Posts Tagged ‘rute’

Bogor karena letaknya yang dekat dengan Jakarta sering menjadi tujuan wisata maupun tujuan lain. Pergi kesana pun mudah dan murah, misalnya dengan KRL. Namun, setelah turun dari KRL, ratusan angkot dengan warna hijau kadang membikin pusing. Mau kemana kita? Jangan khawatir, sekarang sudah ada panduannya via web. Cukup kunjungi situs http://angkotkotabogor.big.go.id/, maka kita akan lebih mudah untuk bepergian di Bogor dengan angkot.

peta angkot Bogor

Namun situs ini ketika saya coba via smartphone sangat berat, karena kayaknya tidak ada versi mobilenya. Jadi sebelum bepergian ke Bogor naik angkot dibuka dulu saja via komputer.

Demikian, jika penasaran langsung saja ke situs http://angkotkotabogor.big.go.id/ dan baca petunjuknya.

Ini bukan soal sinyal atau telekomunikasi, tapi integrasi antar moda angkutan. Karena tempat kerja saya sekarang tidak dilalui jalur KRL, lama saya baru bisa mencoba KRL ‘model baru’ (alias commuter line), karena ada tugas ke Slipi. Setelah saya pelajari, dengan jadwal baru ini, kebiasaan saya untuk mencapai Slipi dengan KRL tujuan tanahabang kayaknya harus diubah. Kalo dulu antara jam 6 pagi sampai jam 9 pagi ada 3 KRL Depok Ekspress (diluar KRL Pakuan yang melintas langsung Depok), 1 KRL Ekonomi AC dan 2 KRL Ekonomi, maka sekarang cuma ada 3 KRL commuter line (alias Ekonomi AC model baru) dari depok, dan 2 KRL commuter line dari Bogor, dan 1 KRL Ekonomi dari Bogor. Kelihatannya sama saja, enam KRL, tapi kenyataannya KRL commuter line dari Bogor sampai Depok sudah penuh banget. Logikanya dulu perjalanan Bogor/Depok ke Tanahabang ada 8 KRL, sekarang cuma 6 KRL (berkurang 2), tapi jumlah penumpang sama (dulu aja sudah penuh, apalagi ini dikurangi 2 KRL).

Jadi akhirnya saya pilih KRL yang ready dan memungkinkan dimasuki di stasiun. Akhirnya pilihan jatuh pada KRL ke Jakarta Kota, jadi saya harus turun Stasiun Cawang. Karena saya pikir Stasiun Cawang sudah ada busway, saya pikir busway efektif untuk menembus zona macet pancoran – semanggi – slipi. Saya pikir ide saya brilian, dan saya juga salut pada yang punya ide mengintegrasikan busway dengan KRL ini.

Tapi prakteknya ternyata nggak semudah itu. Dari arah stasiun Cawang, saya keluar dan melihat bahwa halte Cikoko Stasiun Cawang itu jembatan busway-nya putus (nggak nyambung dari sisi utara Jl. M.T. Haryono/ stasiun Cawang ke sisi selatan/seberangnya). Jadi kalo saya mau ke arah Slipi, ya balik lagi ke bawah, untuk menyeberang di bawah fly over di Cawang.

Sampai di halte yang dituju, ternyata saya mendapati kenyataan seperti ini :

Halte Busway Cikoko (St Cawang)

Antreannya mengular sampai ke penyeberangan, karena gak ada bus. Bis yang datang jedanya lumayan lama, dan juga sudah penuh. Ini yang namanya nggak nyambung. Pengguna KRL yang turun di Cawang benar-benar seperti pasukan koalisi yang menyerbu stasiun Cawang, jumlahnya nggak sebanding dengan daya tampung halte dan ketersediaan bis. Wah kok jadi seperti ini… padahal saya pikir saya sudah lewat peak hour, sudah diatas jam 9, ternyata sama saja (jadi gimana tadi yang jam 8-9 ya?). Informasi dari petugas di halte, sedang didatangkan bala bantuan 1 bis gandeng, yang memutuskan saya tetap bertahan menunggu (soalnya kalo nggak nunggu, mau pake apa? kondisi jalan non busway macet banget). Info lagi dari petugas, kejadian kelangkaan bis gini biasa terjadi karena bis Transjakarta juga terhambat macet. Halte selanjutnya setelah stasiun Cawang nggak terlalu banyak penumpang yang antre.

Biasa ya… walah, untung saja saya tidak kena potong gaji kalo telat masuk. Masak nggak bisa sih menyambung kan integrasi antara moda transportasi… kan sudah dari dulu tahu Stasiun Cawang itu tujuan para komuter (penglaju) daerah Bogor/Depok yang tentu saja sarat penumpang.

