Posts Tagged ‘jabodetabek’

Seperti yang pernah saya tulis di sini, kereta api adalah angkutan favorit untuk mudik. Pada saat sekitar lebaran, aktivitasnya bertambah, sehingga lalu lintas kereta, terutama daerah yang rawan antara Manggarai – Jakarta Kota menjadi padat sekali karena berbagi jalur dengan kereta lokal, KRL Jabodetabek.

KRL melintas Gambir

Seperti tahun-tahun sebelumnya, untuk sedikit mengatasi kepadatan itu, PT KAI melakukan ‘kebijakan’ bahwa KRL tidak akan berhenti di stasiun Gambir, jadi melintas langsung. Tahun ini mulai H-5 sampai H+3 KRL tak behenti di Gambir. Jelas ini merepotkan bagi pengguna KRL maupun calon penumpang Kereta Api jarak jauh. Bagi pengguna KRL yang biasanya bisa turun Gambir, sekarang harus menambah biaya dan waktu karena harus turun di stasiun Juanda atau Gondangdia. Bagi pengguna kereta api jarak jauh yang menyusuri Pulau Jawa, jelas ini mengurangi alternatif angkutan dan kenyamanan menuju Gambir.

Karena angkutan yang relatif cepat dan mudah di Depok adalah KRL, jelas saya naik KRL. Karena nggak berhenti di Gambir, harus turun di Gondangdia. Dari atas harus turun ke bawah lewat tangga, karena stasiun Gondangdia adalah stasiun atas. Kemudian mencari bajaj, terus menuju stasiun Gambir, naik tangga lagi dua tingkat untuk menunggu kereta di atas. Bayangkan, misalnya saya dari Depok, membawa 2 orang anak kecil yang satunya harus digendong, disamping itu juga membawa barang dan tas bawaan untuk mudik. Kok malah jadi nelangsa gini ya…

kereta jawa dari front utara

‘Kebijakan’ itu cuma di Gambir. Saya berpikir apa nggak seharusnya sebagai sesama pengguna produk kereta, berhenti sejenak di stasiun Gambir (biasanya juga cuma dalam hitungan detik) kan tidak mengganggu. Saya makin jengkel mengingat Gambir adalah pemberhentian bagi kereta eksekutif… sampai tersirat pikiran ; “oh… begini ya, memang pengkastaan itu ada. Kelas yang paling tinggi yang diutamakan”.

Boro-boro mengintegrasikan antar moda angkutan, ini yang satu perusahaan, sesama kereta aja nggak kompak, satu harus dikalahkan yang lain. Saya dulu bahkan punya pikiran… kalo saya telat naik kereta jawa (kereta jarak jauh) gara-gara KRL saya yang ke Gambir telat, bisa nggak ya dapat pengembalian tiket? kan satu perusahaan (mimpi kali yeee…).

Alasan PT KA, rencana pemindahan terminal kereta jawa ke stasiun Manggarai dan jalur double-double track antara Cikarang-Manggarai masih belum terlaksana juga, sehingga ‘kebijakan’ melarang KRL berhenti di Gambir dilakukan. Selalu masalah teknis, atau kadang masalah bisnis yang dijadikan alasan. Kalau menurut saya sih… pembuat kebijakan ini tidak pernah, atau sedikit sekali melihat dari sisi penumpang.

Iklan

Akhirnya kesempatan mencoba Kopaja AC tercapai juga. Setiap ada moda transportasi baru yang diberitakan ‘heboh’, saya penasaran selalu ingin mencobanya. Saat itu perjumpaan dengan Kopaja AC S13 juga tidak sengaja. Seperti biasa saya terjebak macet dalam bis di TB Simatupang, Perempatan Poin Square.

