Posts Tagged ‘angkot’

Bogor karena letaknya yang dekat dengan Jakarta sering menjadi tujuan wisata maupun tujuan lain. Pergi kesana pun mudah dan murah, misalnya dengan KRL. Namun, setelah turun dari KRL, ratusan angkot dengan warna hijau kadang membikin pusing. Mau kemana kita? Jangan khawatir, sekarang sudah ada panduannya via web. Cukup kunjungi situs http://angkotkotabogor.big.go.id/, maka kita akan lebih mudah untuk bepergian di Bogor dengan angkot.

peta angkot Bogor

Namun situs ini ketika saya coba via smartphone sangat berat, karena kayaknya tidak ada versi mobilenya. Jadi sebelum bepergian ke Bogor naik angkot dibuka dulu saja via komputer.

Demikian, jika penasaran langsung saja ke situs http://angkotkotabogor.big.go.id/ dan baca petunjuknya.

Iklan

Metromini 72 menabrak motor di perempatan PIM

Sudah menjadi stigma negatif bahwa perilaku sopir-sopir angkutan umum cenderung seenaknya. Dari sekadar berhenti sembarangan, ngetem, sampai melanggar aturan lalu lintas yang cenderung membahayakan diri sendiri, penumpang, maupun pengendara lain. Seakan-akan sudah menjadi pembenaran akan bertindak ugal-ugalan, ‘maklum angkutan umum’. Belum lagi ditambah kondisi fisik angkutan umum tersebut yang tidak memenuhi persyaratan baik kelaikan jalan atau keamanan dan kenyamanan (namun anehnya selalu lolos uji KIR).

Berita-berita mengenai kebrutalan angkutan umum sudah sangat sering menghiasi media. Mungkin karena stigma negatif tersebut sudah terlanjur sehingga ‘mengamini’ pembenaran bahwa angkutan umum boleh seenaknya, atau karena jumlah angkutan umum sudah terlalu banyak, atau tidak ada ketegasan dari penegak hukum, menyebabkan seakan tidak ada kapoknya, terus saja terulang.

Akhirnya masyarakat cenderung bertindak main hakim sendiri, seperti menghajar sopir ugal-ugalan tersebut dan merusak kendaraannya.  Tapi ya itu tadi, seperti tidak ada kapoknya. Bagaimana bisa memberikan pemahaman mengenai safety dan menghargai orang lain, kalau keselamatan diri sendiri saja abai.

Sebenarnya pengemudi angkutan umum spesifikasinya harusnya lebih tinggi daripada pengemudi kendaraan non angkutan umum. Bagaimana tidak, ia bertanggung jawab terhadap banyak nyawa penumpangnya. Tapi kenyataannya? banyak yang mengemudikan kendaraan umum adalah sopir-sopir tembak, yang (maaf saja) mengenai intelegensi, etika dan kelayakan berkendara patut dipertanyakan. Aturan spesifikasi pengemudi mungkin hanya diatur di angkutan umum yang punya standar tinggi dan tersistem seperti angkutan udara, laut dan kereta api. Atau (mungkin juga) jaringan bis yang tersistem seperti busway.

Tapi bagaimana dengan moda angkutan seperti angkot, metromini, kopaja atau bis kota lainnya? Apa perlu pemerintah mengatur spesifikasi ijin mengemudi khusus untuk angkutan umum? kalau dibilang perlu ya perlu. Tanggung jawab besar, menyangkut nyawa banyak manusia, masak diisi preman-preman pengangguran. Maaf saja, kalau bahasa manajemennya,” tidak sesuai mutu dengan tanggung jawabnya”.

Tapi saya berpikir sekali lagi. Dengan spesifikasi yang lebih tinggi apakah sepadan dengan penghasilannya? apakah pengemudi sektor angkutan umum memang profesi yang menjanjikan secara materi?

Lho apa hubungannya?

Jelas ada hubungannya. Sekali lagi, dalam bahasa manajemen, sopir angkutan umum bukanlah “hot jobs“. Bahkan kalau mau ekstrim bisa dikatakan merupakan pekerjaan “daripada nganggur”. Maka itu, yang mengisi posisi tersebut juga bukanlah SDM pilihan (bahasa kasarnya, SDM asal-asalan). Meskipun sebenarnya manusia bisa dididik, namun didikan itu adalah dari sistem. Misalnya bisa saja SDM kurang berkualitas, namun ada SOP dan aturan yang membatasi geraknya, sehingga perilaku ugal-ugalan bisa diminimalkan.

