Archive for the ‘Transport Jakarta’ Category

Mungkin karena saya jarang naik transjakarta, saya tidak begitu memperhatikan rambu dan larangan  di dalam bis transjakarta. Namun sepinya penumpang di hari kamis 9 April lalu membuat saya leluasa mengamati interior bis. Ada satu rambu/tanda larangan yang menarik perhatian saya :

image

Lha… apa maksudnya ini… sepertinya ini dimaksudkan sebagai larangan untuk melakulan pelecehan seksual, karena rasanya tidak mungkin kalo ada larangan memakai rok pendek di negara ini.

Tapi… kenapa kok jadi ada rambu seperti itu? Bukankah pelecehan seksual sendiri adalah masalah pidana?

Larangan di bis transjakarta ini harusnya adalah larangan yang bersifat khusus, seperti makan/minum, membawa piaraan dll, yang dibolehkan di tempat lain. Lha kalo masalah pidana ya gak perlu dibuat lagi larangannya. Masak perlu dibuat juga larangan mencopet, secara sama-sama kejadian yang sangat mungkin terjadi di bis.

image

Ini nanti malah menimbulkan inspirasi. Lagipula tendensius sekali gambarnya mendiskreditkan salah satu gender. Yang paling saya takutkan malah memberikan pelajaran yang salah bagi pengguna bis transjakarta, bahwa pelecehan seksual hanya masalah normatif seperti rambu larangan lain yang tertempel sejajar.

Bener-bener gak bener.

Iklan

20140401_081514[1]

Singkat cerita, Jakarta akan melarang sepeda motor melintas di jalan-jalan protokolnya, yang akan dimulai ujicobanya Desember 2014. Tentu saja hal itu menimbulkan pro kontra. Saya tidak terlibat pro dan kontra itu, namun hanya menampilkan informasi dan data yang saya peroleh dari googling.

1. Jumlah sepeda motor yang melintasi Jakarta ada 8,7 juta setiap harinya : sumber

2. Jumlah rata-rata kecelakaan yang melibatkan pengguna sepeda motor tidak sampai 2 kali setiap harinya (0,00002% dari jumlah no.1)

3. Jumlah rata-rata pelanggaran lalu lintas oleh pengguna sepeda motor adalah 1.420 kali setiap hari (0,02% dari jumlah no. 1)

4. Jumlah kapasitas angkutan umum di Jakarta (tidak termasuk KRL) : sumber

Jenis Jumlah Kapasitas Daya angkut
Bus Besar         2.149               60          128.940
Bus Sedang         1.455               35            50.925
Angkot/minibus       14.049               11          154.539
Total daya angkut          334.404

5. Jumlah mobil penumpang (pribadi) di Jakarta sebesar 2,5 juta unit

6. Jika rata-rata penumpang kendaraan pribadi (mobil & motor) di Jakarta adalah 1,2 orang per unit, maka jumlah pengguna nya adalah sebagai berikut :

Jenis Jumlah unit Kapasitas rata-rata Jumlah penumpang
Sepeda Motor    8.700.000              1,2    10.440.000
Mobil Penumpang    2.541.351              1,2      3.049.621
Total jumlah penumpang    13.489.621

7. Jika saja 30% pengguna sepeda motor berpindah ke moda transportasi umum, maka ada lebih dari 3 juta penumpang baru. Jika asumsinya semua angkutan umum sudah penuh (maximum capacity) pada saat jam sibuk, maka diperlukan jumlah angkutan umum (non KRL) sepuluh kali lipat dari yang sekarang sudah ada.

anti biker

8. Jumlah sepeda motor adalah mayoritas (diatas 75%), namun ruas jalan yang boleh dilalui terbatas. Sepeda motor tidak boleh melewati ruas jalan tol, jalan layang non tol, jalur cepat, dan nantinya jalan-jalan protokol di Jakarta. Belum lagi tempat parkir yang tidak layak/dinomorduakan.

