Posts Tagged ‘bus’

Tiket Bus Online

Posted: 27 November 2014 in angkutan umum
Tag:, , , ,

image

Meskipun sangat jarang, ternyata sekarang sudah ada pemesanan tiket bus dengan cara online seperti KA dan pesawat.

Berikut daftar situs pemesanan tiket Bus online :

1. Kramatdjati Bandung : khusus bus Kramatdjati Bandung

2. Easybook : khusus bus Menggala, Nusantara, Zentrum

3. Bejeu : Khusus Bus Bejeu

 

Sementara ini dulu.

image

Tulisan ini terpaksa saya buat karena kejadian sore tadi yang saya alami. Sebenarnya nggak enak mengkritisi diri sendiri, tapi harus saya tulis pengalaman ini. Sore itu dari arah Pancoran saya naik metromini 62 (Manggarai-Pasar Minggu) ke arah Pasar Minggu. Cuaca sangat panas dengan sinar matahari menyorot dari arah kanan, sementara bis terisi lumayan penuh. Sekitar 2 Km menjelang Pasar Minggu, sang metromini mendadak mati mesin dan susah distarter (biasa, akinya soak). Jelas dalam situasi ini solusinya cuma didorong biar hidup lagi mesinnya.

Karena memang kepanasan sejak tadi, segera saya turun bersama beberapa penumpang mendorong bis bobrok itu. Tapi, kok berat banget bis ini, didorong sampe ngeden juga cuma gerak sedikit. Akhirnya setelah mesinnya nyala, saya baru sadar kalo banyak penumpang yang masih di bis, nggak mau turun. Pantes aja berat, ndorong bis sekaligus penumpangnya. Weleh-weleh kok nggak ada empatinya sih, yang lain ndorong kok malah enak-enak duduk di bis. Apa takut nggak bisa dapat duduk? wong tujuan sudah tinggal 5 menit lagi.

Lalu saya terbayang kejadian serupa di Slipi, yang menimpa bis PAC Mayasari Bhakti. Saya bisa membayangkan betapa berat bis itu dengan penumpang yang penuh. Waktu itu saya nggak bisa turun karena posisinya berdiri di tengah, mau turun terhalang penumpang yang lain (alasan saja ini sebenarnya, he… he…).

Ketika naik atau turun juga tidak mau repot. Ada halte, tapi kayaknya cuma jadi asesoris atau tempat berteduh, lebih sering naik atau turun di tempat terdekat yang paling pendek jarak tempuh jalan kakinya. Memang ini bisa dikarenakan halte banyak yang tidak strategis penempatannya, atau dijajah pedagang kakilima, tapi apakah tidak bisa naik turun di halte tanpa dipaksa seperti busway? Saya pernah melihat ada penumpang minta turun hanya 20 meter setelah bis berhenti di halte, hanya karena ingin berhenti pas didepan kantornya! padahal dia masih muda, sehat dan tidak cacat dan bisa berjalan normal.

Dalam hal berbagi tempat duduk juga nggak bisa diharapkan kerelaannya. Banyak orang tua, ibu yang menggendong bayi dan anak kecil yang terpaksa berdiri. Memang hal ini didukung tak adanya courtesy seat, atau kenek yang menegur, namun masalahnya adalah : apakah tak ada etika penumpang, khususnya bis kota di Jakarta?

Banyak yang mengeluh kelakuan sopir bis atau kenek yang ugal-ugalan, seenaknya atau tak tahu aturan. Namun tenyata penumpangnya juga mampu mengimbanginya, nggak beda-beda jauhlah kelakuannya. Atau budaya angkutan umum kita memang seperti itu?

Dibalik itu semua, saya masih berpikir tentang suatu pembelaan diri sebagai penumpang. Bicara tentang etika, apakah ada pernah diajarkan di sekolah atau di rumah mengenai etika penumpang umum? atau dipampangkan secara jelas dan diinformasikan secara luas? Bicara tentang aturan, apakah ada aturannya dan ada sanksinya? dalam KRL dan busway saja yang ada larangan makan-minum, memakai kuli atau courtesy seat saja nggak sanksinya. Kalo penumpang mencegat bis di areal S dicoret saja yang ditilang sopir bisnya.

