Posts Tagged ‘macet’

gambaran lalu lintas kota besar di Indonesia (desain CAK CUK)

Hidup di kota yang super semrawut lalu lintasnya seperti di Jakarta memang bikin stress. Makin lama makin sering kejadian yang tak lazim di jaman perang. Singgungan-singgungan yang kemudian meletup menjadi bentrokan kerap terjadi antar pengguna jalan. Masih untung kalau hanya sekadar pisuh-pisuhan (saling memaki) seperti gambar kaos Cak Cuk diatas. Hanya karena bersenggolan, seorang pengendara motor ditembak di bekasi, seperti berita di detik. Bahkan, Juni lalu, dengan polisi yang notabene adalah petugas penegak aturan pun  pengendara motor sempat adu jotos ketika kendaraannya bersenggolan. Memang ada yang di bawah pengaruh alkohol seperti kejadian di Tambun ini, namun umumnya memang kejadian seperti itu kelihatan sudah mulai membiasa.

salah satu pertengkaran antar pengendara di Palmerah (foto republka online)

Tidak perlu menjadi seorang psikolog untuk bisa mengatakan bahwa lalu lintas seperti di Jakarta itu membuat orang menjadi gampang stress. Jakarta adalah kota dengan pergerakan rata-rata lalu lintas paling lambat di Indonesia, yaitu sekitar 10 – 20 km/jam. Padahal Jakarta adalah kota yang tidak pernah tidur dan selalu tergesa-gesa berebut rejeki. Kondisi yang bertolak belakang ini membuat jalan-jalan di Jakarta seperti medan perang. Kalau dulu kecelakaan lalu lintas menjadi faktor pembunuh, sekarang pertengkaran antar pengguna jalan bisa membunuh juga, seperti kejadian-kejadian diatas. Bahkan sekarang jalanan sudah menjadi TKP favorit kejahatan seperti perampokan dan pembunuhan.

Pejabat-pejabat terkait sepertinya sudah mengamini bahwa penyebab kemacetan lalu lintas tersebut adalah tingginya tingkat penggunaan kendaraan pribadi. Dengan semakin membengkaknya jumlah kendaraan di Jakarta, persinggungan semakin sering, dan tak semua orang berkepala dingin.  Pengendara akan berhadap-hadapan head to head dengan pengendara lain, sedangkan tren penggunaan kekerasan semakin meningkat, akhirnya dari sekadar bersenggolan bisa membuat seorang pencari nafkah tidak bisa pulang ke rumah menemui keluarganya, melainkan ke kuburan.

Mungkin kita berpikir, konyol betul… Namun lain saat amarah dan stress di jalan menemui sikon yang pas, membuat kekonyolan itu terealisasi dengan mudah.

Saya lalu berpikir untuk memitigasi kejadian konyol itu dengan memakai angkutan umum. Lho, kan angkutan umum juga sering  terlibat pertengkaran dengan pengendara lain? Memang. Tapi sebagai penumpang, kita tak akan berhadapan langsung head to head dengan pengendara ‘lawan’. Kan sopirnya yang terlibat, sedang kita kan pasif. Jadi pragmatis saja sih… kita kan bisa lepas tangan atau dalam posisi ‘netral’ dalam pertempuran konyol itu. Kita bisa meninggalkan pertempuran itu dan pindah angkutan (umum) lain tanpa merasa bersalah, paling membayar ongkosnya saja terlebih dahulu.

Masalahnya sekarang, angkutan umum juga menjadi sasaran kejahatan.

halah… nggak habis habis tulisan ini nantinya.

Iklan

Kereta api, seperti tahun-tahun sebelumnya, selalu diminati oleh pemudik, khususnya di Pulau Jawa. Tiket kereta api kelas bisnis dan eksekutif untuk keberangkatan dari Jakarta pada masa Lebaran tanggal 16-17 Agustus 2012 sudah habis terjual dalam waktu 30 menit.  Hal yang sama untuk arus balik, terutama tanggal 26-27 Agustus 2012. Padahal tiket sekarang sudah bisa dipesan 90 hari sebelumnya, dan juga terkena tuslah yang luar biasa, naik hingga 100%. Tarif tertinggi bisa mencapai Rp 700 ribuan, untuk KA Gajayana (Jakarta-Malang). Saya bandingkan dengan pesawat terbang, misalnya citilink Jakarta-Surabaya, mempunyai kisaran harga yang sama. Hal ini menunjukkan kereta api mempunyai pengguna fanatik.

