Posts Tagged ‘bogor’

Bogor karena letaknya yang dekat dengan Jakarta sering menjadi tujuan wisata maupun tujuan lain. Pergi kesana pun mudah dan murah, misalnya dengan KRL. Namun, setelah turun dari KRL, ratusan angkot dengan warna hijau kadang membikin pusing. Mau kemana kita? Jangan khawatir, sekarang sudah ada panduannya via web. Cukup kunjungi situs http://angkotkotabogor.big.go.id/, maka kita akan lebih mudah untuk bepergian di Bogor dengan angkot.

peta angkot Bogor

Namun situs ini ketika saya coba via smartphone sangat berat, karena kayaknya tidak ada versi mobilenya. Jadi sebelum bepergian ke Bogor naik angkot dibuka dulu saja via komputer.

Demikian, jika penasaran langsung saja ke situs http://angkotkotabogor.big.go.id/ dan baca petunjuknya.

Iklan

KRL klas Ekspress

Lima bulan menjadi member commuter kereta api Jabotabek (khususnya KA Pakuan Bogor-Jakarta PP), menyimpan banyak cerita, baik yang menyenangkan, menggelitik, kagum, sampai yang mem-bete-kan. Sekaligus menjadikan tambahan pengetahuan buat saya.

Begitu gua mendapatkan assignment kembali di Jakarta (sepulang dari Balikpapan), hal pertama yang gua search adalah jadwal kereta. Ini karena kantor gua persis di sebelahnya stasiun kereta Sudirman. Dari sana, gua baru jalan ke client. Kebetulan client-nya di daerah Slipi. Sebenarnya gua bisa aja naik bis langsung dari Bogor (Bogor-Kalideres), namun sepanjang pengetahuan gua, bis Bogor-Kalideres tidak sebaik bis Bogor-Priok.
Pertama, bisnya relatif sudah agak tua sehingga kurang nyaman.
Kedua, tipikal armada bisnya.
Ketiga, penumpangnya relatif tidak semanja penumpang bis Bogor-Priok. Kalo’ penumpang bis Bogor-Priok, karena rata2 bisnya bagus-bagus, mereka jarang sekali mau berdesak-desakan di bis yang paling depan demi untuk bisa berangkat lebih dahulu. Mereka biasanya memilih bis yang di belakangnya atau di belakangnya lagi. Yang penting duduk.
Akibatnya jadwal keberangkatan bis dari terminal tidak berselang lama, palingan 5-10 menit sudah jalan. Hal ini ditambah lagi dengan kebanyakan bis Bogor-Priok yang menganut konsep semi-shuttle, jadi kalo’ semua sudah tempat duduk sudah terisi atau sudah waktunya jalan, ya mereka jalan. Tidak menunggu orang berdesak-desakan berdiri. Beda dengan bis-bis yang melayani Bogor-Kalideres.
Mungkin juga karena ini ya, jalur Bogor-Kalideres, beda 5 menit aja, efeknya bisa 30-40 menit di depan; kalo’ Bogor-Priuk, gak segitunya.

Ok, balik ke cerita kereta. Berhasil mendapatkan jadwal kereta Jabotabek, gua print dan gua jadikan pegangan. Kali ini, yang jadi baseline adalah jadwal kereta Pakuan Bogor-Tanah Abang PP.
Berangkatnya dari Bogor: 05.40, 06.10, 08.04.
Pulangnya dari Tn Abang: 16.42, 17.18, 17.36, 19.20.
Kalo’ dulu, biasanya gua ke Stasiun Bogor dulu, ambil jam 06.10. Tapi, sekarang, kebetulan ada tetangga, Pak Yusdi, yang punya jalur sama, tapi agak beda starting-nya. Beliau memilih naik 05.40 dan gak ke Stasiun Bogor, tetapi nyegat di Cilebut, palingan 10-15 menit dari rumah. Ya sudah, gua nebeng.com aja, hehehe …