Jangan-jangan penumpang tak beretika dan tak tahu aturan itu memang karena benar-benar nggak tahu. Ah, masak sih… kan masih bisa berempati. Minimal masih punya hati, kan ada perasaan nggak enak kalo duduk dalam bis, sementara ada yang ndorong. Akibatnya, malam ini saya harus cari tukang pijat.

Setelah lama berdiam diri membaca berita mengenai Kopaja yang dibuat ber-AC, akhirnya saya tidak tahan juga untuk tidak menulisnya karena rutenya melewati hidung saya. Rute Kopaja S13 AC ini masih tetap sama dengan Kopaja S13 reguler, yaitu Ragunan – TB Simatupang – Lebak Bulus – Arteri Pondok Indah – Gandaria – Velbak – Pakubuwono – CSW – Ratu Plaza – Senayan – Slipi dan Grogol. Yang menarik adalah, tarifnya tetap sama dengan tarif kopaja biasa, yaitu Rp 2.000.

”]Dalam hati saya, antara setuju dan tidak setuju dengan tarif itu. Bukannya mau menghalangi agar mendapatkan pelayanan maksimal dengan harga minimal, namun realistis saja, saya kira kopaja sebagai perusahaan mungkin menghadapi dilema dengan tarif itu, yang ujung-ujungnya cuma dua : berhenti operasionalnya atau menaikkan harganya. Belakangan saya baca disini, ternyata tarif Rp 2.000 itu tarif promosi, dan ada niatan untuk  menaikkannya.

Yah, setidaknya itu upaya untuk menghindari berhenti operasi. Kejadian mengenai kondisi ferry penyeberangan Merak-Bakaheuni yang beroperasi setengah-setengah atau KA Ekonomi yang kembang-kempis karena pemerintah membatasi kenaikan tarif, namun dukungan nyata tidak signifikan, cukup menjadi pelajaran.

”]Berbicara mengenai kenyamanan, relatif juga. Meskipun dibekali pendingin udara, saya kira malah bisa masuk angin. Bayangkan, waktu tempuh dari Ragunan ke Grogol bisa sampai 3 jam, karena tidak punya jalur khusus seperti busway. Saya melihat jalur busway yang sering kosong, jadi punya ide, kenapa bis model gini kok nggak diberikan ijin saja masuk jalur busway, toh katanya bis ini akan dibikin tertib, dan berhentinya juga di harus di halte. Maklum awaknya digaji, jadi nggak kejar setoran lagi. Kapasitas bis yang cuma 27 orang (tidak menyediakan tempat berdiri? tapi kok ada tempat pengangan?), disatu sisi akan meningkatkan kenyamanan, namun disisi lain jelas menimbulkan rebutan antar calon penumpang, apalagi jumlah bis terbatas dan jarak tempuh yang jauh. Dengan kemacetan yang kian parah, bisa jadi jeda antar bis makin lama. Dengan kata lain, nyaman bagi penumpang, tidak nyaman bagi calon penumpang. Kenapa model kursinya tidak meniru BST di Solo yang bisa memuat lebih banyak penumpang dan juga memberikan sedikit kenyamanan pada yang berdiri?

Dalam sejarahnya, rute Kopaja S13 bersaing dengan angkutan lain. Kopaja S13 ternyata pernah diprotes oleh Koantas  Bima 102 dan Metromini 72. Kopaja S 13 kerap berbarengan dengan  Koantas  Bima 102 di hampir sepanjang rutenya, mulai dari poins square sampai Senayan. Sedangkan Kopaja S 13 berimpitan rutenya dengan Metromini 72 di T.B. Simatupang hingga Pondok Indah. Bila Kopaja AC S 13 mempunyai tarif lebih tinggi, konflik itu mungkin akan mereda. Namun apabila tidak, maka kehadirannya akan ‘membunuh’ angkutan lain yang berimpitan rutenya.

”]Soal pembunuhan itu, lagi-lagi saya berpikir dua sisi. Disatu sisi, hati kecil saya mengatakan “ Baguslah, biar mampus ! soalnya kau perlakukan aku seperti binatang ! Biar jadi contoh angkutan lain yang tidak manusiawi akan punah !”

