Archive for the ‘jalan-jalan’ Category

Mumpung masih liburan, saya mau cerita tentang berlibur ke Yogyakarta. Kota ini menarik untuk dikunjungi. Lokasinya strategis, mudah dicapai dari Surabaya maupun Jakarta. Kota ini juga nyaris berdampingan dengan kota Solo. Banyak angkutan menuju Yogya, misalnya kereta api (ini angkutan favorit, jadi sering kehabisan waktu liburan).

Contohnya KA Eksekutif dari Stasiun Gambir meliputi Bima, Gajayana, Taksaka malam dan Argolawu. Kalau dari Pasarsenen tujuan Tugu, ada KA bisnis Senja Utama Yogya dan Senja Utama Solo, serta KA Ekonomi Bogowonto yang ber-AC.  Dari Stasiun Gubeng Surabaya, bisa ditempuh dengan KA Bima, Turangga dan Mutiara Selatan. Dari Bandung  ditempuh dengan Turangga, Mutiara Selatan dan Lodaya Malam.

Yogyakarta sebenarnya terlalu banyak untuk bisa diceritakan dalam blog ini. Jadi saya tulis saja yang saya tahu. Saya kemarin naik KA bisnis Senja Utama Yogya, yang tepat waktu sampai Yogyakarta (sekitar jam 5 pagi). Karena saya menginap di Hotel Grand Quality, jadi ada fasilitas penjemputan free. Saya kaget juga karena dijemput pakai Toyota Alphard (jadi baru pertama kali itu saya naik Alphard).

KA Senja Utama Yogyakarta, tak bisa tidur karena “diserang” para asongan

Masalah hotel, jangan khawatir, karena banyak sekali mulai dari bintang lima sampai losmen. Cuma di musim liburan sebaiknya booking dulu karena banyak yang penuh. Saya pesan online direct langsung dan satunya lewat Agoda.

Trans Jogja melintas Tugu

Masalah transportasi… gak masalah cari yang murah dan gak bisa dibohongi. Ada Trans Jogja. Saya lihat jurusannya sudah bisa kemana-mana. Kalo nggak sampai tujuan, bisa tanya mana lokasi terdekat, terus oper apa. Contohnya saya mau ke Borobudur, dijelaskan oper dimana dan naik apa. Kalau mau lebih cepat atau nyaman, bisa naik taksi. Tapi hati-hati, ada yang nggak pakai argo. Kalo mau lebih lancar, bisa sewa mobil, kisarannya antara Rp 300 ribu – Rp 500 ribu.

Info mengenai Yogyakarta secara lebih lebih lengkap, contohnya di http://gudeg.net/id/index.html. Kalau di android malah ada aplikasi Jogjatik, meskipun tak selengkap di internet.

Masalah tujuan wisata… wah banyak banget. Mau yang natural, seperti Pantai, banyak, seperti Parangtritis, Depok dan lain-lain. Ada juga wisata gunung Merapi, yang tetap eksotik biarpun disaat ngamuk atau tenang. Mau yang candi, ada Prambanan dan Borobudur. Ada juga yang bernuansa edukasi, seperti rumah pintar, yang tarifnya cuma Rp 8.000. Apalagi yang bernuansa tradisional… banyak sekali. Saya malah cukup naik becak keliling Malioboro, Tugu, sampai Keraton.

Saya menikmati ngobrol dengan tukang becak atau sopir taksi, yang bisa menjadi guide. Namun memang harus diperjelas dulu keinginan kita. Misalnya mau makan dimana (karena tergantung selera dan kocek), mau kemana, harganya berapa. Saya tetap pakai argometer untuk taksi. Lalu selebihnya saya kasih tips karena puas dengan jasa guidenya.

Naik Becak keliling (pusat) Jokja

Bahkan seandainya Yogyakarta belum cukup memuaskan dahaga, mau ke Solo juga dekat, naik Kereta Prameks atau Bis juga sekitar 1 jam.

Nah, pesan saya …. jangan lupa pulang. Angkutan pulang pun bisa penuh sesak dimusim liburan gini.