Saat itu pandangan tertuju pada bis yang jaraknya sekitar 50 meter di depan yang ‘tidak biasanya’, dari belakang terlihat tulisan ‘KOPAJA’ besar, dan buritannya berwarna kuning. Apa itu ya Kopaja AC? katanya warnanya ijo? Segera saya turun dan menyeberang ke sisi jalan Arteri Pondok Indah. Sepeda motor dan mobil yang berhimpitan di perempatan menyebabkan saya agak sulit menyeberang. Saya pikir mungkin bisa ketinggalan Kopaja AC itu, namun untunglah ‘manuver’ Kopaja AC itu tidak brutal seperti saudara lamanya, kopaja reguler. Bahkan bisa dikategorikan ‘lelet’ untuk ukuran lalu lintas Jakarta yang srudak-sruduk.

Saya pikir jam kerja segitu penuh banget, mengingat Kopaja dengan jalur yang mirip (Kopaja 86 tujuan Kota), biasanya penuh banget. Tapi ketika saya masuk, saya kaget karena sangat sepi, hanya berisi 9 penumpang. Kesan pertama, pintu putarnya menyulitkan saya masuk.  Ongkosnya masih murah, Rp 2.000, yang ditagih oleh kondektur dengan ketawa-ketawa (katanya “murah khan !”). Kondekturnya ramah bener, tapi kelihatannya pengetahuannya belum expert mengenai jalurnya, soalnya agak bingung ketika ditanyai penumpang mengenai apakah lewat gedung tertentu di daerah Sudirman.

Tidak seperti yang diberitakan, Kopaja AC ini juga mau mengambil penumpang tidak di halte. Mungkin kasihan melihat penumpang yang sudah mencegat di tengah jalan.

Maaf Penuh (maksudnya jalan di depan yang penuh)

Akhirnya saya sampai di tujuan, jarak pendek saja.  Bener… lelet. Karena keleletan Kopaja AC itu, saya terlambat masuk kantor. Kelihatannya ini yang dihindari oleh penumpang kopaja. Bila penumpang jarak pendek, mungkin kopaja citra lama yang diharapkan. Kebanyakan ‘Kopajaers’ menginginkan kopaja yang srudak-sruduk, bermanuver menembus macetnya Jakarta.

AC yang sejuk (maklum baru)

Apalagi bila tarifnya dinaikkan, Kopaja AC itu mungkin hanya efektif untuk penumpang ‘batu’ alias jarak jauh, dari ujung ke ujung, jadi nggak rugi dengan jauhnya perjalanan.

Ada hal yang berkesan, yang tidak pernah saya alami selama naik Kopaja. Ketika turun, kondekturnya mengucapkan, ” terima kasih !”

Sebenarnya agak malas menulis ini, karena bagi saya nggak ada seninya. Tapi kalo ada ‘seninya’ misalnya ada turbulence, atau rodanya nggak bisa keluar, ngeri juga lho. Saya sendiri hanya bisa menikmati naik pesawat kalo cuaca cerah dan tenang, sehingga bisa menikmati pemandangan, karena sebenarnya saya takut terbang.

B-737 menurunkan landing gear, final position, Juanda, SUB. Foto diambil dari kawasan Aloha

Jadi saya hanya memakai pesawat terbang waktu mudik hanya ketika di Banjarmasin. Ketika pindah ke Jakarta, banyak alternatif angkutan darat yang lebih sering saya pakai.

Tiket pesawat terbang sebenarnya juga nggak mahal-mahal amat, bahkan jauh lebih murah daripada kereta api eksekutif, kalo pesan jauh hari, eh jauh bulan sebelumnya. Tiket pesawat yang murah itu tiket promo, yang bersifat mengikat dan non refundable.  Biasanya kelas harga tiket pesawat terbagi menjadi 2 kelas yaitu kelas bisnis dan kelas ekonomi. Kelas ekonomi terbagi lagi menjadi beberapa sub kelas. Misalnya tiket sub kelas terbawah (harga promo) seperti kelas V atau X untuk Lion Air, kelas Z atau W untuk Batavia Air, kelas P atau R untuk Sriwijaya Air. Namun jumlahnya terbatas, apalagi pada saat puncak (peak season), makanya memesannya jauh-jauh hari. Ada juga triknya memesan tiket malah pada saat mepet, tapi ini biasanya malah dapat tiket murah. Cuma ini efektif kalo sendirian. Kalo berombongan, gambling juga.