Sekarang, dengan sistem kejar setoran, aturan lalu lintas yang tidak tegas, dan SDM yang tidak berkualitas, rasanya jauh dari harapan akan kesantunan pengemudi angkutan umum.

Yang sering menjadi menjadi ganjalan dalam naik angkutan umum, ya masalah kejahatan ini. Meskipun frekuensinya jarang, namun sekali terkena akibatnya fatal. Paling tidak secara mental trauma, bahkan nyawa bisa jadi taruhannya. Baru-baru ini ada seorang pedagang sayur yang diperkosa di angkot M26 jurusan Melayu-Bekas (tapi operasi kriminalnya di depok). Kejadian ini tidak berselang jauh dengan kasus pemerkosaan di Angkot D-02 jurusan Ciputat-Pondok labu. Citra angkot sebagai pemerkosa semakin melekat.

angkot... wajahmu sungguh kriminal...

Sebenarnya nggak cuma pemerkosa saja, masih banyak jenis kejahatan yang sering terjadi di angkutan umum, beberapa yang terdeteksi adalah :

1. Pencopetan

Ini kejahatan paling sering (dan paling klasik), terutama ketika kendaraan dalam kondisi sesak. Moda angkutan umum yang paling rawan terhadap pencopetan ini adalah KRL (terutama KRL ekonomi) dan bis kota (terutama bis kecil seperti kopaja/metromini dan bis kota non AC). Bis kota AC kayaknya jarang, karena penumpangnya rata-rata penumpang batu, jadi jarang ada yang naik-turun jarak dekat.

a. Pencopetan ketika naik/turun

Yang saya amati pada kejadian yang menimpa teman saya di KRL ekonomi, pencopetan terjadi ketika naik/turun penumpang di stasiun. Kondisi saling berdesakan, namun ada gerakan (meskipun ruang geraknya sempit). Saat naik/turun itu perhatian terpecah dengan adanya penumpang yang bertabrakan maupun yang mendorong-dorong. Waspadalah, sebab pencopet tidak hanya seorang, melainkan banyak orang, jadi ada yang bertugas menghambat laju penumpang, ada yang mengambil barang, dan juga ada yang menunggu serta menerima operan barang copetan. Pola KRL loopline yang pakai acara transit dan semakin berdesakannya penumpang memperbesar risiko pencopetan model begini.

b. Pencopetan ketika sedang berdiri

Ini sering terjadi di Bis. Berbeda dengan KRL yang hanya berhenti di stasiun, di bis pencopetnya bisa langsung turun dan kabur. Sama dengan pencopetan saat naik/turun, pencopet disini juga biasanya lebih dari satu. Ada yang bertugas mengalihkan perhatian, ada juga yang menjalankan aktivitas utama, mencopet. Yang disasar adalah isi saku celana atau tas.

c. Pencopetan ketika duduk

Jangan dikira ketika duduk tidak bisa dicopet. Selalu ada saja jalan untuk dicopet. Di angkot, dimana umumnya penumpangnya semua duduk, pencopetnya juga nggak selalu satu orang. Mereka biasanya juga berkomplot, meskipun naiknya tidak bersamaan. Biasanya modusnya ada yang mengalihkan perhatian (misalnya muntah, atau bertingkah tidak wajar), sedangkan yang lain mencopet. Jika di bis, hati-hati kalo ketiduran, sebab penumpang disebelah bisa jadi copet. Kata Bang Napi, kejahatan ada karena kesempatan. Teman saya dua kali hilang hapenya gara-gara tidur di bis, tak menaruh curiga karena penumpang di sebelahnya adalah wanita.

2. Penipuan, pembiusan dan penggendaman

Penipuan ini justru terjadi ketika penumpang tidak terlalu ramai. Bisa berkomplot atau dilakukan seorang diri. Saya pernah menyaksikan ada orang yang membawa burung (dalam wadah kertas) yang suaranya bagus & nyaring, kemudian penumpang yang lain memuji-mujinya. Lalu ada penumpang lain yang tanya harga dan menawar… jadi prosesnya agak lama, namun intinya adalah ada penumpang (asli) yang tertarik seakan-akan itu kesempatan langka, kemudian membeli burung itu, yang ternyata tak seindah bayangan. Saya baru sadar bahwa itu penipuan ketika saya bertemu lagi orang-orang yang sama, yang menawarkan burung itu di saat yang lain kepada penumpang lain. Kalau masalah pembiusan dan gendam itu biasanya juga ketika penumpang sebelah kita menjadi ramah dan  mengajak ngobrol serta menawarkan makanan atau minuman. Jika menjumpai ‘keramahan’ itu tidak biasa, waspadalah. Mungkin ada baiknya juga jadi penumpang bisu.