 

Iklan

Kramat Djati (bisnis) tujuan Palembang - Rawamangun-Lebakbulus

Melanjutkan tulisan sebelumnya, dengan ojek saya meninggalkan Palembang menuju terminal Karya Jaya. Tapi sebelum sampai terminal, terlihat Bis Kramat Djati (KD) yang ada di poolnya (lebih mirip lapo tuak), jadi saya tanyakan apa bener ini bis yang ke Lebak Bulus. Ternyata bener, jadi saya berhenti di pool KD saja, nggak usah menunggu di terminal Karya Jaya. Sialnya, keputusan ini kayaknya nggak pas. Rencana saya mau makan, apa daya di pool ‘lapo tuak’ ini nggak ada tempat makan yang layak. Mendingan saya ke terminal saja.

'lapo tuak', eh pool KD Palembang

Menjelang Pukul 13.00, Bis  berangkat menuju terminal. Terminal Karya Jaya tampak lengang, dengan genangan air disana-sini habis hujan. Karena sulit mencari warung, akhirnya ketemu asongan yang berjualan pempek, harganya cuma seribuan. Bedanya dengan di Jakarta yang digoreng garing, di sini cenderung masih ‘basah’. Jadilah makan siang dengan pempek saja dalam bis.

Kramat Djati tujuan Palembang - Bandung

Serombongan bis berangkat hampir bersamaan. Bis KD ini tipenya bisnis, tempat duduknya 38, beda dengan eksekutif yang 32 seat. Saya memandang iri pada bis KD eksekutif yang jurusan Bandung (agen KD Jl, Atmo bilang tujuan Jakarta gak punya kelas eksekutif). Namun info yang saya dapat, KD Bandung ini beda manajemen walaupun masih satu bagian perusahaan.

interior Kramat Djati klas Bisnis

Baru ketika masuk bis saya sadar kalo kursi saya gak seperti yang saya inginkan. Saya sebenarnya mau di sebelah kiri, tapi malah dapat yang kanan. Jadi berpapasan kendaraan dari arah sebaliknya. Saya agak ngeri, juga ketika malam, kena sorot lampu kendaraan dari depan. Jadi susah tidur deh.

Selama perjalanan lancar saja. Di Ogan Ilir, dua orang Sarkawi masuk. Jadi semua kursi bis terisi penuh.

dalam naungan gerimis pada sebuah perhentian di Ogan Ilir

Dihitung-hitung, sudah lebih dari sepuluh tahun saya nggak naik bis jarak jauh. Bis ini dilengkapi TV (yang nggak pernah nyala), AC, kursi kelas bis Patas AC, selimut, bantal kecil dan tersedia toilet. Untung saja AC nya nggak seberapa ‘menggigit’. Selama perjalanan, mampir hanya 2 x di restoran Padang, sekali di Ogan ilir, jam 15.00 (waktu yang nanggung) dan kedua di Lampung, malam atau dinihari (saya nggak tahu jam berapa, soalnya ngantuk banget). Makanannya bayar sendiri, jadi nggak ditanggung bis. Selama perjalanan saya nggak ke toilet sama sekali, jadi nggak tahu kebersihannya. Bis berhenti sebentar di mengisi solar yang dimanfaatkan beberapa penumpang untuk buang air.

Kelihatannya semua PO bersatu melawan hegemoni si ijo

Selama perjalanan, hampir berbarengan dan sering saling ngeblong dengan PO lain seperti Pahala Kencana (PK), Maju Lancar (ML), Ladju Prima (LP), Sari Harum (SH), dan Handoyo, tapi anehnya saya nggak lihat genk ijo yang mendominasi (Lorena), atau saya yang silap ya?

Sampai Bakeheuni, lancar-lancar saja, tak ada antrean yang berarti. Pukul 04.00 bis sudah siap dalam KMP Duta Banten. Bis dimatikan mesin dan AC nya, dan penumpang ‘diusir’ keluar bis. Ini juga sesuai dengan anjuran keselamatan dari perhubungan. Ada kisah ‘horor’ dimana ada ferry tenggelam, ada satu bis yang tewas tenggelam gara-gara malas keluar bis ketika dalam kapal.

kelas lesehan KM Duta Banten

Saya memilih kamar lesehan, sambil menonton TV, maklum berjam-jam duduk terus. Jadi karcis ‘upgrading’ dari kelas III ke kelas lesehan Rp 8.000 saya tebus (ditarik ketika saya sedang enak-enak tidur), karena jatah penumpang bis adalah kelas III. Peluit berbunyi 3 kali, dan kapal mulai berlayar (padahal gak ada layarnya).