9. Tidak ada jalur khusus untuk sepeda motor. Adanya jalur lambat yang harus berbagi dengan kendaraan beroda empat, termasuk bis besar.

10. Jumlah sepeda motor naik dan jumlah angkutan umum turun. sumber

Singkat cerita, mayoritas sepertinya harus tertindas.

 

Rebutan

Posted: 17 Februari 2014 in angkutan umum, Transport Jakarta

Rezeki takkan lari karena sudah ada yang mengatur.Tapi ungkapan itu kayaknya gak berlaku di sini, khususnya di angkutan umum. Tingginya persaingan terutama di daerah pinggiran.

image

Kenapa kok malah didaerah pinggiran? Bukannya daerah tengah kota justru penuh persaingan angkutan umumnya?

Menurut saya malah kalau di tengah kota itu lebih ke pemilihan, bukan rebutan. Pilih nyaman tapi mahal naik aja taksi. Pilih murah tapi kurang cepat dan nyaman naik bis kota. Pilih cepat naik ojek tapi tidak nyaman dan mahal. Dan lain-lain. Intinya lebih ke pemilihan sesuai dengan kepentingan dan budget. Memang di jam sibuk (berangkat dan pulang kerja) pilihannya agak menyempit karena banyaknya pengguna, tapi intinya ‘selalu ada pilihan’.

Lain halnya di daerah pinggiran. Karena angkutan umum yang tersedia sering terbatas. Kebanyakan trayeknya adalah trayek ‘purbakala’ yang tidak berkembang sejak dulu. Yah… ini kenyataan. Trayek angkutan umum tidak berkembang bahkan bila ada jalan baru atau pemukiman baru. Contohnya di Depok, ada jalan Juanda yang sudah dibangun lebih dari 5 tahun yang lalu dan banyak perumahan baru pula disana, tapi sama sekali tidak ada angkuta  umum yang melewatinya. Sama kondisinya dengan jalan MERS di Surabaya.

image

Dengan ketersediaan angkutan umum yang terbatas di didaerah pinggiran, menimbulkan angkutan yang informal, seperti ojek. Keberadaan ojek ini meskipun tarifnya mahal bila memang sangat diperlukan bagi yang tidak punya kendaraan atau memilih tidak berkendaraan sendiri.

Namun hal ini kemudian bisa menjadi persaingan yang tidak sehat. Banyak dalam prakteknya karena sudah menyangkut ke masalah kebutuhan dapur maka ojek yang sudah ada cenderung mempertahankan hegomoninya. Misalnya dulu kebiasaan angkot tidak beroperasi setelah habis maghrib (mungkin karena sepinya penumpang) maka penumpang yang tertinggal diambil alih oleh ojek. Kemudian lambat laun keadaan berubah. Penumpang ‘malam’ makin banyak sehingga memancing angkot untuk menambah jam operasionalnya. Maka konflik pun tercipta.

Hal yang klasik terjadi. Disini memang perlunya pemerintah turun tangan. Perlu ketegasan pemerintah untuk itu. Semua angkutan yang infomal seperti ojek sifatnya adalah darurat dan alternatif saja. Bukan yang utama. Baru-baru ini ada kejadian APTB yang banyak diprotes di ketika akan masuk terminal Baranangsiang, memang hanya bisa diselesaikan oleh pemerintah.

Ujung-ujungnya jika masalah ini tidak diselesaikan dengan baik yang rugi adalah penumpang. Angkutan umum semuanya akan menuju rendahnya biaya dengan sifatnya yang massal. Maka selalu ada pembaruan menyesuaikan kebutuhan dan situasi yang ada.

Ada kejadian tadi pagi waktu naik angkot yang mengganggu pikiran saya. Sebenarnya kejadiannya sederhana, ada seorang bapak tunanetra yang mencegat angkot di jalan TB Simatupang. Angkot saya menghampirinya dan sopir menyebutkan jurusannya. Dengan bersenjata tongkat bapak tersebut bisa masuk ke pintu angkot, dan berpesan ke sopir angkot agar diturunkan ke Yayasan Kanker. Kejadian tersebut tidak sampai 15 menit, namun membekas dalam benak saya.

