Posts Tagged ‘KRL’

Kabar berlabuhnya kapal Rainbow Warrior II baru saya dengar Sabtu pagi ini. Ternyata dia sudah sandar sejak kamis, 6 Juni 2013, dan sudah dikunjungi presiden SBY Jumat kemarin. Baru hari Sabtu ini dibuka untuk umum, sampai dengan hari Minggu. Hari sudah siang, mendekati jam 11, jadi saya berpikir bagaimana cara tercepat mencapai Tanjung Priuk. Apakah naik bis PAC 82 jurusan Depok-Tanjung Priuk, ataukah naik KRL ke Stasiun Kota dulu, lalu naik angkot? masalahnya saya tidak pernah ke Tanjung Priuk. Sayangnya jadwal KRL yang ada tidak ada yang jurusan Stasiun Tanjung Priuk.

Akhirnya saya pilih KRL dengan pertimbangan kecepatan dan frekuensinya yang lumayan tinggi sekarang. Jika naik bis PAC 82, mungkin jalanan tidak semacet hari kerja, tapi jumlah penumpang lebih sedikit bisa berdampak frekuensi keberangkatan berkurang dan waktu ngetem bisa lebih lama. Meskipun pertama agak kagok dengan sistem tiket elektronik perjalanan, KRL lancar dan cepat, dengan suasana stasiun yang agak lengang, dampak sterilisasi stasiun yang baru saja dilakukan.

Sampai di Stasiun Kota, sudah tampak ngetem mikrolet 15A biru telor asin jurusan Tanjung Priuk. Ngetemnya agak lama karena nunggu sampai penuh. Tapi kebanyakan penumpang turun di Pasar Pagi. Jadi hanya saya yang sampai ke terminal Tanjung Priuk. Karena memang baru pertama kali ke Tanjung Priuk, saya bingung dimana lokasi sandarnya si Rainbow Warrior itu. Jadi saya tanya tukang ojek, kemarin Presiden SBY kemana, dengan Rp 10.000, mereka langsung mengantarakan saya ke Dermaga Pelni.

pelabuhan yang sepi

pelabuhan yang sepi

Dermaga yang sepi, namun di pintu 1, diujung tampak antrean orang. Ternyata banyak juga yang berminat melihat Rainbow Warrior itu. Ruang tunggu bersih dan nyaman ber-ac, termasuk mushola yang  memadai. Menunggu agak lama karena dibuka per gelombang agar tidak berjubel, akhirnya jam 13.00 saya sudah berada di dek Rainbow Warrior II, adik Rainbow Warrior I yang sudah karam dibom. Si Rainbow ijo itu ternyata sandar di dekat KM Titian Nusantara, kapal yang sudah familiar dengan saya waktu di Kalimantan dulu.

rainbow warrior dari arah haluan

Masuk ruang Kemudi, ternyata jurumudinya orang Indonesia, Ade Koncil. Awak kapalnya sekitar 16 orang dari berbagai negara, dan dikontrak 3 bulan. Menjalankan kapal ini memakai autopilot, namun bila cuaca buruk kemudi manual kembali dipegang. Setelah berkeliling dek, saya menyaksikan sekilas pemutaran filem mengenai Greenpeace, yang punya kapal Rainbow Warrior. Kapal ini baru kembali dari Papua, setelah singgah di Banoa, Bali. Pemutaran filem itu di ruang konfrensi, yang terletak di bawah dek.

ruang kemudi dari arah depan

ruang kemudi dari arah depan

Kesan saya sih…. bersih dan nyaman Kapal Rainbow Warrior ini, beda dengan kapal-kapal penumpang yang pernah saya tumpangi. Kapal ini diklaim ramah lingkungan, karena sering menggunakan tenaga angin (alias kapal layar). Maka terlihat perbedaan yang paling mencolok dengan kapal-kapal lainnya yang sandar disekitarnya adalah adanya tiang tinggi untuk layarnya. Video mengenai tour ke Kapal Rainbow Warrior II ini telah saya upload di sini.

100_5671

Setelah puas berkeliling, saya melihat sudah mendung tebal. Daripada naik ojek kehujanan, saya melihat ada Taksi B****, saya naik saja ke Stasiun Kota, sementara hujan sudah mulai turun. Tapi ini pengalaman saya yang paling buruk dengan Taksi B****, ternyata argonya tidak dari nol (mulai dari sekitar Rp 60 ribuan). Dia juga menyarankan lewat Sunter, dan cara mengemudikannya yang kasar, dan ketika saya bayar beralasan tidak ada kembalian. Padahal taksi ini termasuk taksi ‘kelas satu’ di Jakarta. Entah kenapa pengalaman saya di Jakarta dengan taksi-taksi dari terminal, pelabuhan atau stasiun pelayanannya jelek, kecenderungan ‘mengeruk uang penumpang’. Apa dikira penumpang dari pelabuhan itu orang udik semua yang jadi sasaran empuk?

