis. Barang-barang itu saya beli di toko cindera mata (nama tokonya thempoyak) dan sebagian di supermarket setempat. Sempat saya lihat di Jalan Sultan Agung ada toko yang menjual batik Jambi dan roti kacang khas Jambi, namun saat itu sudah tutup karena terlalu malam.

DJB, sepucuk Jambi sembilan lurah - motif kaos oleh-oleh dari Jambi

Setelah sempat tersesat di pasar angso duo, saya akhirnya memesan travel untuk tujuan ke Jambi. Travel yang lagi naik daun adalah Ratu Intan (kabarnya sebagian armadanya memakai fortuner) namun saya cukup memakai travel Jaya Mandiri dengan mobil Avanza. Kedua travel itu ada di Jl. M. Yamin.

Esok hari saya dijemput travel ini. Mobil Avanza yang kecil diisi 5 penumpang. Untung saya tidak duduk di belakang yang sempit. Saking kecilnya, beberapa barang bawaan penumpang diiikat di atap mobil. Saya hanya membawa ransel jadi masih cukup ditaruh dalam mobil. Saya nggak bisa bayangkan kalo hujan pasti basah kuyup itu bawaan diatap mobil, kalo nggak ditutup terpal/plastik. Tarif travel Rp 110.000, dengan lama perjalanan sekitar 6 jam. Penumpang (cuma) mendapat air minum botolan plastik dan kotak snack (dibuka isinya cuma 1 roti) Penumpang diantar sampai loket, tapi bisa juga sampai tujuan bila masih dalam jangkauan. Singgah di Sungai Lilin untuk makan siang (rumah makan padang Pagi Sore). Kondisi jalan lumayan bagus sehingga bisa ngebut, namun ngeri juga dengan truk-truk yang memadati Jalur lintas timur (jalintim) Sumatera ini. Truk-truk besar, beberapa kali terlihat membawa trailer dengan muatan besar seperti alat berat berjalan bagai iring-iringan gajah yang lambat. Jalan berkelok dan naik turun membuat susah untuk menyalip. Dua kali saya melihat truk kecelakaan. “Tiap hari selalu ada kecelakaan”, kata sopir travel yang urang awak itu. Sebenarnya ada bis Jambi-Palembang, namun waktu tempuhnya bisa dapat bonus 1-3 jam daripada travel.

image

Avanza milik Jaya Mandiri Travel, persiapan berangkat dari loketnya di Jambi

laju kendaraan travel bisa lebih dari 100 kpj. bikin ndak biso tidur

Setelah perjalanan 6 jam dengan kemacetan di KM 12 (terminal) menjelang Palembang, saya memasuki Palembang yang diguyur hujan deras. Berakhir sudah part 1, kota Jambi, yang akan disusul part 2, Palembang.

— special thanks to Om Syam & tante Yur, Abi, Dedi dan Dian —

Seperti yang pernah saya tulis di sini, kereta api adalah angkutan favorit untuk mudik. Pada saat sekitar lebaran, aktivitasnya bertambah, sehingga lalu lintas kereta, terutama daerah yang rawan antara Manggarai – Jakarta Kota menjadi padat sekali karena berbagi jalur dengan kereta lokal, KRL Jabodetabek.

KRL melintas Gambir

Seperti tahun-tahun sebelumnya, untuk sedikit mengatasi kepadatan itu, PT KAI melakukan ‘kebijakan’ bahwa KRL tidak akan berhenti di stasiun Gambir, jadi melintas langsung. Tahun ini mulai H-5 sampai H+3 KRL tak behenti di Gambir. Jelas ini merepotkan bagi pengguna KRL maupun calon penumpang Kereta Api jarak jauh. Bagi pengguna KRL yang biasanya bisa turun Gambir, sekarang harus menambah biaya dan waktu karena harus turun di stasiun Juanda atau Gondangdia. Bagi pengguna kereta api jarak jauh yang menyusuri Pulau Jawa, jelas ini mengurangi alternatif angkutan dan kenyamanan menuju Gambir.