Pelajaran pertama, di hari pertama, gua dapat dari Pak Yusdi ini. Beliau kebetulan sudah lama naik kereta, jadi sudah lebih “senior”. Beliau mengajarkan pemilihan tempat berdiri menunggu kereta. Tempat berdiri ini menentukan pas tidaknya posisi kita dengan posisi pintu kereta yang terbuka. Ini dipelajari dari berkali-kali percobaan.
Hal ini penting karena kita kudu berebut tempat “duduk” di dalam, bukan tempat duduk dalam arti sebenarnya (mengingat tempat duduk sebenarnya sudah penuh sejak dari Bogor), namun tempat duduk di bawah, hehehe.
So far kalo’ gua perhatikan, probabilitasnya keberhasilannya cukup bagus, meskipun kadang suka meleset. Kalo’ udah gitu, alasannya, masinisnya beda ato lagi gak as usual, hehehe. Biasanya kita ambil gerbong 2, namun setelah kecelakaan kereta Pakuan beberapa waktu lalu, kita geser ke gerbong 4 untuk alasan keamanaan, ceilee.
Belajar dari situ, gua juga coba bikin check-point sendiri kalo’ lagi nunggu kereta pulang di Tanah Abang.

Pelajaran kedua, adalah pemilihan tempat “duduk” di dalam. Mengingat kita tidak bakal mendapat tempat duduk normal, maka perlu juga strategi memilih tempat ndlosorrr sing penak dan bisa menjamin kita bisa tidur dengan nyenyak sepanjang perjalanan. Biasanya kita mencari tempat duduk yang menyender ke pintu kereta. Bisa nyender dan gak terganggu pergerakan orang.
Untuk itu, diperlukan informasi di stasiun2 mana aja kereta akan berhenti dan di pintu sisi mana yang biasanya akan dibuka.
So, kalo’ berangkat jam 05.40, pilihlah sisi kiri (terhadap arah maju kereta) karena next stop adalah Stasiun Citayam, di mana di stasiun ini pintu yang dibuka adalah di sebelah kanan. So, kita tetap aman, gak terganggu orang masuk. Namun hal ini susah diterapkan kalo’ hari Senin, soalnya kalo’ Senin sudah penuh duluan dari Bogor. Sama aja waktu dulu naik kendaraan lewat tol Jagorawi, kalo’ Senin selalu lebih padat dari biasanya.
Kalo’ pulang dari Tn. Abang jam 16.42, ini agak repot, hehehe. Soalnya transitnya di Depok (pintu kiri terbuka) dan Bojong Gede (pintu kiri kanan terbuka). Tapi biasanya gua ambil kanan, karena kalo’ udah di Bojong, gua sudah ambil posisi berdiri dan bisa ambil duduk normal karena sudah banyak penumpang yang turun. Paling aman, ambil gerbong paling depan/belakang, di ujung2nya jarang banget pintunya terbuka.
Kalo’ 19.20, berhentinya Depok Baru, yang buka pintu sisi kanan.
Kalo’ lagi apes gak dapat sisi yang diinginkan, ya terpaksa siap ditabrak2 orang, hehehe.

Pelajaran ketigamengenal jam2 transit. Mengingat tujuan berangkatnya adalah stasiun Sudirman, sometimes kita gak bisa ngikut yang rute Tanah Abang. Kebanyakan Pakuan rutenya ke Kota. So, kalo’ kita ketinggalan kereta yang 05.40 dan 06.10, tapi kesiangan kalo’ naik 08.04, ambil aja yang jam 07.00, terus transit di Manggarai, tungguin kereta lingkar kota Ciliwung dari Jatinegara-Tanah Abang jam 08.00. Atau kalo’ kelewat, bisa nebeng KA Ekonomi AC Depok-Tanah Abang jam 8.30-an.
Sayangnya tidak ada kereta Pakuan dari Kota yang mampir di Manggarai kalo’ jam pulang. Kalo’ misalnya jalur Tanah Abang-Bogor lagi kacau balau, ya terpaksa kita lari ke Gambir atau Juanda. Naik busway dulu atau naik ojek, hehehe.