Sayang sekali lokasi terminal dan stasiunnya agak jauh dari pelabuhan. Setidaknya sarana transportasi massal seperti KRL atau Transjakarta Busway, atau bahkan sekadar kopaja/angkot bisa lebih ‘aman’ karena tarif dan rute-nya tidak bisa bohong, dan banyak orang/penggunanya yang saya bisa bertanya kelazimannya.

Iklan

Selamat malam Pak Jonan. Sudah lama saya ingin membuat surat ini via email, tapi saya tidak tahu dialamatkan ke mana. Kalau ditulis pakai surat kertas selain tidak go green, saya juga tidak mau keluar modal ngeprint, beli prangko dan transport ke kantor pos. Akhirnya saya tulis saja di blog saya ini, mudah-mudahan bapak sempat membaca. Meskipun sekarang saya bukan pengguna rutin kereta api, khususnya KRL, saya yang sesekali menggunakan moda angkutan rel ini untungnya masih bisa mengamati fenomena yang terjadi. Menurut saya ada beberapa kebijakan yang agak aneh, yaitu :

1. Loopline yang mengharuskan pengguna KRL berpindah (transit) ke tujuan lain.

Saya bukan tidak setuju dengan sistem transit ini, karena memang mengeliminasi replikasi jalur KRL. Yang saya rasa kurang pas adalah ketersediaan KRL yang menampung penumpang transit tersebut. Meskipun saya nature-nya adalah penumpang jalur Bogor/Depok, saya sendiri merasa ada rasa ‘ketidakadilan’ misalnya terhadap penumpang Bekasi yang hendak ke Tanah Abang. Pada jam sibuk mereka harus transit dengan KRL yang sudah penuh dari Bogor/Depok. Saya malah berpikir apa tidak sebaiknya untuk jam sibuk disediakan KRL khusus untuk transitan itu. Atau malah semua KRL Bogor/Depok dan Bekasi berhenti saja sampai Manggarai, lantas jalur dari Manggarai ke Kota, Tanah Abang, atau Senen/Jatinegara disediakan KRL khusus atau KRL lingkar.

2. KRL khusus wanita.

Terus terang saja saya tidak menemukan dasar aturan untuk angkutan yang memberikan pengkhususan berbasis gender. Apabila tujuannya adalah untuk perlindungan terhadap wanita, saya takut kalau ada kejadian, misalnya pelecehan seksual terhadap wanita di KRL biasa, nanti yang disalahkan bisa-bisa sang korban, karena alasannya sudah disediakan KRL khusus wanita. Dalam prakteknya saya juga melihat adanya jam ‘show’ KRL wanita ini tidak pada jam sibuk, dimana gerbong khusus wanita saja sudah cukup memadai. Saya rasa bila untuk menimbulkan pencitraan akan perlindungan terhadap wanita (dimana isu ini sangat banyak diusung media) selain high cost untuk operasional sebuah rangkaian KRL juga terkesan berlebihan. Saya tidak tahu apakah sudah ada survei mengenai proporsi gender penumpang KRL sehingga bapak memutuskan kebijakan yang condong kepada salah satu (gender) konsumen.

3. KRL tidak berhenti di Gambir dan Pasar Senen.

Saya tahu ada alasan yang kuat untuk kebijakan ini. Tapi ini malah menimbulkan kesan bahwa bapak tidak berhasil mengintegrasikan antara KA dan KRL. Bahwa untuk mencapai Stasiun Gambir dan Pasar Senen yang merupakan stasiun KA, bapak menghapuskan KRL sebagai akses kesana. Bila angkutan lain seperti angkot, bis, taksi, bajaj dan ojek berebutan untuk bisa menyediakan akses dari atau menuju stasiun, bapak malah menghilangkan persinggahan kurang dari semenit untuk KRL di stasiun-stasiun itu. Disclosure/pengungkapan di website krl.co.id hanya menyebutkan bahwa KRL tidak berhenti di Gambir dan Senen hanya di bulan September 2012. Nyatanya waktu surat ini saya buat juga masih tidak berhenti. Artinya bisa menimbulkan pembaca website krl.co.id salah mengambil keputusan. Bapak bisa bayangkan kalau saya dari Depok mudik ke Surabaya membawa tas besar harus berpindah angkutan naik-turun tangga stasiun. Saya tidak bisa menerima solusi ‘nggandol’ atau ‘nginthir’ kereta api ke stasiun yang tak terjangkau KRL itu, karena itu melanggar SOP ‘pertiketan’. Substansinya Stasiun Gambir sebenarnya adalah stasiun KRL, perlu bapak ingat kembali.

4. KRD Bumi Geulis berangkat jam 17.00 dari Stasiun Bogor. Meskipun saya hanya sekali naik kereta ke Sukabumi, sebelas tahun yang lalu, saya kira ada yang kurang pas dengan jadwal KRD ini sekarang. Justru karena saya pernah naik KRD sebelas tahun yang lalu itu saya jadi tahu bahwa tiap akhir pekan selalu penuh sesak. Dibanding dulu, jadwal KRD ini sudah jauh berkurang. Saya tahu bapak bisa beralasan bahwa sekarang ini masih lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya yang tidak beroperasi, tapi saya kira kemajuan atau kemunduran tidak bisa dilihat secara jangka pendek. Jam 17.00 itu masih sangat sore bagi orang-orang Sukabumi yang bekerja di Jabodetabek, sehingga tiap akhir pekan KRD itu bukan menjadi suatu pilihan karena sudah berangkat. Saya usul tiap akhir pekan jadwal KRD itu dibuat agak malam saja seperti saya dulu pernah naik.