Akhirnya setelah menunggu setengah jam lebih, bis bantuan itu datang. Dengan kapasitasnya yang jumbo, antrean penumpang di halte itu langsung lenyap ditelannya. Nggak sia-sia juga nunggu, karena terbukti saya mencapai Slipi tidak sampai setengah jam dengan busway, membuktikan asumsi saya bahwa busway efektif menembus zona macet disana masih berlaku.

Menyambung tulisan sebelumnya, bila tulisan-tulisan sebelumnya masih seputar Jakarta, kali ketiga ini saya mau ajak jalan keluar Jakarta. Apa Jakarta sudah habis? belum… banyak yang masih bisa dieksplorasi lagi (saya tidak akan membahas ‘wisata’ mall), tapi karena sudah jenuh, mari kita keluar Jakarta. Tapi ya belum jauh-jauh, karena masih seputar Jabodetabek (tepatnya, Bogor dan Depok).

1. Taman Safari Indonesia – Cisarua

Tempat ini kayaknya favorit banget, mengingat begitu macetnya jalan menuju kesana. Jaraknya sekitar 78 Km dari Jakarta, 20 Km dari Bogor, dan 80 Km dari Bandung, kearah Puncak.

Kayaknya kalo kesana naik mobil semua. Tapi bisa kok naik angkutan umum kesana, cuma memang perjuangannya lebih banyak, karena banyak oper-oper dan merupakan angkutan pedesaan/antar kota.

Dari Jakarta harus ke Bogor dulu. Misalnya  dari terminal Lebak Bulus naik  Bis Agra Mas ke Bogor, dengan tujuan Terminal Baranangsiang. Kalo naik KRL, turun Stasiun Bogor, lanjut dengan angkot 03 (Bubulak – Baranangsiang). Dari Barangsiang kemudian naik  angkot 01 (jurusan Baranangsiang – Ciawi) transit di Tajur, naik Angkot tujuan Cisarua, turun di pertigaan Taman Safari. Selanjutnya bisa lanjut dengan angkot atau ojek untuk masuk kedalam Taman Safari Indonesia. Kalau mau jalan silakan, jaraknya sekitar 4 Km dari pertigaan Taman Safari, Jalan Puncak Raya, koordinatnya di S 6 42.859 E 106 56.834.

Kalo mau masuk, nggak boleh jalan kaki, soalnya di Taman Safari ini yang dikurung pengunjungnya, bukan binatangnya. Jadi gimana dong, kan nggak bawa mobil? tenang, Taman Safari Indonesia menyediakan angkutan khusus untuk penumpang yang nggak bawa mobil.

Udara di sini lumayan sejuk. Ada banyak penginapan di disana, baik yang disediakan Taman Safari sendiri maupun di sekitarnya (kalo kemaleman pulang). Yang perlu diingat, beberapa atraksi hanya buka di hari weekend saja. Tapi ingat juga, waktu weekend macetnya luar biasa. Jangan sampai setelah riang di sana, pulangnya ‘meriang’ karena macetnya parah banget.

2. Taman Buah Mekarsari

Taman ini ada di daerah Jonggol, Cileungsi, Bogor. Koordinatnya di S 6  24.652 dan E 106  59.271. Ada apa disana? tentu ada buah. hehehehe… gak cuma itu saja, di sana ada tempat outbound, camping ground, permainan anak dan danau wisata. Disebelahnya ada kolam renang Amazing waterpark.

Kalau mau ke danau, naik kendaraan berbentuk kereta/trem.

kereta mekarsari

Mau Mekarsari? gampang :

Dari UKI :

Naik angkot elf coklat no 59  jurusan UKI – Cileungsi,turun di Perempatan Cileungsi (dibawah fly over Cileungsi), oper angkot 64 (jurusan Jonggol), turun di depan Mekarsari.

Dari Kampung Rambutan :

Naik angkot 121 (tujuan Cileungsi), turun di perempatan Cileungsi, selanjutnya sama, naik angkot 64. Atau naik Naik bis kecil jurusan Kampung Rambutan – Jonggol turun di depan Gerbang Mekarsari.

Dari Senen :

Naik Bis Besar Metro mini (Jurusan Senen – Cileungsi), turun di perempatan Cileungsi. selanjutnya sama, naik 64.

Dari Priok :

Naik Bis  Mayasari Bhakti no 42 Jurusan Tanjung Priuk – Cileungsi, turun di perempatan Cileungsi. Terus naik 64.