Pelajaran keempat, masih ada hubungannya dengan pelajaran ketiga, mengenal jalur perhentian kereta di stasiun, terutama Manggarai. Kalo’ stasiun lain mah, jauh lebih simpel. Rule-nya adalah jalur kanan (kalo’ dari Bogor) untuk Bogor-Jakarta, jalur kiri (kalo’ dari Bogor) untuk Jakarta-Bogor. Kebalik sama jalurnya mobil di jalan ya, hehehe.
Nah, jadi kalo’ gua ikut pulang jam 16.42, dan sudah nyampe di Stasiun Sudirman, nanya dulu sama petugasnya, Pakuan posisi di mana. Kalo’ belon nyampe Sudirman, ambil jalur kiri, tungguin Pakuannya, ikut ke Tanah Abang, dijamin dapat duduk tuh. Kalo’ kelewat, ya sudah, nasib, hehehe.
Nah, kalo’ di Manggarai, karena jalurnya banyak banget, ada ilmu baru buat saya. Kalo’ nyegat Ciliwung, dia lewatnya di jalur 1, deket pintu keluar. Nah kalo’ kelewat, tungguin AC Ekonomi Depok-Tanah Abang di jalur 5.
Nah, ilmu barunya adalah kalo’ terjadi anomali, kayak tempo hari. Gua naik Pakuan jam 07.00, sampai Manggarai agak telat jam 08.15-an. Pakuan ini berhenti di jalur 5 juga. Jadi sebenarnya kita gak perlu pindah posisi waktu transit. Masalahnya, jalur Gambir lagi sibuk pagi itu, jadinya Pakuan tertahan cukup lama di sana. Gua pas abis turun Pakuan, langsung nanya orang “Pak mo ke Tanah Abang, naik apa”. Dijawab “Ekonomi AC Depok abis ini, di jalur ini juga”. Ya sudah, gua nungguin juga di situ. Tapi terus ada pengumuman kalo’ Gambir masih padat, jadinya Pakuannya gak jalan-jalan. Terus gua perhatiin orang2 kok pada geser ke arah selatan, pada ngumpul di dekat gerbong Pakuan yang paling belakang. Gua heran, ada apa.
Nah, gua baru ngeh setelah ada pengumuman, Ekonomi AC akan masuk di jalur 3, orang-orang langsung pada turun ke bawah halte, nyeberangin rel jalur 5 dan 4 dari belakang Pakuan. Soalnya gak mungkin nyeberang lewat jalur biasa, lha wong masih ada Pakuan lagi stay dengan manis di sana, hehehe.
Wah, keren. Mereka itu pikirannya udah one step ahead, udah tau apa yang mesti dilakukan kalo’ terjadi sesuatu.

Pelajaran kelimajangan sok tau mentang-mentang punya list jadwal kereta dan tempat2 perhentiannya. Orang-orang yang sudah puluhan tahun, sudah hapal di luar kepala, termasuk apa yang terjadi bila terjadi anomali karena kekacauan jadwal.
Tempo hari, kereta 16.42 telat sampai Sudirman, kudunya jam 16.30-an udah lewat, ini jam 17.15 baru lewatin Sudirman menuju Tanah Abang. Gua ikutlah kereta itu ke Tanah Abang dulu, dapat duduk. Mbak di sebelah gua nanya, “Keretanya berhenti Depok Baru gak mas”. Dengan style yakin dan bangga, gua jawab “Gak mbak, ini jadwal 16.42, berhentinya Depok Lama. Kalo’ mo Depok Baru, ikut Bojong Express atau Pakuan jam 17.36”.
Terus, langsung dech dipotong sama orang “Mudah2an berhenti mbak, kalo’ udah kacau kayak gini, biasanya Bojong batal, dan kereta berhenti di banyak stasiun gantiin Bojong”. Bener aja, pas di Tanah Abang, diumumkan kalo’ kereta akan berhenti di Pondok Cina, Depok Baru, Depok Lama, Citayam, Bojong Gede, Cilebut, dan Bogor (udah kayak Ekonomi AC aja, hehehe). Gua cuman bisa malu, hehehe.
Gua lupa kalo’ ini Indonesia, anything can be happen, hehehe …

