Posts Tagged ‘transport’

“Libur t’lah tiba ! Libur t’lah tiba… Hatiiiii ku gembiraaaa…!”

Ya, liburan sekolah sudah tiba. Mau kemana ini ???

Di Daerah Jakarta dan sekitarnya, ada banyak tempat yang mudah dicapai oleh angkutan umum.

1. Taman Margasatwa Ragunan

Gadjah di Ragunan

Disinilah tempat ‘madakno rupo‘ di Jakarta. Tempat hiburan yang murah meriah. Harga tiketnya cuma Rp 4.000. Disini banyak binatang (jelas, kan kebun binatang), ada danau wisatanya dan ada bumi perkemahan. Lebih baik membawa tikar untuk lesehan setelah penat berjalan-jalan. Kalo tidak mau bawa, bisa beli sebelum pintu masuk, cuma goceng. Atau kalo mau di dalam juga ada yang menyediakan sewanya (sudah dihampar). Banyak warung makanan dan asongan (sayangnya ini cukup mengganggu karena terlalu banyak), jadi jangan kuatir kehausan atau kelaparan. Masalah harga dan rasa ya silakan tanggung sendiri.

Walk in Ragunan

Ada banyak angkutan umum yang singgah disini.

Transportasi utama adalah Bis Transjakarta koridor 6 (Ragunan – Dukuh Atas).

Jika dari Pulogadung, naik koridor 4, turun halte Halimun, pindah koridor 6, kemudian keluar ke Halte Dukuh Atas 2, karena koridor 6 yang ini dari Ragunan. Lalu pindah ke koridor 6 juga, tapi arah sebaliknya, yang ke Ragunan.

Jika dari Blok M, ini agak muter, karena jika naik Koridor 1, harus transit ke Dukuh Atas ke Dukuh Atas 2, untuk pindah ke Koridor 6 tujuan Ragunan. Jadi secara jarak lebih baik nggak pake Busway, melainkan naik Metromini 77 jurusan Ragunan Blok M.

Jika dari Kalideres, naik Koridor 3, turun di Halte Dukuh Atas, kemudian naik koridor 1, dan transit ke Dukuh Atas ke Dukuh Atas 2, untuk pindah ke Koridor 6 tujuan Ragunan.

Jika dari Kampung rambutan, naik Koridor 7, pindah ke Koridor 9 di Halte Pasar Kramatjati, turun di Halte Kuningan Barat, jalan ke Halte Kuningan Timur, akhirnya akan ketemu Koridor 6 disitu yang menuju Ragunan.

Jika dari Lebak Bulus…. mendingan nggak naik busway dari situ deh. Soalnya akan dibawa dulu ke Harmoni, padahal kan udah dekat Ragunan….. jadi  naik Kopaja P20 ke Mampang, dari situ naik Busway Koridor 6 ke Ragunan. Atau kalo mau langsung dari lebak bulus naik saja KWK 011 jurusan Pasar Minggu.

Selain Busway, banyak Angkutan lainnya. Jika dari Tanah Abang, bisa naik Kopaja 19 dan Kopaja 985 yang melalui Blok M. Kalau dari Kampung Melayu bisa naik Kopaja 68 dan 602 yang melalui Pasar Minggu. Dari Depok bisa ke Pondok Labu dulu (naik 105 atau S16), terus bisa naik Kopaja atau Mikrolet M20 ke Ragunan, atau dari Cinere naik 61.

Jika Dari Taman Mini bisa naik Mikrolet Merah (KWK) 15A.

Jika naik KRL, stasiun yang terdekat adalah stasiun Tanjung Barat atau Stasiun Pasar Minggu. Untuk pilihan angkutan, mendingan ke Stasiun Pasar Minggu, karena dekat terminal, meskipun di Stasiun Tanjung Barat lebih cepat karena jalur menuju Ragunan searah, naik KWK S15.