Dari jendela kabin, tampak flap pesawat turun maksimal, posisi pesawat dalam final approach untuk mendarat. Landing gear sudah diturunkan, menimbulkan hentakan halus yang terasa oleh penumpang. Ujung sayap meninggalkan kabut garis tipis akibat gesekan udara. Pilot mengumumkan prepare position for landing ke awak pesawat.

Bahkan, pernah juga teman saya naik pesawat TNI AU, jenisnya sama dengan pesawat komersil, dan bayarnya juga sama. Pertama kali saya selalu pakai taksi bandara, tapi belakangan saya tahu bahwa banyak angkutan lain di bandara. Contohnya di Sukarno-Hatta, CGK, banyak bis (DAMRI) bandara, travel, ojek, taksi lain, bahkan kendaraan lain (termasuk kendaraan angkutan maskapai) yang ngompreng. Di Juanda, SUB, ada bis DAMRI, taksi lain, dan ojek.

Pemilihan tempat duduk sebenarnya tergantung selera. Ada yang suka duduk di dekat jendela, biar bisa melihat pemandangan. Ada yang lebih suka di koridor, biar lebih gampang keluar atau ke toilet. Ada yang suka di dekat pintu darurat, karena kaki lebih luas.

Yang perlu diingat, ada tambahan biaya kalo naik pesawat. Umumnya jarak Bandara jauh dari kota, sehingga transport kesana lumayan mahal. Bahkan bis Bandara pun mempunyai tarif yang berbeda, jauh lebih mahal daripada bis lain. Selain itu ada airport tax yang besarnya tidak sama di tiap Bandara. Selain itu, kadang ada Pemda yang memungut retribusi di Bandara, selain airport tax.

Angkutan Pesawat Udara adalah angkutan umum yang mendapat perhatian paling besar dari media massa dan pembuat kebijakan. Saya tebak jawabannya karena mereka juga penggunanya, soalnya nggak mungkin naik mobil dinas atau mobil pribadi menyeberang lautan.

Benar, saya iri mendengar kabar di media tentang gebrakan transportasi di Kota Solo/Surakarta. Saya hitung kota ini minimal mempunyai tiga moda transportasi massal yang tersistem, padahal volume lalu-lintasnya jauh dibawah Jakarta

Railbus Bathara Kresna

Railbus Bathara Kresna (Inka)

Sekitar bulan Juli 2011,  menteri perhubungan meresmikan Railbus, jenis KRLDE (kereta rel listrik dan diesel) dengan harga sekitar Rp 15 – 20 miliar, berisi tiga rangkaian, dengan kapasitas angkut maksimal 200 orang. Ternyata moda transportasi Railbus juga sudah beropeasi tahun 2008 di Palembang, Sumatera Selatan untuk melayani rute Kertapati – Indralaya (kampus Universitas Sriwijaya).  Railbus di Solo melayani rute Solo – Wonogiri. Meskipun saat ini belum beroperasi karena berbagai kendala teknis (antara lain infrastuktur jembatan dan rel yang belum siap atau masalah administrasi pengoperasiannya dengan PT KA), saya baca di sini, operasionalnya akan dimulai H-7 lebaran 1432 H.

Prambanan Ekspress (Prameks)

Merupakan kereta yang melayani jalur Solo – Yogyakarta – Kutoarjo, yang merupakan jalur ganda (double track). 1 set terdiri 5ima unit kereta Prameks per rangkaian KRDE (Kereta Rel Diesel Elektrik) tersebut terdiri atas satu unit kereta mesin (engine, KDE) diesel, satu unit kereta ko-trailer, dua unit kabin trailer dan satu unit trailer ditambah kabin masinis. KRDE ini diberi kode KDE-3, yang berarti KRDE kelas ekonomi.

duo Prameks (foto semboyan 35)

interior Prameks (foto kompas)

Saat ini, Prameks beropeasi 10 kali PP (Solo – Yogyakarta). Kereta api ini juga sekarang berhenti di Stasiun Maguwo (Bandara Adisucipto), sehingga terintegrasi dengan Bis Transyogya dan pesawat terbang. Komuter Jakarta patut beriri hati, mengingat KRL bandara saat ini masih dalam mimpi.