Karena angkutan yang relatif cepat dan mudah di Depok adalah KRL, jelas saya naik KRL. Karena nggak berhenti di Gambir, harus turun di Gondangdia. Dari atas harus turun ke bawah lewat tangga, karena stasiun Gondangdia adalah stasiun atas. Kemudian mencari bajaj, terus menuju stasiun Gambir, naik tangga lagi dua tingkat untuk menunggu kereta di atas. Bayangkan, misalnya saya dari Depok, membawa 2 orang anak kecil yang satunya harus digendong, disamping itu juga membawa barang dan tas bawaan untuk mudik. Kok malah jadi nelangsa gini ya…

kereta jawa dari front utara

‘Kebijakan’ itu cuma di Gambir. Saya berpikir apa nggak seharusnya sebagai sesama pengguna produk kereta, berhenti sejenak di stasiun Gambir (biasanya juga cuma dalam hitungan detik) kan tidak mengganggu. Saya makin jengkel mengingat Gambir adalah pemberhentian bagi kereta eksekutif… sampai tersirat pikiran ; “oh… begini ya, memang pengkastaan itu ada. Kelas yang paling tinggi yang diutamakan”.

Boro-boro mengintegrasikan antar moda angkutan, ini yang satu perusahaan, sesama kereta aja nggak kompak, satu harus dikalahkan yang lain. Saya dulu bahkan punya pikiran… kalo saya telat naik kereta jawa (kereta jarak jauh) gara-gara KRL saya yang ke Gambir telat, bisa nggak ya dapat pengembalian tiket? kan satu perusahaan (mimpi kali yeee…).

Alasan PT KA, rencana pemindahan terminal kereta jawa ke stasiun Manggarai dan jalur double-double track antara Cikarang-Manggarai masih belum terlaksana juga, sehingga ‘kebijakan’ melarang KRL berhenti di Gambir dilakukan. Selalu masalah teknis, atau kadang masalah bisnis yang dijadikan alasan. Kalau menurut saya sih… pembuat kebijakan ini tidak pernah, atau sedikit sekali melihat dari sisi penumpang.

13131135791896246557

Saya baca disini , Pemkab Bogor memperbolehkan pemakaian mobil dinas pegawainya untuk mudik pada Lebaran 1432 ini. Banyak alasannya, karena masalah pengawasan, pemanfaatan kendaraan dan lainnya. Dari sisi leadership, tentu saja tindakan itu sangat populis di kalangan pegawai, kelihatan mengayomi. Namun ada satu kalimat yang membuat saya terenyuh, yaitu :

“Sayang bila tidak dimanfaatkan, dan kasihan kalau mereka pulang kampung naik angkutan umum. Asal ada izin dari pimpinan silakan saja,” ungkapnya, kepada wartawan, Kamis, 11 Agustus 2011 (vivanews).

Kelihatannya ini jawaban yang polos… mengungkapkan apa sebenarnya apa isi benak para pejabat pemerintahan ini. Sehingga teka-teki yang sulit mengenai mengapa angkutan umum di negara ini morat-marit dan dipandang sebelah mata, seakan telah terjawab.

KASIHAN kalo naik angkutan umum. Berarti memang dari pejabat negara ini sudah punya pemikiran bahwa angkutan umum itu memang sudah parah. Penggunanya hanya perlu dikasihani, dan jangan sampai… amit-amit jabang bayi…. jangan sampai jadi penumpang umum yang sial dan kasihan itu.

Saya jadi teringat kisah Khalifah Umar bin Abdul Azis yang mematikan lampu di kantornya ketika membicarakan urusan pribadi dengan anaknya hanya karena tidak mau menggunakan fasilitas negara. Atau nggak usah jauh-jauh, saya baca disini Pemprov DKI Jakarta yang melarang penggunaan mobil dinas untuk mudik. Dan kayaknya sebenarnya pegawai yang memanfaatkan mobil plat merah juga dalam hatinya sadar (atau nggak mau nimbulkan perhatian), seperti paman saya yang selalu mengganti plat merah di mobil dinasnya dengan plat hitam saat keluar kota untuk urusan pribadi.

1313113777285627781

Sial, saya termasuk pengguna angkutan umum. Kini saya terasa benar menjadi seperti tontonan belaka, berimpitan berdesakan dalam kereta api, kapal laut, bis …. Dan hanya dipandang dengan kasihan dari dalam mobil dinas pejabat. Mungkin dalam hati mereka bersyukur, tidak menjadi saya dan jutaan penumpang umum lainnya, yang hanya masuk berita kalo kereta apinya tabrakan, kapalnya kelelep, atau bisnya terguling.