Subuh di Pelabuhan Merak

Subuh di Pelabuhan Merak

Pukul 6 pagi, kapal merapat di pelabuhan Merak, menandai akhir perjalanan pertama saya ke Sumatera. Lepas Merak, memasuki tol menuju Jakarta dan disuguhi suasana yang tak asing lagi : MACET. Setelah melepas penumpang di Terminal Rawamangun, bis berhenti di Terminal Lebak Bulus pukul 10 lebih. Alhasil, saya baru sampai rumah pukul 12 siang. Jadi total perjalanan adalah 24 jam dari pool KD ke rumah saya.

— tribute to my wife, teman ‘tidur’ selama perjalanan —

Melanjutkan tulisan di Part-1, setelah bermalam di Jambi, dan perjalanan yang melelahkan dengan mobil travel, perjalanan lintas Sumatera dilanjutkan di kota Palembang. Baru sampai jam 14.00. Kota ini tidak akan saya lewatkan karena ada even Sea Games. Karena kesalahan prediksi waktu perjalanan (yang ternyata lebih lama), saya tidak sempat menjelajahi kota ini lebih jauh. Sebenarnya saya rencana tidak menginap, langsung naik KA Limeks yang berangkat jam 21.00 dari Palembang menuju Lampung, dan menginap di Lampung karena hotel yang layak di Palembang sudah full booked karena even Sea Games.

Pertama kali yang saya cari adalah tiket bis. Saya datangi pool Lorena di KM 9, yang ternyata kehabisan tiket untuk bis Executive tujuan Jakarta atau Bogor. Segera saya menuju Jl. Kolonel Atmo, dimana banyak agen PO bis, ternyata saya nggak keburu karena sudah tutup semua. Saya coba ke Stasiun Kertapati, menyeberangi Jembatan Ampera. Dibandingkan Jambi, Palembang adalah kota besar (metropolitan), dan saya segera mendapatkan aura kota besar, yaitu MACET. Macetnya cukup parah karena dengan menggunakan motor juga susah jalan. Sampai stasiun, tiket baru buka jam 18.00, dengan antrean yang panjang, dengan pertimbangan waktu saya urungkan naik KA, dan mencoba cari tiket bis besok pagi.

Melintas Jembatan Ampera yang mulai macet

Karena banyak yang full booked, akhirnya saya terpaksa menginap di hotel kelas melati di daerah Sudirman, yang menurut saya terlalu mahal (337 ribu untuk fasilitas dan kebersihannya yang nggak bagus). Pertimbangannya hanya karena di tengah kota, sehingga gampang kemana-mana. Agak susah tidur karena tempat tidur yang keras dan AC yang berangin kencang tanpa remote juga ramenya kendaraan terdengar jelas sampai dini hari. Setelah mandi pagi (air panasnya gak berfungsi), saya berjalan ke arah jembatan Ampera. Masih terlalu pagi, Pasar 16 ilir (bagi yang mau cari songket), masih tutup. Di bawah Jembatan Ampera, banyak yang menawari naik ketek (perahu motor kecil) ke Pulau Kemaro. Karena pertimbangan waktu juga, saya hanya berjalan ke Benteng Kuto Besak, sekitar 300 meter dari Jembatan Ampera.

Trans Musi

interior Trans Musi

Yang menarik dari kota Palembang ini adalah Bis Trans Musi. Seperti halnya Bis Trans Jakarta, bis ini punya halte khusus yang lebih tinggi. Lebih mirip Bis Trans Solo (Batik Trans) yang berukuran kecil dan tak punya jalur khusus, bis ini mengantar kemana-mana meski banyak yang harus transit. Namun biarpun transit tetap tarifnya Rp 3.000. Karcis ditarik ketika dalam bis, jadi halte tak menyediakan penjualan karcis. Haltenya ada yang berbentuk ruangan kaca, namun banyak yang menggunakan halte bis biasa dengan tambahan undak-undakan tangga untuk naiknya penumpang. Jadi sepertinya orang cacat masih kesulitan naik bis Trans Musi ini.