BST (Batik Solo Trans)

Ini BRT (Bus Rapid Transit) seperti model Bis Trans Yogya, atau mirip-mirip Busway. Mulai beroperasi sejak 2010, menggantikan Bus Damri yang sebelumnya melayani jalur ini. Rutenya dari Palur-Jurug-UNS-RS Muwardi-Pasar Gede-Gladak-Kustati-Gading-Sraten-Jamsaren-Tipes-Bayangkara-Baron-Gendengan-Purwosari-Kleco-Pabelan-Kartosuro. Kembali Kartosuro-Pabelan-Kleco-Purwosari-RS Kasih Ibu-Gendengan-SGM-Sriwedari-Nonongan-LP-Gladak-Balai Kota-Pasar Gede-RS Muwardi-UNS-Jurug-Palur.

Batik Solo Trans (Antara)

interior BST (solopos)

Pembelian tiket masih diatas bis, oleh kondektur. Namun rencananya akan diganti smart card. Berbeda dengan Busway Transjakarta, BST ini tidak mempunyai jalur khusus. Mungkin karena masih tidak semacet Jakarta. Ukuran bisnya juga bukan bis besar, apalagi bis gandeng. Namun itu sudah cukup untuk Kota seperti Solo. Hebatnya, tidak seperti Bis Kopaja AC, model tempat duduknya juga mengakomodir penumpang berdiri agar nyaman, sehingga daya tampungnya lebih besar daripada Kopaja AC.

Bis Tingkat Werkudoro

Ini sebenarnya bukan angkutan komuter, namun angkutan wisata, jadi bukan menggantikan bis tingkat Damri yang sebelumnya pernah beroperasi.  Tapi kalo mau naik untuk wisata tergolong murah tarifnya, yaitu cuma Rp 20.000.  Bis ini juga bisa disewa.

interior werkudoro

Bus Tingkat Werkudoro (antara)

Beroperasi setiap hari mulai pukul 08.00-22.00 yang melewati titik-titik wisata dan ekonomi, seperti Taman Sriwedari, Museum Radya Pustaka, Kampoeng Batik Kauman, Laweyan, Lumbung Batik, Pura Mangkunegaran, dan lainnya. Tingkat atas bis ini terbuka, sehingga bisa melihat langit, juga lebih terasa membumi (asal jangan kehujanan saja). Kalo bis wisata ini diterapkan di Jakarta, mungkin bisa dari pagi sampai sore baru sampai ya.. karena macet.

Setelah lama berdiam diri membaca berita mengenai Kopaja yang dibuat ber-AC, akhirnya saya tidak tahan juga untuk tidak menulisnya karena rutenya melewati hidung saya. Rute Kopaja S13 AC ini masih tetap sama dengan Kopaja S13 reguler, yaitu Ragunan – TB Simatupang – Lebak Bulus – Arteri Pondok Indah – Gandaria – Velbak – Pakubuwono – CSW – Ratu Plaza – Senayan – Slipi dan Grogol. Yang menarik adalah, tarifnya tetap sama dengan tarif kopaja biasa, yaitu Rp 2.000.

”]Dalam hati saya, antara setuju dan tidak setuju dengan tarif itu. Bukannya mau menghalangi agar mendapatkan pelayanan maksimal dengan harga minimal, namun realistis saja, saya kira kopaja sebagai perusahaan mungkin menghadapi dilema dengan tarif itu, yang ujung-ujungnya cuma dua : berhenti operasionalnya atau menaikkan harganya. Belakangan saya baca disini, ternyata tarif Rp 2.000 itu tarif promosi, dan ada niatan untuk  menaikkannya.