2. Monas

Belum ke Jakarta namanya kalo belum pernah ke Monumen Nasional (Monas), tugu setinggi 132 meter.  Tugu ini dimahkotai lidah api yang dilapisi  emas.  Monas dibuka setiap hari mulai pukul 08.00 – 15.00. Pada hari Senin pekan terakhir setiap bulannya ditutup untuk umum. Di Ruang Kemerdekaan di Monas, disimpan naskah asli proklamasi.

Lokasinya sangat strategis karena di tengah kota dan dekat Stasiun Gambir. Disana ada Diorama Sejarah Perjuangan Bangsa, taman, dan melihat Jakarta dari Puncak Monas. Kalau hari Minggu pagi banyak orang berjualan dan berolahraga.

Monas, lanskap Jakarta

Angkutan Utama adalah KRL, turun Stasiun Gambir. Dari situ Monas sudah kelihatan. Namun karena saat ini (sebelum single operation KRL), cuma KRL Ekspres yang berhenti di Monas. Kalo KRL lain berhenti didekat situ (stasiun Juanda atau Gondangdia terus naik Bajaj/ojek). Nanti kalo single operation berjalan, dari semua stasiun jalur Depok/Bogor bisa, misalnya dari Pasar Minggu, dari Lenteng, dari Cawang.

Kalo naik Busway,  yang lewat Gambir/Monas adalah Koridor 2. tapi jangan lupa tanyakan transitnya. Misalnya dari Cawang, naik koridor 9 ke halte Semanggi, transit ke halte Benhil (Bendungan Hilir), terus naik koridor 1 ke halte Harmoni untuk pindah ke Koridor 2, sampe ke halte senen, pindah koridor 2 arah sebaliknya.

Kalau naik bis biasa, misalnya dari Blok M, naik PPD P42 tujuan Senen. Kalo dari Kampung Rambutan naik aja PPD PAC79 jurusan Kota. Dari Slipi bisa naik P77. Tapi pengalaman saya, paling enak memang busway.

3. Ancol

Ini tempat wisata yang populer banget. Ada Dunia Fantasi, Gelanggang Samudra, Seaworld, Kolam Renang (atlantis), Pasar Seni, Outbond, dan tentu saja pantai.

Halilintar di Dufan

Tempat ini bisa dijangkau KRL langsung dari Bogor/Depok dan Bekasi, namun khusus hanya hari Minggu. Jadwalnya silakan lihat di sini. Kalo pas bukan hari Minggu, bisa turun di Stasiun Jakarta Kota, lalu naik Mikrolet 15A jurusan Priuk. Atau turun di Stasiun Senen, lalu naik Busway Koridor 5 tujuan Ancol.

Bus Transjakarta juga nggak mau ketinggalan . Koridor 5 siap mengantar sampai Ancol, tinggal tanyakan saja transit di mana. Umumnya transit di halte Senen.

Kalo naik angkutan umum biasa, bisa dari Kampung Rambutan naik PPD P31, jurusan Kampung Rambutan – Ancol. Kalo dari Blok M naik aja Steady Safe 116 atau Jasa Utama P125 jurusan Tanjung Priuk (kalo bis itu masih ada). Kalo dari Grogol naik PPD P32 jurusan Ancol.

Karena wahananya sangat banyak di Ancol, sebaiknya berangkat pagi. Jika mau masuk ke Dufan, siap-siap bawa baju ganti, karena banyak permainan basah-basahan, dan tentu saja uang yang cukup, karena rata-rata tiket di Ancol relatif mahal bagi masyarakat kebanyakan. Maka itu kalau sudah kesana ya seharian, sayang duitnya udah bayar mahal kalo, cuma sebentar (masa kalah sama naik bis P54, bayar cuma Rp 2.500, bisa 3 jam).