3. Penodongan/perampokan

Sama dengan penipuan, umumnya dilakukan ketika kondisi angkutan sepi, atau kebanyakan wanita. Umumnya dilakukan dalam Angkot. Bisa dilakukan secara kolektif, dimana penumpangnya tidak naik secara bersamaan. Yang mengherankan, sopir angkotnya kayaknya cuek saja dengan kejadian begini, meskipun sebenarnya mungkin mengenal pelaku. Mungkin takut diancam. Namun kejadian di taksi, yang sering menjadi korban adalah sopir taksinya yang dirampok penumpang gadungan.

4. Pemerkosaan

Ini yang dibahas di awal tulisan, dan juga di tulisan sebelumnya. Jadi nggak banyak yang dibahas, cuma menambahkan bahwa korbannya selalu wanita (belum pernah laki-laki jadi korban), dan kelihatannya pemerkosaan ini sebagai ‘aksi tambahan’ setelah perampokan, merujuk dari pemberitaan yang ada. Moda angkutannya juga saat ini masih terlokalisir di angkot, belum terdengar ada kejadian di angkutan umum yang tersistem seperti busway atau KRL.

5. Pembunuhan

Merujuk pemberitaan, aksi ini bukan tujuan utama, melainkan aksi ‘tutup mulut’ bagi korban, terutama jika melakukan perlawanan. Aksi utamanya ya perampokan/penodongan, mungkin ditambah aksi ‘tambahan’ yaitu pemerkosaan. Jarang terdengar ada pembunuhan politik, misalnya, di dalam angkot (mungkin karena pejabat nggak ada yang naik angkot). Kasus pembunuhan yang terkenal dalam angkutan umum yang pernah saya dengar yaitu Munir Kontras dibunuh dalam pesawat udara.

6. Pelecehan seksual

Kasus ini saya banyak mendengar di busway. Mungkin karena itu sekarang di busway dipisah antara laki-laki dan perempuan, jadi perempuan di bagian depan, laki-laki di belakang. Kalau di KRL malah ada gerbong khusus wanita di ujung-ujung rangkaian. Sama seperti pemerkosaan, korbannya selalu wanita, namun ini bukan berarti laki-laki nggak bisa dilecehkan lho. Peristiwa pelecehan ini biasanya terjadi ketika kondisi penuh sesak, jadi pelaku berdesak-desakan sekaligus mencari-cari ‘tempat pegangan’ yang pas.

busway, sekarang pisah laki-perempuan

Dalam kasus perampokan, pemerkosaan dan pembunuhan yang terjadi belakangan ini, sopir angkot justru merupakan anggota pelakunya. Sopir tembak dituding sebagai biang keladi kriminalitas di angkutan umum ini. Jadi kemudian muncul tindakan mewajibkan seragam kepada sopir. Yah, sekali lagi langkah yang bersifat tambal sulam. Selama angkutan umum tidak tersistem, harapan cuma pada akhlak dan moral personalnya….

"terminal" pondok labu

"terminal" pondok labu

Satu hal yang bikin saya surprise adalah banyaknya angkutan umum di jabodetabek. Banyak sekali angkot, kopaja maupun metromini yang berkeliaran, bahkan di jalan-jalan sempit di perkampungan. Tentu saja ini cukup menyenangkan karena akses ke banyak tempat makin mudah dengan angkutan umum. Namun dibalik itu, ada hal yang dibenci oleh pengguna jalan lainnya, yaitu kemacetan. Lho, apa kaitannya?

Ngetem. Nunggu mencari penumpang. Sebenarnya nggak salah dengan mencari penumpang itu, wong mencari nafkah. Cuma masalahnya adalah tempatnya. Satu hal lagi yang bikin surprise adalah dengan banyaknya trayek dan jumlah angkot, terminalnya sangat minim. Apa yang disebut ‘terminal’ kebanyakan imajiner, yang dimaksud sebagai terminal kebanyakan berupa perempatan jalan, emperan pasar atau sekadar bahu jalan. Jelas berpotensi bikin macet bila ngetem disaat jam sibuk.