Yah, setidaknya itu upaya untuk menghindari berhenti operasi. Kejadian mengenai kondisi ferry penyeberangan Merak-Bakaheuni yang beroperasi setengah-setengah atau KA Ekonomi yang kembang-kempis karena pemerintah membatasi kenaikan tarif, namun dukungan nyata tidak signifikan, cukup menjadi pelajaran.

”]Berbicara mengenai kenyamanan, relatif juga. Meskipun dibekali pendingin udara, saya kira malah bisa masuk angin. Bayangkan, waktu tempuh dari Ragunan ke Grogol bisa sampai 3 jam, karena tidak punya jalur khusus seperti busway. Saya melihat jalur busway yang sering kosong, jadi punya ide, kenapa bis model gini kok nggak diberikan ijin saja masuk jalur busway, toh katanya bis ini akan dibikin tertib, dan berhentinya juga di harus di halte. Maklum awaknya digaji, jadi nggak kejar setoran lagi. Kapasitas bis yang cuma 27 orang (tidak menyediakan tempat berdiri? tapi kok ada tempat pengangan?), disatu sisi akan meningkatkan kenyamanan, namun disisi lain jelas menimbulkan rebutan antar calon penumpang, apalagi jumlah bis terbatas dan jarak tempuh yang jauh. Dengan kemacetan yang kian parah, bisa jadi jeda antar bis makin lama. Dengan kata lain, nyaman bagi penumpang, tidak nyaman bagi calon penumpang. Kenapa model kursinya tidak meniru BST di Solo yang bisa memuat lebih banyak penumpang dan juga memberikan sedikit kenyamanan pada yang berdiri?

Dalam sejarahnya, rute Kopaja S13 bersaing dengan angkutan lain. Kopaja S13 ternyata pernah diprotes oleh Koantas  Bima 102 dan Metromini 72. Kopaja S 13 kerap berbarengan dengan  Koantas  Bima 102 di hampir sepanjang rutenya, mulai dari poins square sampai Senayan. Sedangkan Kopaja S 13 berimpitan rutenya dengan Metromini 72 di T.B. Simatupang hingga Pondok Indah. Bila Kopaja AC S 13 mempunyai tarif lebih tinggi, konflik itu mungkin akan mereda. Namun apabila tidak, maka kehadirannya akan ‘membunuh’ angkutan lain yang berimpitan rutenya.

”]Soal pembunuhan itu, lagi-lagi saya berpikir dua sisi. Disatu sisi, hati kecil saya mengatakan “ Baguslah, biar mampus ! soalnya kau perlakukan aku seperti binatang ! Biar jadi contoh angkutan lain yang tidak manusiawi akan punah !”

Namun disisi lain saya berpikir mengenai monopoli. Bila angkutan lain punah, maka tak ada parameter bagi pelayanan angkutan, atau pilihan alternatif bagi penumpang.  Operator bisa menjadi tiran, lama-lama menjadi sewenang-wenang karena nggak ada saingan. Terus bagaimana juga nasib sopir dan kenek angkutan lainnya itu? Apa memang benar-benar sudah nggak bisa diatur lagi angkutan umum itu?

Akhirnya saya sampai pada kesimpulan bahwa sepertinya kemacetan di Jakarta memang sudah pada titik point of no return, sehingga pemikiran yang dikembangkan adalah cara ‘menikmati’ kemacetan itu, bukan cara mengatasinya atau menguranginya. Antara lain menambah kenyaman transportasi yang ditumpangi.

Dari segala jenis angkutan lebaran yang pernah saya tumpangi, yang paling ‘berasa’ adalah kapal laut. Kapal laut disini bukan kategori penyeberangan selat, tapi kapal antar pulau. Jelas berasa karena waktu tempuhnya biasanya diatas sehari (12 jam), bahkan saya pernah 25 jam dengan kapal cadangan. Jadi bebar-benar terasa pulang dari rantau. Kapal laut satu-satunya angkutan dimana saya bisa tidur dengan nyenyak.