Saya coba naik di Halte di bawah Jembatan Ampera, mau coba ke Jakabaring, venue Sea Games 2011. Benar saja, harus transit-transit, namun petugasnya menginformasikan kita harus transit dimana. Mengenai rutenya, dapat dilihat disini. Bis ini cukup nyaman, namun kayaknya lebih lambat karena berjalan pelan dan harus transit. Sebenarnya banyak bis kota atau angkutan kota lain, namun bagi saya yang pertama kali ke Palembang, naik moda ini terasa lebih aman dan murah, tanpa khawatir tersesat atau disesatkan atau ketipu.

suasana di Halte Trans Musi

Respon petugasnya cukup baik. Mereka tak segan menjelaskan kita harus transit dimana. Juga tanggap dengan keadaan. Saat itu banyak penumpang yang hendak menuju stadion di Jakabaring (maklum, Sea Games), namun bis Trans Musi yang menuju kesana tak datang jua. Kemudian bis Trans Musi yang kearah Plaju, menjadi bis penolong yang berganti arah ke Jakabaring, sehingga penumpukan penumpang bisa teratasi.

Becak, angkutan untuk atlit di Jakabaring venue

Persiapan pulang, Bis AKAP

Sampai di Jakabaring dan membeli masuk ke arena stadion, mengambil gambar dan membeli souvenir, saya ingat harus balik lagi ke Jalan Kol. Atmo untuk cari tiket bis ke Jakarta. Naiknya tetap sama, Trans Musi, saya turun di Ampera lagi. Tiket PO Lorena sudah habis, jadi saya cari Pahala Kencana. Tiket ke Jakarta Rp 160.000, lebih murah dari Lorena yang Rp 225.000 (karena katanya beda kelas, Pahala Kencana Bisnis, Lorena Eksekutif). Tapi, lho, kok berangkat jam 15.00? terpaksa saya cancel dan cari PO Kramat Jati di seberangnya. Sebenarnya ada juga PO lain seperti Laju Prima, Maju Lancar atau Sari Harum, namun saya cari yang tujuan Lebak Bulus yang lebih dekat ke Depok.

Jalan Kol. Atmo, Palembang. banyak agen PO Bis malam dan travel

Tiket Kramat Jati juga sudah hampir habis terjual, jadi saya kebagian tempat duduk di sebelah kanan bagian belakang, yang tidak saya sukai. Tapi daripada menunggu Pahala Kencana yang berangkat jam 15.00, saya tebus saya tiket bisnis Kramat Jati seharga Rp 180.000, berangkat jam 13.00 dari Terminal Karya Jaya. Dengan waktu yang semakin mepet, saya sempatkan mandi, makan martabak Har dan belanja sebentar, kemudian check out dan mencoba mencari Taksi, karena waktunya mepet jika naik bis atau angkot.

Bis Kota biaso di Palembang

Karena Taksi bluebird susah sekali ditelpon, maka saya coba tanya Taksi Kopatas yang mangkal dekat Pertokoan IP, jalan Sudirman. Tanpa Argometer, sopirnya menawarkan tarif Rp 100.000 yang langsung saya tolak. Melihat kemacetan parah, akhirnya pilihan jatuh pada Ojek yang sedari tadi merayu-rayu. Permintaan mereka Rp 25.000 tidak saya tawar sama sekali, karena saya memang tidak tahu jaraknya berapa jauh, dan miris melihat kemacetan jalan.