Kita satu almamater dan satu jurusan, meskipun bapak jauh lebih senior dari saya. Bedanya bapak mungkin bisa mengaktualisasi diri dalam dunia transportasi Indonesia, sedangkan saya cukup di blog ini (karena gagal masuk tes Jakarta MRT). Tapi saya berani menulis surat ini karena saya kira saya sangat berpengalaman sebagai pengguna transportasi umum. Demikian, terimakasih atas perhatiannya. Saya doakan bapak jadi menteri perhubungan kalau bapak berkenan membalas surat ini.

image

mengenai Pak Jonan :
http://ekonomi.inilah.com/read/detail/1905625/ignasius-jonan-sukses-dari-akuntan-jadi-masinis

Ada pemandangan yang tak lazim saat musim mudik dan arus balik Lebaran Agustus lalu. Meski dibanjiri penumpang, tidak terlihat lagi suasana semrawut di hampir seluruh stasiun kereta. Tidak ada lagi penumpang yang berdesak-desakan berebut naik ke atas kereta atau nekat masuk ke dalam gerbong melalui jendela. Semua penumpang pun bisa duduk dengan nyaman.
Itu semua berkat kebijakan baru yang diterapkan manajemen PT Kereta Api Indoensia (KAI). Mulai musim Lebaran kemarin,perusahaan milik negara ini tidak lagi menjual tiket berdiri untuk rute jarak sedang hingga jauh. Makanya, untuk kereta rute-rute tersebut semua penumpang kereta kebagian tempat duduk.

Tak hanya itu. Pemandangan yang lain juga terlihat di stasiun-stasiun. Saat peak season, lazimnya di stasiun akan disuguhi pemandangan antrean panjang pembeli tiket. Calo-calo tiket pun memanfaatkan kondisi ini dengan menawarkan harga tiket yang lebih mahal. Kini, pemandangan tidak itu sudah tidak ada lagi. Sebab, untuk membeli tiket, masyarakat tidak harus datang ke stasiun. ”Mereka bisa membelinya lewat online atauribuan outlet lainnya untuk membeli tiket kereta,” kata Ignasius Jonan, Direktur Utama PT KAI.
Semakin nyamannya naik kereta api dirasakan oleh seorang Ibu yang membawa anaknya yang masih Balita. Hal itu disampaikannya langsung kepada Jonan saat melakukan sidak ke Stasiun Poncol, Semarang. Menurut sang Ibu, dengan pelayanan yang makin baik, kini ia berani mengajak anaknya yang masih Balita naik kereta api. Seorang penumpang kereta api pun sempat berkirim SMS kepada Jonan. Katanya, setelah 67 tahun Indonesia merdeka, baru kali ini merasa nyaman dan aman naik kereta api.
Apa yang dilakukan PT KAI saat ini, menurut Jonan, merupakan revolusi yang luar biasa bagi orang banyak. Meningkatkan pelayanan memang menjadi prioritas PT KAI. Lihat saja di setiap stasiun kini terdapat loket atau ruangan khusus customer service, yang akan membantu penumpang bila mendapati masalah. Dengan menata penumpang menjadi tertib, stasiun kereta pun jadi terlihat bersih.
Tentu ini cukup mengejutkan. Sebab tidak pernah dibayangkan sebelumnya bahwa di stasiun kereta bisa tertib dan rapi seperti sekarang. Dan itu baru bisa terwujud saat ini ketika PT KAI di komandani oleh Jonan. Tak heran bila hasil kerja yang dilakukan jajaran PT KAI tersebut mendapat pujian dari Dahlan Iskan, Menteri BUMN. “KAI lancar, minim kecelakaan, makanya saya kasih nilai 8,” katanya.
Menteri Perhubungan, E.E. Mangindaan pun ingin menjadikan kondisi stasiun kereta api saat ini bisa di contoh oleh pengelola terminal dan juga pelabuhan. “Kalaustasiun kereta api saja bisa rapi dan teratur, mengapa pelabuhandan terminal tak bisa,” ujarnya.