KM Kumala persiapan sandar, Bandarmasih

Seperti halnya kereta api di Jawa, kapal laut juga favorit untuk masyarakat dimasa lebaran ini, mungkin karena tarifnya yang murah. Meskipun sejak booming maskapai penerbangan, popularitas kapal laut mulai pudar, dan pada low season lebih banyak dipakai sebagai angkutan barang (penyeberangan truk).

Namun bagi saya, kapal laut memiliki kelebihan yang tak dimiliki oleh pesawat terbang, yaitu daya angkutnya. Jika kita naik pesawat, extra bagasi mungkin akan di-charge mahal. Namun di kapal, asalkan mampu dibawa tidak ada charge. Yang paling asyik, kalo berangkat sendiri atau berdua, saya bisa membawa motor saya ikut menumpang kapal, dengan ongkosnya sama dengan penumpang kelas III. Sebelumnya lapor ke kantor polisi di pelabuhan untuk legalisir STNK. Kalau membawa mobil, tarifnya bisa mahal banget, jutaan rupiah (mendingan nyarter ya?).

Trisakti Banjarmasin, ready to board

Disinilah pengkastaan manusia terasa begitu menyengat. Kalo kita memilih kelas ekonomi, maka disinilah perjuangan hidup dimulai. Biasanya di musim mudik lebaran, kapal penuh sesak, untuk sekadar berbaring lurus sangat susah. Penumpang kelas ekonomi bertebaran mulai dari dek yang bertiupkan angin laut (bukan angin sepoi-sepoi lho!) sampai lorong-lorong. Mau jalan ke toilet, mushola, restoran atau sekadar cari angin susah karena tiap jengkal bertebaran penumpang. Namun ada batas dimana penumpang ekonomi tidak bisa masuk ke area penumpang kelas.

Kabin VIP KM Kumala

Jika memilih tiket VIP, maka tidak perlu berebutan untuk memilih tempat karena sudah ditentukan. Kalau kita memilih kamar, maka kita lapor dulu ke petugas untuk dipilihkan kamarnya. SOP-nya adalah penumpang dikelompokkan sesuai jenis kelamin, namun prakteknya tidak seperti itu terutama untuk keluarga, yang biasanya berkumpul dalam satu kamar. Di lemari kamar VIP ada pelampung, TV, kasur, AC, kasur dan bantal yang empuk, diberikan welcome snack & drink, makanan diantarkan, toilet yang lumayan (bahkan di Kapal Pelni mempunyai kamar mandi dalam) dan akses ke sekoci penyelamat yang dekat.

geladak (deck) kapal, tempat ideal masuk angin

Surabaya-Banjarmasin saat ini hanya dilalui oleh kapal jenis ro-ro, dengan operator perusahaan swasta. Pelni sudah tidak mengambil rute ini sekarang, seiring dengan makin surutnya penumpang kapal laut. Namun saya ada pengalaman yang menyenangkan dengan kapal Pelni, yaitu ketika menumpang KM Pangrango. Kapal ini tidak mempunyai dek untuk kendaraan, jadi cuma mengangkut penumpang saja (kapal beneran, bukan ro-ro). Saya beli tiket kelas II, berdua dengan istri saya yang hamil tua. Ketika naik di kapal, awak kapal bingung karena kamar kelas II (yang diisi 4 orang) sudah terisi dengan keluarga-keluarga, jadi artinya saya beda kamar dengan istri saya karena harus ‘nyempil’ di tempat tidur yang sisa. Lalu kemudian kapten kapal membuat keputusan, memerintahkan awak kapal untuk menempatkan saya dan istri saya di kamar kelas I, tanpa perlu bayar tambahan biaya lagi. Setelah membayar jaminan kunci, langsung saya check-in di hotel terapung ini. Kamar kelas I benar-benar seperti hotel, dengan tempat tidur, TV, kamar mandi dalam yang bersih. Makanan di kapal ini termasuk enak, dibandingkan masakan di kapal ro-ro.

