Posts Tagged ‘jakarta’

Ingin mencari rute angkutan umum di Jakarta secara interaktif?

klik situs ini :

http://www.transportumum.com/jakarta/peta-angkutan-umum-jakarta/

Lumayan untuk mengetahui trayek mulai dari KRL, busway, sampai angkot/mikrolet. Meski tidak semua tercakup namun cukup membantu.

Tampilannya adalah seperti ini :

peta transportumum

peta transportumum

Iklan

Bagi perantau ex Jawa Timur atau khususnya Surabaya, sesuatu yang paling dikangeni biasanya adalah kulinernya. Karena kuliner khas Surabaya, seperti halnya guyonan dan pisuhannya, cenderung eksklusif. Maksudnya hanya bisa dinikmati dan ‘dihayati’ oleh orang Surabaya saja.

Juga di Jakarta ini. Meskipun perantau asal Jawa Timur lumayan besar jumlahnya, agak susah menemukan kuliner suroboyoan/jawatimuran yang sangat eksklusif, seperti kupang lontong. Kalo soto, bebek goreng rujak cingur atau bahkan tahu campur masih bisa ditemukan di mall misalnya java kitchen.

image

Cobalah singgah di Jalan Fatmawati, tepatnya di halaman kantor pos Fatmawati, seberang Rumah Sakit Fatmawati. Di jantung kemacetan selatan Jakarta ini rasa kangen akan kupang lontong, lontong kikil, lontong balap dan tahu campur akan terobati. Nama warungnya pawon memes. Lokasinya sangat mudah dijangkau transportasi umum dan dekat terminal Lebak Bulus.

Rasanya sesuatu banget menikmati kupang lontong, sate kerang ditemani segelas es sinom ditengah obrolan suroboyoan (kayaknya baik yang beli maupun penjualnya semua orang jawa timur). Dengan rasa yang cukup otentik dikenal lidah surabaya, sejenak seakan-akan kita terbawa ke timur jawa dwipa.

image

Sayangnya warung-warung ini hanya buka malam hari, karena siang hari memang parkiran kantor pos.

monas

Bagi sebagian besar penglaju yang beragama Islam, ada waktu-waktu yang rawan, yaitu saat pulang kerja. Kebanyakan jam kerja selesai jam 17, saat sholat Maghrib menjelang. Durasi waktu sholat maghrib yang pendek berhadapan dengan lamanya waktu tempuh perjalanan pulang menimbulkan permasalahan bagi para pekerja muslim. Sebenarnya ada yang membolehkan menjama’ sholat meskipun secara jarak belum mencukupi, seperti di situs ini. Namun ada lebih memilih supaya aman tetap sholat normal, mau menjama’ sholat karena keadaan terpaksa/darurat, kok rutin tiap hari.

Kalau memilih tetap sholat normal, ada dua alternatif, yaitu menunggu waktu maghrib dulu, baru pulang. Atau alternatif kedua tetap memilih pulang seperti biasa, dan sholat di perjalanan. Nah, saya kali ini khusus membahas masalah ini. Kalau naik kendaraan pribadi sih tidak masalah, karena di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya atau Bandung umumnya jumlah mesjid melimpah ruah sepanjang perjalanan. Tinggal singgah saja.

IMG-20130308-01078

Namun bagaimana dengan pengguna angkutan umum? ini agak rumit, dan memerlukan pengalaman dan taktik tersendiri agar bisa dipaktekkan.

a. Memakai jalur angkot.

Jenis angkutan umum ini paling fleksibel karena bisa naik/turun hampir disemua tempat. Jika ingin sholat berhenti saja di dekat mesjid, lalu selesai sholat naik lagi. Namun cara ini memang lebih mahal karena biayanya seperti 2x naik angkot.

b. Memakai jalur bis kota

Sebenarnya bis ini hampir sama dengan angkot, bisa naik/turun hampir disemua tempat. Namun bedanya, bis-bis tertentu (terutama yang jarak jauh) biasanya waktu tem lama, kalau turun untuk sholat bisa-bisa lama baru dapat bis lagi. Dan lebih parah kalau bis ini melewati tol, dan lama disana. Kalau begini memang tak ada kemungkinan untuk turun.

