Posts Tagged ‘motor’

20140401_081514[1]

Singkat cerita, Jakarta akan melarang sepeda motor melintas di jalan-jalan protokolnya, yang akan dimulai ujicobanya Desember 2014. Tentu saja hal itu menimbulkan pro kontra. Saya tidak terlibat pro dan kontra itu, namun hanya menampilkan informasi dan data yang saya peroleh dari googling.

1. Jumlah sepeda motor yang melintasi Jakarta ada 8,7 juta setiap harinya : sumber

2. Jumlah rata-rata kecelakaan yang melibatkan pengguna sepeda motor tidak sampai 2 kali setiap harinya (0,00002% dari jumlah no.1)

3. Jumlah rata-rata pelanggaran lalu lintas oleh pengguna sepeda motor adalah 1.420 kali setiap hari (0,02% dari jumlah no. 1)

4. Jumlah kapasitas angkutan umum di Jakarta (tidak termasuk KRL) : sumber

Jenis Jumlah Kapasitas Daya angkut
Bus Besar         2.149               60          128.940
Bus Sedang         1.455               35            50.925
Angkot/minibus       14.049               11          154.539
Total daya angkut          334.404

5. Jumlah mobil penumpang (pribadi) di Jakarta sebesar 2,5 juta unit

6. Jika rata-rata penumpang kendaraan pribadi (mobil & motor) di Jakarta adalah 1,2 orang per unit, maka jumlah pengguna nya adalah sebagai berikut :

Jenis Jumlah unit Kapasitas rata-rata Jumlah penumpang
Sepeda Motor    8.700.000              1,2    10.440.000
Mobil Penumpang    2.541.351              1,2      3.049.621
Total jumlah penumpang    13.489.621

7. Jika saja 30% pengguna sepeda motor berpindah ke moda transportasi umum, maka ada lebih dari 3 juta penumpang baru. Jika asumsinya semua angkutan umum sudah penuh (maximum capacity) pada saat jam sibuk, maka diperlukan jumlah angkutan umum (non KRL) sepuluh kali lipat dari yang sekarang sudah ada.

anti biker

8. Jumlah sepeda motor adalah mayoritas (diatas 75%), namun ruas jalan yang boleh dilalui terbatas. Sepeda motor tidak boleh melewati ruas jalan tol, jalan layang non tol, jalur cepat, dan nantinya jalan-jalan protokol di Jakarta. Belum lagi tempat parkir yang tidak layak/dinomorduakan.

9. Tidak ada jalur khusus untuk sepeda motor. Adanya jalur lambat yang harus berbagi dengan kendaraan beroda empat, termasuk bis besar.

10. Jumlah sepeda motor naik dan jumlah angkutan umum turun. sumber

Singkat cerita, mayoritas sepertinya harus tertindas.

 

Iklan

lalu lintas kota cobaan besar di bulan puasa ini.

macet bertambah parah, sedang deadline masuk kantor atau buka di rumah sangat sempit.

seringkali tidak bisa berbuka dirumah, karena macet sudah sedemikian payah.

sementara sepeda motor saya melaju ditengah asap knalpot, dipepet mobil-mobil yang susah dibedakan ngawurnya dengan sepeda motor, yang juga menyalip tanpa perhitungan dan membuat kaget.

diperempatan, kendaraan saling serobot. Beberapa kali kaki terinjak dan tersenggol.

dongkol dalam hati… tapi apa yang bisa dilakukan selain merelakan, agar tak sesak jalan nafas ini.

memaafkan,  karena memang saya tidak mempunyai kengawuran atau kecepatan yang sepadan dengan mereka.

mungkin juga saya yang harus meminta maaf karena saya menjadi penghalang jalannya.

lalu lintas kota memang sudah begini ini.

dan saya juga mungkin harus meminta maaf kepada sopir angkot, ojek dan bis kota yang biasa saya tumpangi.

nafkah mereka saya kurangi dengan tidak memakai jasa mereka, nanti saja lain waktu, tidak sekarang ini.

maaf juga saya mintakan ketika berebut tempat duduk di KRL dan bis.

mungkin ada hak mereka yang terampas atas ‘kedudukan’ saya.

saya mungkin juga harus memberi maaf yang tulus pada pemimpin kita yang tak juga memberikan solusi bagi macetnya kota.

karena mungkin saya tak punya kekuasaan, kapabilitas dan pandangan yang sepadan dalam berlalu lintas.

di suatu perempatan, tak sengaja saya menginjak kaki pengendara lain.

segera saya meminta maaf, dan dia dengan mengangguk tersenyum.

baru terasa betapa leganya dimaafkan, selega dia memaafkan saya.

— Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H, Mohon Maaf Lahir dan Bathin —

Melanjutkan tulisan mengenai hitung-hitungan biaya transportasi para penglaju (komuter) di Jakarta, berikut saya tampilkan lagi tabel perbandingan mengenai biaya transpor, karena banyak yang penasaran dengan model perhitungan biaya yang saya tampilkan terdahulu.

Kali ini lebih detail, residual value saya tampilkan. Konsekuensinya, saya juga memasukkan biaya servis besar dan asuransi. Asuransi? ya, soalnya tidak memasukkan biaya kerusakan dan biaya lain yang bersifat insidental. Residual value itu nilai sisa, jadi pada saat kendaraan telah melewati masa ekonomisnya (saya asumsikan di sini 5 tahun), mempunyai nilai pasar sebesar itu. Saya memakai asumsi inflasi 5%, tingkat penyusutan sepeda motor lebih tinggi daripada mobil (karena dipakai melebihi pemakaian normal), dan di-present value-kan.

calculation of transport cost (advanced)

calculation of transport cost (advanced)

Masih memakai contoh yang sama seperti tulisan terdahulu, perjalanan sehari dari Depok ke Slipi p.p., (kurang lebih 60 km p.p.).  Hasilnya masih sama, yang termurah tetap Bis Patas non AC, termahal mobil. Namun biayanya untuk mobil dan sepeda motor agak turun, karena penyusutannya sudah dikurangi residual value.

Memang biaya sepeda motor bisa turun ke peringkat 3 termahal apabila asuransi tak dimasukkan. Namun ya itu tadi, saya tidak memasukkan biaya insidental, jadi sebagai gantinya ya asuransi.

Sekarang dengan biaya seperti itu, saya coba masukkan dalam tabel proporsi biaya vs gaji :

Kalau saya pake hitung-hitungan bisnis, biaya transportasi yang lazim di dunia bisnis adalah 13%.  Jadi melihat tabel itu, mobil small MPV cocoknya memang dipake oleh mereka yang berpenghasilan sekitar Rp 30 juta keatas. Bahkan sepeda motor pun harusnya cocok dipake untuk yang berpenghasilan diatas Rp 5 juta.

Lantas kenapa kendaraan pribadi banyak sekali di Jakarta? apa penghasilan mereka memang setinggi itu?

Ok, itu kan dunia. Kalo di Indonesia, mengingat infrastruktur yang ada, rata-rata biaya transport 30%, jadi yang berpenghasilan diatas Rp 10 juta masih merasa cocok memakai mobil. Lha wong tetangga saya yang gajinya segitu aja bisa pake mobil, masa saya nggak, begitu pikiran kita semua. Juga motor dipikir bisa dipake untuk yang berpenghasilan mulai Rp 2,5 juta. Yang membantu hal ini adalah banyak dan mudahnya pembiayaan untuk kepemilikan kendaraan bermotor. Wah, kalau beban bunga saya masukkan, makin melonjak biaya transport untuk kendaraan pribadi itu.

Dengan makin macetnya Jakarta, makin mahalnya BBM dan Pajak Kendaraan Bermotor, bisa-bisa bangkrut di jalan, terutama untuk kendaraan pribadi.

going to JKT

going to JKT

Namun ini yang menjengkelkan, lagi-lagi ujungnya minta penghasilan dinaikkan, artinya standar gaji di Jakarta makin tinggi (meskipun menyedot sumber daya dari daerah), yang lagi-lagi hasilnya makin menarik banyak orang untuk kerja di Jakarta. Artinya tambah macet lagi.