Dari Pulogadung :

Naik bis kecil jurusan Pulogadung – Jonggol, turun di depan Gerbang Mekarsari

Dari Depok :

Naik angkot ke Cisalak (Misalnya D-06 Depok-Pasar Cisalak), lalu naik angkot 79, Jurusan Cisalak – Leuwi Gintung, turun didepan Plaza Cibubur, dilanjutkan naik Angkot 121 Jurusan Kp. Rambutan-Cileungsi, turun di Perempatan Cileungsi. Atau kalo dari Gas alam bisa naik Angkot P01 Jurusan Gas Alam-Cileungsi, turun di Perempatan Cileungsi. Lalu ceritanya sama, naik angkot 64.

Dari Bekasi :

Naik bis kecil jurusan Bekasi- Jonggol turun di depan Gerbang Mekarsari.

Dari Cibinong/Citeureup :

Naik angkot 64 Jurusan Jonggol. Tapi angkot ini jarang yang sampai ke Jonggol (hanya sampai ke Cileungsi) jadi dari Cileungsi harus nyambung lagi naik angkot yang sama jurusan Jonggol.

Dari Bogor :

Dari Barangsiang naik Bis kecil jurusan Bogor- Jonggol turun di depan Gerbang Mekarsari. Kalau dari Terminal Bubulak naik angkutan Elf jurusan Laladon/Bubulak – Cileungsi, turun di perempatan Cileungsi. Kalau dari Ciawi, naik angkot jurusan Ciawi – Cileungsi, turun di perempatan Cileungsi. Lalu ceritanya sama, naik angkot 64.

Dari Cianjur/Bandung :

Naik bis jurusan Jakarta yang melewati rute Jonggol, turun didepan gerbang Mekarsari.

3. Kebun Raya Bogor

Kalau ke Bogor, ada yang nggak sreg kalo nggak ke Kebun Raya Bogor. Kebun Raya ini konon berada di titik nol kota Buitenzorg (Bogor era kompeni). Disini ada istana Bogor yang berbatas pagar dan danau dengan Kebun Raya.

istana bogor dari kebun raya

Mau Kebun Raya Bogor sebenarnya sangat mudah, soalnya lokasinya memang di tengah kota Bogor, dan dekat stasiun Bogor (kota). Kebanyakan angkot melewatinya. Dari Stasiun Bogor, naik aja angkot ijo 02, jurusan Sukasari-Bubulak. Selain angkot 02, bisa naik angkot 6 (Ciheuleut-Ramayana) atau angkot 10 (Bentar- Kemang- merdeka). Tapi ingat dari Stasiun Bogor, macet karena jejeran angkot yang ngetem. Kalau mau cepat ya naik ojek, atau jalan dulu ke depan.

Kalo mau jalan kaki sih bisa juga, tak sampai 1 Km  sudah bisa sampai pagarnya Kebun Raya (tapi kalau sampe ke gerbangnya, bisa 2 Km). Tapi ingat di dalam Kebun Raya gak ada angkutan, jadi harus jalan kaki, so hematlah kaki anda.

4. Mesjid Kubah Mas dan Kampung 99 Pepohonan (Kampung Rusa)

Ini lokasinya dekat dengan Jakarta, lokasinya di Meruyung, Limo, Depok. Mesjid ini aslinya bernama Mesjid Dian Al Mahri, tapi lebih terkenal dengan sebutan Mesjid Kubah Mas, karena …… (jawab sendiri ah).

Mesjid Kubah Mas

Kalo mau kesana gampang, dari terminal Depok naik saja angkot 03 jurusan Parung (jangan khawatir kehabisan, angkot ini sangat dominan disana, bisa 24 jam). Lalu turun di pertigaan Parung bingung (kenapa dinamai gini? bingung khan?), oper angkot 102 yang banyak ngetem di pertigaan, lalu turun di seberang gerbang Mesjid Kubah Mas (kelihatan dari jalan). Kalau dari arah Cinere, bisa naik angkot 102 itu, turun di gerbang masjid (gak perlu nyeberang).

kampung 99 pepohonan

Diseberang Mesjid Kubah Mas, ada gapura menuju kampung, yang terkenal dengan sebutan Kampung 99 pepohonan (atau Kampung Rusa), disebut demikian karena ada rusa dan ada banyak pepohonan (tapi gak tahu apa jumlahnya 99). Di kampung yang berwawasan lingkungan ini ada arena outbound, membajaj.. eh membajak sawah (piracy is our culture !), dan penjualan aneka produk alami seperti yoghurt buah, susu kambing dan hasil kebun. Karena lokasinya agak masuk, kalo bingung, koordinatnya : S 6 23.092 dan E 106 45.888. Atau tanya saja orang di dekat Mesjid Kubah Mas, pasti tahu semua.

Tulisan ini membahas kembali aplikasi Komutta, yang sudah menjadi aplikasi android favorit di Indonesia.