Ditengah gerimis ojek kemudian melaju menembus kemacetan di sekitar Jembatan Ampera. Kayaknya macet itu karena banyak yang ke Jakabaring. Sepanjang jalan tukang Ojek bercerita tentang perkembangan Kota Palembang yang semakin pesat, sejak adanya PON. Dia juga menunjuk ke arah Sungai Musi, berkata bahwa sebentar lagi dibangun Jembatan Musi III. Sayang sekali Bis Kramat Jati ini tidak seperti Lorena yang pool nya di terminal KM 9, atau Pahala Kencana di KM 11, jadi rencana saya mau beli Pempek di KM 12 tidak terlaksana.

Palembang, wong kito galo

Selamat tinggal, Palembang. Sayang kito ndak kate banyak waktu disini.

— special thanks to Om Masri, Tante Bet, Aldi, Rian, dan Rini —

image

Latar belakang Sungai Batanghari, GA 130 persiapan mendarat

Inilah perjalanan yang sudah lama sekali saya rencanakan, tapi baru terlaksana sekarang. Sebenarnya saya merencanakan ke Padang, namun ada dua kota yang ‘wajib’ saya singgahi yaitu Jambi dan Palembang, dan setelah berhitung dengan jarak, waktu dan kemampuan tubuh saya putuskan hanya ke Jambi dan Palembang (yang kebetulan berlangsung Sea Games).

Perjalanan ke Jambi dari Jakarta tak banyak yang perlu diceritakan karena menggunakan pesawat terbang sekitar 1 jam. Dari udara terlihat Sungai Batanghari yang berkelok, dan hamparan sawit. Bandara Sultan Thaha di kota Jambi (kode DJB) relatif kecil dan tak jauh dari kota. Kota Jambi cukup besar namun tidak ramai. Angkutan kota relatif banyak namun kayaknya jalan di Jambi ini kebanyakan berputar-putar saja. Sayang saya tidak banyak menjelajahi kota ini karena singkatnya waktu. Waktu satu hari hanya habis untuk mengunjungi situs komplek candi di Muaro Jambi, yang menarik perhatian saya karena baru dikunjungi presiden.

sepinya jalan di Muaro Jambi

image

Situs Candi Muaro Jambi, tampak guest house di latar belakang

Komplek candi Muaro Jambi sekitar 30 km dari kota Jambi, melewati jalur lintas timur Sumatera, yang kemudian bersimpang jalan. Dari simpang jalan itu, tak ada kendaraan umum menuju candi, jadi harus pakai ojek atau sewa mobil. Di lokasi, karena arealnya luas, disediakan sewa motor atau sepeda bila merasa berjalan kaki mengelilingi komplek candi terlalu jauh. Memang komplek candi ini cukup luas. Bahkan ditemukan candi baru yang lokasinya di luar komplek. Jadi ada kemungkinan komplek candi akan semakin luas.

image

Candi Astano di situs Muaro Jambi

Setelah itu mencari oleh-oleh. Sebenarnya makanan khas Jambi yang terkenal adalah tempoyak durian, tapi tidak saya jumpai, mungkin karena belum musim durian. Akhirnya cuma terbawa kopi AAA (kopi kesenangan masyarakat Jambi), lempok durian, dodol kentang dan sirup kayumanis. Barang-barang itu saya beli di toko cindera mata (nama tokonya thempoyak) dan sebagian di supermarket setempat. Sempat saya lihat di Jalan Sultan Agung ada toko yang menjual batik Jambi dan roti kacang khas Jambi, namun saat itu sudah tutup karena terlalu malam.

DJB, sepucuk Jambi sembilan lurah - motif kaos oleh-oleh dari Jambi

Setelah sempat tersesat di pasar angso duo, saya akhirnya memesan travel untuk tujuan ke Jambi. Travel yang lagi naik daun adalah Ratu Intan (kabarnya sebagian armadanya memakai fortuner) namun saya cukup memakai travel Jaya Mandiri dengan mobil Avanza. Kedua travel itu ada di Jl. M. Yamin.