Membuatnya menjadi orang
Perubahan yang terjadi di tubuh PT Kereta Api sebenarnya boleh dikatakan merupakan hasil belajar yang keras dari Jonan. Betapa tidak, latar belakang pendidikan Jonan di jurusan akutansi berbeda jauh dengan bidang transportasi yang digelutinya. Karena itu, ketika ditawari menjadi “masinis” PT KAI, Jonan sempat menolak.
“Saya merasa itu di luar kemampuan saya. Bidang transportasi bukan keahlian saya, apalagi kereta api,” katanya. Tapi setelah dibujuk sana sini, ia akhirnya mau dipantik menjadi Direut PT KAI, Februari 2009.
Untuk operasional angkutan Lebaran, ia pun rela belajar selama tiga tahun dari alm. Sudarmo Ramadhan, Wakil Direktur PT KAI saat itu. “Persoalannya saya tidak pernah tahu berapa banyak mereka yang akan menggunakan angkutan kereta api untuk mudik. Kalau jumlah armada kereta, saya tahu persis,” katanya. Sejak itulah pembenahan pelayanan dilakukan, khususnya pada angkutan Lebaran.
Jonan mengawali langkahnya dengan membenahi pelayanan dasar yang ada di PT KAI. Ia mengubah orientasi perusahaan dari orientasi produk ke orientasi pelanggan. Ia berusaha mengubah bagaimana organisasi ini dapat memenuhi keinginan para pelanggannya.
Sebelumnya, memang, ada ungkapan bahwa perubahan di KAI tak diperlukan karena tohorang akan tetap naik kereta. Sekarang, mentalitas semacam ini sudah tidak bisa dipakai lagi. “Kami coba melakukan semaksimal yang kita bisa. Pelayanan kereta api limitnya langit,” ujar ayah dua orang putri ini.
Jonan adalah sulung dari lima bersaudara. Ayahnya, Jusuf Jonan, seorang pengusaha asal Surabaya. Sementara ibunya merupakan putri seorang pejabat tinggi Singapura. Jonan melewati masa kecilnya di Singapura. Kemudian ia pindah ke Surabaya hingga menyelesaikan studinya di Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga.Selepas itu, Jonan melanjutkan sekolah di Amerika. Finance dan International Law adalah bidang yang digelutinya.
Sepulang dari Amerika ia bergabung dengan PT (Persero) Bahana Pembiayaan Usaha Indonesia (2001-2006), dengan jabatan terakhir sebagai Direktur Utama. Kemudian ia loncat dan bergabung dengan Citi Group Indonesia (2006-2008) dengan jabatan sebagai direktur investasi.
Fasilitas mewah yang dimilkinya, seperti ruangan yang ber-AC dan mewah sebagai seorang direktur di sebuah perusahaan keuangan multinasional ditinggalkannya. Ia akhirnya memilih kepanasan hingga basah berkeringat untuk mengurai setumpuk persoalan yang ada di PT KAI.
Sejak bersekolah di Amerika, Jonan memiliki keyakinan, jika seseorang mau mengubah sesuatu, ia harus yakin bisa melakukannya. Keyakinan itu menjadi modal yang bagus ketika membenahi PT KAI.
Bersama jajarannya, Jonan berusaha meyakinkan parlemen, pemerintah, dan parastakeholder untuk mengembalikan kereta api sebagai tulang punggung transportasi, khususnya di pulau berpenduduk padat seperti Jawa dan Sumatra. Selain itu, Jonan juga berjuang untuk meyakinkan masyarakat bahwa kereta api merupakan sarana transportasi yang terjangkau.
Kini, laki-laki kelahiran Singapura (21 Juni 1963) itu merasa bersyukur akhirnya bisa bergabung di PT KAI. Menurutnya, PT KAI telah membuatnya menjadi orang yang lebih baik karena mampu berguna bagi orang banyak. PR selanjutnya yang akan dilakukan Jonan adalah membenahi pelayanan kereta api untuk jarak dekat.

Transportasi berbasis rel adalah transportasi umum yang diandalkan di banyak negara dari jaman kolonial hingga sekarang ini. Termasuk juga di Indonesia, meskipun sering disia-sia dan dipinggirkan. Berbicara mengenai MRT, ternyata wujudnya juga moda transportasi yang mempunyai jalur khusus, atau berbasis rel. Sebelum membayangkan hal-hal besar mengenai MRT nanti, mari kita melihat kondisi transportasi rel di Indonesia, yaitu KRL atau KA.

Kereta Api dan KRL Jabodetabek.  Kedua moda transportasi yang notabene masih dalam satu atap inipun ternyata tidak terintegrasi dengan baik. Memang benar stasiunnya maupun jalur keretanya sama, tapi hanya fisiknya saja yang ‘menyatu’. Tidak dengan sistemnya. Gambarannya begini, misalnya saya dari stasiun Depok akan menuju Stasiun Gambir untuk naik KA Argo Bromo Anggrek Malam yang berangkat Jam 19.30, jadwal KRL yang paling pas adalah Commuter Line 607 relasi Bogor-Jakarta Kota, yang jadwalnya sampai di Gambir pukul 19.15. Artinya saya cuma perlu menunggu 15 menit. Kalau semua lancar, tidak jadi masalah. Tapi kalau misalnya, KRL 607 itu terlambat sehingga saya ketinggalan KA Argo Bromo, nasib yang saya terima adalah tiket KA Argo Bromo itu akan hangus. Hal seperti itu sudah lumrah, dan biasanya dikatakan kesalahan ada pada saya kenapa kok mepet waktunya.