Fenomena yang menarik yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya adalah diberlakukannya pengecekan antara tiket dengan KTP, alasannya untuk mencegah calo.  Memang gebrakan yang bagus, karena yang merusak sistem tiket KA adalah maraknya percaloan. Namun penerapannya dalam arus mudik lebaran ini menimbulkan ribuan tiket menjadi hangus, karena nama di tiket tidak sesuai KTP. Memang ada kemungkinan hal tersebut disebabkan percaloan, tapi saya kira penyebab terbesarnya adalah sosialisasi yang kurang dan momennya tidak pas.

Meskipun  dikatakan sosialisasinya telah 3 bulan sebelumnya, namun kurang bergaung. Bahkan teman saya yang tiap minggu pulang-pergi Jakarta-Tegal pun juga terkena kasus yang sama ketika lebaran ini. Nama di tiket adalah nama panggilan, yang berbeda jauh dengan nama di KTP, sehingga harus bersitegang dengan polisi KA. Paman saya juga terkena masalah karena nama di tiket adalah nama anaknya yang membelikan tiket.

Untungnya, PT KA masih memberi “keringanan”.  Tempat duduknya diperkenankan bagi yang bersangkutan namun harus melakukan pembelian ulang. Artinya… ya terpaksa beli lagi…

Kalau pengalaman teman saya, tiket hangus itu bisa ditebus lagi, tapi membayar denda 25% karena pembatalan tiket. Tetap saja keluar biaya tambahan. Kesannya seperti kereta api itu idola indonesia di pulau Jawa. Dan kenyataannya memang begitu.

Kereta Api adalah tulang punggung (yang sakit-sakitan) transportasi, terutama di pulau Jawa. Ketiadaan tiket berdiri di KA ekonomi menyebabkan turunnya jumlah penumpang KA selama mudik, yaitu sekitar 3,2 juta menjadi 2,8 juta. Berkebalikan dengan pemudik kendaraan pribadi malah meningkat volumenya, yang didominasi oleh sepeda motor yang naik 16,6% dari 2,4 juta ke 2,5 juta kendaraan. Sedangkan mobil pribadi ‘cuma’ naik 5,6% dari 1,5 juta ke 1,6 juta kendaraan.

kemacetan mudik (vivanews)

Hasilnya sudah bisa dilihat (dan sudah diramalkan tanpa ada tindakan pencegahan)… yaitu kemacetan luar biasa selama mudik 1433 H ini. Silakan dinikmati.

Alasan PT KA menghapuskan tempat berdiri adalah atas dasar menciptakan angkutan yang manusiawi. Tapi ukuran ‘manusiawi’ ini relatif. Bila mencoba dari sudut pandang yang lebih luas, KA Ekonomi adalah angkutan yang ongkosnya paling bisa dijangkau oleh masyarakat (bawah). Apabila kapasitasnya dibatasi, maka tentunya akan mencari pilihan yang juga ekonomis, meskipun berisiko. Prediksi saya, karena angkutan bis pun dirasa masih terlalu mahal, maka pilihan yang masuk akal adalah memakai sepeda motor. Maka terciptalah pemudik bersepeda motor, yang sebenarnya lebih tidak manusiawi dan berisiko tinggi. Angka kecelakaan mencapai 5.000 kasus, dengan korban jiwa hampir mencapai 1000 orang. Mayoritas dialami oleh pengendara sepeda motor. Selain kecelakaan, kemacetan kali ini sudah menjadi hal yang hampir tidak masuk akal. Waktu tempuh menjadi berlipat ganda. Contohnya Jakarta Semarang menjadi 41 jam. Atau Cikampek-Cirebon yang biasanya ditempuh 2-3 jam menjadi lebih dari 24 jam.