Pelajaran keenam, menurut gua ada level of expertise juga di kalangan commuter Jabotabek. Selain hal-hal yang gua ceritain di atas, masih ada contoh lainnya. Jangan menganggap pengetahuan yang mendalam tentang jadwal kereta membuat kita sudah masuk ke level expertise tinggi. Belum apa-apa tuh. Masih ada yang lebih tinggi, yaitu pengetahuannya sudah sampai ke level ke kode bo’. Mereka ngobrolnya udah pake kode-kode.
Jadi, fyi, kereta2 itu ada kodenya. Kalo’ Bogor-Tanah Abang 05.40 kodenya KA-201, 06,10 KA-205, dst. Juga sebaliknya Tanah Abang-Bogor 16.42 KA-238, 19.20 KA-252.
Nah, mereka kalo’ ngobrol udah gak pake jam dan jurusan lagi, cukup pake kode.
Misalnya gini (kode-nya cuman ilustrasi, soalnya gua juga lupa, hehehe) “Gila, kemaren gua naek 207, lelet banget, gara2 ketahan sama 269. Terus di Manggarai ketahan lama gara2 271 juga ngetem. Jadinya gua turun aja nungguin 275 buat transit.” Udah gitu, yang diajak ngobrol juga nyambung lagi sambil ngomong “Kenapa loe gak ambil 274 aja”. Gubrak …
Gua jadi inget, orang-orang payroll, kl udah lama banget, biasanya udah hapal no karyawan sama kasus2nya, hehehe. Ato kalo’ lagi maen SAP, udah hapal sama nama-nama tabelnya sama kode-kode wage type-nya.
Sering saya guyon gini, orang yang paling expert itu kali’ udah bisa baca dengan tepat kereta sudah di posisi mana cukup dengan melihat seberapa besar amplitudo getaran kabel listrik di stasiun, hahaha ….

Pelajaran ketujuhjangan coba-coba nipu petugas pemeriksa karcis. Pegangnya karcis ekonomi AC, terus coba2 naik Pakuan, hehehe. Ya ketangkep, pake acara ngeles lagi “Sori pak, saya gak tau kalo’ ini Pakuan, saya pikir Ekonomi AC”, hahaha … Gua pikir, nekad juga tuh orang, hahaha … udah pake baju seragam Pemda DKI lagi, malu2in. Lha wong warna karcisnya aja beda.
Mungkin butuh level of expertise juga ya untuk menghindari petugas, hehehe.

Pelajaran kedelapanbersiaplah untuk sport jantung juga, jangan berpikir semua akan lancar meskipun jam berangkatnya on-time. Bisa aja ada problem di tengah jalan. Biasanya, yang suka bikin bete adalah kalo’ di depan kita adalah KA ekonomi. Seperti hukum Kimia tentang katalisator, kecepatan reaksi ditentukan oleh kecepatan elemen di depan, hehehe. Kalo’ udah KA ekonomi di depan, ya sudah dech .. dijamin telat. Soalnya Pakuan gak bisa langsung pasang gigi 5, hehehe. Kudu ngikutin Ekonomi yang lebih pelan dan berhenti di banyak stasiun. Meskipun kadang2 juga suka kasian liat penumpang ekonomi yang sudah capek berdesak2an dan terpaksa ngetem di stasiun nungguin yang AC lewat dulu.
Nah, kalo’ sama petugas PPKA-nya Ekonomi sore dibiarkan lewat di Manggarai, gak disuruh nungguin Pakuan 16.42, maka ya pasti telat. Ini biasanya terjadi kalo’ Pakuannya agak telat dan Ekonominya tepat waktu, jadi kasian kalo’ Ekonomi disuruh nunggu kelamaan, malah bisa mengacaukan jadwal lainnya. Kalo’ udah gini, kita kudu ngikutin pelan2 tuh si Ekonomi sampe stasiun yang punya 4 jalur, seperti Pasar Minggu, Depok Baru, dan Depok Lama. Jadi, bisa nyalipnya di sana.
Itu masih mending, yang paling bikin bete kalo’ ekonominya mogok. Wah, terpaksa didorong sama Pakuan sampai Depok Baru/Lama. Bisa dibayangin, udah jalannya pelan banget, pake acara agak goyang2 terutama kalo’ kereta lagi ngedorong (kan modelnya ditabrak2in pelan2 gitu), hehehe …. Udah untung ya, masih pake AC, gak kebayang yang di Ekonomi. Yang kasiannya adalah, begitu nyampe Depok, si Ekonomi didorong sampe masuk jalur 4, terus Pakuannya mundur sedikit, pindah ke jalur 3, dan bye bye … meninggalkan Ekonomi di sana, langsung wuzzz … tancap gas.