Para pengguna handset android layak berbangga, karena menjelang berlakunya single operation KRL, Komutta, aplikasi mengenai informasi angkutan umum di android menyambut dengan versi terbaru, yaitu versi 0.7.1.
Versi ini tentu saja memuat jadwal baru KRL per 2 Juli 2011.  Jadwal ini bagi para pengguna KRL sangat berguna, karena rata-rata belum hapal. Hari gini masih beli fotokopian jadwal KRL di stasiun? Kan ada android dan Komutta.
Apa hanya itu? Nggak dong. Ada tambahan untuk 428 jurusan angkot. Juga sekarang lebih rapi kategorisasinya. Peta Google pun sudah muncul sebagai bacground jalur busway dengan dibantu gps untuk menentukan posisi saat itu.


Ok banget… Saya berharap suatu saat peta jalur ini bisa dipakai untuk bis kota biasa atau angkot,  setidaknya bisa jadi panduan biar lebih mandiri dan nggak gampang dibohongi orang. Pengalaman saya dibohongi masalah angkot terjadi kalo saya mencoba trayek baru (entah sengaja dibohongi or memang sok tahu).
Nah, ini yang baru. Coba ke menu busway. Kalo kita sentuh tombol menu, atau geser bawah, akan muncul menu CCTV. Jadi kita bisa lihat situasi di halte-halte busway. Asyik kan?

CCTV Halte Transjakarta

Yang patut diacungi jempol adalah kecepatan developer aplikasi ini untuk mengupdate. Masalah transportasi di Jakarta ini dinamis banget. Besok bisa berbeda dari hari ini.

Lanjut terus Komutta.!

Ini menyambung tulisan terdahulu (jadi ini part-2 nya). Obyek wisata masih di daerah Jakarta

1. Planetarium & Observatorium Jakarta

Letaknya di TIM (Taman Ismail Marzuki), di Cikini. Disini ada teropong bintang, namun jadwal peneropongan malam untuk umum tidak tiap haru, silakan ditanyakan sendiri disana. Yang jelas, jadwal tetap yang ada adalah pertunjukan teater bintang di kubahnya, yang membuat kita seakan-akan kembali ke impian masa kecil menjelajah antariksa.

planetarium Jakarta (inset : Ruang Pertunjukan)

Jadwal Pertunjukan Selasa – Jumat : setiap 16:30, tapi kalo Sabtu,  Minggu dan Sabtu Libur Nasional   setiap 10:00, 11:30, 13:00, dan 14:30. Kalo Jumat Libur Nasional setiap : 10:00, 11:30, 13:00, 15:00, 16:30.

Angkutannya? kalo naik KRL  :  kereta dari Bogor/Depok atau Bekasi, atau semua kereta dari Manggarai tujuan Jakarta Kota, turun di Stasiun Kerata Api Cikini. dari Stasiun dapat menyambung dengan Metromini No. 17 arah Pasar Senen atau cukup naik Bajaj, atau ojek, atau jalan kaki (jarak sekitar 1 km).

Kalo naik Busway : Jalan Cikini tidak dilewati koridor busway, tapi ada koridor 5 (Ancol – Jatinegara) yang ‘nyerempet’, yaitu melewati Jalan Kramat Raya, berhenti di Halte Kramat Sentiong. Dari situ naik aja ojek/bajaj, atau jalan kaki (jarak sekitar 1 km). Kalo mau cara lain, naik koridor 1, turun di halte BI dan nyambung naik kopaja 502 ke arah Kampung Melayu.

Kalo naik angkutan umum biasa dari Senen/Manggarai bisa naik Metromini No. 17 Jurusan Pasar Senen – Manggarai, kalo dari Kampung Rambutan, naik Kopaja No. 57 Jurusan – Cililitan – Tanah Abang, Dari Lebak Bulus atau Mampang silakan naik Kopaja No. 20 Jurusan Pasar Senen – Lebakbulus, tapi ingat rute kembali dariLebak Bulus menuju Pasar Senen tidak lewat Planetarium.

2. Wisata Kota Tua Jakarta

Yang ini pas buat yang gemar fotografi. Karena kota tua, bangunan-bangunannya ya bangunan tua, dan banyak juga terdapat Museum. Lokasinya sih di seputaran Stasiun Beos (Jakarta Kota). Stasiun Beos itu sendiri juga termasuk bangunan wisata kota tua. Tidak jauh dari situ terdapat Museum Bank Mandiri dan Museum Batavia/Museum Fatahillah/Museum Sejarah Jakarta. Kalau mau ke Museum Bank Mandiri cukup nyebrang pake TPO (terowongan penyeberangan orang) dari arah stasiun kota ke Museum/ halte Busway.