'terminal' pondok kopi

Saya nggak tahu, apakah dalam membuat suatu trayek, titik tujuan awal dan akhir trayek itu apakah dipikirkan memiliki fasilitas terminal, tapi kok kayaknya dilempar saja tanpa peduli titik pemberhentian trayek itu ada atau tidak. Belum mengenai jumlah angkutan yang beroperasi, beberapa angkot seperti kereta api, berderet-deret dijalanan. Banyak juga yang kosong. Kayaknya nggak sepadan jumlah angkot dengan jumlah penumpang, apalagi dengan tren kenaikan kendaraan pribadi.

Kembali ke masalah terminal… sebenarnya menurut saya jelas tanggung jawab pemerintah.

Logikanya begini :

Sudah memberikan ijin trayek, maka jelas ada titik-titik ujung trayek itu. Misalnya Angkot D110 tujuan Cinere-Depok. Di Depok memang ada terminalnya, tapi di Cinere? jelas saja D110 jadi banyak yang ngetem di pinggir jalan. Bisa saja beralasan, kan bisa langsung jalan, nggak usah ngetem, tapi prakteknya Cinere kan ditentukan sebagai titik tujuan, jadi harus berhenti dong, kalau ada penumpang turun/naik disitu masa nggak diangkut? kan sudah ditulis tujuannya Cinere ? (kalau nggak berhenti disitu, namanya bohong kan?) berhenti menaik-turunkan penumpang sendiri walau sebentar sudah bisa menyebabkan kemacetan di jam sibuk.

Terus yang kedua, dengan memberikan ijin operasi yang terlalu banyak dibandingkan dengan penumpangnya, membuat pilihan ngetem menjadi paling rasional. Memang ada yang mau disuruh jalan tak ada penumpang, hari gini, siapa mau beramal tanpa ada laba?

Nanti ada yang berkilah pula, sudah dikasih terminal, masih juga suka ngetem di luar. Oalah pak…pak… penumpang dan angkot kan gak bisa mengatur dirinya sendiri, makanya diciptakan aturan dan penegak hukumnya. Kalo bisa ngatur sendiri ya gak usah ada negara (memang manusia itu semut/lebah?). Ya tolong jalankan aturan (yang tidak anget-anget tai ayam doang) agar angkot dan penumpang lebih nyaman naik di terminal.

Angkutan umum dituding menyebabkan macet, karena jumlahnya terlalu banyak dan banyak yang ngetem. Seringkali timbul konflik di jalan masalah itu.

Lha terus yang tidak menyediakan fasilitas terminal dan menciptakan regulasi yang mendorong orang naik kendaraan pribadi malah lolos dari tudingan, karena bersembunyi dari kenyataan dengan kawalan voorijder.

image

image

Sekitar bulan Agustus-September ini ada dua peristiwa kejahatan dalam angkot, yaitu pemerkosaan dan pembunuhan dalam angkot M24 jurusan slipi-kebonjeruk dan pemerkosaan dalam angkot D02 jurusan Ciputat-Pondok Labu.

Jelas saja hal ini menambah jelek wajah perangkotan yang sebelumnya sudah jelek. Sudah sering ngetem, ugal-ugalan, sekarang ditambah lagi dengan menjadi tempat penyaluran nafsu mesum. Akhirnya pemerintah baru bereaksi. Ada pernyataan bahwa sopir tembak akan ditertibkan (kebetulan pelaku pemerkosaan sopir tembak), ada wacana akan ada baju seragam sopir, dan penertiban terhadap kaca filem di angkot.

Lagi-lagi cuma aksi reaktif setelah ada kejadian, dan biasanya ‘anget-anget tai ayam’. Tidak menuntaskan masalah dan cuma biar kelihatan ada aksi (pencitraan lagi).

Angkot, seperti halnya bis-bis kota di Jakarta, sistemnya setoran kepada pemilik kendaraan. Jelas di sini tak ada standar dan seleksi yang memadai untuk sopirnya, apalagi sopir tembak yang tidak berhubungan langsung dengan pemilik. Masalah operasional, seakan-akan bukan tanggung jawab pemilik, termasuk bila ada ‘penyimpangan’, termasuk kriminalitas. Padahal bila ada kejadian pemilik angkutan bisa dijerat juga.