Saya mengajak berpikir sebentar menggugat hal yang ‘lumrah’ tersebut. Masalahnya bukanlah pada mepetnya waktu, melainkan pada tanggung jawab atas service level yang diberikan, terutama pada ketepatan jadwal. Seandainya skenarionya saya ubah, misalnya saya naik KRL Commuter line 601 relasi Bogor-Jakarta Kota, yang jadwalnya sampai di Gambir pukul 18.45, jadi ada waktu tunggu 45 menit. Seandainya KRL 601 itu juga terlambat sehingga saya juga ketinggalan KA Argo Bromo, apakah tiket Argo Bromo saya juga hangus? saya kira pasti hangus juga. Karena TIDAK ADA klausul apapun mengenai penggantian tiket KA diakibatkan kita terlambat sehingga ketinggalan KA. Jadi semua dibebankan ke konsumen. Padahal KA dan KRL masih dalam naungan PT KA.

Kalau dicari-cari kesalahan kita lagi, misalnya sudah tahu KRL mengalami keterlambatan lebih dari 45 menit, kenapa tidak berpindah ke angkutan lain. Wah… ini sih tidak bertanggung jawab namanya. Ketika kita memutuskan untuk naik KRL, artinya kita sudah mengeset waktu sesuai dengan perjalanan KRL. Ketika KRL mengalami trouble ditengah perjalanan misalnya di Tanjung Barat, berganti moda transport, misalnya bis atau taksi menuju Gambir di tengah jam sibuk (jam pulang kantor) akan memakan waktu lebih dari satu jam, belum termasuk waktu transitnya. Artinya kemungkinan besar akan terlambat juga.

Kita memilih KRL karena mengandalkannya. Dan yang sudah dipilih, harusnya bertanggung jawab atas ‘janji-janjinya’. Jadwal itu janji lho.

Akhir pekan kemarin, saya naik KRL Commuter line ke Jakarta Kota. Berbeda dengan hari kerja, cukup banyak kursi yang kosong sehingga saya bisa lebih santai. KRL eks Jepang yang ber-ac ini cukup bersih meskipun umurnya sudah uzur. Tak seperti Bis Transjakarta yang mulai banyak yang kusam dan mulai “mreteli” alias banyak yang copot.

Tapi… wah, kok banyak banget sampah disini…

sampah bertebaran di KRL

Mulai dari koran, bungkus makanan, plastik-plastik dan nggak tahu apa lagi. Sebenarnya pikiran spontan yang ada di kepala saya adalah ” kenapa sih nggak ada petugas kebersihan yang membersihkan sampah-sampah ini?”.

Tapi kemudian mata tertuju kepada 10 larangan di KRL :

10 Larangan di KRL

Sebenarnya makan-minum, membuang sampah dan duduk di lantai memang dilarang dilakukan di KRL. Makan dan minum selain bisa menimbulkan noda, juga bungkusnya menjadi sampah. Demikian juga dengan duduk dilantai beralas koran. Semuanya kegiatan yang memproduksi sampah. Jadi sebenarnya ya salah penumpang sendiri.

Pasti ada yang beralasan, nggak disediakan tempat sampah sih. Lho, sejak kapan di angkutan massal ada tempat sampah? bayangkan saat kondisi penuh sesak, tempat sampah tentunya jadi gangguan. Jadi, sampah memang harus dibuang di stasiun, sebelum atau sesudah naik KRL.

Saya pernah melihat ada seseorang yang membuang satu kantong plastik sampah di sambungan antar gerbong. Tadinya saya kira dia pasang bom…. Pasti para insinyur perancang KRL Jepang nggak menyangka kalo penutup sambungan antar gerbong bisa beralih fungsi menjadi tempat sampah.

Sampah-sampah ini baru terlihat jelas ketika KRL kosong. Jadi sehari-harinya ketika penuh sesak, sebenarnya banyak sampah yang bertebaran namun tersembunyi dari pandangan.

10 Larangan di KRL itu dulu deh yang diefektifkan…. nggak ada sanksinya sih…

pengamen di kopaja

Dalam sebuah Kopaja yang baru keluar dari Terminal Blok M, sesosok ‘satria bergitar’ masuk dan langsung berdendang menyanyikan lagu. Ya, dia adalah pengamen, profesi yang sangat akrab bagi angkutan umum khususnya bis kota. Barusan keluar seseorang yang mengamen, tapi nggak bawa alat musik, cuma teriak-teriak, nggak tahu apa maksudnya, baca puisi atau mengomel, atau malah mengancam. Sebab dalam kata-katanya diselingi “…  masih untung kami hanya mengamen mencari sesuap nasi. Kami tidak merampok, tidak membunuh ”. Ditambah lagi penampilan yang tidak sedap dipandang mata. Terus dilanjutkan lagi ” jangan paksa kami menjadi pencopet atau perampok…”.  Ada yang memberi (kebanyakan kaum hawa), ada juga yang nggak.

Setelah selesai menyayi, pengamen kedua ini mencoba peruntungan seperti ‘pembaca puisi gagal’ tadi. Tapi nasib, mungkin recehan penumpang sudah pada habis, tak serupiah pun didapat. Akhirnya jurus ngomel-ngomel disertai ancaman dikeluarkannya.