Esok hari saya dijemput travel ini. Mobil Avanza yang kecil diisi 5 penumpang. Untung saya tidak duduk di belakang yang sempit. Saking kecilnya, beberapa barang bawaan penumpang diiikat di atap mobil. Saya hanya membawa ransel jadi masih cukup ditaruh dalam mobil. Saya nggak bisa bayangkan kalo hujan pasti basah kuyup itu bawaan diatap mobil, kalo nggak ditutup terpal/plastik. Tarif travel Rp 110.000, dengan lama perjalanan sekitar 6 jam. Penumpang (cuma) mendapat air minum botolan plastik dan kotak snack (dibuka isinya cuma 1 roti) Penumpang diantar sampai loket, tapi bisa juga sampai tujuan bila masih dalam jangkauan. Singgah di Sungai Lilin untuk makan siang (rumah makan padang Pagi Sore). Kondisi jalan lumayan bagus sehingga bisa ngebut, namun ngeri juga dengan truk-truk yang memadati Jalur lintas timur (jalintim) Sumatera ini. Truk-truk besar, beberapa kali terlihat membawa trailer dengan muatan besar seperti alat berat berjalan bagai iring-iringan gajah yang lambat. Jalan berkelok dan naik turun membuat susah untuk menyalip. Dua kali saya melihat truk kecelakaan. “Tiap hari selalu ada kecelakaan”, kata sopir travel yang urang awak itu. Sebenarnya ada bis Jambi-Palembang, namun waktu tempuhnya bisa dapat bonus 1-3 jam daripada travel.

image

Avanza milik Jaya Mandiri Travel, persiapan berangkat dari loketnya di Jambi

laju kendaraan travel bisa lebih dari 100 kpj. bikin ndak biso tidur

Setelah perjalanan 6 jam dengan kemacetan di KM 12 (terminal) menjelang Palembang, saya memasuki Palembang yang diguyur hujan deras. Berakhir sudah part 1, kota Jambi, yang akan disusul part 2, Palembang.

— special thanks to Om Syam & tante Yur, Abi, Dedi dan Dian —

Menyambung tulisan sebelumnya, bila tulisan-tulisan sebelumnya masih seputar Jakarta, kali ketiga ini saya mau ajak jalan keluar Jakarta. Apa Jakarta sudah habis? belum… banyak yang masih bisa dieksplorasi lagi (saya tidak akan membahas ‘wisata’ mall), tapi karena sudah jenuh, mari kita keluar Jakarta. Tapi ya belum jauh-jauh, karena masih seputar Jabodetabek (tepatnya, Bogor dan Depok).

1. Taman Safari Indonesia – Cisarua

Tempat ini kayaknya favorit banget, mengingat begitu macetnya jalan menuju kesana. Jaraknya sekitar 78 Km dari Jakarta, 20 Km dari Bogor, dan 80 Km dari Bandung, kearah Puncak.

Kayaknya kalo kesana naik mobil semua. Tapi bisa kok naik angkutan umum kesana, cuma memang perjuangannya lebih banyak, karena banyak oper-oper dan merupakan angkutan pedesaan/antar kota.

Dari Jakarta harus ke Bogor dulu. Misalnya  dari terminal Lebak Bulus naik  Bis Agra Mas ke Bogor, dengan tujuan Terminal Baranangsiang. Kalo naik KRL, turun Stasiun Bogor, lanjut dengan angkot 03 (Bubulak – Baranangsiang). Dari Barangsiang kemudian naik  angkot 01 (jurusan Baranangsiang – Ciawi) transit di Tajur, naik Angkot tujuan Cisarua, turun di pertigaan Taman Safari. Selanjutnya bisa lanjut dengan angkot atau ojek untuk masuk kedalam Taman Safari Indonesia. Kalau mau jalan silakan, jaraknya sekitar 4 Km dari pertigaan Taman Safari, Jalan Puncak Raya, koordinatnya di S 6 42.859 E 106 56.834.

Kalo mau masuk, nggak boleh jalan kaki, soalnya di Taman Safari ini yang dikurung pengunjungnya, bukan binatangnya. Jadi gimana dong, kan nggak bawa mobil? tenang, Taman Safari Indonesia menyediakan angkutan khusus untuk penumpang yang nggak bawa mobil.