Pelajaran kesembilansekali-kali cobalah naik ekonomi. Liat orang-orang dari banyak lapisan. Macam-macam pemandangannya, ada copetlah, ada yang jualan mondar-mandir dengan segala strategi cara lewatnya diantara kerumunan banyak orang (kadang2 juga suka bingung, kok ya bisa lewat, hehehe), ada yang berantem, ada yang bisa tidur nyenyak di tengah panas dan pengapnya kereta, ada yang cuek aja ngerokok, ada yang duduk santai di pintu sambil menikmati angin (bukan sepoi2 lagi, hehehe).
Setidaknya ada pengalaman batin tersendiri di sana, hehehe. Gua sih gak berani ambil yang jam-jam padat, ambilnya yang udah malam aja, itu pun bukan karena niat mo naik ekonomi, tapi terpaksa karena udah ketinggalan Pakuan terakhir, hehehe. Bete juga kalo’ telat 3-4 menit dari Pakuan 19.20, terpaksa naik Ekonomi Depok 19.30, dari situ nyambung lagi ke Bogor dengan ekonomi dari Kota.

Yaa … dengan segala suka dukanya, jadi bagian dari kaum commuter setidaknya adalah pilihan terbaik sekarang. Ya emang so far no choice, kereta masih jadi monopoli yang tidak memungkinkan terjadinya kompetisi. Masih agak susah dibuat kompetitor kayak Cipularang VS KA Parahyangan, hehehe.
Kalo’ lagi pengen dan ada urusan, tinggal nostalgia aja meluncur di Jagorawi. Dalam kasus2 sangat khusus (kayak pas kecelakaan Pakuan di Kebon Pedes tempo hari), bisa lebih cepat dan pastinya lebih nyaman. Tinggal call aja beberapa temen yang sama2 pengguna Pakuan, diajakin bareng biar bisa lewat 3in1, hehehe. Atau sekalian bisa belajar lewat jalur2 lain yang bebas 3in1. Jadi bisa hapal sedikit-sedikit sama Jakarta. Setidaknya kita siap dengan banyak pilihan.

Hmmm … pengennya sih nyobain MRT di luar negeri, hahaha …
Mudah2an notes ini tidak mengandung hal-hal yang bisa menimbulkan kerugian material maupun immaterial bagi pihak-pihak lain. Kalaupun ada, saya mohon maaf sebelumnya dan mohon saya diingatkan, biar nanti dikoreksi. Tidak ada maksud untuk menyinggung pihak2 tertentu, cuman sekedar cerita. Iseng aja nulis mumpung lagi sitting on the beach, meskipun bagi kebanyakan orang lain, ceritanya mah biasa aja, hehehe, bahkan pastinya malah banyak lebih heboh dan lebih banyak pelajarannya.
Mikir juga kalo’ liat kasusnya Mbak Prita, semoga cepet selesai ya mbak, saya dukung mbak.

by Wayan Ardhana on Sunday, August 16, 2009 at 11:47am

Di Jakarta, sungguh menyenangkan karena banyak jenis angkutan/transportasi umum yang tersedia. Masing-masing transportasi mempunyai keunikan tersendiri. Ada yang tersistem, sehingga semua orang bisa mempelajari dari sistem, aturan dan jadwalnya, namun lebih banyak yang acakadut, meskipun sebenarnya juga mempunyai aturan-aturan tak tertulis.