c. Memakai jalur Busway

Hampir sama seperti naik angkot, bisa berhenti di halte busway. Namun saya sendiri tidak yakin dengan fasilitas sholat di halte busway, jadi kayaknya harus keluar halte, artinya harus beli tiket lagi.

d. memakai Jalur KRL

Sebenarnya bisa turun distasiun tertentu untuk sholat, karena umumnya distasiun KRL atau dekat stasiun terdapat mushola/mesjid. Cuma dengan sistem tiket kereta seperti sekarang ini kalau tidak direncanakan bisa keluar uang lebih banyak, karena lokasi mushola diluar peron yang harus keluar pintu kartu elektronik. Misalnya dari Jakarta Kota tujuan Bogor, kita beli tiket one trip sampe Bogor, padahal mau singgah di Pasar Minggu/Manggarai untuk Sholat. Kalau multi trip sih mungkin bisa lebih pas. Cuma masalahnya, meskipun frekuensi KRL sudah banyak, karena sesaknya KRL waktu jam pulang, risikonya waktu masuk harus extra keras perjuangannya untuk masuk KRL di stasiun tengah.

e. Moda kombinasi

Ini yang paling sering dilakukan oleh para komuter, karena jarang memakai satu jenis moda angkutan. Dengan moda kombinasi ini, yang paling efektif adalah sholat di tempat pergantian antar moda. Misalnya dari angkot pindah ke KRL/Bus kota, sholat bisa di stasiun/dekat stasiun/dekat halte/terminal.

Dari sekian banyak jalur diatas diatas, yang penting dilakukan adalah rencana perjalanan. Estimasikan dimana tempat yang memungkinkan untuk singgah dalam batasan sholat, dan tidak terlalu membebani biaya/sulit mencari angkutan lagi. Jangan khawatir mencari tempat sholat, saya biasa bertanya ke orang-orang sekitar pasti ada. Bahkan pernah sholat di mushola Pos Satpam.

Kemungkinan terarakhir apabila ingin tetap bisa sholat normal, adalah mengubah pola naik angkutan umum. Saya dulu pernah mengandalkan bis yang waktu tem-nya lama. Namun kemudian mencari alternatif akhirnya sekarang berpindah-pindah angkot. Waktu tempuh sering lebih cepat karena saya bisa memotong jalur. Mungkin ongkosnya lebih mahal, namun waktu yang dibeli. Yang sering bikin malas seringkali karena sering berganti tempat duduk. Biasa, kita kalau sudah duduk lupa berdiri. Namun jadinya kayaknya lebih sehat, karena angkutan umum mana di Jakarta yang duduknya enak (kecuali taksi).

Kabar berlabuhnya kapal Rainbow Warrior II baru saya dengar Sabtu pagi ini. Ternyata dia sudah sandar sejak kamis, 6 Juni 2013, dan sudah dikunjungi presiden SBY Jumat kemarin. Baru hari Sabtu ini dibuka untuk umum, sampai dengan hari Minggu. Hari sudah siang, mendekati jam 11, jadi saya berpikir bagaimana cara tercepat mencapai Tanjung Priuk. Apakah naik bis PAC 82 jurusan Depok-Tanjung Priuk, ataukah naik KRL ke Stasiun Kota dulu, lalu naik angkot? masalahnya saya tidak pernah ke Tanjung Priuk. Sayangnya jadwal KRL yang ada tidak ada yang jurusan Stasiun Tanjung Priuk.

Akhirnya saya pilih KRL dengan pertimbangan kecepatan dan frekuensinya yang lumayan tinggi sekarang. Jika naik bis PAC 82, mungkin jalanan tidak semacet hari kerja, tapi jumlah penumpang lebih sedikit bisa berdampak frekuensi keberangkatan berkurang dan waktu ngetem bisa lebih lama. Meskipun pertama agak kagok dengan sistem tiket elektronik perjalanan, KRL lancar dan cepat, dengan suasana stasiun yang agak lengang, dampak sterilisasi stasiun yang baru saja dilakukan.