4. Taman Mini Indonesia Indah

Ini tempat wisata legendaris. Disini sambil berwisata juga belajar mengenal daerah-daerah di Nusantara. Nggak perlu keliling Indonesia, cukup mampir di anjungan-anjungan yang mewakili provinsi-provinsi di Indonesia, hanya dengan merogoh kocek Rp 10.000.

Seulawah di TMII

Selain itu, ada museum-museum yang bisa menambah pengetahuan, biar nggak kuper. Contohnya ada Museum Transportasi (ini yang pas dengan blog ini), Museum Listrik, Museum Keprajuritan, Museum Komodo dan banyak lagi. Selain itu ada Snow bay tempat berenang, Teater Imax, Taman Burung. Ada Aeromovel (yang cuma ada 2 didunia, satunya lagi di Brasil), Kereta Gantung, dan…. wah pokoknya banyak coba klik aja http://www.tamanmini.com.

sepur kluthuk di museum transport TMII

Mau kesana gampang, angkutannya bisa pake metromini T45 dari Pulogadung. Dari Bekasi bisa naik KWK40 jurusan Kampung Rambutan. Kalau dari arah selatan, misalnya Ragunan, bisa naik KWK S15 A. Dari Depok, silakan naik KWK S19. Dari Cililitan bisa naik KWK T01, T02 dan T05.

Meskipun gak ada jalur KRL, jangan kuatir masih ada busway, yaitu Koridor 9, Pinang Ranti-Pluit. Kalo dari Blok M misalnya, bisa naik koridor 1, terus berhenti di Halte Benhil, dan pindah ke Halte Semanggi. Disini anda akan melewati transit busway terpanjang di indonesia. Terus naik Koridor 9 menuju Pinang Ranti, dan turun di Halte Garuda (TMII).

Empat dulu yah…nanti dilanjutkan lagi dengan obyek wisata lain. Capek kan keliling satu obyek wisata aja bisa makan waktu seharian.

Iklan

Bosan dengan keadaan seperti ini ? :

Macet di Jalur Utama

Mau gimana lagi… angkutan sehari-hari emang jalurnya lewat situ. Tapi, tunggu dulu, Siapa bilang naik angkot gak bisa milih jalur? Kalau bis/angkotnya (apalagi kalo busway atau KRL), ya susah ambil alternatif jalan. Tapi ingat ini Jakarta bung! banyak jalan menuju Jakarta.

Maksudnya bukan angkutannya disuruh cari jalur lain, tapi kita milih angkutan yang lain. Ada baiknya jika ada waktu atau agak santai mencoba alternatif angkutan lain, sekadar supaya tidak bosen, cari pengalaman atau alternatif jika jalur yang biasa bermasalah. Kalau teman saya alasannya supaya tidak bisa diketahui pola perjalanannya (sok misterius). Tapi keputusan itu dia ambil setelah kecurian laptop di mobilnya, gara-gara dihapalkan orang dia selalu naruh laptop di jok mobil depan sebelah kiri. Jadi sekarang polanya dia kadang naik mobil, kadang naik motor, kadang lewat jalan sini, kadang lewat sono, kadang naik bis, kadang naik KRL, tergantung situasi dan suasana hati.

Error in 106

Ada pengalaman saya waktu mencoba jalur pulang dari Lebak Bulus ke Depok. Waktu itu bulan puasa, dan pulang kantor lebih cepat. Sampai di Terminal Lebak Bulus, timbul keinginan untuk mencoba angkot 106 tujuan Parung. Jalur standar naik Deborah kecil, tapi ya gitu itu. Namanya DEBORAH, ya pasti DEkil, BObrok dan geRAH. Mumpung agak sore,  saya naik saja angkot 106 yang sudah terisi banyak, langsung jalan. Tapi… baru jalan beberapa meter sudah dihadang kemacetan parah, nyaris tak bergerak di Pasar Jumat ke arah Cirendeu. Sudah telanjur, nikmati aja. Sampai Pondok Cabe, penumpang mulai banyak turun. Hari sudah gelap. Akhirnya cuma saya yang turun di Parung, kemudian lanjut angkot D-03 arah Depok (harusnya turun di Bojongsari, tapi gimana lagi namanya knowless, coba-coba). Sampe rumah, orang-orang sudah pulang sholat Terawih. Jadi pilihan trial & error mencoba jalur alternatif itu hasilnya gagal, alias error (bayarnya mahal lagi). Baru setahun kemudian saya tahu jalur itu efektif jika pagi hari, tapi arah berlawanan (dari Parung ke Lebak Bulus) karena angkot 106 itu memasuki jalur cepat pondok cabe (dia masuk jalur kanan melawan arus. Jika tidak, penumpang bisa protes). Lain jam, beda efektivitasnya.