Kami tidak butuh kasihan! kami butuh tindakan, sebab kami bukan tontonan.

Benar, saya iri mendengar kabar di media tentang gebrakan transportasi di Kota Solo/Surakarta. Saya hitung kota ini minimal mempunyai tiga moda transportasi massal yang tersistem, padahal volume lalu-lintasnya jauh dibawah Jakarta

Railbus Bathara Kresna

Railbus Bathara Kresna (Inka)

Sekitar bulan Juli 2011,  menteri perhubungan meresmikan Railbus, jenis KRLDE (kereta rel listrik dan diesel) dengan harga sekitar Rp 15 – 20 miliar, berisi tiga rangkaian, dengan kapasitas angkut maksimal 200 orang. Ternyata moda transportasi Railbus juga sudah beropeasi tahun 2008 di Palembang, Sumatera Selatan untuk melayani rute Kertapati – Indralaya (kampus Universitas Sriwijaya).  Railbus di Solo melayani rute Solo – Wonogiri. Meskipun saat ini belum beroperasi karena berbagai kendala teknis (antara lain infrastuktur jembatan dan rel yang belum siap atau masalah administrasi pengoperasiannya dengan PT KA), saya baca di sini, operasionalnya akan dimulai H-7 lebaran 1432 H.

Prambanan Ekspress (Prameks)

Merupakan kereta yang melayani jalur Solo – Yogyakarta – Kutoarjo, yang merupakan jalur ganda (double track). 1 set terdiri 5ima unit kereta Prameks per rangkaian KRDE (Kereta Rel Diesel Elektrik) tersebut terdiri atas satu unit kereta mesin (engine, KDE) diesel, satu unit kereta ko-trailer, dua unit kabin trailer dan satu unit trailer ditambah kabin masinis. KRDE ini diberi kode KDE-3, yang berarti KRDE kelas ekonomi.

duo Prameks (foto semboyan 35)

interior Prameks (foto kompas)

Saat ini, Prameks beropeasi 10 kali PP (Solo – Yogyakarta). Kereta api ini juga sekarang berhenti di Stasiun Maguwo (Bandara Adisucipto), sehingga terintegrasi dengan Bis Transyogya dan pesawat terbang. Komuter Jakarta patut beriri hati, mengingat KRL bandara saat ini masih dalam mimpi.

BST (Batik Solo Trans)

Ini BRT (Bus Rapid Transit) seperti model Bis Trans Yogya, atau mirip-mirip Busway. Mulai beroperasi sejak 2010, menggantikan Bus Damri yang sebelumnya melayani jalur ini. Rutenya dari Palur-Jurug-UNS-RS Muwardi-Pasar Gede-Gladak-Kustati-Gading-Sraten-Jamsaren-Tipes-Bayangkara-Baron-Gendengan-Purwosari-Kleco-Pabelan-Kartosuro. Kembali Kartosuro-Pabelan-Kleco-Purwosari-RS Kasih Ibu-Gendengan-SGM-Sriwedari-Nonongan-LP-Gladak-Balai Kota-Pasar Gede-RS Muwardi-UNS-Jurug-Palur.

Batik Solo Trans (Antara)

interior BST (solopos)

Pembelian tiket masih diatas bis, oleh kondektur. Namun rencananya akan diganti smart card. Berbeda dengan Busway Transjakarta, BST ini tidak mempunyai jalur khusus. Mungkin karena masih tidak semacet Jakarta. Ukuran bisnya juga bukan bis besar, apalagi bis gandeng. Namun itu sudah cukup untuk Kota seperti Solo. Hebatnya, tidak seperti Bis Kopaja AC, model tempat duduknya juga mengakomodir penumpang berdiri agar nyaman, sehingga daya tampungnya lebih besar daripada Kopaja AC.