Udara di sini lumayan sejuk. Ada banyak penginapan di disana, baik yang disediakan Taman Safari sendiri maupun di sekitarnya (kalo kemaleman pulang). Yang perlu diingat, beberapa atraksi hanya buka di hari weekend saja. Tapi ingat juga, waktu weekend macetnya luar biasa. Jangan sampai setelah riang di sana, pulangnya ‘meriang’ karena macetnya parah banget.

2. Taman Buah Mekarsari

Taman ini ada di daerah Jonggol, Cileungsi, Bogor. Koordinatnya di S 6  24.652 dan E 106  59.271. Ada apa disana? tentu ada buah. hehehehe… gak cuma itu saja, di sana ada tempat outbound, camping ground, permainan anak dan danau wisata. Disebelahnya ada kolam renang Amazing waterpark.

Kalau mau ke danau, naik kendaraan berbentuk kereta/trem.

kereta mekarsari

Mau Mekarsari? gampang :

Dari UKI :

Naik angkot elf coklat no 59  jurusan UKI – Cileungsi,turun di Perempatan Cileungsi (dibawah fly over Cileungsi), oper angkot 64 (jurusan Jonggol), turun di depan Mekarsari.

Dari Kampung Rambutan :

Naik angkot 121 (tujuan Cileungsi), turun di perempatan Cileungsi, selanjutnya sama, naik angkot 64. Atau naik Naik bis kecil jurusan Kampung Rambutan – Jonggol turun di depan Gerbang Mekarsari.

Dari Senen :

Naik Bis Besar Metro mini (Jurusan Senen – Cileungsi), turun di perempatan Cileungsi. selanjutnya sama, naik 64.

Dari Priok :

Naik Bis  Mayasari Bhakti no 42 Jurusan Tanjung Priuk – Cileungsi, turun di perempatan Cileungsi. Terus naik 64.

Dari Pulogadung :

Naik bis kecil jurusan Pulogadung – Jonggol, turun di depan Gerbang Mekarsari

Dari Depok :

Naik angkot ke Cisalak (Misalnya D-06 Depok-Pasar Cisalak), lalu naik angkot 79, Jurusan Cisalak – Leuwi Gintung, turun didepan Plaza Cibubur, dilanjutkan naik Angkot 121 Jurusan Kp. Rambutan-Cileungsi, turun di Perempatan Cileungsi. Atau kalo dari Gas alam bisa naik Angkot P01 Jurusan Gas Alam-Cileungsi, turun di Perempatan Cileungsi. Lalu ceritanya sama, naik angkot 64.

Dari Bekasi :

Naik bis kecil jurusan Bekasi- Jonggol turun di depan Gerbang Mekarsari.

Dari Cibinong/Citeureup :

Naik angkot 64 Jurusan Jonggol. Tapi angkot ini jarang yang sampai ke Jonggol (hanya sampai ke Cileungsi) jadi dari Cileungsi harus nyambung lagi naik angkot yang sama jurusan Jonggol.

Dari Bogor :

Dari Barangsiang naik Bis kecil jurusan Bogor- Jonggol turun di depan Gerbang Mekarsari. Kalau dari Terminal Bubulak naik angkutan Elf jurusan Laladon/Bubulak – Cileungsi, turun di perempatan Cileungsi. Kalau dari Ciawi, naik angkot jurusan Ciawi – Cileungsi, turun di perempatan Cileungsi. Lalu ceritanya sama, naik angkot 64.

Dari Cianjur/Bandung :

Naik bis jurusan Jakarta yang melewati rute Jonggol, turun didepan gerbang Mekarsari.

3. Kebun Raya Bogor

Kalau ke Bogor, ada yang nggak sreg kalo nggak ke Kebun Raya Bogor. Kebun Raya ini konon berada di titik nol kota Buitenzorg (Bogor era kompeni). Disini ada istana Bogor yang berbatas pagar dan danau dengan Kebun Raya.

istana bogor dari kebun raya

Mau Kebun Raya Bogor sebenarnya sangat mudah, soalnya lokasinya memang di tengah kota Bogor, dan dekat stasiun Bogor (kota). Kebanyakan angkot melewatinya. Dari Stasiun Bogor, naik aja angkot ijo 02, jurusan Sukasari-Bubulak. Selain angkot 02, bisa naik angkot 6 (Ciheuleut-Ramayana) atau angkot 10 (Bentar- Kemang- merdeka). Tapi ingat dari Stasiun Bogor, macet karena jejeran angkot yang ngetem. Kalau mau cepat ya naik ojek, atau jalan dulu ke depan.

