Posts Tagged ‘tiket’

Tiket Bus Online

Posted: 27 November 2014 in angkutan umum
Tag:, , , ,

image

Meskipun sangat jarang, ternyata sekarang sudah ada pemesanan tiket bus dengan cara online seperti KA dan pesawat.

Berikut daftar situs pemesanan tiket Bus online :

1. Kramatdjati Bandung : khusus bus Kramatdjati Bandung

2. Easybook : khusus bus Menggala, Nusantara, Zentrum

3. Bejeu : Khusus Bus Bejeu

 

Sementara ini dulu.

Iklan

Transportasi berbasis rel adalah transportasi umum yang diandalkan di banyak negara dari jaman kolonial hingga sekarang ini. Termasuk juga di Indonesia, meskipun sering disia-sia dan dipinggirkan. Berbicara mengenai MRT, ternyata wujudnya juga moda transportasi yang mempunyai jalur khusus, atau berbasis rel. Sebelum membayangkan hal-hal besar mengenai MRT nanti, mari kita melihat kondisi transportasi rel di Indonesia, yaitu KRL atau KA.

Kereta Api dan KRL Jabodetabek.  Kedua moda transportasi yang notabene masih dalam satu atap inipun ternyata tidak terintegrasi dengan baik. Memang benar stasiunnya maupun jalur keretanya sama, tapi hanya fisiknya saja yang ‘menyatu’. Tidak dengan sistemnya. Gambarannya begini, misalnya saya dari stasiun Depok akan menuju Stasiun Gambir untuk naik KA Argo Bromo Anggrek Malam yang berangkat Jam 19.30, jadwal KRL yang paling pas adalah Commuter Line 607 relasi Bogor-Jakarta Kota, yang jadwalnya sampai di Gambir pukul 19.15. Artinya saya cuma perlu menunggu 15 menit. Kalau semua lancar, tidak jadi masalah. Tapi kalau misalnya, KRL 607 itu terlambat sehingga saya ketinggalan KA Argo Bromo, nasib yang saya terima adalah tiket KA Argo Bromo itu akan hangus. Hal seperti itu sudah lumrah, dan biasanya dikatakan kesalahan ada pada saya kenapa kok mepet waktunya.

Saya mengajak berpikir sebentar menggugat hal yang ‘lumrah’ tersebut. Masalahnya bukanlah pada mepetnya waktu, melainkan pada tanggung jawab atas service level yang diberikan, terutama pada ketepatan jadwal. Seandainya skenarionya saya ubah, misalnya saya naik KRL Commuter line 601 relasi Bogor-Jakarta Kota, yang jadwalnya sampai di Gambir pukul 18.45, jadi ada waktu tunggu 45 menit. Seandainya KRL 601 itu juga terlambat sehingga saya juga ketinggalan KA Argo Bromo, apakah tiket Argo Bromo saya juga hangus? saya kira pasti hangus juga. Karena TIDAK ADA klausul apapun mengenai penggantian tiket KA diakibatkan kita terlambat sehingga ketinggalan KA. Jadi semua dibebankan ke konsumen. Padahal KA dan KRL masih dalam naungan PT KA.

Kalau dicari-cari kesalahan kita lagi, misalnya sudah tahu KRL mengalami keterlambatan lebih dari 45 menit, kenapa tidak berpindah ke angkutan lain. Wah… ini sih tidak bertanggung jawab namanya. Ketika kita memutuskan untuk naik KRL, artinya kita sudah mengeset waktu sesuai dengan perjalanan KRL. Ketika KRL mengalami trouble ditengah perjalanan misalnya di Tanjung Barat, berganti moda transport, misalnya bis atau taksi menuju Gambir di tengah jam sibuk (jam pulang kantor) akan memakan waktu lebih dari satu jam, belum termasuk waktu transitnya. Artinya kemungkinan besar akan terlambat juga.

Kita memilih KRL karena mengandalkannya. Dan yang sudah dipilih, harusnya bertanggung jawab atas ‘janji-janjinya’. Jadwal itu janji lho.

Lebaran sudah dalam hitungan hari. Namun ada ‘keajaiban-keajaiban’ yang terjadi, khususnya di perkeretaapian.