Namun disisi lain saya berpikir mengenai monopoli. Bila angkutan lain punah, maka tak ada parameter bagi pelayanan angkutan, atau pilihan alternatif bagi penumpang.  Operator bisa menjadi tiran, lama-lama menjadi sewenang-wenang karena nggak ada saingan. Terus bagaimana juga nasib sopir dan kenek angkutan lainnya itu? Apa memang benar-benar sudah nggak bisa diatur lagi angkutan umum itu?

Akhirnya saya sampai pada kesimpulan bahwa sepertinya kemacetan di Jakarta memang sudah pada titik point of no return, sehingga pemikiran yang dikembangkan adalah cara ‘menikmati’ kemacetan itu, bukan cara mengatasinya atau menguranginya. Antara lain menambah kenyaman transportasi yang ditumpangi.

Melanjutkan tulisan terdahulu mengenai transportasi jadul Indonesia, saya lanjutkan dengan angkutan jadul yang lebih mantap, yang lebih bersifat angkutan massal.

A. Bis tingkat

bis tingkat jakarta

bis tingkat jakarta

Bis tingkat (dikenal dengan sebutan doble decker) memang bis yang bertingkat, mempunyai dua lantai, sehingga kapasitasnya bisa lebih besar daripada bis biasa. Bis tingkat pernah digunakan diberapa kota di Indonesia seperti di Jakarta, Surabaya, Solo, Makasar dan kota-kota di Madura. Bila di Jakarta menggunakan merk Volvo, di Surabaya yang digunakan bermerk Leyland. Ciri bis ini adalah tidak mempunyai tempat berdiri di tingkat atas, dan berjalan lambat. Karena biaya perawatan yang tinggi, apalagi setelah krisis ekonomi tahun 98, bis ini mulai punah. Setelah era 90-an, saya sudah tidak menjumpai bis ini berkeliaran lagi.

Bis Tingkat Werkudoro, Solo

Bis Tingkat Werkudoro, Solo

Namun di Solo pada 1 April 2011 malah meluncurkan bis tingkat, khusus untuk pariwisata, namanya Werkudoro. Bis ini bukan bis untuk komuter, karena tarifnya memang tarif pariwisata.

B. Kereta Api – Kereta Rel Listrik

Sejarah kereta api di Indonesia dimulai tahun 1864, oleh pemerintah Hindia Belanda, di Jawa.  Pembangunan di luar Jawa dilakukan di Sumatra di Aceh (1874), Sumatera Utara (1886), Sumatera Barat (1891), Sumatera Selatan (1914), bahkan tahun 1922 di Sulawesi juga telah dibangun jalan KA sepanjang 47 Km antara Makasar-Takalar, yang pengoperasiannya dilakukan tanggal 1 Juli 1923, sisanya Ujungpandang-Maros belum sempat diselesaikan. Bahkan jaringan kereta api sampai ke Pulau Madura.

KRL doeloe  jurusan weltevreden (Gambir) - Tanjungpriuk

KRL doeloe jurusan weltevreden (Gambir) - Tanjungpriuk

Sejarah Kereta Rel Listrik (KRL) dimulai tahun 1923, dimulai dengan elektifikasi jalur Tanjung Priuk – Meester Cornelis (Jatinegara). KRL hanya dinikmati di Jakarta dan Bogor, bahkan sampai saat ini. Peresmian elektrifikasi jalur KA bersamaan dengan hari ulang tahun ke 50 Staats  Spoorwegen (PT KA-nya Hindia Belanda), sekaligus juga peresmian stasiun Tanjung Priuk yang baru yaitu pada 6 April 1925. Jalur kereta listrik di Batavia (Jakarta) dan Buitenzorg (Bogor) ini merupakan pelopor KRL di Indonesia, yang saat itu paling maju di Asia. Di masa itu, kereta listrik telah menjadi andalan para  komuter untuk bepergian.

stasiun depok lama...... banget

stasiun depok lamaaa...... banget

Mungkin saking cintanya dengan barang jadul, atau terlena dengan kebesaran jaman Hindia Belanda, pemerintah Indonesia tidak pernah membeli lokomotif listrik  untuk mengganti atau menambah jumlah lokomotif listrik yang beroperasi sampai digantikan dengan rangkaian Kereta Rel Listrik baru buatan Jepang sejak tahun 1976. Saat ini KRL jabodetabek beroperasi dengan kereta buatan Jepang, dengan mengangkut 400.000 komuter.