Begitulah… kejadian yang sudah lumrah dialami di Bis kota. Adanya pengamen, sebenarnya awalnya adalah mencoba menghibur penumpang, jika ada yang senang atau terhibur, maka recehan penumpang pun bisa mengalir keluar. Namun kemudian perkembangannya, uang bisa mengalir dari penumpang, nggak cuma bila merasa terhibur, namun juga apabila terpaksa. Maklum, nggak semua punya talenta yang bisa menghibur.

Dari model pengamen yang ada di angkutan umum, saya bagi menjadi 3 :

1. Pengamen asli

Inilah yang layak disebut pengamen. Jadi memang mengandalkan bakat seninya untuk menghibur penumpang. Kualitasnya bahkan banyak yang bagus, nggak kalah (cuma kalah nasib atau tampang mungkin) dengan artis ternama. Umumnya membawa alat musik, bahkan ada yang hanya memainkan alat musik saja, tidak menyanyi. Di KRL, khususnya KRL Ekonomi, atau KRL Commuter Line yang sedang ‘ngetem’ di stasiun, bahkan sudah seperti grup band. Mereka membawa drum, gitar, triangle dan alat musik lainnya. Beberapa pengamen bahkan jadi ‘pengamen khusus’ bis tertentu (biasanya bis Patas AC yang jarak jauh), sehingga sudah kenal dengan penumpang. Jadi disini penumpang kayaknya ikhlas mengeluarkan uangnya.

2. Pengamen yang memelas

Yang saya masukkan disini adalah pengamen yang mengandalkan belas kasihan penumpangnya. Mirip pengemis sih, tapi lebih dekat ke pengamen karena ada upaya ‘berseni’. Misalnya ada pengamen yang memaksa menyanyi, sementara ngomong aja nggak jelas (seperti orang bisu), coba  anda bayangkan gimana output audionya. Bahkan ada yang cuma bertepuk tangan saja sambil bergumam (saya nggak tahu model kesenian apa ini, yang jelas saya tidak merasa terhibur). Anak-anak kecil yang mengamen juga saya golongkan kesini, karena hanya bermodal ‘ecek-ecek’ nekat menyanyi, sementara ngomong saja masih belajar. Jadi kalo penumpang memberi recehan, saya kira karena kasihan.

3. Pengamen yang mengganggu

Ini yang diilustrasikan di awal tulisan ini. Agak susah membedakan dengan pengamen asli, namun kayaknya bisa dilihat di modalnya. Kalo pengamen asli  biasanya bermodal alat musik atau suaranya yang menghibur, pengganggu ini biasanya nggak punya modal itu. Entah apa yang dibawakannya, apakah seni alternatif atau apa, yang jelas dari raut muka penumpang tidak bisa menerima aliran kesenian seperti itu. Namun seperti yang saya bilang tadi, susah juga membedakannya. Ada juga pengamen ‘asli’ yang juga menyanyi bener, namun kemudian ditambahi ‘ancaman’ atau omelan sehingga maunya terhibur malah jadi terganggu. Sepertinya keikhlasan penumpang untuk memberi uang pengamen ini patut dipertanyakan.

Kesimpulan

Namun pendapat saya pribadi, semua pengamen substansinya adalah pengganggu dalam tranportasi umum. Pertama dari sisi tempat, dia menempati tempat (biasanya di koridor), sehingga mengganggu lalu lalang penumpang, atau penumpang yang berdiri. Alat musiknya juga bisa menjadi pengganggu (saya pernah kesodok gagang gitar). Kemudian juga dalam menyanyi dia bisa membangunkan orang tidur di bis. Atau selera musiknya nggak sama. Atau ketika menerima telepon dari hape, terganggu karena berisik. Atau mengganggu nurani ketika melihat pemandangan memelas sementara tak punya recehan. Kadang juga memaksa masuk bis, bahkan saat bis sedang penuh. Yang jelas, peran pengamen sebagai pengganggu telah diamini oleh banyak pihak. Antara lain larangan mengamen di lampu merah, atau di KRL AC dan busway, atau Kopaja AC. Dan juga oleh penumpang sendiri dan awak bis. Jadi pengamen disejajarkan dengan pengemis dan asongan, sama-sama penganggu.

Namun setidaknya ini membuktikan bahwa sektor angkutan umum masih menjadi tumpuan banyak orang-orang (marjinal) untuk mencari nafkah.

Posted from WordPress for Android

image

Dalam satu perjalanan KRL era loopline, iseng-iseng saya memotret penumpangnya :

1. Lesehan dan Kursi Lipat

KRL jurusan Kota tujuan Bogor. Mentang-mentang disisi kiri, lupa kalo Manggarai, Depok lama pintu ini bakal kebuka?

KRL (kereta rel lesehan)

Saya kira beli koran (baru) untuk dibaca dalam perjalanan, tapi ternyata gak dibaca sama sekali, hanya dijadikan alas duduk. Sebenarnya masalah duduk lesehan maupun memakai kuli (kursi lipat) ini masalah klasik di KRL, dan menjadi perdebatan sengit di facebook KRL mania (solidaritas untuk KRL yang lebih baik), dalam suatu topik yang saya lontarkan, yaitu “duduk di tempat berdiri”. Saya malas membahasnya lagi, karena sudah jelas ada larangannya di KRL (walau nggak jelas apa ada sanksi bagi pelanggarnya).