Menyenangkan? Tunggu dulu. Tentu saja dengan lalu lintas seperti Jakarta dan beragamnya jenis transportasi umum yang ada, bisa jadi sangat menakutkan bagi para pendatang. Jangankan pendatang baru, orang yang sejak lahir di Jakarta saja pasti akan katro’ bila tidak biasa menunggang transportasi umum di Jakarta.

Jenis-jenis Transportasi Umum di Jakarta

I. Mempunyai trayek dan tarif tertentu

A. Tersistem Rapi

A.1. KRL Jabodetabek

KRL ekspres melintas GMR

KRL ekspres melintas GMR

Kereta Rel Listrik (KRL) ini dioperasikan oleh PT Kereta Api Divisi Jabodetabek – PT KAI Commuter Jabodetabek. Mengenai KRL ini dapat dilihat secara lengkap di http://www.krl.co.id. KRL ini mempunyai jadwal yang jelas, sistem penjualan tiket, sistem pengawasan dan pengamanan, jalur khusus, stasiun/terminal khusus,  dan tarif yang jelas. Ciri khasnya selalu ada kabel listrik diatas jalur kereta ini. KRL ini setia pada trayeknya (mau lari kemana, wong ada relnya), tidak suka ngetem (mau disundul yang belakang?). Satu-satunya kendaraan yang gak kalah sama konvoi kenegaraan.

Pada Dasarnya KRL Jabodetabek dibagi dalam 3 Kelas :

1. Kelas Ekonomi : Mempunyai tarif antara Rp 1.000 s.d Rp 2.000, dengan trayek dari Jakarta ke Bogor, Depok, Serpong, Tangerang dan Bekasi. Ciri Khas KRL ini adalah tidak berhenti di Stasiun Gambir, tidak mempunyai pendingin udara (sehingga pintunya hampir dipastikan terbuka semua), umumnya berumur tua dan bikinan Eropa (BN Holec). Keistimewaan KRL ini pada jam sibuk mempunyai dua tingkat (maksudnya banyak yang naik diatap). Fasilitas di KRL ini cukup lengkap, meliputi life music/pengamen, mini bar dan minimarket (asongan), fear factor (copet) dan sauna & massage gratis karena padat banget & panasnya naudzubillah.

2. Kelas Ekonomi AC : Sama dengan KRL Ekonomi, hanya saja mempunyai perbedaan : Berpendingin udara sehingga pintunya tertutup (tapi kalau penuh banget ya kebuka), Kereta sama seperti Ekspres (bikinan Jepang). Sayangnya fasilitas life music, mini bar, mini market tak bisa lagi dinikmati. Tarifnya sekitar Rp 5.500.

3. Kelas Ekpres : Meskipun kereta ini sama jenis dan trayeknya dengan Ekonomi AC, namun mempunyai keistimewaan hanya berhenti di stasiun tertentu. Sehingga waktu tempuh lebih cepat, dan bisa menyalip KRL Ekonomi & Ekonomi AC di stasiun yang mempunyai jalur spoor lebih dari dua. Tarifnya antara Rp 8.000 – Rp 11.000. Pada tanggal 1 April 2011, PT KAI berencana menghapus KRL kelas ini, namun ditunda sampai ada sosialisasi lebih lanjut.

A.2. Bis Transjakarta

Transjakarta Busway

Transjakarta Busway koridor I

Bis Transjakarta ini salah kaprah disebut “Busway”, padahal busway itu jalurnya, bukan bisnya (salah sendiri pakai istilah asing). Meskipun tidak mempunyai jadwal keberangkatan dan kedatangan yang jelas (hanya jam operasional), namun bis ini mempunyai sistem tiket, jalur khusus yang disebut busway (meskipun gak terlalu khusus), halte/terminal khusus (pintunya tinggi euy, gak bisa turun kalo gak di haltenya), trayek (koridor) dan pengamanan serta pengawasan meskipun tak terlalu ketat.