Sampai di Stasiun Kota, sudah tampak ngetem mikrolet 15A biru telor asin jurusan Tanjung Priuk. Ngetemnya agak lama karena nunggu sampai penuh. Tapi kebanyakan penumpang turun di Pasar Pagi. Jadi hanya saya yang sampai ke terminal Tanjung Priuk. Karena memang baru pertama kali ke Tanjung Priuk, saya bingung dimana lokasi sandarnya si Rainbow Warrior itu. Jadi saya tanya tukang ojek, kemarin Presiden SBY kemana, dengan Rp 10.000, mereka langsung mengantarakan saya ke Dermaga Pelni.

pelabuhan yang sepi

pelabuhan yang sepi

Dermaga yang sepi, namun di pintu 1, diujung tampak antrean orang. Ternyata banyak juga yang berminat melihat Rainbow Warrior itu. Ruang tunggu bersih dan nyaman ber-ac, termasuk mushola yang  memadai. Menunggu agak lama karena dibuka per gelombang agar tidak berjubel, akhirnya jam 13.00 saya sudah berada di dek Rainbow Warrior II, adik Rainbow Warrior I yang sudah karam dibom. Si Rainbow ijo itu ternyata sandar di dekat KM Titian Nusantara, kapal yang sudah familiar dengan saya waktu di Kalimantan dulu.

rainbow warrior dari arah haluan

Masuk ruang Kemudi, ternyata jurumudinya orang Indonesia, Ade Koncil. Awak kapalnya sekitar 16 orang dari berbagai negara, dan dikontrak 3 bulan. Menjalankan kapal ini memakai autopilot, namun bila cuaca buruk kemudi manual kembali dipegang. Setelah berkeliling dek, saya menyaksikan sekilas pemutaran filem mengenai Greenpeace, yang punya kapal Rainbow Warrior. Kapal ini baru kembali dari Papua, setelah singgah di Banoa, Bali. Pemutaran filem itu di ruang konfrensi, yang terletak di bawah dek.

ruang kemudi dari arah depan

ruang kemudi dari arah depan

Kesan saya sih…. bersih dan nyaman Kapal Rainbow Warrior ini, beda dengan kapal-kapal penumpang yang pernah saya tumpangi. Kapal ini diklaim ramah lingkungan, karena sering menggunakan tenaga angin (alias kapal layar). Maka terlihat perbedaan yang paling mencolok dengan kapal-kapal lainnya yang sandar disekitarnya adalah adanya tiang tinggi untuk layarnya. Video mengenai tour ke Kapal Rainbow Warrior II ini telah saya upload di sini.

100_5671

Setelah puas berkeliling, saya melihat sudah mendung tebal. Daripada naik ojek kehujanan, saya melihat ada Taksi B****, saya naik saja ke Stasiun Kota, sementara hujan sudah mulai turun. Tapi ini pengalaman saya yang paling buruk dengan Taksi B****, ternyata argonya tidak dari nol (mulai dari sekitar Rp 60 ribuan). Dia juga menyarankan lewat Sunter, dan cara mengemudikannya yang kasar, dan ketika saya bayar beralasan tidak ada kembalian. Padahal taksi ini termasuk taksi ‘kelas satu’ di Jakarta. Entah kenapa pengalaman saya di Jakarta dengan taksi-taksi dari terminal, pelabuhan atau stasiun pelayanannya jelek, kecenderungan ‘mengeruk uang penumpang’. Apa dikira penumpang dari pelabuhan itu orang udik semua yang jadi sasaran empuk?

Sayang sekali lokasi terminal dan stasiunnya agak jauh dari pelabuhan. Setidaknya sarana transportasi massal seperti KRL atau Transjakarta Busway, atau bahkan sekadar kopaja/angkot bisa lebih ‘aman’ karena tarif dan rute-nya tidak bisa bohong, dan banyak orang/penggunanya yang saya bisa bertanya kelazimannya.

Bagi pengguna angkutan umum, berjalan kaki sudah hampir pasti dijalani. Serupa dengan nasib angkutan umum, begitu pula dengan fasilitas bagi pejalan kaki/pedestrian. Pengalaman saya berjalan kaki di Jakarta seakan-akan tidak punya teman. Seakan terasing terkepung ribuan kendaraan yang ada.