IMG-20130215-01022

Selama ini saya sering ngobrol dengan teman-teman saya, yang mayoritas memakai kendaraan pribadi. Katanya yang paling praktis dan fleksibel adalah naik kendaraan pribadi. Terlebih bila memakai sepeda motor, anti macet dan murah meriah. Makanya pengendara motor jumlahnya makin menjamur.

Bicara mengenai sepeda motor, ingatan saya jadi menerawang kejadian yang lalu, saat saya masih sering naik bis. Saat itu ada ‘penumpang baru’, yang tidak biasanya naik bis itu duduk sebelah saya. Ternyata dia biasanya naik motor, namun karena kecelakaan motor, terpaksa dia naik bis karena masih cedera, tak bisa berkendara sementara waktu.

Jadi, apa yang berkecamuk dalam pikiran saya cuma satu. Meskipun punya dan mampu berkendara kendaraan pribadi, ada saat-saat dimana kita lemah. Saat kurang sehat, cacat, miskin, ataupun tua. Atau saat mental kita tidak memungkinkan berkendara. Mungkin belum terasa saat kita masih muda, sehat dan mampu.

Saat-saat kita lemah seperti itu, tidak semua mampu naik taksi, ojek ataupun menyewa sopir. Tidak mesti semua orang siap siaga membantu/mengantar kita dalam bepergian. Saya bayangkan diri saya sendiri, akhirnya juga kembali ke angkutan umum bila tetap harus bepergian.

Namun…. saya menerawang kembali mengenai fasilitas bagi orang-orang yang lemah di transportasi umum yang ada, khususnya di ibukota. Sepertinya tidak masuk akal berebut naik KRL, busway atapun bis kota dalam kondisi lemah. Tampaknya adalah suatu anomali bila ada orang diffabel atau orang yang lemah lainnya dalam transportasi massal di Jakarta, bahkan mungkin tidak terpikirkan bagi pembuat kebijakan transportasi di sini. Mungkin pilihan paling masuk akal adalah naik angkot yang lebih kecil dan lebih manusiawi, meskipun sangat tergantung perilaku individu sopirnya.

Saat kita lemah, namun tetap harus mencari nafkah, mau tidak mau kita harus menghadapinya. Setidaknya kejadian tadi pagi di jalan TB Simatupang membuktikan bahwa tunanetra pun bisa naik angkutan umum di Jakarta pada jam sibuk.

monas

Bagi sebagian besar penglaju yang beragama Islam, ada waktu-waktu yang rawan, yaitu saat pulang kerja. Kebanyakan jam kerja selesai jam 17, saat sholat Maghrib menjelang. Durasi waktu sholat maghrib yang pendek berhadapan dengan lamanya waktu tempuh perjalanan pulang menimbulkan permasalahan bagi para pekerja muslim. Sebenarnya ada yang membolehkan menjama’ sholat meskipun secara jarak belum mencukupi, seperti di situs ini. Namun ada lebih memilih supaya aman tetap sholat normal, mau menjama’ sholat karena keadaan terpaksa/darurat, kok rutin tiap hari.

Kalau memilih tetap sholat normal, ada dua alternatif, yaitu menunggu waktu maghrib dulu, baru pulang. Atau alternatif kedua tetap memilih pulang seperti biasa, dan sholat di perjalanan. Nah, saya kali ini khusus membahas masalah ini. Kalau naik kendaraan pribadi sih tidak masalah, karena di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya atau Bandung umumnya jumlah mesjid melimpah ruah sepanjang perjalanan. Tinggal singgah saja.

IMG-20130308-01078

Namun bagaimana dengan pengguna angkutan umum? ini agak rumit, dan memerlukan pengalaman dan taktik tersendiri agar bisa dipaktekkan.

a. Memakai jalur angkot.