Error in Pondok Labu, & try again

Agak trauma dengan pengalaman error itu, saya jadi agak berhati-hati dengan trial & error. Namun godaan selalu ada karena di depan hidung ada angkot Pondok Labu-Pasar Jumat, dan angkot 02 Ciputat-Pondok Labu yang warnanya putih. Sebelum mencoba jalur Pondok Labu, saya kumpulkan informasi. Sebenarnya daerah itu sudah familiar, karena itu jalur saya bila memakai kendaraan pribadi. Info yang saya dapatkan :

1. Jalur Fatmawati selalu macet

2. Angkot KWK S-16 dari Pondok Labu ke Depok (Mampang) tidak ‘ngalong’, alias cuma sampai jam 7.

3. Angkutan alternatif dari Pondok Labu ke Depok adalah 105 yang lewat Gandul (ini sudah sering saya coba, tapi jalurnya muter-muter).

4. Ongkos Angkutan ke Pondok Labu Rp 3.000, S-16 Rp 4.000

Citra dari Google Maps saya unduh :

Areal Pondok Labu

Ok, dengan informasi itu maka saya putuskan naik angkot Pasar Jumat ke Pondok Labu. Sialnya, saya lupa kalau jalur Arteri Pondok Indah macet berat. Jadi hampir satu jam baru bisa mencapai Pasar Jumat. Saat itu sudah jam 6. Sampai ke Pondok Labu, tidak saya jumpai S-16, saya tanyakan ke sopir angkot-angkot disana katanya sudah habis (padahal belum jam 7). Dan disitu (depan Pasar Pondok Labu/ terminal bayangan II) gak ada angkot 105. Ya udah, saya naik 114 ke Cinere, kemudian lanjut 110 ke Depok. Jadi muter-muter, kesimpulannya : Error. Gagal.

Penasaran….  Seminggu kemudian saya lihat ada angkutan 02, Ciputat – Pondok Labu sedang berlabuh di perempatan Poinsquare, langsung aja saya naiki. Jalan gak seberapa macet, sampai Fatmawati baru terasa macet. Apalagi memasuki jalan menuju perempatan DDN Pondok Labu. Tampak 105 bertebaran di terminal bayangan I. Jalan macet banget hanya bisa dilalui 1 mobil.

Kemudian di perempatan DDN Pondok Labu, tampak angkot S-16 yang menyolok karena merah warnanya bertengger menunggu penumpang. Saat itu pukul 18.30.

S16 di Perempatan DDN

Oh, disini rupanya si S-16 kalau malam. Rupanya sopir angkot-angkot itu pada nggak ngerti apa pura-pura ya waktu saya tanya di trial & error pertama di Pondok Labu? makanya gak ada S-16 disana. Perjalanan dilanjutkan tanpa hambatan, dan hasil trial & error ini berhasil. Lain kali saya mau jalan aja menuju perempatan DDN, macet, lebih cepat kalau jalan kaki. Kalau gak ada S-16, bisa naik 105 ke perempatan Grogol-Cinere oper 110, lebih cepat.