KM Pangrango, sekarang melayani Indonesia bagian timur

Yang perlu dipersiapkan bila naik kapal tentu saja yang pertama adalah berdoa, karena dengan musim yang tak menentu sekarang ini, ombak di lautan bisa tiba-tiba membesar, dipadukan dengan pemeliharaan kapal yang tidak maksimal. Yang kedua obat anti mabuk, karena goyangan kapal benar-benar bisa hot sekali. Yang ketiga, hapalkan letak sekoci dan cara-cara evakuasi, termasuk pemakaian pelampung penyelemat. Yang keempat, bila di ekonomi, jika terpaksa tidur di dek terbuka, siapkan jaket dan segala pakaian pelindung, atau lebih baik masuk karena angin laut benar-benar tanpa kompromi. Kalau di kamar, jika nggak tahan AC jangan tidur di tempat tidur atas, karena dekat dengan lubang semburan AC (sentral). Kalo membawa motor, perhatikan posisinya agar jangan sampai roboh karena goyangan kapal, dan siap-siap di kendaraan sebelum sandar, kalau nggak mau kedahuluan penumpang atau kendaraan lain yang lebih besar. Yang kelima, kapal rentan dengan cuaca. Jadwal sandar dan labuh kapal bisa berjam-jam bedanya dengan kenyataan. Jadi kalo mau nggak nunggu lama di pelabuhan, tanyakan informasi posisi kapal pada perusahaan kapal.

Mudik pas lebaran selalu menjadi agenda besar bagi para perantau. Diantara segala angkutan umum, bagi saya, angkutan yang paling seru perjuangan mendapatkannya adalah kereta api.

Spoor van Java

Kereta api adalah angkutan favorit pengguna angkutan umum pas libur lebaran. Alasan saya mengklaim begitu adalah mengenai mendapatkan tiketnya. Kalo tidak favorit, mana mungkin ada orang yang rela bermalam di stasiun demi mendapatkannya, atau bagaimana tiket bisa terjual hanya dalam waktu 2 menit sejak dibuka, khususnya kereta api eksekutif/bisnis.

Mungkin harganya yang ‘miring’ dibandingkan dengan moda transportasi lain? Mungkin, tapi untuk waktu tempuh kayaknya nggak sebanding dengan pesawat. Misalnya, jalur Jakarta – Surabaya, tarif tertinggi KA Argo Bromo Anggrek saat lebaran Rp 650.000, itupun sudah habis terjual, sedangkan tiket pesawat masih tersedia dijual dengan kisaran harga mulai Rp 800.000. Selisihnya hanya sekitar Rp 150.000, namun selisih waktunya sekitar 10 jam. Kalo saya hitung kereta api masih menang soalnya gak ada airport tax, misalnya di Sukarno Hatta Rp 40.000, dan akses ke bandara yang hanya bisa ditempuh moda transportasi yang relatif mahal. Tapi di kereta api kemungkinan besar beli makan karena lamanya waktu tempuh. Kalo saya boleh berpendapat, kereta mempunyai konsumen sendiri yang loyal (contohnya lansia yang dapat potongan harga, atau orang yang takut terbang).

Mengenai tiket… saya nggak bisa ngomong deh. Pengalaman bila ‘bersentuhan langsung’ dengan PT KA waktu musim mudik begini, hasilnya adalah seperti ini pengalaman teman saya ini :

1. Menghubungi call centre untuk pemesanan online :

” Terimakasih telah menghubungi kami, silahkan menunggu dan kami akan segera membantu anda…. ”

Lalu menunggu selama 30 menit ya tetap begitu. Dihubungi kembali dari pagi sampai siang, hasilnya sama. Entah berapa pulsa terbuang.