2. Courtesy Seat

Lha masih kosong, ya diduduki saja. Kalo nanti penuh, ada yang berhak, moga-moga nanti ketiduran jadi bisa cuek… hehehe…

mumpung masih lowong

 
Courtesy seat adalah kursi yang didedikasikan khusus untuk ibu hamil, manula, orang cacat, ibu yang menggendong balita. Kelihatannya sah-sah aja kan diduduki kalo kosong? tapi ada satu pertanyaan yang mengganjal, kalo gitu buat apa ada courtesy seat? sama aja dengan kursi lainnya kali gitu. Di Jepang, penumpang KRL malu duduk di courtesy seat kalo bukan golongan yang berhak, meskipun koong. Alasannya kalo nanti di tengah jalan ada ibu hamil misalnya, kasihan kan kalo harus menegur lagi untuk minta haknya. Mikirnya sudah jauh ke depan dalam berempati.

3. Perintang Jalan

Mungkin dendam sama petugas yang narik karcis ya? jegal aja bleh !

sang penjegal

Meluruskan kaki sih sah-sah saja. Tapi kalo terus-terusan kok nggak pantes ya. Banyak orang berlalu-lalang yang bakal keganggu jalannya. Kalo ada yang kesandung, yang marah yang kesandung atau disandung ya?

4. Keluar garis

Garis kuning itu apa ya artinya? tempat nunggu KRL? Kalo gitu pas dong, tuh KRL nya mau datang.

Priitt !!! lewat garis

Kalo dalam lomba ini namanya mencuri start. Bisa didiskualifikasi. Nah kalo kasus ini ya risikonya kesamber KRL.

5. Jalan pintas

Stasiun Tanahabang. Daripada naik turun tangga,  mendingan terobos aja langsung.

lebih cepet, lebih baik?

 
Klasik banget, khas Indonesia deh… entah malas, maunya enak, ndak disiplin atau terlalu toleran.

Akhirul kata, kayaknya ‘penumpang’ KRL lebih pantas disebut “penduduk”. Sebuah tempat duduk menjadi sangat bernilai. Rela mengambil risiko dalam ‘mencuri start’ melewati garis kuning dan menerobos jalur kereta. Atau mengeluarkan duit lebih untuk beli koran atau kuli sebagai alas/tempat duduk. Atau melepas rasa malu (mau saya tulis ‘kemaluan’ tapi nggak pas) menduduki courtesy seat yang bukan haknya, atau tanpa rasa bersalah duduk dengan kuli dan lesehan.

Dan kalo sudah duduk atau dapat tempat duduk… alamak, kelakuannya bak raja (atau pejabat?). Seenaknya, pekak lingkungan, atau jadi penjegal. Cuek, tidur (atau pura-pura tidur) dan mematikan rasa terhadap sesama.

Tempat duduk hanya sementara, paling cuma satu jam saja (setelah seharian juga duduk di kantor). Tapi perebutan kursinya seakan-akan selamanya duduk disitu.

image

Stasiun Tanahabang, jam pulang kantor hari I ujicoba loopline. Lebih banyak petugas (sebagai sasaran omelan). yang sabar ya pak...

Tanggal 1 Desember 2011 ini pas dengan ujicoba jalur loopline KRL. Pas juga saya ada tugas ke Slipi, jadi pulangnya bisa naik KRL dari Tanahabang. Sudah berbulan-bulan nggak naik KRL, jadi penasaran juga setelah “musim paceklik” KRL 40 hari perbaikan gardu listrik.
Sekilas melihat jadwal KRL dari Tanahabang per 5 Desember 2011, jalur Depok-Bogor jadi rame. Asyik juga nih, ada sekitar 8 kali yang ke Depok antara jam 16 sampe jam 20, dibandingkan dulu ketika biasa naik kereta tahun 2009 yang cuma sekitar 5 kali. Juga setelah jam 9 malam masih 3 kereta sampe jam 21.57, mengakomodasi orang lembur nih (atau pekerja malam). Kayaknya jalur KRL tambah meriah nih.

Jam 17.20 saya sampe stasiun Tanahabang, agak shock juga melihat banyaknya penumpang di peron di jalur 3 yang dipersiapkan untuk ke Depok/Bogor. Saya pikir karena gabung penumpang Bekasi yang mau transit di Manggarai (tapi nggak tahu juga, udah lama nggak naik dari Tanahabang).

Di jalur 6 standby KRL tujuan Serpong, yang rupanya menunggu KRL transitan Serpong. sesaat kemudian di jalur 2 datanglah KRL yang penuh berisi penumpang transitan Serpong. Pintu terbuka, keluarlah ratusan penumpang yang bermuka masam dan tergesa-gesa berjalan dan menaiki tangga menuju jalur 6. Saya sampe ketabrak-tabrak, tapi memaklumi nasib penumpang Serpong yang tak ‘senyaman’ saya sebagai penumpang Depok yang nggak perlu transit.