Jalur angkot di jalan perkampungan/perumahan lebih santai, dan duduknya tidak seperti di bis. Interaksi dengan sopir lebih dekat sehingga terbuka kesempatan menjalin hubungan dengan sopir, eh, nggakkk… maksudnya mencari info lebih, agar blog ini lebih kaya isinya.

Melanjutkan tulisan mengenai hitung-hitungan biaya transportasi para penglaju (komuter) di Jakarta, berikut saya tampilkan lagi tabel perbandingan mengenai biaya transpor, karena banyak yang penasaran dengan model perhitungan biaya yang saya tampilkan terdahulu.

Kali ini lebih detail, residual value saya tampilkan. Konsekuensinya, saya juga memasukkan biaya servis besar dan asuransi. Asuransi? ya, soalnya tidak memasukkan biaya kerusakan dan biaya lain yang bersifat insidental. Residual value itu nilai sisa, jadi pada saat kendaraan telah melewati masa ekonomisnya (saya asumsikan di sini 5 tahun), mempunyai nilai pasar sebesar itu. Saya memakai asumsi inflasi 5%, tingkat penyusutan sepeda motor lebih tinggi daripada mobil (karena dipakai melebihi pemakaian normal), dan di-present value-kan.

calculation of transport cost (advanced)

calculation of transport cost (advanced)

Masih memakai contoh yang sama seperti tulisan terdahulu, perjalanan sehari dari Depok ke Slipi p.p., (kurang lebih 60 km p.p.).  Hasilnya masih sama, yang termurah tetap Bis Patas non AC, termahal mobil. Namun biayanya untuk mobil dan sepeda motor agak turun, karena penyusutannya sudah dikurangi residual value.

Memang biaya sepeda motor bisa turun ke peringkat 3 termahal apabila asuransi tak dimasukkan. Namun ya itu tadi, saya tidak memasukkan biaya insidental, jadi sebagai gantinya ya asuransi.

Sekarang dengan biaya seperti itu, saya coba masukkan dalam tabel proporsi biaya vs gaji :

Kalau saya pake hitung-hitungan bisnis, biaya transportasi yang lazim di dunia bisnis adalah 13%.  Jadi melihat tabel itu, mobil small MPV cocoknya memang dipake oleh mereka yang berpenghasilan sekitar Rp 30 juta keatas. Bahkan sepeda motor pun harusnya cocok dipake untuk yang berpenghasilan diatas Rp 5 juta.

Lantas kenapa kendaraan pribadi banyak sekali di Jakarta? apa penghasilan mereka memang setinggi itu?

Ok, itu kan dunia. Kalo di Indonesia, mengingat infrastruktur yang ada, rata-rata biaya transport 30%, jadi yang berpenghasilan diatas Rp 10 juta masih merasa cocok memakai mobil. Lha wong tetangga saya yang gajinya segitu aja bisa pake mobil, masa saya nggak, begitu pikiran kita semua. Juga motor dipikir bisa dipake untuk yang berpenghasilan mulai Rp 2,5 juta. Yang membantu hal ini adalah banyak dan mudahnya pembiayaan untuk kepemilikan kendaraan bermotor. Wah, kalau beban bunga saya masukkan, makin melonjak biaya transport untuk kendaraan pribadi itu.

Dengan makin macetnya Jakarta, makin mahalnya BBM dan Pajak Kendaraan Bermotor, bisa-bisa bangkrut di jalan, terutama untuk kendaraan pribadi.

going to JKT

going to JKT

Namun ini yang menjengkelkan, lagi-lagi ujungnya minta penghasilan dinaikkan, artinya standar gaji di Jakarta makin tinggi (meskipun menyedot sumber daya dari daerah), yang lagi-lagi hasilnya makin menarik banyak orang untuk kerja di Jakarta. Artinya tambah macet lagi.

Kayak lingkaran setan ya? tapi banyak yang enjoy kok, apa memang semua sudah jadi setan?