C. Trem Listrik

Trem mulai muncul di Batavia (Jakarta) pada 1869. Mula-mula berjalan dengan ditarik kuda, kemudian digantikan dengan trem bermesin uap pada 1881.

Trem Batavia melintas Beos

Trem Batavia melintas Beos

Surabaya juga tak mau kalah, tahun 1886, trem uap mulai mengisi lalu lintas Surabaya. Tahun 1901, trem listrik mulai beroperasi di Jakarta, disusul Surabaya tahun 1910. Trem uap terakhir beroperasi pada 1933, sejak saat itu semua trem sudah menggunakan listrik.

Trem Surabaya melintas bawah viaduk (jalan pasar besar)

Trem Surabaya melintas bawah viaduk (jalan pasar besar)

Trem digusur pada 1960-an, atas usul Bung Karno, yang lebih cenderung kepada metro atau kereta api bawah tanah. Saat itu bersamaan dengan semangat untuk memajukan Asia, dimana banyak pembelian Bis Kota “Tata” dari India.

Hilanglah sudah kejayaan trem di Jakarta dan Surabaya, tanpa tergantikan hingga saat ini.

Saat musim kampanye politik adalah saat yang sepi. Sepi? Bukannya malah ramai? Bener,sepi di terminal. Bis banyak dicarter untuk kampanye, dan gak ada bis pengganti. Ya… bisku sedang ‘berhalangan’.
Itulah kenyataan yang harus diterima penumpang bis. Sudah datang subuh, siap-siap rebutan bis biar dapat tempat duduk yang nyaman, eh bis tersayang gak nongol-nongol di terminal. Tidak ada pemberitahuan sebelumnya, tidak ada surat keterangan dari PO terkait. Penumpang harus mencari sendiri transportasi alternatif menuju kantornya, yang tentu saja memerlukan lebih banyak biaya, waktu dan ketidaknyamanan.

Tak ada jaminan, tak ada tanggung jawab

Situasi seperti itu ternyata cukup sering terjadi, tak hanya di musim kampanye. Bis bisa tiba-tiba hilang karena dicarter,misalnya rombongan sekolah, darmawisata, supporter bola, demonstrasi dan lain-lain. Gak cuma dicarter, bis yang ‘berhalangan’ alias menghilang tiba-tiba bisa karena pemogokan, kerusakan, atau alasan sepele, sopirnya kesiangan bangun.
Ini yang menjadi momok penumpang umum. Tak adanya jaminan akan tem (jadwal bis) dan tanggung jawab apabila tak bisa sampai tujuan. Pemerintah sebagai regulator tak mau mengontrol bahwa pengemban trayek harus bertanggung jawab atas trayek dan waktunya.

keleleran

Penumpang dituntut untuk kreatif mengatasi sendiri semua kesulitannya. Yah, apa boleh buat, siapa takut cuma masalah begituan. Transport di Jakarta kan beragam. Daripada keleleran dijalan/terminal menunggu bis yang gak jelas datangnya,  mungkin ada baiknya membaca sekadar trik untuk menyiasati masalah itu ;
1. Jangan membawa uang ngepas
Maksudnya disini uang di dompet tidak boleh ngepas. Sediakan cadangan uang lebih, karena anomali di jalan bisa menuntut kita estafet,pindah angkutan bertahap

2. Dengarkan rumor

Rumor didapat dari kenek, atau penumpang kawakan. Rumor ini perlu didengar, terutama masa kampanye & libur sekolah. Dimasa ini banyak bis yang dicarter.