Museum Fatahillah

Ada yang khas di wisata kota tua ini, yaitu ojek sepeda. Ojeknya rata-rata juga berusia lanjut, mungkin biar selaras dengan kota tua.

ojek sepeda

Misalnya di sekitar Museum Fatahillah. Dengan tarif sekitar Rp 30.000 (kalo belum naik), maka anda akan diantar ke pelabuhan sunda kelapa, menara syahbandar, museum bahari, jembatan kota intan dan toko merah. Saya nggak menerangkan sejarah bangunan-bangunan itu, karena tukang ojek sepeda itu yang akan menerangkannya (jadi guide). Jadi ongkos ojek itu sebenarnya juga meliputi jasa guide.

Karena lokasi kota tua di sekitar Stasiun Jakarta Kota, maka angkutannya paling pas ya naik KRL. Atau bisa juga naik busway koridor 1. Kalo naik angkutan lainnya, yang jurusan kota, misalnya Metromini 85, Lebak Bulus – Kota, atau Mayasari Bhakti P17 (kampung Rambutan-Kota).

3. Setu Babakan

Ini perkampungan cagar budaya Betawi, lokasinya di Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Bangunan rumahnya khas Betawi. Disini bisa dijumpai makanan khas betawi seperti Kerak telor, Ketupat Sayur dan lain-lain (makanan aje lu pikirin). Disini juga bisa mancing di Setu/Danau. Ada juga tempat mainan anak dan penjualan souvenir.

“Kalo ente pake angkot, kagak usah bayar. Masa masuk kampung bayar, lu pikir gue preman?  Kalo lu bawa kendaraan, nyoh parkir disono, paling seceng !” (wah aku kok iso dadi wong betawi?).

Kampung Setu Babakan

Angkotnye gampang, dari Blok M naik aje Kopaja 616 tujuan Cipedak. Itu Kopaja lewat Lenteng Agung (ISTN). Jadi kalo lu naik KRL, turun aje di Lenteng Agung. Kalo lu naik Busway, turun aje di terminal blok M.

Kalo lu dari Terminal Depok, lu naik aje angkot D 128, minta diturunin di kampung Setu Babakan ye!

4. Monumen Pancasila Sakti (Lubang Buaya)

Ini kayaknya bukan obyek wisata. Kayaknya obyek horor. Tapi gimana lagi, horor kan juga wisata. Cuma kalo ditanya anak-anak agak susah jawabnnya. “Penderitaan itu pedih Jendral !” (masih teringat filem masa kecil dulu, G30S/PKI).

Disini ada diorama mengenai peristiwa itu. Hii… “Penderitaan itu pedih Jendral !”.  Srettt…sretttt.

Diorama Monumen Pancasila Sakti

Lokasinya di Lubang Buaya, Pondok Gede, Jakarta Timur. Kalo angkutannya angkot KWK  T-05A dari Kampung Rambutan. Kalo dari UKI (Cawang) naik 461 ke arah Pd. Gede turun di Monumen Pancasila Sakti. Dari Cililitan: Naik T04 ke arah Pondok Gede turun di Monumen Pancasila Sakti. Dari Pondok Gede: Naik angkutan umum 461, K40, T04 yang ke arah Cililitan turun di Monumen Pancasila Sakti.

“Libur t’lah tiba ! Libur t’lah tiba… Hatiiiii ku gembiraaaa…!”

Ya, liburan sekolah sudah tiba. Mau kemana ini ???

Di Daerah Jakarta dan sekitarnya, ada banyak tempat yang mudah dicapai oleh angkutan umum.

1. Taman Margasatwa Ragunan

Gadjah di Ragunan

Disinilah tempat ‘madakno rupo‘ di Jakarta. Tempat hiburan yang murah meriah. Harga tiketnya cuma Rp 4.000. Disini banyak binatang (jelas, kan kebun binatang), ada danau wisatanya dan ada bumi perkemahan. Lebih baik membawa tikar untuk lesehan setelah penat berjalan-jalan. Kalo tidak mau bawa, bisa beli sebelum pintu masuk, cuma goceng. Atau kalo mau di dalam juga ada yang menyediakan sewanya (sudah dihampar). Banyak warung makanan dan asongan (sayangnya ini cukup mengganggu karena terlalu banyak), jadi jangan kuatir kehausan atau kelaparan. Masalah harga dan rasa ya silakan tanggung sendiri.

Walk in Ragunan

Ada banyak angkutan umum yang singgah disini.

Transportasi utama adalah Bis Transjakarta koridor 6 (Ragunan – Dukuh Atas).

Jika dari Pulogadung, naik koridor 4, turun halte Halimun, pindah koridor 6, kemudian keluar ke Halte Dukuh Atas 2, karena koridor 6 yang ini dari Ragunan. Lalu pindah ke koridor 6 juga, tapi arah sebaliknya, yang ke Ragunan.