Kemarin, saya mencoba berjalan kaki dari Stasiun Cawang menuju Bidakara, Pancoran. Jarak saya ukur hanya 2,5 kilometer, sehingga saya memutuskan berjalan kaki daripada menyeberang jalan, naik bis lalu menyeberang lagi, karena posisi Pancoran memang arah arusnya berlawanan bila dari Stasiun Cawang.

Start, Stasiun Cawang

Naik KRL dari Depok, lancar dan tidak terlalu penuh, meskipun jam sibuk sekitar jam 7.45 pagi. Menyeberang rel untuk keluar kesisi seberang stasiun, kemudian menyisir jalan ke arah utara. Karena saya tidak naik busway, jadi tidak perlu menyeberang dibawah fly over.

Trotoar memang masih relatif layak digunakan, tidak ada pedagang kaki lima maupun kendaraan yang parkir. Namun sayang ada pot-pot besar yang menempati trotoar.

Pot penjajah trotoar

Selebihnya tidak ada pengganggu yang signifikan selain trotoar yang berlubang-lubang (tapi awas bawahnya got) dan tidak rata.

Fasilitas umum pun tersedia, seperti telepon umum, kelihatannya gak ada yang pakai, entah masih berfungsi apa nggak. Tapi sekilas terlihat masih terawat. Di era semua orang bawa hape ini, keberadaan telepon umum membuat saya terkagum-kagum. Jadi teringat nostalgia semasa sekolah dulu … ha…ha…ha…ha…

telepon umum yang kesepian

Tapi jangan puas dulu, mendekati tugu pancoran, trotoar menghilang, dan pejalan kaki harus ‘turun jalan aspal’. Untungnya, karena melawan arah, jadi kita bisa melihat kendaraan yang datang, sehingga kejadian seperti ditabrak Xenia di Tugu Tani bisa lebih diantisipasi.

Pedestrian turun jalan

Hambatan terbesar adalah Perempatan di Tugu Pancoran itu. Jalannya luas, banyak jalur dan lalu lintasnya ramai sekali, bahkan ketika lampu merah banyak yang menetap di zebra cross. Jadi pejalan kaki harus zigzag melewati kendaraan yang ada.

aspal tugu pancoran

Perjalanan kaki ditempuh hampir setengah jam. Lumayan, sampe di Bidakara jam 9, jadi total sekitar satu jam dari Depok. Lumayan juga khan waktunya, bandingkan kalau naik mobil pribadi.

lalu lintas kota cobaan besar di bulan puasa ini.

macet bertambah parah, sedang deadline masuk kantor atau buka di rumah sangat sempit.

seringkali tidak bisa berbuka dirumah, karena macet sudah sedemikian payah.

sementara sepeda motor saya melaju ditengah asap knalpot, dipepet mobil-mobil yang susah dibedakan ngawurnya dengan sepeda motor, yang juga menyalip tanpa perhitungan dan membuat kaget.

diperempatan, kendaraan saling serobot. Beberapa kali kaki terinjak dan tersenggol.

dongkol dalam hati… tapi apa yang bisa dilakukan selain merelakan, agar tak sesak jalan nafas ini.

memaafkan,  karena memang saya tidak mempunyai kengawuran atau kecepatan yang sepadan dengan mereka.

mungkin juga saya yang harus meminta maaf karena saya menjadi penghalang jalannya.

lalu lintas kota memang sudah begini ini.

dan saya juga mungkin harus meminta maaf kepada sopir angkot, ojek dan bis kota yang biasa saya tumpangi.

nafkah mereka saya kurangi dengan tidak memakai jasa mereka, nanti saja lain waktu, tidak sekarang ini.

maaf juga saya mintakan ketika berebut tempat duduk di KRL dan bis.

mungkin ada hak mereka yang terampas atas ‘kedudukan’ saya.

saya mungkin juga harus memberi maaf yang tulus pada pemimpin kita yang tak juga memberikan solusi bagi macetnya kota.

karena mungkin saya tak punya kekuasaan, kapabilitas dan pandangan yang sepadan dalam berlalu lintas.

di suatu perempatan, tak sengaja saya menginjak kaki pengendara lain.

segera saya meminta maaf, dan dia dengan mengangguk tersenyum.

baru terasa betapa leganya dimaafkan, selega dia memaafkan saya.

— Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H, Mohon Maaf Lahir dan Bathin —

Ini bukan soal sinyal atau telekomunikasi, tapi integrasi antar moda angkutan. Karena tempat kerja saya sekarang tidak dilalui jalur KRL, lama saya baru bisa mencoba KRL ‘model baru’ (alias commuter line), karena ada tugas ke Slipi. Setelah saya pelajari, dengan jadwal baru ini, kebiasaan saya untuk mencapai Slipi dengan KRL tujuan tanahabang kayaknya harus diubah. Kalo dulu antara jam 6 pagi sampai jam 9 pagi ada 3 KRL Depok Ekspress (diluar KRL Pakuan yang melintas langsung Depok), 1 KRL Ekonomi AC dan 2 KRL Ekonomi, maka sekarang cuma ada 3 KRL commuter line (alias Ekonomi AC model baru) dari depok, dan 2 KRL commuter line dari Bogor, dan 1 KRL Ekonomi dari Bogor. Kelihatannya sama saja, enam KRL, tapi kenyataannya KRL commuter line dari Bogor sampai Depok sudah penuh banget. Logikanya dulu perjalanan Bogor/Depok ke Tanahabang ada 8 KRL, sekarang cuma 6 KRL (berkurang 2), tapi jumlah penumpang sama (dulu aja sudah penuh, apalagi ini dikurangi 2 KRL).

Jadi akhirnya saya pilih KRL yang ready dan memungkinkan dimasuki di stasiun. Akhirnya pilihan jatuh pada KRL ke Jakarta Kota, jadi saya harus turun Stasiun Cawang. Karena saya pikir Stasiun Cawang sudah ada busway, saya pikir busway efektif untuk menembus zona macet pancoran – semanggi – slipi. Saya pikir ide saya brilian, dan saya juga salut pada yang punya ide mengintegrasikan busway dengan KRL ini.

Tapi prakteknya ternyata nggak semudah itu. Dari arah stasiun Cawang, saya keluar dan melihat bahwa halte Cikoko Stasiun Cawang itu jembatan busway-nya putus (nggak nyambung dari sisi utara Jl. M.T. Haryono/ stasiun Cawang ke sisi selatan/seberangnya). Jadi kalo saya mau ke arah Slipi, ya balik lagi ke bawah, untuk menyeberang di bawah fly over di Cawang.

Sampai di halte yang dituju, ternyata saya mendapati kenyataan seperti ini :

Halte Busway Cikoko (St Cawang)

Antreannya mengular sampai ke penyeberangan, karena gak ada bus. Bis yang datang jedanya lumayan lama, dan juga sudah penuh. Ini yang namanya nggak nyambung. Pengguna KRL yang turun di Cawang benar-benar seperti pasukan koalisi yang menyerbu stasiun Cawang, jumlahnya nggak sebanding dengan daya tampung halte dan ketersediaan bis. Wah kok jadi seperti ini… padahal saya pikir saya sudah lewat peak hour, sudah diatas jam 9, ternyata sama saja (jadi gimana tadi yang jam 8-9 ya?). Informasi dari petugas di halte, sedang didatangkan bala bantuan 1 bis gandeng, yang memutuskan saya tetap bertahan menunggu (soalnya kalo nggak nunggu, mau pake apa? kondisi jalan non busway macet banget). Info lagi dari petugas, kejadian kelangkaan bis gini biasa terjadi karena bis Transjakarta juga terhambat macet. Halte selanjutnya setelah stasiun Cawang nggak terlalu banyak penumpang yang antre.

Biasa ya… walah, untung saja saya tidak kena potong gaji kalo telat masuk. Masak nggak bisa sih menyambung kan integrasi antara moda transportasi… kan sudah dari dulu tahu Stasiun Cawang itu tujuan para komuter (penglaju) daerah Bogor/Depok yang tentu saja sarat penumpang.

Akhirnya setelah menunggu setengah jam lebih, bis bantuan itu datang. Dengan kapasitasnya yang jumbo, antrean penumpang di halte itu langsung lenyap ditelannya. Nggak sia-sia juga nunggu, karena terbukti saya mencapai Slipi tidak sampai setengah jam dengan busway, membuktikan asumsi saya bahwa busway efektif menembus zona macet disana masih berlaku.