3. Ketahui jalur alternatif

Jangan terlalu loyal atau cinta pada satu jenis trayek saja, karena mereka suka nyeleweng. Ada obyek carteran dikit aja udah lupa ama penumpang. Bila diperhatikan,banyak overlapping jalur. Contohnya, dari depok menuju slipi, ada 3 bis Patas AC (Steady Safe PAC 48 tujuan grogol, Mayasari Bhakti PAC 81 tujuan Kalideres, Bianglala PAC 143 tujuan Grogol), dan 1 bis non AC (PPD 54 tujuan Grogol). Atau estafet, contohnya ke lebak bulus naik Deborah, kemudian Kopaja 86 tujuan Kota. Banyak jalan menuju roma, eh slipi. Untuk estafet, memerlukan pengetahuan lebih mengenai peta Jakarta, jurusan angkutan, atau terminal. Namun pelajaran dasarnya adalah mengenal terminal/tempat dimana banyak jurusan angkutan, contohnya di Cawang atau Terminal Blok M. Idenya adalah, apabila bisa mencapai tempat itu, alternatif jalur akan lebih banyak.

4. Kombinasikan dengan moda angkutan lain

Biasanya trayek bis yang biasa dipakai berdasarkan ‘best practice‘ pengalaman menumpang. Biasanya yang dipilih kecepatan, baru kemudian kenyamanan, atau alasan kepraktisan, gak perlu oper angkutan lain. Nah jika bis yang biasa kita pakai sedang ‘berhalangan’, konsekuensinya bila kita ambil trayek lain adalah waktu lebih lama karena jalur alternatif itu bisa lebih macet, atau lebih jauh, atau harus estafet sehingga ada waktu loading/unloading. Untuk bisa mencapai tujuan dengan waktu yang relatif sama, bisa diperhitungkan untuk estafet menggunakan KRL. KRL memang cepat, namun rutenya terbatas. Sehingga untuk mencapai KRL atau dari KRL menuju tempat tujuan memerlukan moda angkutan lain, syukur-syukur ada busway yang steril yang bisa menerobos Jakarta dengan jalur khususnya. Contohnya tetap sama, dari Depok menuju Slipi. Naik saja KRL AC Ekonomi, turun di Cawang. Kemudian silakan naik busway koridor 9, pinang ranti-pluit. Bis Transjakarta itu bila steril jalurnya akan mudah menembus kemacetan daerah Gatot Subroto-Slipi. Ini malah bisa lebih cepat daripada biasanya.

Penumpang Friendly

Posted: 11 April 2011 in Bis, Transport Jakarta
Tag:, ,

Kalau melihat lay out angkutan umum, terutama bis di Jakarta, saya membayangkan bahwa bis-bis itu didesain untuk tidak untuk semua keadaan dan golongan. Yang cocok menggunakan adalah orang muda yang sehat, dan sendirian (tidak bawa anak).

Contohnya di bis Mayasari Bhakti ini :

pintu depan bis kota

Ground clearence bis ini termasuk tinggi, dengan pintu yang sempit, melalui tangga yang kecil, melebihi 1 anak tangga.  Proses naik turun penumpang menjadi tersendat, karena penumpang naik dan turun tidak bisa bersamaan (hanya cukup 1 orang). Aktivitas naik/turun tangga juga membuat proses jadi lebih lama. Risiko juga lumayan karena ada ketinggian bis berakibat kemungkinan jatuh besar. Besi pegangan mencuat dari body, cukup kecil namun cukup bisa menjegal orang.

Dalam Bis PAC

Interior dalam bis Patas AC mengadopsi sepenuhnya bis Bumel, AKAP klas ekonomi. Tidak beda-beda jauh dengan interior semua bis kota, yaitu posisi kursi menghadap depan, dua seat di sisi kiri, tiga seat disisi kanan. Ini mungkin cocok dengan bis AKAP jarak jauh, dimana jarak antar perhentian jauh (penumpang didesain naik/turun di terminal, bukan halte). Bis ini didesain hanya untuk penumpang duduk. Bener-bener kasihan yang kebagian berdiri, karena hampir tidak ada ruang. Sungguh jauh perbedaan nasib antara penumpang berdiri dan duduk disini.