Kayak lingkaran setan ya? tapi banyak yang enjoy kok, apa memang semua sudah jadi setan?

Apa sih yang di jadikan pertimbangan dalam memilih moda transportasi sehari-hari?

Ada yang bilang biaya. Ada yang bilang kecepatan. Ada yang bilang Kenyamanan, dan fleksibilitas. Ada yang bilang keamanan.

Jadi mana yang bener???

Jawabnya ya bener semua. Ini dilihat dari sudut pandang siapa. Sebagai bahan renungan, mari kita lihat tabel berikut mengenai perbandingan biaya :

calculation of transport cost

calculation of transport cost

Tabel itu itung-itungan sederhana berdasar pengalaman pribadi saya sendiri dari Depok ke daerah Slipi (kurang lebih 30 km).  Sengaja saya masukkan Capex (capital expenditure), karena biasanya ini yang lupa diperhitungkan, yaitu biaya perolehan barang modal (kendaraan bermotor), yang saya buat dengan metode penyusutan dengan kilometer normal selama 5 tahun. Emangnya pake motor pemberian bokap? enggak lah yaw, pake keringat sendiri. Asumsinya beli tunai, gak pakai nyicil.

Sedangkan Opex (Operating expense) lebih mudah. Itu adalah pengeluaran operasional sehari-hari. BBM yang dipake ya yang tanpa subsidi, pertamax, lha wong sudah mampu ngenet dan bikin blog, bisa beli mobil dan motor tanpa nyicil (kalo nyicil, saya harus masukkan beban bunga leasing dong). Biaya servis juga cuma servis rutin saja, dibagi per kilometer normal, tidak termasuk servis besar dan kemungkinan perbaikan non rutin (hal itu saya kompensasikan dengan tak adanya nilai sisa/residual value untuk kendaraan). Kalo retribusi & perijinan hanya biaya PKB tahunan yang dibagi per hari. Yang tidak dimasukkan adalah biaya asuransi (biasanya di Jakarta mobil pake itu), juga biaya lisensi mengemudi (SIM).

Sedangkan untuk moda angkutan umum, tiket itu tiket p.p., termasuk ongkos angkot dari/ke terminal dan stasiun.

Dari tabel itu terlihat kalo yang paling murah naik bis patas non AC, dan yang termahal adalah naik mobil pribadi. Jadi kalo pertimbangannya biaya, ya sudah jelas pilihannya. Saya jadi mikir dengan biaya mobil seperti itu, apa gak mendingan naik taksi aja ya, kan mirip-mirip tuh, nggak capek, udah punya sopir.

Namun coba lihat tabel berikut, yang akan merumitkan suasana. Di Jakarta faktor waktu adalah yang paling krusial.

Cost of Time

Cost of Time

Disini terlihat angkutan paling murah tadi ternyata juga yang paling lama. Khusus untuk bis, saya tambahkan waktu tunggu karena jadwalnya gak pasti, harus nunggu di jalan dulu. Rekor tercepat dipegang oleh KRL Ekspres. Jadi bermurah-murah disini artinya benar-benar sampai puas pakainya (emang mau? bukan puas, tapi sampai muak di jalan).

Nah, kalo ada yang bicara masalah keamanan, mungkin tabel di bawah bisa sedikit memberikan gambaran :

Transport Accident

Transport Accident

Data yang dipakai dari Kompas.com, dan Detik.com, tahun 2010. Dari tabel tersebut tabrakan antar KRL memang tak pernah terjadi. Sedangkan Sepeda Motor menduduki ranking 1. Tapi bila dirujuk ke jumlah sepeda motor yang dipunyai penduduk Jakarta, adalah sekitar 8 juta, asumsi dari jumlah tersebut yang dipakai turun ke jalan sebesar 40%, dan dipakai pulang pergi, maka hasilnya adalah sekitar 6,4 juta penggunaan, maka rasio kecelakaan yang 21 kali sehari itu relatif kecil, jika dibandingkan dengan kecelakaan di angkutan umum, yang beroparasi mencapai 8000-an rit sehari, dengan 4 kali kecelakaan perhari. Namun kecelakaan yang dialami motor kebanyakan fatal dan memakan korban jiwa, maklum sarana pelindungnya minim. Bila dibandingkan dengan bis, terutama bis patas AC, tingkat kefatalan lebih rendah karena kecepatan relatif rendah, bodi dan bemper gede, dan kalaupun terjadi kecelakaan, yang celaka adalah lawan transaksinya, eh lawan tabrakannya.