Jenis angkutan umum ini paling fleksibel karena bisa naik/turun hampir disemua tempat. Jika ingin sholat berhenti saja di dekat mesjid, lalu selesai sholat naik lagi. Namun cara ini memang lebih mahal karena biayanya seperti 2x naik angkot.

b. Memakai jalur bis kota

Sebenarnya bis ini hampir sama dengan angkot, bisa naik/turun hampir disemua tempat. Namun bedanya, bis-bis tertentu (terutama yang jarak jauh) biasanya waktu tem lama, kalau turun untuk sholat bisa-bisa lama baru dapat bis lagi. Dan lebih parah kalau bis ini melewati tol, dan lama disana. Kalau begini memang tak ada kemungkinan untuk turun.

c. Memakai jalur Busway

Hampir sama seperti naik angkot, bisa berhenti di halte busway. Namun saya sendiri tidak yakin dengan fasilitas sholat di halte busway, jadi kayaknya harus keluar halte, artinya harus beli tiket lagi.

d. memakai Jalur KRL

Sebenarnya bisa turun distasiun tertentu untuk sholat, karena umumnya distasiun KRL atau dekat stasiun terdapat mushola/mesjid. Cuma dengan sistem tiket kereta seperti sekarang ini kalau tidak direncanakan bisa keluar uang lebih banyak, karena lokasi mushola diluar peron yang harus keluar pintu kartu elektronik. Misalnya dari Jakarta Kota tujuan Bogor, kita beli tiket one trip sampe Bogor, padahal mau singgah di Pasar Minggu/Manggarai untuk Sholat. Kalau multi trip sih mungkin bisa lebih pas. Cuma masalahnya, meskipun frekuensi KRL sudah banyak, karena sesaknya KRL waktu jam pulang, risikonya waktu masuk harus extra keras perjuangannya untuk masuk KRL di stasiun tengah.

e. Moda kombinasi

Ini yang paling sering dilakukan oleh para komuter, karena jarang memakai satu jenis moda angkutan. Dengan moda kombinasi ini, yang paling efektif adalah sholat di tempat pergantian antar moda. Misalnya dari angkot pindah ke KRL/Bus kota, sholat bisa di stasiun/dekat stasiun/dekat halte/terminal.

Dari sekian banyak jalur diatas diatas, yang penting dilakukan adalah rencana perjalanan. Estimasikan dimana tempat yang memungkinkan untuk singgah dalam batasan sholat, dan tidak terlalu membebani biaya/sulit mencari angkutan lagi. Jangan khawatir mencari tempat sholat, saya biasa bertanya ke orang-orang sekitar pasti ada. Bahkan pernah sholat di mushola Pos Satpam.

Kemungkinan terarakhir apabila ingin tetap bisa sholat normal, adalah mengubah pola naik angkutan umum. Saya dulu pernah mengandalkan bis yang waktu tem-nya lama. Namun kemudian mencari alternatif akhirnya sekarang berpindah-pindah angkot. Waktu tempuh sering lebih cepat karena saya bisa memotong jalur. Mungkin ongkosnya lebih mahal, namun waktu yang dibeli. Yang sering bikin malas seringkali karena sering berganti tempat duduk. Biasa, kita kalau sudah duduk lupa berdiri. Namun jadinya kayaknya lebih sehat, karena angkutan umum mana di Jakarta yang duduknya enak (kecuali taksi).

Manuver Kopaja S-13

Posted: 13 Juni 2013 in Bis, Transport Jakarta
Tag:, ,

Kopaja AC S-13 (Ragunan-Grogol) yang pernah saya ceritakan disini sekarang sudah ada yang berubah. Mulai Januari 2013 lalu bis ini, beserta saudaranya, Kopaja AC P-20 (Lebak Bulus-Senen) akan ‘terintegrasi’ dengan busway. Artinya sudah boleh mampir di halte busway. Tapi saya sendiri nggak terlalu tahu model ticketing-nya, soalnya pasti penumpang Transjakarta ditagih lagi oleh kenek kopaja. Maklum saya belum pernah dikasih tiket selama naik kopaja ini.