B. Tersistem namun tidak rapi

B.1. Bis Bandara

Damri Bandara

Damri Bandara

Sebenarnya bis bandara ini tidak cocok disebut angkutan komuter, karena tarifnya tidak sesuai dengan tarif yang tinggi (sehingga para komuter bisa jebol kantongnya kalo mempergunakan setiap hari). Bis ini hanya mempunyai trayek dari Bandara Sukarno-Hatta ke terminal-terminal tertentu di Jakarta pp. Bis ini mempunyai sistem tiket, meskipun tiket juga bisa dibeli langsung di dalam bis. Hebatnya (atau kacaunya) bis ini bisa berhenti di sembarang tempat, meskipun bukan halte. Komuter yang menggunakannya terbatas pada pekerja didaerah bandara atau yang tiap hari berangkat kerja pake pesawat.

B.2. Bis Patas AC

PAC Mayasari Bhakti

PAC Mayasari Bhakti

Bis ini sebenarnya mempunyai jadwal berangkat yang tetap (terutama kalo pagi), tapi jadwal keberangkatan berikutnya menjadi tidak jelas karena menunggu bis yang datang lagi. Tak ada yang istimewa dalam bis ini, kecuali kursinya yang empuk, pintunya yang selalu ditutup (ada AC-nya) sehingga pengamen dan asongan tak sebanyak di bis non AC. Meskipun mempunyai halte, bis ini bisa berhenti dimana-mana dalam trayeknya.

B.3. Bis Patas Non AC

PATAS PPD

PATAS PPD

Saya tidak tahu apa beda/istimewanya bis ini dengan bis reguler, kecuali di tarifnya yang lebih tinggi. Selain itu, bis ini sama saja dengan bis yang lain, bisa berhenti dimana saja, ngangkut penumpang dimana saja dan turun juga pakai kaki kiri terlebih dulu. Kursinya juga sama kerasnya, seakan hendak menegaskan tentang kerasnya kehidupan. Perbedaan bis patas dengan reguler ini dulu ada, antara lain patas gak berhenti di semua halte, tempat duduknya terbatas. Tapi itu duluuuuu sekali. Sekarang bis ini tak ubahnya angkot. Fasilitasnya Full Music, mini bar & mini market berjalan. Sama seperti bis PAC dan reguler,  kalo malam bisa gak masuk terminal (langsung ngepool), atau kalo sepi bisa gak jadi ke terminal (balik lagi)

B.4. Bis Reguler Non AC

Bus Reguler

No Comment, sudah dijelaskan di bis PATAS Non AC. Bedanya dengan Patas non AC cuma di tulisannya, reguler.

C. Hampir-hampir tak tersistem

C.1. Metromini

metromini

metromini

Bis ini sama saja seperti Bis reguler non AC, cuma ini lebih gokil karena bodynya lebih kecil. Jagoan nyusup di kemacetan (kemacetan juga sebabnya kadang karena bis ini ngetem sembarangan). Jangan kaget kalo tiba-tiba disuruh turun karena sopir berubah pikiran pingin balik arah karena penumpang di arah sebaliknya dipikirnya lebih ramai.

C.2. Kopaja

kopaja

kopaja

Lihat : Metromini. Tapi jangan dikira sama dengan metromini. Perbedaan dengan Metromini : Kopaja warnanya ijo putih dan ada tulisannya KOPAJA, singkatan dari Koperasi Angkutan Jakarta. Kalo metromini warnanya orange biru dan ada tulisannya METRO MINI. Jelas kan perbedaannya?

C.3. Mikrolet/Angkutan Kota

Penerus bemo. Bedanya sama bis, angkot biasanya gak lewat jalan utama dan tol. tarifnya relatif lebih mahal dari pada bis.