Bagaimana dengan kenyamanan? ok, lihat tabel mengenai fasilitas ini:

Comfortness

Comfortness

Yang paling nyaman dengan segala fasilitas itu adalah mobil. Untuk musik ini saya putuskan adalah perangkat audio, jadi ngamen dan earphone gak termasuk (kalo dimasukkan, semua bisa full musik dong).

OK, mari kita lihat tingkat fleksibilitas masing-masing moda transport :

Flexibility

Flexibility

Jelas memakai sepeda motor paling luwes. Mau berhenti di warung OK. Mau menyelinap di gang OK. Bahkan kalo mau dan boleh, bisa naik trotoar, naik jembatan penyeberangan, sampe naik lift. Dan KRL dari jalurnya aja udah jelas paling kaku, punya sistem, rute dan jadwal.

Dengan melihat tabel tersebut diatas, tiap-tiap faktor bisa menghasilkan pemenang yang berbeda-beda. Yang biasa dilakukan adalah kombinasi, jadi pulang/perginya bisa beda moda. Contohnya berangkat naik KRL, pulang naik bis, atau sebaliknya. Juga bisa naik motor ke stasiun, lalu naik KRL.  Ada juga yang berangkat naik motor, pulang naik mobil (curanmor kali??).

Namun dengan mengamati pola yang ada, khususnya di kelas menengah, faktor biaya tidak menjadi bahan pertimbangan. Yang diperhatikan adalah kecepatan. Maka tidak heran okupansi KRL ekspres makin lama makin meningkat, meskipun biayanya mahal, beda tipis dengan nomor dua setelah biaya penggunaan mobil. Gak apa-apalah mahal dikit, asal cepat. Mau naik helikopter gak mampu, juga takut ketinggian.

Banyaknya perpindahan para pekerja kelas menengah dari mobil pribadi ke KRL sangat dimungkinkan sepanjang KRL Ekspres konsisten menjaga presisi waktunya dan kenyamanan ditambah. Namun dengan adanya rencana Single Operation KRL, yang dipastikan akan menambah waktu dan mengurangi kenyamanan, dikhawatirkan akan menambah lebar jurang perbedaan antara pengguna kendaraan pribadi ke Transportasi Umum.

komuter di stasiun dukuh atas. mayoritas pekerja kelas menengah

komuter di stasiun dukuh atas. mayoritas pekerja kelas menengah

Pekerja kelas menengah ini yang memainkan peranan dalam transportasi Jakarta. Mereka umumnya dulu berasal dari kalangan bawah (jadi masih ada sisa mental kere-nya), yang kemudian naik status sosialnya karena pendidikan. Mereka umumnya profesional yang mengutamakan pekerjaan dan keluarga, sehingga waktu untuk kerja dan keluarga yang utama, artinya jumlah waktu di jalan harus diminimalkan. Mereka juga tak segan bersusah payah sedikit mengurangi kenyamanan (asal nggak kebangetan) karena dasarnya pernah menjadi kelas bawah, eh maksudnya pernah menjadi pengguna angkutan umum.

Yang terakhir, pilihan memang bergantung pada pemakai/pengguna. Enjoy yang mana. Ada yang enjoy naik mobil, biarpun macet dan mahal gak peduli, sudah biasa. Ada juga yang lebih suka naik angkot. Tapi itu bagi golongan yang mampu pilih.

Yang paling mengenaskan adalah bila tidak punya pilihan lain, misalnya harus naik angkutan umum, karena gak punya kendaraan pribadi atau gak bisa nyetir, dan tidak enjoy. Walah, ya jangan hidup di Jakarta. Enjoy aja, naik angkutan umum itu gak seburuk yang ente kira, namun lebih buruk. Eh nggak, kok, bercanda. Kalo gak percaya, lihat tulisan-tulisan di blog ini.