Tapi saya tidak membahas masalah tiketnya, saya cuma bercerita tentang efeknya disisi penumpang dengan adanya gelar ‘terintegrasi’ ini. Pertama, bis ini jelas harus memiliki pintu di kedua sisinya. Karena halte busway umumnya berada disebelah kanan. Jadinya dinding sebelah kanan dirombak, yang mengorbankan sekitar 3-4 baris tempat duduk.

Pintu busway Kopaja AC

Jadi jumlah penumpang berdiri meningkat, alias penumpang duduk menurun. Bagi beberapa penumpang ini merugikan, apalagi jika jarak jauh.

Kesulitan lain adalah bis ini jadinya seakan bermanuver ke kiri dan kanan, khususnya di jalan arteri pondok indah, yang berimpitan dengan Koridor VI (Ragunan-Dukuh Atas)

busway

jadi dari citra satelit diatas kita bisa melihat kalau kopaja S13 itu datang dari arah tenggara (Jl Simatupang) berbelok ke Arteri Pondok Indah, dia harus memilih mengangkut penumpang di halte bis biasa atau di halte busway. Jika memilih dua-duanya maka dia akan bermanuver tajam dari kiri (halte biasa) langsung ke kanan (halte busway). Tapi lebih sering didaerah situ halte bis biasa yang dikorbankan. Ada yang bilang, kalau mau nunggu Kopaja S13 tunggu aja di halte busway. Ada benernya tapi gak 100%. Kopaja S13 ini sering cuma alternatif saja, karena banyak bis lain yang arahnya sama. Misalnya mau ke Mesjid Pondok Indah, bis lain adalah Kopaja reguler 86, Metromini 85, Deborah raksasa, Mayasari Bhakti PAC 73, atau PPD AC 16. Atau mau lebih jauh ke Ratu Plaza bisa PPD AC 16. Bahkan sampai ke Slipi masih berimpit dengan Kopaja 86. Jadi ini cuma masalah bis mana yang datang duluan, bukan loyal pada salah satu bis.

Masalahnya sekarang jalan Arteri pondok indah itu macet banget, jadi manuver ke kiri dan kekanan itu bisa bikin pengendara yang lain sewot. Perilaku mendua ini bikin runyam. Akhirnya karena bis lebih sering di jalur kanan, saya sering melihat penumpang akhirnya naik/turun ditengah jalan, yang jelas secara safety gak bagus.

Mungkin nanti kedepannya semua halte bis akan dijadikan satu, atau benar-benar terintegrasi. Mungkin kapan-kapan dilain hari.

Kabar berlabuhnya kapal Rainbow Warrior II baru saya dengar Sabtu pagi ini. Ternyata dia sudah sandar sejak kamis, 6 Juni 2013, dan sudah dikunjungi presiden SBY Jumat kemarin. Baru hari Sabtu ini dibuka untuk umum, sampai dengan hari Minggu. Hari sudah siang, mendekati jam 11, jadi saya berpikir bagaimana cara tercepat mencapai Tanjung Priuk. Apakah naik bis PAC 82 jurusan Depok-Tanjung Priuk, ataukah naik KRL ke Stasiun Kota dulu, lalu naik angkot? masalahnya saya tidak pernah ke Tanjung Priuk. Sayangnya jadwal KRL yang ada tidak ada yang jurusan Stasiun Tanjung Priuk.

Akhirnya saya pilih KRL dengan pertimbangan kecepatan dan frekuensinya yang lumayan tinggi sekarang. Jika naik bis PAC 82, mungkin jalanan tidak semacet hari kerja, tapi jumlah penumpang lebih sedikit bisa berdampak frekuensi keberangkatan berkurang dan waktu ngetem bisa lebih lama. Meskipun pertama agak kagok dengan sistem tiket elektronik perjalanan, KRL lancar dan cepat, dengan suasana stasiun yang agak lengang, dampak sterilisasi stasiun yang baru saja dilakukan.