mudik motor, gambar dari kolom kita detik

Kereta komunitas yang pernah diadakan PT KAI untuk mengangkut sepeda motor, ternyata tarifnya tidak murah, sehingga sepi peminat dan kemudian ditiadakan. Disitu menunjukkan dua hal, yaitu ketidakjelian menangkap pangsa pasar KA komunitas yang sangat sensitif harga, disisi lain tidak adanya komitmen dari pemerintah untuk memberikan subisidi khusus lebaran kepada angkutan umum supaya tidak ada tuslah, sehingga harganya lebih ‘masuk akal’.

Setiap harinya… bila mau disamakan, KRL sendiri juga jauh dari manusiawi dalam mengangkut penumpang. Namun keterbatasan memang dialami oleh PT KAI dan anak perusahaannya selaku penyedia jasa transportasi KA satu-satunya di Indonesia raya. Semoga hal-hal tersebut membuat pemerintah berkomitmen untuk menjadikan kereta api sebagai tulang punggung transportasi Indonesia.

lalu lintas kota cobaan besar di bulan puasa ini.

macet bertambah parah, sedang deadline masuk kantor atau buka di rumah sangat sempit.

seringkali tidak bisa berbuka dirumah, karena macet sudah sedemikian payah.

sementara sepeda motor saya melaju ditengah asap knalpot, dipepet mobil-mobil yang susah dibedakan ngawurnya dengan sepeda motor, yang juga menyalip tanpa perhitungan dan membuat kaget.

diperempatan, kendaraan saling serobot. Beberapa kali kaki terinjak dan tersenggol.

dongkol dalam hati… tapi apa yang bisa dilakukan selain merelakan, agar tak sesak jalan nafas ini.

memaafkan,  karena memang saya tidak mempunyai kengawuran atau kecepatan yang sepadan dengan mereka.

mungkin juga saya yang harus meminta maaf karena saya menjadi penghalang jalannya.

lalu lintas kota memang sudah begini ini.

dan saya juga mungkin harus meminta maaf kepada sopir angkot, ojek dan bis kota yang biasa saya tumpangi.

nafkah mereka saya kurangi dengan tidak memakai jasa mereka, nanti saja lain waktu, tidak sekarang ini.

maaf juga saya mintakan ketika berebut tempat duduk di KRL dan bis.

mungkin ada hak mereka yang terampas atas ‘kedudukan’ saya.

saya mungkin juga harus memberi maaf yang tulus pada pemimpin kita yang tak juga memberikan solusi bagi macetnya kota.

karena mungkin saya tak punya kekuasaan, kapabilitas dan pandangan yang sepadan dalam berlalu lintas.

di suatu perempatan, tak sengaja saya menginjak kaki pengendara lain.

segera saya meminta maaf, dan dia dengan mengangguk tersenyum.

baru terasa betapa leganya dimaafkan, selega dia memaafkan saya.

— Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H, Mohon Maaf Lahir dan Bathin —

Wacana ERP (electronic road pricing), yaitu membayar retribusi untuk memasuki jalan-jalan tertentu terus menguat. Tujuannya untuk membatasi penggunaan kendaraan pribadi. Saya tidak mau membahas banyak mengenai ERP ini, namun cuma ingin memberikan gambaran dari sudut pandang saya mengenai model bayar-membayar untuk masuk jalan.

Sebenarnya sudah ada jalan tol. Saya juga tidak mau membahas banyak mengenai tol ini, termasuk tol dalam kota dan rencana pembangunan enam ruas tol sejenis di Jakarta.

Ok, mari kita beralih sebentar ke Busway. Saya sudah sangat sering membaca mengenai komentar (terutama dari pemakai kendaraan pribadi) bahwa jalur Busway merampas hak pengguna kendaraan lain, disamping itu juga mubazir, karena bis Transjakarta jarang-jarang lewat.

Nah, mari kita nikmati dulu hasil bidikan kamera saya dari gedung di daerah Slipi (Jl. Letjend. S. Parman), yang kebetulan memiliki jalur busway, tol dalam kota dan jalur biasa (arteri).