Jika dari Blok M, ini agak muter, karena jika naik Koridor 1, harus transit ke Dukuh Atas ke Dukuh Atas 2, untuk pindah ke Koridor 6 tujuan Ragunan. Jadi secara jarak lebih baik nggak pake Busway, melainkan naik Metromini 77 jurusan Ragunan Blok M.

Jika dari Kalideres, naik Koridor 3, turun di Halte Dukuh Atas, kemudian naik koridor 1, dan transit ke Dukuh Atas ke Dukuh Atas 2, untuk pindah ke Koridor 6 tujuan Ragunan.

Jika dari Kampung rambutan, naik Koridor 7, pindah ke Koridor 9 di Halte Pasar Kramatjati, turun di Halte Kuningan Barat, jalan ke Halte Kuningan Timur, akhirnya akan ketemu Koridor 6 disitu yang menuju Ragunan.

Jika dari Lebak Bulus…. mendingan nggak naik busway dari situ deh. Soalnya akan dibawa dulu ke Harmoni, padahal kan udah dekat Ragunan….. jadi  naik Kopaja P20 ke Mampang, dari situ naik Busway Koridor 6 ke Ragunan. Atau kalo mau langsung dari lebak bulus naik saja KWK 011 jurusan Pasar Minggu.

Selain Busway, banyak Angkutan lainnya. Jika dari Tanah Abang, bisa naik Kopaja 19 dan Kopaja 985 yang melalui Blok M. Kalau dari Kampung Melayu bisa naik Kopaja 68 dan 602 yang melalui Pasar Minggu. Dari Depok bisa ke Pondok Labu dulu (naik 105 atau S16), terus bisa naik Kopaja atau Mikrolet M20 ke Ragunan, atau dari Cinere naik 61.

Jika Dari Taman Mini bisa naik Mikrolet Merah (KWK) 15A.

Jika naik KRL, stasiun yang terdekat adalah stasiun Tanjung Barat atau Stasiun Pasar Minggu. Untuk pilihan angkutan, mendingan ke Stasiun Pasar Minggu, karena dekat terminal, meskipun di Stasiun Tanjung Barat lebih cepat karena jalur menuju Ragunan searah, naik KWK S15.

2. Monas

Belum ke Jakarta namanya kalo belum pernah ke Monumen Nasional (Monas), tugu setinggi 132 meter.  Tugu ini dimahkotai lidah api yang dilapisi  emas.  Monas dibuka setiap hari mulai pukul 08.00 – 15.00. Pada hari Senin pekan terakhir setiap bulannya ditutup untuk umum. Di Ruang Kemerdekaan di Monas, disimpan naskah asli proklamasi.

Lokasinya sangat strategis karena di tengah kota dan dekat Stasiun Gambir. Disana ada Diorama Sejarah Perjuangan Bangsa, taman, dan melihat Jakarta dari Puncak Monas. Kalau hari Minggu pagi banyak orang berjualan dan berolahraga.

Monas, lanskap Jakarta

Angkutan Utama adalah KRL, turun Stasiun Gambir. Dari situ Monas sudah kelihatan. Namun karena saat ini (sebelum single operation KRL), cuma KRL Ekspres yang berhenti di Monas. Kalo KRL lain berhenti didekat situ (stasiun Juanda atau Gondangdia terus naik Bajaj/ojek). Nanti kalo single operation berjalan, dari semua stasiun jalur Depok/Bogor bisa, misalnya dari Pasar Minggu, dari Lenteng, dari Cawang.

Kalo naik Busway,  yang lewat Gambir/Monas adalah Koridor 2. tapi jangan lupa tanyakan transitnya. Misalnya dari Cawang, naik koridor 9 ke halte Semanggi, transit ke halte Benhil (Bendungan Hilir), terus naik koridor 1 ke halte Harmoni untuk pindah ke Koridor 2, sampe ke halte senen, pindah koridor 2 arah sebaliknya.

Kalau naik bis biasa, misalnya dari Blok M, naik PPD P42 tujuan Senen. Kalo dari Kampung Rambutan naik aja PPD PAC79 jurusan Kota. Dari Slipi bisa naik P77. Tapi pengalaman saya, paling enak memang busway.

3. Ancol

Ini tempat wisata yang populer banget. Ada Dunia Fantasi, Gelanggang Samudra, Seaworld, Kolam Renang (atlantis), Pasar Seni, Outbond, dan tentu saja pantai.

Halilintar di Dufan

Tempat ini bisa dijangkau KRL langsung dari Bogor/Depok dan Bekasi, namun khusus hanya hari Minggu. Jadwalnya silakan lihat di sini. Kalo pas bukan hari Minggu, bisa turun di Stasiun Jakarta Kota, lalu naik Mikrolet 15A jurusan Priuk. Atau turun di Stasiun Senen, lalu naik Busway Koridor 5 tujuan Ancol.