Sampai di Stasiun Kota, sudah tampak ngetem mikrolet 15A biru telor asin jurusan Tanjung Priuk. Ngetemnya agak lama karena nunggu sampai penuh. Tapi kebanyakan penumpang turun di Pasar Pagi. Jadi hanya saya yang sampai ke terminal Tanjung Priuk. Karena memang baru pertama kali ke Tanjung Priuk, saya bingung dimana lokasi sandarnya si Rainbow Warrior itu. Jadi saya tanya tukang ojek, kemarin Presiden SBY kemana, dengan Rp 10.000, mereka langsung mengantarakan saya ke Dermaga Pelni.

pelabuhan yang sepi

pelabuhan yang sepi

Dermaga yang sepi, namun di pintu 1, diujung tampak antrean orang. Ternyata banyak juga yang berminat melihat Rainbow Warrior itu. Ruang tunggu bersih dan nyaman ber-ac, termasuk mushola yang  memadai. Menunggu agak lama karena dibuka per gelombang agar tidak berjubel, akhirnya jam 13.00 saya sudah berada di dek Rainbow Warrior II, adik Rainbow Warrior I yang sudah karam dibom. Si Rainbow ijo itu ternyata sandar di dekat KM Titian Nusantara, kapal yang sudah familiar dengan saya waktu di Kalimantan dulu.

rainbow warrior dari arah haluan

Masuk ruang Kemudi, ternyata jurumudinya orang Indonesia, Ade Koncil. Awak kapalnya sekitar 16 orang dari berbagai negara, dan dikontrak 3 bulan. Menjalankan kapal ini memakai autopilot, namun bila cuaca buruk kemudi manual kembali dipegang. Setelah berkeliling dek, saya menyaksikan sekilas pemutaran filem mengenai Greenpeace, yang punya kapal Rainbow Warrior. Kapal ini baru kembali dari Papua, setelah singgah di Banoa, Bali. Pemutaran filem itu di ruang konfrensi, yang terletak di bawah dek.

ruang kemudi dari arah depan

ruang kemudi dari arah depan

Kesan saya sih…. bersih dan nyaman Kapal Rainbow Warrior ini, beda dengan kapal-kapal penumpang yang pernah saya tumpangi. Kapal ini diklaim ramah lingkungan, karena sering menggunakan tenaga angin (alias kapal layar). Maka terlihat perbedaan yang paling mencolok dengan kapal-kapal lainnya yang sandar disekitarnya adalah adanya tiang tinggi untuk layarnya. Video mengenai tour ke Kapal Rainbow Warrior II ini telah saya upload di sini.

100_5671

Setelah puas berkeliling, saya melihat sudah mendung tebal. Daripada naik ojek kehujanan, saya melihat ada Taksi B****, saya naik saja ke Stasiun Kota, sementara hujan sudah mulai turun. Tapi ini pengalaman saya yang paling buruk dengan Taksi B****, ternyata argonya tidak dari nol (mulai dari sekitar Rp 60 ribuan). Dia juga menyarankan lewat Sunter, dan cara mengemudikannya yang kasar, dan ketika saya bayar beralasan tidak ada kembalian. Padahal taksi ini termasuk taksi ‘kelas satu’ di Jakarta. Entah kenapa pengalaman saya di Jakarta dengan taksi-taksi dari terminal, pelabuhan atau stasiun pelayanannya jelek, kecenderungan ‘mengeruk uang penumpang’. Apa dikira penumpang dari pelabuhan itu orang udik semua yang jadi sasaran empuk?

Sayang sekali lokasi terminal dan stasiunnya agak jauh dari pelabuhan. Setidaknya sarana transportasi massal seperti KRL atau Transjakarta Busway, atau bahkan sekadar kopaja/angkot bisa lebih ‘aman’ karena tarif dan rute-nya tidak bisa bohong, dan banyak orang/penggunanya yang saya bisa bertanya kelazimannya.