Jl. S. Parman, suatu siang di bulan Juli

Sebenarnya kalau mata dan benak tidak salah, terlihat yang masih longgar itu adalah jalur tol dalam kota (masing-masing sebanyak 3 lajur). Jalur busway satu lajur (prakteknya juga sering berbagi dengan kendaraan pribadi), sedangkan jalur arteri 2 lajur, yang dipakai kendaraan selain busway. Namun di media massa selalu yang dipersalahkan adalah kemacetan di Slipi sejak ada jalur busway. Coba saja misalnya dua busway dalam foto diatas (1 bis gandeng & 1 bis biasa) dihilangkan, apakah lantas kemacetan juga sirna? toh nyatanya jalur busway juga prakteknya sering dibajak (seperti gambar diatas). Bis Transjakarta cuma kurang banyak aja headway-nya biar nggak mubazir.

Lalu, kenapa nggak protes dengan pengguna tol dalam kota? atau sekalian aja protes yang buat kebijakan tol dalam kota itu? Karena mayoritas penggunanya adalah kelas menengah (keatas), yang merupakan kelas penting dalam politik negeri ini. Yang juga termasuk dalam kelas itu para pengambil kebijakan. Itu tuduhan saya. Korbannya sudah ada, baru-baru ini truk barang kena imbasnya, mereka dibatasi masuk ke tol dalam kota, demi memperlancar perjalanan kelas menengah itu, setelah sebelumnya pernah dilarang masuk. Jadi dalam mempergunakan tol, ada diskriminasi hak. Di luar negeri, highway biasanya menghubungkan antarkota. Namun di Jakarta, tol dalam kota lebih sebagai prasarana anti macet (padahal sering macet juga). Penggunanya cuma kendaraan roda empat. Lha justru kendaraan roda dua sebagai mayoritas malah gak punya fasilitas. Bahkan sekadar jalur khusus pun gak ada. Katanya negara demokrasi? Lha kok mayoritas selalu tertindas?

Layang Mayangkara, Surabaya

Saya kemudian mengenang mengenai masa lalu di Surabaya, yaitu jalan layang Mayangkara. Dulu untuk melalui jalan itu harus membayar tol. Jalan layang itu untuk menghindari lintasan kereta api dan arus ke pasar dibawahnya. Jadi kalo mau lancar, bayar dulu. Itu dulu, sekarang jalan layang Mayangkara telah berfungsi selayaknya. Bagi yang mau terus ke arah selatan atau ke Sidoarjo ya memakai jalan layang. Bagi yang mau belok-belok atau mau lihat kereta api ya lewat bawahnya.

Kemudian pandangan saya beralih lagi ke perbaikan jalan di Cinere raya. Waktu itu mobil yang lewat jalan kampung, ditarik ‘sumbangan’ oleh warga. Yang membuat terenyuh, motor disuruh lewat jalan lain, soalnya motor mana pernah bayar.

polisi cepek

Lalu penampakan ‘polisi cepek’ atau ‘pak ogah’. Udah jelas siapa yang bayar didahulukan, walau hanya sekadar ‘cepek’ (eh tapi sekarang minimal gopek).

Nggak tahu ya (semoga saya salah), dalam sudut pandang saya antara ERP, Tol, sumbangan jalan, polisi cepek,  kok nggak beda jauh. Mementingkan yang bayar. Menyamankan yang sudah nyaman, karena yang tak berpunya sudah biasa susah.

Anjing menggonggong, kafilah berlalu setelah memberi recehan.

Kejadian penumpukan penumpang di halte seperti tulisan saya terdahulu sepertinya akan diminimalkan. Saya baca di sini, Busway Transjakarta akan menerapkan Intelligent Transport System (ITS), yang  diluncurkan pada Selasa (23/8/2011).