Dengan pola manajemen seperti itu, memang memunculkan risiko kejahatan, seperti juga kejahatan di taksi yang dilakukan oleh sopir tembak. Statemen bahwa semua tergantung pada akhlak individu yang bersangkutan, atau justru menyalahkan korban atas busana yang dikenakan, saya pikir tidak pas untuk dijadikan jawaban atas kasus ini. Ini menyangkut sistem transportasi umum. Transportasi yang tersistem seperti busway dan KRL setidaknya lebih memberikan rasa aman kepada penggunanya dalam kasus seperti diatas.

Karena kejadian pemerkosaan di angkot di waktu larut malam, satu hal yang perlu diingat, khususnya untuk pekerja wanita, bahwa sebenarnya dalam UU no 13 tahun 2003 pasal 76, pemerintah telah memberikan perlindungan apabila perusahaan mempekerjakan wanita antara jam 11 malam sampai 5 pagi wajib disediakan angkutan antar jemput. Silakan baca di sini. Yaitu perusahaan wajib menyediakan angkutan dari atau sampai rumah, atau bila tak punya fasilitas tersebut bisa memakai jasa angkutan yang layak seperti Taksi. Tentu saja taksi disini yang terpercaya, dan kalau perlu dicatat nomor lambungnya. Sehingga kejadian ada wanita pulang kerja dan terlantar di jalan bisa dihindarkan.

Tapi gimana kalo pulang larut malam bukan karena tugas lembur dari perusahaan? Artinya risiko ya ditanggung sendiri kalo nekat mau naik angkutan yang tak terjamin.

Lagipula, bagi kaum hawa, kalau hanya sekadar main baru pulang sampai larut malam, norma ketimuran dan norma agama nggak menerima. Tanpa menyangkut norma, hal itu (terutama bagi wanita) memang berisiko tinggi.

Tulisan ini membahas kembali aplikasi Komutta, yang sudah menjadi aplikasi android favorit di Indonesia.

Para pengguna handset android layak berbangga, karena menjelang berlakunya single operation KRL, Komutta, aplikasi mengenai informasi angkutan umum di android menyambut dengan versi terbaru, yaitu versi 0.7.1.
Versi ini tentu saja memuat jadwal baru KRL per 2 Juli 2011.  Jadwal ini bagi para pengguna KRL sangat berguna, karena rata-rata belum hapal. Hari gini masih beli fotokopian jadwal KRL di stasiun? Kan ada android dan Komutta.
Apa hanya itu? Nggak dong. Ada tambahan untuk 428 jurusan angkot. Juga sekarang lebih rapi kategorisasinya. Peta Google pun sudah muncul sebagai bacground jalur busway dengan dibantu gps untuk menentukan posisi saat itu.


Ok banget… Saya berharap suatu saat peta jalur ini bisa dipakai untuk bis kota biasa atau angkot,  setidaknya bisa jadi panduan biar lebih mandiri dan nggak gampang dibohongi orang. Pengalaman saya dibohongi masalah angkot terjadi kalo saya mencoba trayek baru (entah sengaja dibohongi or memang sok tahu).
Nah, ini yang baru. Coba ke menu busway. Kalo kita sentuh tombol menu, atau geser bawah, akan muncul menu CCTV. Jadi kita bisa lihat situasi di halte-halte busway. Asyik kan?

CCTV Halte Transjakarta

Yang patut diacungi jempol adalah kecepatan developer aplikasi ini untuk mengupdate. Masalah transportasi di Jakarta ini dinamis banget. Besok bisa berbeda dari hari ini.

Lanjut terus Komutta.!

“Libur t’lah tiba ! Libur t’lah tiba… Hatiiiii ku gembiraaaa…!”

Ya, liburan sekolah sudah tiba. Mau kemana ini ???

Di Daerah Jakarta dan sekitarnya, ada banyak tempat yang mudah dicapai oleh angkutan umum.

1. Taman Margasatwa Ragunan

Gadjah di Ragunan

Disinilah tempat ‘madakno rupo‘ di Jakarta. Tempat hiburan yang murah meriah. Harga tiketnya cuma Rp 4.000. Disini banyak binatang (jelas, kan kebun binatang), ada danau wisatanya dan ada bumi perkemahan. Lebih baik membawa tikar untuk lesehan setelah penat berjalan-jalan. Kalo tidak mau bawa, bisa beli sebelum pintu masuk, cuma goceng. Atau kalo mau di dalam juga ada yang menyediakan sewanya (sudah dihampar). Banyak warung makanan dan asongan (sayangnya ini cukup mengganggu karena terlalu banyak), jadi jangan kuatir kehausan atau kelaparan. Masalah harga dan rasa ya silakan tanggung sendiri.