Sekarang coba bandingkan dengan bis karesori Japan ini :

Pintu Bis Jepang

Bis ini mempunyai ground clearence rendah. Bis ini mempunyai pintu tengah yang lebar, dengan tiang pegangan melintang vertikal. Penumpang naik/turun bisa bersamaan di pintu tengah (asal beda jalur). Bis jenis ini ada di Jakarta, digunakan oleh PPD dan PO Steady Safe, dengan warna ada yang masih sama seperti gambar diatas. Gambar diatas sih waktu bis itu masih beroperasi di Jepang, jadi jangan bandingkan waktu in action di Jakarta.

Interior bis Jepang

Coba lihat interior bis Jepang ini. Sisi kanan hanya ada 1 kursi menghadap depan, sedangkan sisi kiri kursi berjajar menghadap tengah (seperti di busway). Penumpang yang berdiri mempunyai ruang yang cukup luas, dengan pegangan yang lebih nyaman. Jika dilihat lagi, jendela bis ini lebar banget, sehingga ventilasi lumayanlah untuk yang tidak pakai AC. Bis ini memang didesain tidak untuk duduk saja, melainkan juga memperhatikan nasib yang berdiri. Namanya juga bis kota, ya pastilah ada yang berdiri.

Kondisi Riil

Desain yang ‘salah’ oleh bis karoseri Indonesia itu sebenarnya juga ada alasannya.

1. PO bis biasa memutasikan bis-nya. Dari bis AKAP menjadi bis kota. Jadi bisa jadi itu ex bis luar kota

2.  Karoseri yang ada kebanyakan pesanannya model itu, tidak kreatif. Kalo mau model lainnya jangan-jangan nambah ongkosnya (macem-macem aje mintanye)

3. Kondisi jalan di Jabodetabek tidak semulus di Jepang (sebelum Tsunami). Jadi ground clearence-nya mesti tinggi.

4. Banyak penumpang manja. Maunya duduk terus, jadi kapasitas duduk harus besar. Promosinya kenek bis kan, “duduk, duduk!”

5. Meskipun jaraknya gak jauh, macet parah banget. Jadi waktu tempuh sama saja bis AKAP

6. Kalo bukan jam berangkat/pulang kantor, kadang sepi banget. kalo sepi berdiri kan malu.

7. Gak ada orang cacat, nenek-nenek dan yang bawa anak ikut dalam tim desainer karoseri bis kota

8. Halte yang  ada gak mendukung (emang masih dipake itu halte?), gak kayak busway, halte & bisnya di-syncronize

Ya, untungnya konsep bis yang penumpang friendly itu terwujud dalam bis Transjakarta. Cuma catatannya : kalo waktu tempuh berjam-jam, duduk atau (apalagi) berdiri kondisi apapun ya gak nyaman.

Istilah dalam angkutan umum

Posted: 5 April 2011 in Umum
Tag:, , ,

Berikut bahasa sandi yang sering digunakan dalam angkutan umum :

Sewa = Penumpang

Sewa Batu = Penumpang jarak jauh (ujung ke ujung)

Gunting = tarik ongkos

Digunting = ditarik ongkos

Ngetem = Berhenti/ngejogrok di tempat selain terminal nunggu penumpang

Tem = Jadwal/waktu berangkat. Misalnya Tem 1 jam 5.30. Tem 2 Jam 6.00

Kres = Ketemu saingannya, frontal didepan ada kendaran

Kiri = Minta Berhenti (meskipun belum tentu ke kiri jalan)

Kosong = Belum terisi kapasitas normal (artinya belum penuh banget/masih bisa nafas)

Amatir = bangku (portable) untuk duduk

Rit = perjalanan pulang pergi

Selah, ngeslah = mencuri sela antar antrian. Biasanya tidak masuk terminal. Erat kaitannya dengan ngetem.

Tahan = Sinyal merah dari kenek. Belum aman untuk jalan (ada penumpang turun/naik)

Tarik = Sinyal hijau dari kenek. Tancap gas, pir

Goyang = masuk kesela-sela kendaraan lain (terutama dalam macet). Bisa juga diartikan agar penumpang ndusel ke penumpang lain yang lebih longgar.