Halte Busway Slipi Kemanggisan (Slipi Jaya)

Salah satu kegunaan sistem ini adalah untuk melacak dan mengetahui pergerakan bus transjakarta di jalan, sehingga dapat memperlancar gerakan busway khususnya di perempatan-perempatan yang ramai dilalui kendaraan. Dengan adanya ITS ini dapat mengatur sehingga berurutan kendaraan (tak cuma bis transjakarta saja) yang melewati persimpangan dan tidak ada benturan.

Selain memantau pergerakan bus transjakarta, sistem berbasis serat optik ini juga dilengkapi sistem pengendali lalu lintas dalam satu kawasan atau disebut Area Traffic Control System.

Selain itu, ada rencana bis Transjakarta di Koridor I untuk dipasangi global positioning system (GPS), untuk mengetahui keberadaan busway yang sedang melaju sehingga penumpang yang ada di halte tahu berapa lama busnya akan tiba. Gabungan Sistem tersebut juga akan melengkapi halte bus transjakarta dengan papan pengumuman elektronik yang akan menyampaikan perkiraan kedatangan bus transjakarta.

Kontrol ITS (foto Kompas)

Hmm… canggih-canggih ya.. Memang lalu lintas Jakarta sudah complicated, sehingga memang sudah tak seharusnya diatasi dengan metode konvensional.

Namun secanggih-canggihnya sistem informasi, kalo rumus dasarnya gak dipecahkan (jumlah kendaraan beroperasi jauh lebih banyak dibanding dengan daya tampung jalan),  jangan-jangan fungsinya hanya menginformasikan adanya kemacetan saja.

Harusnya lebih dibenahi lagi dengan berfokus pada tansportasi publik, kan katanya negara kita negara demokrasi yang bukan kapitalis. Katanya sih…. katanya….

Bicara angkutan umum di Indonesia, terutama di Jakarta, seringkali mengelus dada karena kondisinya dianggap ‘tidak manusiawi’. Beberapa bahkan dianggap ‘ekstrim’, terutama masalah perilaku pengemudi dan penumpangnya. Contohnya Bis sekelas Kopaja (non AC) atau Metromini, seringkali overload, penumpangnya bergelantungan di pintu, dan pengemudinya ngebut dan bermanuver seperti orang mabuk.

Atau bicara masalah KRL, dimana fenomena ‘atapers’, atau penumpang yang suka duduk di atap sudah menjadi kebiasaan yang susah ditanggulangi, karena kereta sudah penuh sesak.

Namun, dengan kondisi angkutan umum di sini yang seperti itu, apakah kita layak “berbangga diri” menyebut sebagai yang paling parah, atau paling ekstrim?

Hooo… jangan jadi katak dalam tempurung. Diatas langit masih ada langit. Ternyata di luar negeri ada saingan berat kita, bahkan kemungkinan besar kita kalah telak.

Karena saya sendiri nggak pernah keluar negeri, foto-foto dan tulisan ini saya dapatkan dari browsing di google :

Kereta India

umat Hindu perjalanan kereta penumpang yang penuh sesak untuk mengambil bagian dalam festival "Guru Purnima'' di kota Goverdhan dekat kota utara India Mathura, 24 Juli 2010. (kaskus)

Kereta Bangladesh

Mudik lebaran 2010 (Bangladesh)

Bis Pakistan

Kopaja atau Metromini bisa minder dengan norak dan nekatnya bis Pakistan ini

Bis Filipina

Jeepney Filipina ternyata jenis double decker?

 

Mudah-mudahan gambaran kondisi angkutan umum di negara-negara diatas tidak menjadikan kita terpacu untuk menirunya. Ini cuma sebagai penglipur lara saja, bahwa ternyata banyak yang lebih sengsara dari kita.

Dan juga semoga ini tidak dijadikan contoh oleh pejabat-pejabat transportasi kita untuk menuduh kita sebagai penumpang yang cengeng dan manja.

Sama sekali tidak. Urusan safety adalah keharusan. Sebab tanpa ikhtiar untuk selalu menjaga keselamatan transportasi adalah bunuh diri, dosa besar. Yang mengabaikan pentingnya regulasi dan keselamatan angkutan umum berarti bisa disebut pembunuh dong?