Bis Tingkat Werkudoro

Ini sebenarnya bukan angkutan komuter, namun angkutan wisata, jadi bukan menggantikan bis tingkat Damri yang sebelumnya pernah beroperasi.  Tapi kalo mau naik untuk wisata tergolong murah tarifnya, yaitu cuma Rp 20.000.  Bis ini juga bisa disewa.

interior werkudoro

Bus Tingkat Werkudoro (antara)

Beroperasi setiap hari mulai pukul 08.00-22.00 yang melewati titik-titik wisata dan ekonomi, seperti Taman Sriwedari, Museum Radya Pustaka, Kampoeng Batik Kauman, Laweyan, Lumbung Batik, Pura Mangkunegaran, dan lainnya. Tingkat atas bis ini terbuka, sehingga bisa melihat langit, juga lebih terasa membumi (asal jangan kehujanan saja). Kalo bis wisata ini diterapkan di Jakarta, mungkin bisa dari pagi sampai sore baru sampai ya.. karena macet.

Tulisan ini saya persembahkan untuk masyarakat pengguna angkutan umum di daerah-daerah, terutama daerah pinggiran yang seakan terlupakan atau daerah pedesaan yang tidak masuk hitungan.

Ketika saya sering ke desa, terutama saat saya baru lulus kuliah dan terlibat dalam proyek-proyek di pedesaan yang terpencil, kesulitan yang sering saya alami adalah langkanya angkutan pedesaan. Kalaupun ada, kelihatannya tidak di atur masalah keamanan atau kenyamanannya. Pasti ada yang berkomentar, ” di Jakarta juga sama, coba lihat kopaja atau metromini !”.  Hee… jangan salah, sekarang kopaja ada yang pake AC.

Tapi bener… bener-bener deh, angkutan pedesaan itu sudah melebihi fear factor. Mungkin hanya bisa bisa disamai oleh para atapers KRL ekonomi panas.

foto dari matanews

Untuk jalanan yang naik turun ektrem, banyak penumpang nggandol (bergelantungan) di belakang dan sisi-sisi angkutan. Bahkan ada yang juga diatas jadi atapers. Saya sendiri nyaris jatuh karena nggak kuat berpegangan besi bergelantungan dibelakang, sementara kendaraan mendaki kemiringan lebih dari 40 derajat. Hebatnya, penumpang lain, bahkan yang sudah sepuh umurnya, tenang saja sambil membawa barang. Keadaan itu juga pasti terjadi pada saat jam sekolah. Dimana anak sekolah masuk atau pulang pada jam yang sama, angkutan yang tersedia sangat terbatas. Sehingga… yah… silakan gambar saja yang bicara

foto dari suara merdeka

Keadaan seperti itu kerap dijumpai di daerah-daerah pinggiran. Ketika saya di Kalimantan, meskipun masih dekat dengan kota juga banyak yang menumpang dengan cara seperti itu. Kenapa sih penumpangnya mau membahayakan diri seperti itu?

Jawabannya (karena saya juga pernah jadi penumpangnya) adalah : karena memang seperti itu keadaannya. Sopir angkutan hanya mau berangkat kalo penumpang sudah penuh. Penumpang yang nggak mau ikut, kalo mau nunggu angkutan berikutnya sangat lama berangkatnya. Jam operasional angkutan itu sangat terbatas. Bahkan kalo memang sepi, sopirnya bener-bener nggak narik.

 

angdes tulakan (thank's to nina for this photo)

Tampaknya sudah susah dibedakan dengan angkutan barang. Saya jadi teringat pelajaran ekonomi dasar, bahwa memang tujuan manusia mencari keuntungan sebesar-besarnya. Bila tak ada regulasi, segala cara dihalalkan. Wong mereka juga cari uang, masak disalahkan. Dan kayaknya mereka lebih diatas angin. Kalo dilarang ngangkut orang, ngangkut barang ke pasar juga lebih untung, pikirnya. Masih untung ada yang mau buka usaha angkutan di desa yang sepi dan bayarnya minta murah gitu. Ini belum termasuk kondisi jalan dan jembatan yang ancur-ancuran. Wajar kalo sedikit yang mau berinvestasi pada angkutan pedesaan.

Sedangkan penggunanya, mau berbuat apa? mau memboikot, namanya juga perlu, wong nggak punya kendaraan. Jalan kaki juga nggak dilarang. Tapi mereka tak pernah mengeluh, tiap hari juga dilakoni. Mereka menjadi (dipaksa) tangguh karena ditempa keadaan. Ada yang celaka, satu-dua, juga dimaklumi karena apes.

Atau mungkin juga mau mengeluh, tapi kemana? siapa yang mendengar?