Kliping

    

Jokowi Pro Transportasi Massal, Bukan Tol Dalam Kota

JAKARTA, KOMPAS.com – Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengaku tengah mengevaluasi proyek pembangunan enam jalan tol dalam kota. Namun, ia masih belum jelas mengindikasikan apakah akan melanjutkan atau tidak melanjutkan proyek tersebut.

“Semua ini saya sampaikan di Kementerian Pekerjaan Umum dalam kajian. Tapi sekali lagi saya tekankan, saya tidak pro pada jalan tol dalam kota. Jokowi pro pada transportasi massal,” kata Jokowi di Balaikota DKI, Jakarta, Senin (5/11/2012).

Mengenai surat penetapan lokasi pembangunan (SP2LP), Jokowi mengatakan, saat ini tinggal menunggu dari Jakarta Timur.

“Yang kurang kan hanya tinggal Wali Kota di Jakarta Timur. Wali Kota yang sekarang pensiun. Nanti kalau sudah ada gantinya, baru dikerjakan. Dalam satu dua hari ini dicari penggantinya,” kata Jokowi.

Sekadar informasi, pembangunan enam ruas jalan tol, sebelumnya telah direncanakan mantan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo. Kala itu, Foke berencana memulai pembangunan proyek ini pada 2013, dengan perkiraan biaya Rp 40 triliun.

Pembangunan tahap pertama diprioritaskan untuk ruas tol Semanan – Sunter dan Sunter – Bekasi Raya. Tahap ini berada pada ruas tol Sunter – Pulogebang. Total anggaran yang dibutuhkan untuk tahap pertama mencapai Rp 17,1 triliun.

Sementara untuk tahap kedua bakal dibangun ruas tol Duri Pulo – Kampung Melayu, dan Kemayoran – Kampung Melayu dengan nilai investasi Rp 12,91 triliun. Untuk tahap ketiga, bakal dibangung ruas Tanah Abang – Ulujami serta Pasar Minggu – Casablanca yang direncanakan mulai 2018 dengan investasi sebesar Rp 5,71 triliun.

Jakarta Tollroad Development (JTD), yakni konsorsium dari PT Jakarta Propertindo, Pembangunan Jaya Group, PT Hutama Karya, PT Pembangunan Perumahan Tbk (PTPP), PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), PT Adhi Karya Tbk (ADHI), dan PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP), akan menjadi pemrakarsa pembangunan enam ruas jalan tol.

 

Jusuf Kalla Tawarkan Monorel untuk Bandung

Jumat, 05 Agustus 2011 12:57 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,BANDUNG – Jusuf Kalla dengan perusahaannya di grup Bukaka menawarkan monorel untuk Bandung Raya. Kesepakatan yang pernah dibuat pada masa Gubernur, Dani Setiawan, itu akan dihidupkan kembali.

“Investasi untuk Bandung sekitar Rp 4 triliun,” kata Kalla, Jumat (5/8). Yaitu untuk jarak sekitar 30 kilometer. Dengan studi teknis enam sampai satu tahun, menurut dia, proyek sudah bisa digarap. Tinggal menunggu kesepakatan dengan pemerintah daerah.

Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, menyatakan mendukung penuh rencana investasi ini. “Kami akan bentuk tim untuk bahas teknisnya,” kata dia seusai bertemu Kalla.

Pembicaraan mengenai monorel ini sampai ke tataran gubernur, kata Heryawan, karena sudah melintas batas kabupaten kota. Monorel masuk dalam skema transportasi metropolitan Bandung yang menghubungkan Kota Bandung dengan lima kabupaten kota di sekitarnya.

Wali Kota Bandung, Dada Rosada, menyambut baik tawaran ini. Dia mengumpulkan para pihak terkait, akademisi dan investor Bandung, untuk mendengar langsung paparan dari Kalla dan timnya.