Bus Transjakarta juga nggak mau ketinggalan . Koridor 5 siap mengantar sampai Ancol, tinggal tanyakan saja transit di mana. Umumnya transit di halte Senen.

Kalo naik angkutan umum biasa, bisa dari Kampung Rambutan naik PPD P31, jurusan Kampung Rambutan – Ancol. Kalo dari Blok M naik aja Steady Safe 116 atau Jasa Utama P125 jurusan Tanjung Priuk (kalo bis itu masih ada). Kalo dari Grogol naik PPD P32 jurusan Ancol.

Karena wahananya sangat banyak di Ancol, sebaiknya berangkat pagi. Jika mau masuk ke Dufan, siap-siap bawa baju ganti, karena banyak permainan basah-basahan, dan tentu saja uang yang cukup, karena rata-rata tiket di Ancol relatif mahal bagi masyarakat kebanyakan. Maka itu kalau sudah kesana ya seharian, sayang duitnya udah bayar mahal kalo, cuma sebentar (masa kalah sama naik bis P54, bayar cuma Rp 2.500, bisa 3 jam).

4. Taman Mini Indonesia Indah

Ini tempat wisata legendaris. Disini sambil berwisata juga belajar mengenal daerah-daerah di Nusantara. Nggak perlu keliling Indonesia, cukup mampir di anjungan-anjungan yang mewakili provinsi-provinsi di Indonesia, hanya dengan merogoh kocek Rp 10.000.

Seulawah di TMII

Selain itu, ada museum-museum yang bisa menambah pengetahuan, biar nggak kuper. Contohnya ada Museum Transportasi (ini yang pas dengan blog ini), Museum Listrik, Museum Keprajuritan, Museum Komodo dan banyak lagi. Selain itu ada Snow bay tempat berenang, Teater Imax, Taman Burung. Ada Aeromovel (yang cuma ada 2 didunia, satunya lagi di Brasil), Kereta Gantung, dan…. wah pokoknya banyak coba klik aja http://www.tamanmini.com.

sepur kluthuk di museum transport TMII

Mau kesana gampang, angkutannya bisa pake metromini T45 dari Pulogadung. Dari Bekasi bisa naik KWK40 jurusan Kampung Rambutan. Kalau dari arah selatan, misalnya Ragunan, bisa naik KWK S15 A. Dari Depok, silakan naik KWK S19. Dari Cililitan bisa naik KWK T01, T02 dan T05.

Meskipun gak ada jalur KRL, jangan kuatir masih ada busway, yaitu Koridor 9, Pinang Ranti-Pluit. Kalo dari Blok M misalnya, bisa naik koridor 1, terus berhenti di Halte Benhil, dan pindah ke Halte Semanggi. Disini anda akan melewati transit busway terpanjang di indonesia. Terus naik Koridor 9 menuju Pinang Ranti, dan turun di Halte Garuda (TMII).

Empat dulu yah…nanti dilanjutkan lagi dengan obyek wisata lain. Capek kan keliling satu obyek wisata aja bisa makan waktu seharian.

Bosan dengan keadaan seperti ini ? :

Macet di Jalur Utama

Mau gimana lagi… angkutan sehari-hari emang jalurnya lewat situ. Tapi, tunggu dulu, Siapa bilang naik angkot gak bisa milih jalur? Kalau bis/angkotnya (apalagi kalo busway atau KRL), ya susah ambil alternatif jalan. Tapi ingat ini Jakarta bung! banyak jalan menuju Jakarta.

Maksudnya bukan angkutannya disuruh cari jalur lain, tapi kita milih angkutan yang lain. Ada baiknya jika ada waktu atau agak santai mencoba alternatif angkutan lain, sekadar supaya tidak bosen, cari pengalaman atau alternatif jika jalur yang biasa bermasalah. Kalau teman saya alasannya supaya tidak bisa diketahui pola perjalanannya (sok misterius). Tapi keputusan itu dia ambil setelah kecurian laptop di mobilnya, gara-gara dihapalkan orang dia selalu naruh laptop di jok mobil depan sebelah kiri. Jadi sekarang polanya dia kadang naik mobil, kadang naik motor, kadang lewat jalan sini, kadang lewat sono, kadang naik bis, kadang naik KRL, tergantung situasi dan suasana hati.