Tiket

Seperti yang pernah saya tulis disini, kereta api merupakan angkutan favorit, dengan perjuangan memperoleh tiket yang luar biasa susah dan ajaib. Waktu pembukaan penjualan tiket, loket baru buka 30 menit, tiket KA, termasuk KA Argo Anggrek, sudah langsung habis seperti air jatuh ke pasir gurun.

Namun…. hari ini saya membuka detik.com, dan membaca bahwa tiket KA Argo Anggrek tujuan Surabaya masih banyak tersisa. Rata-rata tiap perjalanan antara tanggal 26 – 30 Agustus 2011 hanya terjual tak sampai sepertiganya.

Fakta dibelakang Fenomena aneh ini :

saya coba menduga karena;

1. Harga tiket KA Argo Anggrek sudah mendekati harga tiket pesawat.

2. Untuk jurusan Surabaya, KA menghadapi persaingan dari pesawat udara, apalagi banyak extra flight

3. Tiket yang belum habis adalah tiket KA tambahan, dimana orang yang tak kebagian di penjualan pertama sudah membeli tiket lain (KA lain atau moda angkutan lain).

Namun saya tetap heran… sudah menjadi pengalaman bertahun-tahun bahwa penjualan tiket KA eksekutif perdana selalu ludes, namun PT KA tetap tidak (berani ?) mengeluarkan tiket tambahan ketika tiket pertama sudah terbukti sukses berat. Jeda waktu antara penjualan tiket pertama dan tiket tambahan terlalu panjang, dan kesempatan antara waktu itu sudah diambil oleh pihak lain, terutama maskapai penerbangan. Para pemudik KA terutama adalah keluarga, tentu mempunyai perencanaan mudik jauh-jauh hari dan nggak mau gambling menunggu adanya tiket tambahan.

 

Sidak Semu

Rabu, 24 Agustus 2011, Wapres Boediono datang ke Stasiun Senen. Lho, apa mau mudik pake kereta? wah ini baru berita, apalagi Stasiun Senen kan pangkalannya kereta ekonomi. He, jangan salah, Pak Wapres hanya mau meninjau persiapan mudik di Stasiun Senen. Hasil kunjungan tersebut membuahkan kepuasan di muka Pak Wapres. Kereta ekonomi ternyata tertib dan tak ada yang berdiri. Padahal sebagai praktisi, saya melihat untuk perjalanan di hari biasa non lebaran saja pasti ada yang berdiri dan berdesakan, apalagi lebaran. Kok bisa ya?

Fakta dibelakang Fenomena aneh ini :

1. Ada larangan dan pembatasan penumpang masuk ke peron stasiun, saya baca disini.

2. Kelihatannya sudah dipersiapkan dan diatur kereta yang akan disidak. Ini tuduhan saya, karena faktanya banyak yang tak dapat tempat duduk.

Saya masih bertanya-tanya, mengenai pelarangan penumpang untuk masuk ke peron. Apakah ini berkaitan dengan kunjungan Wapres, ataukah kebijakan stasiun untuk lebaran? Kereta Api kelas Ekonomi mempunyai tempat duduk terbatas, sedangkan tiket yang dijual melebihi tempat duduk. Sehingga sudah menjadi kebiasaan bertahun-tahun, banyak pemudik yang datang awal untuk berusaha mendapat posisi yang lebih nyaman di gerbong. Dan mereka datang nggak tanggung-tanggung, kadang bisa sehari sebelumnya, hanya sekadar mendapat tempat yang dirasa lebih ‘nyaman’. Menghalangi penumpang masuk lebih awal ke peron tanpa sosialisasi lebih dulu atau menyediakan tempat tunggu yang layak akan menyiksa banyak calon pemudik.

Kemudian… apa sih untungnya dengan kondisi ‘semu’ kereta ekonomi yang dilihat Pak Wapres? Apa senang kalo nanti dalam pikiran Pak Wapres itu, PT KA sudah baik & layak memenuhi kebutuhan penggunanya. Lha ngapain PT KA menyebut-nyebut kekurangan fasilitas, infrastruktur, dan keluhan-keluhan lainnya? wong nyatanya KA lebaran saja sepi, nggak ada yang berdiri kok.