Walk in Ragunan

Ada banyak angkutan umum yang singgah disini.

Transportasi utama adalah Bis Transjakarta koridor 6 (Ragunan – Dukuh Atas).

Jika dari Pulogadung, naik koridor 4, turun halte Halimun, pindah koridor 6, kemudian keluar ke Halte Dukuh Atas 2, karena koridor 6 yang ini dari Ragunan. Lalu pindah ke koridor 6 juga, tapi arah sebaliknya, yang ke Ragunan.

Jika dari Blok M, ini agak muter, karena jika naik Koridor 1, harus transit ke Dukuh Atas ke Dukuh Atas 2, untuk pindah ke Koridor 6 tujuan Ragunan. Jadi secara jarak lebih baik nggak pake Busway, melainkan naik Metromini 77 jurusan Ragunan Blok M.

Jika dari Kalideres, naik Koridor 3, turun di Halte Dukuh Atas, kemudian naik koridor 1, dan transit ke Dukuh Atas ke Dukuh Atas 2, untuk pindah ke Koridor 6 tujuan Ragunan.

Jika dari Kampung rambutan, naik Koridor 7, pindah ke Koridor 9 di Halte Pasar Kramatjati, turun di Halte Kuningan Barat, jalan ke Halte Kuningan Timur, akhirnya akan ketemu Koridor 6 disitu yang menuju Ragunan.

Jika dari Lebak Bulus…. mendingan nggak naik busway dari situ deh. Soalnya akan dibawa dulu ke Harmoni, padahal kan udah dekat Ragunan….. jadi  naik Kopaja P20 ke Mampang, dari situ naik Busway Koridor 6 ke Ragunan. Atau kalo mau langsung dari lebak bulus naik saja KWK 011 jurusan Pasar Minggu.

Selain Busway, banyak Angkutan lainnya. Jika dari Tanah Abang, bisa naik Kopaja 19 dan Kopaja 985 yang melalui Blok M. Kalau dari Kampung Melayu bisa naik Kopaja 68 dan 602 yang melalui Pasar Minggu. Dari Depok bisa ke Pondok Labu dulu (naik 105 atau S16), terus bisa naik Kopaja atau Mikrolet M20 ke Ragunan, atau dari Cinere naik 61.

Jika Dari Taman Mini bisa naik Mikrolet Merah (KWK) 15A.

Jika naik KRL, stasiun yang terdekat adalah stasiun Tanjung Barat atau Stasiun Pasar Minggu. Untuk pilihan angkutan, mendingan ke Stasiun Pasar Minggu, karena dekat terminal, meskipun di Stasiun Tanjung Barat lebih cepat karena jalur menuju Ragunan searah, naik KWK S15.

2. Monas

Belum ke Jakarta namanya kalo belum pernah ke Monumen Nasional (Monas), tugu setinggi 132 meter.  Tugu ini dimahkotai lidah api yang dilapisi  emas.  Monas dibuka setiap hari mulai pukul 08.00 – 15.00. Pada hari Senin pekan terakhir setiap bulannya ditutup untuk umum. Di Ruang Kemerdekaan di Monas, disimpan naskah asli proklamasi.

Lokasinya sangat strategis karena di tengah kota dan dekat Stasiun Gambir. Disana ada Diorama Sejarah Perjuangan Bangsa, taman, dan melihat Jakarta dari Puncak Monas. Kalau hari Minggu pagi banyak orang berjualan dan berolahraga.

Monas, lanskap Jakarta

Angkutan Utama adalah KRL, turun Stasiun Gambir. Dari situ Monas sudah kelihatan. Namun karena saat ini (sebelum single operation KRL), cuma KRL Ekspres yang berhenti di Monas. Kalo KRL lain berhenti didekat situ (stasiun Juanda atau Gondangdia terus naik Bajaj/ojek). Nanti kalo single operation berjalan, dari semua stasiun jalur Depok/Bogor bisa, misalnya dari Pasar Minggu, dari Lenteng, dari Cawang.