Selama ini, kata Dada, Bandung terkendala dana dan investor untuk membangun transportasi massal yang terintegrasi. Untuk tawaran Kalla ini pun, Dada berharap seluruh biaya datang dari investor. “(Semoga) full (swasta). Kami tidak punya uang,” ujar dia dengan sedikit nada canda.

http://www.republika.co.id/berita/regional/jawa-barat/11/08/05/lpfxvg-jusuf-kalla-tawarkan-monorel-untuk-bandung

Begini Nih, Dalaman Kopaja Ber-AC yang Akan Beroperasi Mulai Besok

Selasa, 02 Agustus 2011 13:11 WIB
Republika

Begini Nih,  Dalaman Kopaja Ber-AC yang Akan Beropersi Mulai Besok

Kopaja AC

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Produk bus baru dari PT Koperasi Angkutan Jakarta (Kopaja) dipastikan akan beroperasi besok. Bus Kopaja ber-AC ini melayani jurusan Ragunan-Slipi. “Mulai besok akan dioperasikan,” ucap Ketua Umum PT Kopaja, Nanang Basuki, Selasa (2/8).

Bus ini siap meramaikan jalan ibu kota. Tak hanya itu, bus ini nampaknya siap bersaing dengan bus Transjakarta. Dengan tarif yang murah, yakni Rp 2.000, penumpang sudah dapat menikmati fasilitas yang hampir sama dengan yang ada di Transjakarta. Kursi pada bus ini berbeda dengan kursi pada kopaja pada umumnya. Kursi pada bus ini mirip dengan yang ada di Transjakarta. Selain itu juga dilengkapi dengan pegangan tangan dan pintu otomatis.Kapasitas penumpang pada bus ini sebanyak 35 penumpang. “Yang duduk 27, sedangkan untuk yang berdiri delapan orang,” jelas Nanang.Dirinya menjelaskan bahwa kapasitas penumpang hanya sebanyak 35, jadi tidak diperkenankan adanya penumpang melebihi jumlah tersebut. “Bus ini dilengkapi alat kontrol jumlah penumpang,” tuturnya. Hal ini memudahkan untuk mengetahui berapa jumlah penumpang yang telah menaiki bus. Dengan begini, bus tidak akan melebihi kapasitasnya.

Sistem pengelolaan dari bus ini berdasarkan manajemen satu atap. Setelah beroperasi, bus akan diletakkan di satu tempat, yakni pool bus daan tidak diperkenankan untuk dibawa pulang oleh sopir ataupun kondektur. Selain pool, bus ini juga dilengkapi dengan bengkel khusus.

4 Koridor Beroperasi hingga Larut Malam

JAKARTA, KOMPAS.com — Mulai hari ini, Jumat (1/7/2011), operasional bus transjakarta di empat koridor bertambah satu jam, yakni dari pukul 22.00 menjadi pukul 23.00.

Keempat koridor itu adalah Koridor IV (Pulo Gadung-Dukuh Atas), Koridor V (Kampung Melayu-Ancol), Koridor VI (Ragunan-Dukuh Atas), dan Koridor VII (Kampung Rambutan-Kampung Melayu).

Bus transjakarta di keempat koridor ini akan berhenti di sejumlah halte saja, tidak di setiap halte seperti pada jam reguler. Armada yang disediakan juga dibatasi sekitar 6 armada per koridor.

Penambahan jam operasional di empat koridor ini menyusul tiga koridor lain yang sudah beroperasi hingga malam. Ketiga koridor itu adalah Koridor I (Blok M-Kota), Koridor II (Pulo Gadung-Harmoni), dan Koridor III (Kalideres-Pasar Baru).

MRT, Solusi Kemacetan Jakarta

Kamis, 16 Juni 2011

JAKARTA, KOMPAS.com — Pembangunan sistem transportasi terpadu merupakan hal penting untuk mewujudkan kota metropolitan. Salah satu yang masih dalam proses dan dinilai mampu mengurai kemacetan kota adalah transportasi publik berbasis rel, yaitu mass rapid transit.

“Dalam pengembangan wilayah Jakarta sebagai kota metropolitan, sektor transportasi menjadi komponen utama untuk mengubah wajah Ibu Kota. Kalau salah menentukan pilihan transportasi apa yang akan dibangun,  sistem transportasi akan jadi amburadul,” kata Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo di Jakarta, Kamis (16/6/2011).