2. Cara tradisional, antre langsung di loket :

– Antre di stasiun Gambir. Tiket dibuka jam 7 pagi.

Hari I, mulai antre jam 2 dinihari. Hasilnya : gagal. Sebab kegagalan :  mungkin terlalu jauh dari urutan depan

Hari II, mulai antre jam 11 malam. Hasilnya : gagal. Sebab kegagalan :  masih terlalu jauh dari urutan depan

Hari III, mulai antre jam 9 malam. Urutan ke-2 dari depan. Hasilnya : gagal. Belum sampai 2 menit login, tiket habis. Sebab kegagalan : (nggak bisa menganalisis lagi sebab kegagalan ini, cuma marah & mengumpat)

antre tiket di Gambir (foto Centro One)

Alasan PT KA karena tiket diberlakukan sistem online. Sehingga tak ada jaminan meskipun antrean awal, tapi ketika logon, secara bersamaan terjadi pembelian secara serentak (diseluruh tempat penjualan), sehingga wajar 2 menit sudah habis.

Nggak tahu ya… tapi dua tahun terakhir saya selalu bisa mendapatkan tiket tanpa mengantre. Caranya melalui agen, namun tentunya ada biaya tambahan untuk fee-nya (kayak calo ya, tapi resmi). Katanya dia sudah ada link ke tiket KA (jatah???). Dan juga saya heran kenapa kok banyak calo nawarin tiket, padahal antreannya seperti itu.

Kasihan juga bagi yang sudah antre (dan gak kapok sampai berjuang 3 hari), hasilnya gak dapat tiket. Gimana sih PT KA…

Lalu saya jadi bingung dengan berita bahwa kemungkinan ada penurunan jumlah penumpang :

http://nasional.vivanews.com/news/read/237154-pemudik-kereta-api-diperkirakan-menurun

Tiket laris terjual kok malah turun jumlah penumpangnya…. Dari sisi teknis mungkin PT KA punya banyak alasan, tapi dari sisi bisnis saya nggak ngerti deh jawaban yang pas untuk itu.

OK, kalo tiket sudah didapat, mari lanjut ke prakteknya.

Akses dari dan ke stasiun

Pengalaman saya tiga tahun mudik kemarin, akses menuju stasiun besar Gambir malah agak susah. Saat mendekati lebaran, KRL tidak boleh berhenti di Gambir, karena traffic kereta jarak jauh tinggi sekali. Jadi malah susah karena turun di Juanda atau Gondangdia, terus naik bajaj ke Gambir. Juga yang perlu diingat, ketika balik mudik, mencari taksi yang bener (yang pake argometer-lah) agak susah, kebanyakan taksi odong-odong. Tapi kabarnya di Gambir taksi bluebird sudah ada.

Suasana dalam gerbong

Kemudian, suasana dalam gerbong juga nggak nyaman, karena banyak penumpang (gelap) yang gak dapat duduk, berserakan di bordes dan kereta makan, bahkan sampai masuk di gerbong penumpang, tidur di koridornya. Sehingga jika ingin ke toilet atau ke kereta makan pasti susah sekali melangkah. Tak ada petugas yang (berani) menegur penumpang (gelap) tersebut.

Waktu tempuh

Karena banyaknya perjalanan kereta, maka banyak kress antar kereta. Maklum… lebih banyak jalur tunggal. Bahkan sang raja jalur utara pun, Argobromo Anggrek tak jarang berhenti untuk berbagi jalur.

Tapi… ya itu.. apapun kondisinya, tetap saja diserbu dan banyak penggemar setianya (termasuk saya).

Meskipun begitu, mbok ya jangan kebangeten dong PT KA. Jangan mentang-mentang gak ada saingan dan banyak penggemarnya lantas gak ada improvement. Tapi sebenarnya pemerintah ya jangan kebangetan sama PT KA juga… mentang-mentang pejabatnya gak pernah naik kereta  mbok ya jangan dipinggirkan terus kereta api itu.