Kalo naik Busway,  yang lewat Gambir/Monas adalah Koridor 2. tapi jangan lupa tanyakan transitnya. Misalnya dari Cawang, naik koridor 9 ke halte Semanggi, transit ke halte Benhil (Bendungan Hilir), terus naik koridor 1 ke halte Harmoni untuk pindah ke Koridor 2, sampe ke halte senen, pindah koridor 2 arah sebaliknya.

Kalau naik bis biasa, misalnya dari Blok M, naik PPD P42 tujuan Senen. Kalo dari Kampung Rambutan naik aja PPD PAC79 jurusan Kota. Dari Slipi bisa naik P77. Tapi pengalaman saya, paling enak memang busway.

3. Ancol

Ini tempat wisata yang populer banget. Ada Dunia Fantasi, Gelanggang Samudra, Seaworld, Kolam Renang (atlantis), Pasar Seni, Outbond, dan tentu saja pantai.

Halilintar di Dufan

Tempat ini bisa dijangkau KRL langsung dari Bogor/Depok dan Bekasi, namun khusus hanya hari Minggu. Jadwalnya silakan lihat di sini. Kalo pas bukan hari Minggu, bisa turun di Stasiun Jakarta Kota, lalu naik Mikrolet 15A jurusan Priuk. Atau turun di Stasiun Senen, lalu naik Busway Koridor 5 tujuan Ancol.

Bus Transjakarta juga nggak mau ketinggalan . Koridor 5 siap mengantar sampai Ancol, tinggal tanyakan saja transit di mana. Umumnya transit di halte Senen.

Kalo naik angkutan umum biasa, bisa dari Kampung Rambutan naik PPD P31, jurusan Kampung Rambutan – Ancol. Kalo dari Blok M naik aja Steady Safe 116 atau Jasa Utama P125 jurusan Tanjung Priuk (kalo bis itu masih ada). Kalo dari Grogol naik PPD P32 jurusan Ancol.

Karena wahananya sangat banyak di Ancol, sebaiknya berangkat pagi. Jika mau masuk ke Dufan, siap-siap bawa baju ganti, karena banyak permainan basah-basahan, dan tentu saja uang yang cukup, karena rata-rata tiket di Ancol relatif mahal bagi masyarakat kebanyakan. Maka itu kalau sudah kesana ya seharian, sayang duitnya udah bayar mahal kalo, cuma sebentar (masa kalah sama naik bis P54, bayar cuma Rp 2.500, bisa 3 jam).

4. Taman Mini Indonesia Indah

Ini tempat wisata legendaris. Disini sambil berwisata juga belajar mengenal daerah-daerah di Nusantara. Nggak perlu keliling Indonesia, cukup mampir di anjungan-anjungan yang mewakili provinsi-provinsi di Indonesia, hanya dengan merogoh kocek Rp 10.000.

Seulawah di TMII

Selain itu, ada museum-museum yang bisa menambah pengetahuan, biar nggak kuper. Contohnya ada Museum Transportasi (ini yang pas dengan blog ini), Museum Listrik, Museum Keprajuritan, Museum Komodo dan banyak lagi. Selain itu ada Snow bay tempat berenang, Teater Imax, Taman Burung. Ada Aeromovel (yang cuma ada 2 didunia, satunya lagi di Brasil), Kereta Gantung, dan…. wah pokoknya banyak coba klik aja http://www.tamanmini.com.

sepur kluthuk di museum transport TMII

Mau kesana gampang, angkutannya bisa pake metromini T45 dari Pulogadung. Dari Bekasi bisa naik KWK40 jurusan Kampung Rambutan. Kalau dari arah selatan, misalnya Ragunan, bisa naik KWK S15 A. Dari Depok, silakan naik KWK S19. Dari Cililitan bisa naik KWK T01, T02 dan T05.

Meskipun gak ada jalur KRL, jangan kuatir masih ada busway, yaitu Koridor 9, Pinang Ranti-Pluit. Kalo dari Blok M misalnya, bisa naik koridor 1, terus berhenti di Halte Benhil, dan pindah ke Halte Semanggi. Disini anda akan melewati transit busway terpanjang di indonesia. Terus naik Koridor 9 menuju Pinang Ranti, dan turun di Halte Garuda (TMII).

Empat dulu yah…nanti dilanjutkan lagi dengan obyek wisata lain. Capek kan keliling satu obyek wisata aja bisa makan waktu seharian.