Error in 106

Ada pengalaman saya waktu mencoba jalur pulang dari Lebak Bulus ke Depok. Waktu itu bulan puasa, dan pulang kantor lebih cepat. Sampai di Terminal Lebak Bulus, timbul keinginan untuk mencoba angkot 106 tujuan Parung. Jalur standar naik Deborah kecil, tapi ya gitu itu. Namanya DEBORAH, ya pasti DEkil, BObrok dan geRAH. Mumpung agak sore,  saya naik saja angkot 106 yang sudah terisi banyak, langsung jalan. Tapi… baru jalan beberapa meter sudah dihadang kemacetan parah, nyaris tak bergerak di Pasar Jumat ke arah Cirendeu. Sudah telanjur, nikmati aja. Sampai Pondok Cabe, penumpang mulai banyak turun. Hari sudah gelap. Akhirnya cuma saya yang turun di Parung, kemudian lanjut angkot D-03 arah Depok (harusnya turun di Bojongsari, tapi gimana lagi namanya knowless, coba-coba). Sampe rumah, orang-orang sudah pulang sholat Terawih. Jadi pilihan trial & error mencoba jalur alternatif itu hasilnya gagal, alias error (bayarnya mahal lagi). Baru setahun kemudian saya tahu jalur itu efektif jika pagi hari, tapi arah berlawanan (dari Parung ke Lebak Bulus) karena angkot 106 itu memasuki jalur cepat pondok cabe (dia masuk jalur kanan melawan arus. Jika tidak, penumpang bisa protes). Lain jam, beda efektivitasnya.

Error in Pondok Labu, & try again

Agak trauma dengan pengalaman error itu, saya jadi agak berhati-hati dengan trial & error. Namun godaan selalu ada karena di depan hidung ada angkot Pondok Labu-Pasar Jumat, dan angkot 02 Ciputat-Pondok Labu yang warnanya putih. Sebelum mencoba jalur Pondok Labu, saya kumpulkan informasi. Sebenarnya daerah itu sudah familiar, karena itu jalur saya bila memakai kendaraan pribadi. Info yang saya dapatkan :

1. Jalur Fatmawati selalu macet

2. Angkot KWK S-16 dari Pondok Labu ke Depok (Mampang) tidak ‘ngalong’, alias cuma sampai jam 7.

3. Angkutan alternatif dari Pondok Labu ke Depok adalah 105 yang lewat Gandul (ini sudah sering saya coba, tapi jalurnya muter-muter).

4. Ongkos Angkutan ke Pondok Labu Rp 3.000, S-16 Rp 4.000

Citra dari Google Maps saya unduh :

Areal Pondok Labu

Ok, dengan informasi itu maka saya putuskan naik angkot Pasar Jumat ke Pondok Labu. Sialnya, saya lupa kalau jalur Arteri Pondok Indah macet berat. Jadi hampir satu jam baru bisa mencapai Pasar Jumat. Saat itu sudah jam 6. Sampai ke Pondok Labu, tidak saya jumpai S-16, saya tanyakan ke sopir angkot-angkot disana katanya sudah habis (padahal belum jam 7). Dan disitu (depan Pasar Pondok Labu/ terminal bayangan II) gak ada angkot 105. Ya udah, saya naik 114 ke Cinere, kemudian lanjut 110 ke Depok. Jadi muter-muter, kesimpulannya : Error. Gagal.

Penasaran….  Seminggu kemudian saya lihat ada angkutan 02, Ciputat – Pondok Labu sedang berlabuh di perempatan Poinsquare, langsung aja saya naiki. Jalan gak seberapa macet, sampai Fatmawati baru terasa macet. Apalagi memasuki jalan menuju perempatan DDN Pondok Labu. Tampak 105 bertebaran di terminal bayangan I. Jalan macet banget hanya bisa dilalui 1 mobil.

Kemudian di perempatan DDN Pondok Labu, tampak angkot S-16 yang menyolok karena merah warnanya bertengger menunggu penumpang. Saat itu pukul 18.30.

S16 di Perempatan DDN

Oh, disini rupanya si S-16 kalau malam. Rupanya sopir angkot-angkot itu pada nggak ngerti apa pura-pura ya waktu saya tanya di trial & error pertama di Pondok Labu? makanya gak ada S-16 disana. Perjalanan dilanjutkan tanpa hambatan, dan hasil trial & error ini berhasil. Lain kali saya mau jalan aja menuju perempatan DDN, macet, lebih cepat kalau jalan kaki. Kalau gak ada S-16, bisa naik 105 ke perempatan Grogol-Cinere oper 110, lebih cepat.

Jalur angkot di jalan perkampungan/perumahan lebih santai, dan duduknya tidak seperti di bis. Interaksi dengan sopir lebih dekat sehingga terbuka kesempatan menjalin hubungan dengan sopir, eh, nggakkk… maksudnya mencari info lebih, agar blog ini lebih kaya isinya.