Pembangunan transportasi publik berbasis rel sebelumnya sudah banyak diaplikasikan di kota-kota besar di seluruh dunia. Tujuan pembangunan ini adalah untuk memenuhi kebutuhan angkutan publik yang cepat, harga terjangkau, nyaman, dan tidak terjebak kemacetan lalu lintas.

Menurut Foke, pembangunan jalan raya saja tidak cukup. Yang paling harus diperhatikan tetap sistem transportasi massal yang memadai dan dapat memfasilitasi masyarakat dengan baik. Karena itu, transportasi publik berbasis rel ini harus diwujudkan.

“Percuma ada jalan, tetapi kalau transportasi publik berbasis rel tidak dibangun. Padahal, transportasi publik berbasis rel, seperti mass rapid transit (MRT) dan kereta api, sudah ada sistem yang konsisten yang dapat dipertahankan dalam jangka panjang,” ujar Foke, sapaan akrab Fauzi Bowo.

Sementara itu, Deputi Gubernur Bidang Perdagangan, Industri dan Transportasi Sutanto Soehodo memaparkan hasil survei yang membuktikan sebanyak 56 persen pelaku perjalanan bergantung pada angkutan umum. Jumlah ini terbilang besar jika diukur dari jumlah penduduk Jakarta yang mencapai lebih dari 12 juta jiwa pada siang hari.

Ketersediaan transportasi publik saat ini belum bisa mengakomodasi kebutuhan tersebut.Transjakarta  saja belum cukup karena per hari hanya mampu mengangkut 300.000 orang. Hal ini yang membuat orang lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi, khususnya sepeda motor.

Saat ini, pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor telah mencapai 1.100 kendaraan per harinya. Tentu saja, itu mengakibatkan jalanan di Jakarta menjadi macet. Beberapa solusi telah diambil untuk mengurai kemacetan tersebut, yaitu mengatur jam sekolah lebih awal dan pembatasan jam operasional angkutan berat di tol dalam kota.

http://megapolitan.kompas.com/read/2011/06/16/15421655/MRT.Solusi.Kemacetan.Jakarta

Naik Kendaraan Umum Mampu Kurangi Polusi

Rabu, 26 Januari 2011 – 10:35 wib
Susetyo Dwi Prihadi – Okezone

WASHINGTON – Tidak selamanya kota-kota besar menjadi salah satu penyumbang polusi di Bumi. Menurut sebuah studi, kesadaran menggunakan kendaraan umum menjadi pemicu untuk menekan polusi.

Buktinya kota-kota dengan luas yang besar seperti Denver dan Rotterdam justru polusi yang dihasilkan cukup banyak ketimbang kota yang ‘sejenis’ seperti New York, London bahkan Shanghai. Penduduk kota yang biasa menggunakan angkutan umum daripada mobil pribadi membantu menekan emisi lebih rendah ketimbang kota lainnya.

Denver, kota bagian barat Amerika Serikat itu, justru menyumbangkan emisi hampir dua kali lipat dibandingkan New York.

‘Hal ini terutama disebabkan kepadatan New York lebih besar dan ketergantungan jauh lebih rendah untuk menggunakan mobil ketika bepergian, “kata studi tersebut, seperti dikutip AFP, Rabu (26/1/2011).

Para peneliti mengkaji data dari 100 kota di 33 negara untuk mengetahui petunjuk tentang penyebab pencemar terbesar dan mengapa, sekaligus membandingkan tiap-tiap kotanya. Hasilnya 71 persen kota-kota di seluruh dunia menyumbang emisi gas rumah kaca dunia.

Menurut peneliti tersebut, polusi yang dihasilkan oleh satu mobil pribadi terkadang jauh lebih besar ketimbang angkutan umum. Tapi ingat satu kendaraan umum mampu menampung banyak penumpang.
(tyo)

http://techno.okezone.com/read/2011/01/26/56/418015/56/naik-kendaraan-umum-mampu-kurangi-polusi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s