Angkutan Kota

Angkutan Kota

C.4. Bemo

bemo

becak motor

Ini sih museum berjalan. Sekarang populasi dan trayeknya terbatas, cuma di pinggiran kota atau masuk kampung. Disini, orang gak merokok jadi smoker semua karena full asap. Di jalan tol sampai ada rambu bemo dicoret, supaya menegaskan kalo bemo dilarang masuk tol, soalnya kalo cuma larangan roda 3, bemo itu rodanya 4 (satunya ban serep di belakang).

II. Tak Punya Trayek

A. Tersistem

A.1. Taksi

Taksi Blue Bird

Taksi Blue Bird

Taksi yang bener punya argometer dan tarif yang jelas. Mempunyai sistem pemanggilan dan database pelanggan. Tapi ada juga taksi yang gak bener, harganya negoisasi, yang tentu aja bagi pengguna kalah pengalaman sama sopirnya masalah cost per kilometer atau kondisi jalan.

B. Hampir Tak Tersistem

B.1. Kancil

kancil

kancil

Singkatan dari kendaraan kecil. populasinya sedikit. Bentuknya kayak mainan di dufan, dari fiberglass semua. tarifnya tawar menawar. Lebih berkelas dan lebih nyaman daripada Bajaj. Kayaknya bisa masuk tol soalnya roda 4.

B.2. Bajaj

Bajaj

Bajaj

Satu lagi museum berjalan. Tampaknya Jakarta tak pernah membuang apapun juga. Sama dengan kancil, tarifnya tawar menawar. Bedanya, Bajaj rodanya 3. Gak ada ban serepnya

C. Tak Tersistem

C.1. Ojek

ojek motor

ojek motor

Kenapa ojek saya kategorikan tak bersistem? karena platnya hitam. Lho apa hubungannya? Tanyakan ke DLLAJR…. eh begini penjelasannya. Sebenarnya yang disebut angkutan umum itu yang berplat nomer kuning. Jadi kalo ojek ini gak ada aturan retribusi, kir dan bener-bener  gak ada yang mengatur kecuali preman. Ojek tersebar dimana-mana. Di jalan besar, dikampung-kampung, terminal dan lain-lain. Ojek digemari karena punya kelebihan menerobos kemacetan, bisa melawan arah dan gak pake helm (?!!!), dan bisa diajak main gaple (eh??). Tarifnya tawar menawar, dan relatif mahal dibandingkan kenyamanan, keamanan, jarak. Keunggulannya cuma waktu dan fleksibiltas.

Lain-lain

Disamping itu ada kategori Antar Kota Antar Provinsi (AKAP), namun prakteknya sebenarnya masuk dalam kategori diatas

1. Bis PATAS AC Antar Kota Antar Provinsi

PAC AKAP AGRA

PAC AKAP AGRA

Sebenarnya sama saja dengan Bis Patas AC, cuma tampilannya lebih glamor (warnanya). Disebut antar kota antar provinsi karena emang Depok, Bogor, Tangerang, Bekasi memang beda provinsi dari Jakarta. Padahal dari jarak dan fasilitas hampir sama (bahkan sama) dengan bis Patas AC. Keunggulannya di tarif yang lebih mahal dan ngetemnya di terminal di jajaran bis antar kota (yang beneran, bukan Depok, Bogor, Tangerang atau Bekasi).

2. Bis Antar Kota Antar Provinsi

AKAP Deborah

AKAP Deborah

Ini juga gak ada bedanya dengan Kopaja/metromini. Keunggulannya sama, tarif mahal dan kalo di terminal ngetem di jajaran bis luarkota beneran. Saya juga merasa konyol membedakan bis ini dengan Kopaja/metromini.

3. Kereta Rel Diesel

KRD Rangkasbitung

KRD Rangkasbitung

Kereta Rel Diesel (KRD) ini menjangkau wilayah yang lebih jauh daripada KRL karena memang tak memerlukan listrik saluran atas. Kereta ini bersenjatakan mesin diesel. Maka itu bisa sampai Rangkasbitung. Kalau di Bogor ada yang sampai Sukabumi.