Kemudian datang KRL ekonomi jurusan Depok, yang saya lihat nggak pas jadwalnya. Apa ini karena masih ujicoba, atau ini KRL ekonomi 855/856 yang harusnya jadwalnya jam 15.56? nggak saya tanya, saya baru sadar juga setelah saya cek dengan jadwal di rumah.

Sekitar 5 menit, datanglah commuter line tujuan Bogor yang masih kosong blong. Karena datang dari arah utara, jadi nggak mampir di Stasiun Sudirman yang pasti keisi penuh. Setelah berangkat, KRL segera terisi penuh banget di Stasiun Sudirman. Lagi-lagi saya berpikir ini pasti gara-gara gabung dengan penumpang Bekasi yang transit di Manggarai.
Perkiraan saya kayaknya salah. Di Manggarai, hanya segelintir penumpang yang turun, jadi penumpang KRL ini memang penumpang ‘asli’, bukan penumpang ‘transitan’. Jadi apa penyebab banyak penumpang KRL yang ngomel-ngomel? Kalo penumpang Bekasi atau Serpong yang harus transit saya pikir wajarlah kalo ngomel. Ternyata banyak juga penumpang Depok/Bogor yang ikutan ngomel, katanya jalurnya kepanjangan, dari Jatinegara, jadi KRL-nya molor.

Ah, ndak tahulah kenapa logikanya gitu, ini kan masih ujicoba. Kalo soal jalur kepanjangan, apa sudah lupa kalo KRL yang ke Bogor/Depok kebanyakan KRL balik dari Bogor/Depok juga? bukan KRL yang muncul tiba-tiba dari Kota atau Tanahabang? bukankah jalur Bogor/Depok yang lama juga ada yang dari Serpong, lalu berubah jadi KRL tujuan Depok? atau ada juga yang dari Stasiun Duri? menurut saya yang bikin molor adalah kalo ada trouble, bukan panjangnya jalur. Menurut saya, keluhan dari penumpang Depok/Bogor itu datang dari penumpang di Stasiun Sudirman. Biasanya KRL-nya dari Bogor/Depok yang akan balik lagi, jadi masih bisa dapat KRL yang cukup kosong (istilahnya mencuri start). Biasanya sih alasannya klasik : hanya untuk sebuah tempat duduk. Nah, karena KRL Bogor/Depok yang lewat Tanahabang/Sudirman ini datangnya dari arah utara (Jatinegara) maka penumpang Stasiun Sudirman nggak bisa curi start lagi di Stasiun Sudirman (kalo mau ya ‘ngintir’ aja ke Tanahabang, atau sekalian ke Jatinegara, he..he..).

Kalo penumpang Serpong yang saya saksikan tadi memang kasihan juga sih naik turun tangga untuk transit, jadi agak maklum kalo ngomel-ngomel. Ya berdoa saja KRL makin banyak profitnya dengan loopline ini sehingga bisa bangun fasilitas yang memudahkan transit penumpang. Sebenarnya sih kalo masalah transit, di busway lebih ‘sehat’ lagi. Coba aja transit di Halte busway Semanggi, dijamin sama kayak ikut fitness. Sebenarnya sambil KRL mempersiapkan fasilitas dan layanan agar lebih baik, penumpangnya juga ikutan mempersiapkan mental agar tidak manja.

Keluhan lain dari penumpang transit, katanya juga waktu tempuh juga lebih lama karena harus transit dan nunggu KRL ‘asli’. Tapi sebenarnya jadwalnya jadi lebih banyak, sehingga lebih fleksibel. Waktu tempuh yang lebih lama dikompensasikan dengan waktu menunggu yang lebih sedikit karena banyaknya jadwal baru. Kalo waktu ujicoba jadwalnya banyak yang nggak pas/sesuai,  namanya juga ujicoba. Jadwal yang udah pasti aja dulu juga banyak melesetnya.

image

KRL-ku sayang, walau penuh sesak, bobrok dan penuh omelan tetap kurindu

Tapi kenapa ya, meskipun banyak yang ngomel bahkan sampai melabrak petugas, tetap makin penuh aja ini KRL (artinya makin banyak ‘penggemarnya’?).

image

Deborah, sabar menanti

Bagi pengguna bis (contoh kasus yang pas misalnya bis Deborah Lebak Bulus-Depok) anda akan bisa mengerti.

Dalam himpitan kemacetan, sambil bergantungan bertabur peluh kami selalu memandang iri pada tiap KRL commuter line yang melaju kencang;  “kapan ada jalur KRL ke tempat kami…”. Sama-sama berhimpitan (bahkan lebih ekstrim), sama-sama harus transit (nyeberang jalan, oper bis/angkot, keserempet motor segala), bayar sama besarnya. TAPI waktu tempuhnya lebih lama, nggak ada AC-nya, nggak safety (pintunya gak ditutup & ugal-ugalan), lebih banyak copetnya, udah gitu turun disuruh satu kaki, kaki kiri.

Wah, jadi ingat teman saya di Papua. Masih untung saya ada bis. Mereka malah membayangkan; ” kapan ada jalan di tempat kami…”. Atau nggak usah jauh-jauh, di daerah pinggiran sekitar kita saja.