Kalo mau jalan kaki sih bisa juga, tak sampai 1 Km  sudah bisa sampai pagarnya Kebun Raya (tapi kalau sampe ke gerbangnya, bisa 2 Km). Tapi ingat di dalam Kebun Raya gak ada angkutan, jadi harus jalan kaki, so hematlah kaki anda.

4. Mesjid Kubah Mas dan Kampung 99 Pepohonan (Kampung Rusa)

Ini lokasinya dekat dengan Jakarta, lokasinya di Meruyung, Limo, Depok. Mesjid ini aslinya bernama Mesjid Dian Al Mahri, tapi lebih terkenal dengan sebutan Mesjid Kubah Mas, karena …… (jawab sendiri ah).

Mesjid Kubah Mas

Kalo mau kesana gampang, dari terminal Depok naik saja angkot 03 jurusan Parung (jangan khawatir kehabisan, angkot ini sangat dominan disana, bisa 24 jam). Lalu turun di pertigaan Parung bingung (kenapa dinamai gini? bingung khan?), oper angkot 102 yang banyak ngetem di pertigaan, lalu turun di seberang gerbang Mesjid Kubah Mas (kelihatan dari jalan). Kalau dari arah Cinere, bisa naik angkot 102 itu, turun di gerbang masjid (gak perlu nyeberang).

kampung 99 pepohonan

Diseberang Mesjid Kubah Mas, ada gapura menuju kampung, yang terkenal dengan sebutan Kampung 99 pepohonan (atau Kampung Rusa), disebut demikian karena ada rusa dan ada banyak pepohonan (tapi gak tahu apa jumlahnya 99). Di kampung yang berwawasan lingkungan ini ada arena outbound, membajaj.. eh membajak sawah (piracy is our culture !), dan penjualan aneka produk alami seperti yoghurt buah, susu kambing dan hasil kebun. Karena lokasinya agak masuk, kalo bingung, koordinatnya : S 6 23.092 dan E 106 45.888. Atau tanya saja orang di dekat Mesjid Kubah Mas, pasti tahu semua.

Ini menyambung tulisan terdahulu (jadi ini part-2 nya). Obyek wisata masih di daerah Jakarta

1. Planetarium & Observatorium Jakarta

Letaknya di TIM (Taman Ismail Marzuki), di Cikini. Disini ada teropong bintang, namun jadwal peneropongan malam untuk umum tidak tiap haru, silakan ditanyakan sendiri disana. Yang jelas, jadwal tetap yang ada adalah pertunjukan teater bintang di kubahnya, yang membuat kita seakan-akan kembali ke impian masa kecil menjelajah antariksa.

planetarium Jakarta (inset : Ruang Pertunjukan)

Jadwal Pertunjukan Selasa – Jumat : setiap 16:30, tapi kalo Sabtu,  Minggu dan Sabtu Libur Nasional   setiap 10:00, 11:30, 13:00, dan 14:30. Kalo Jumat Libur Nasional setiap : 10:00, 11:30, 13:00, 15:00, 16:30.

Angkutannya? kalo naik KRL  :  kereta dari Bogor/Depok atau Bekasi, atau semua kereta dari Manggarai tujuan Jakarta Kota, turun di Stasiun Kerata Api Cikini. dari Stasiun dapat menyambung dengan Metromini No. 17 arah Pasar Senen atau cukup naik Bajaj, atau ojek, atau jalan kaki (jarak sekitar 1 km).

Kalo naik Busway : Jalan Cikini tidak dilewati koridor busway, tapi ada koridor 5 (Ancol – Jatinegara) yang ‘nyerempet’, yaitu melewati Jalan Kramat Raya, berhenti di Halte Kramat Sentiong. Dari situ naik aja ojek/bajaj, atau jalan kaki (jarak sekitar 1 km). Kalo mau cara lain, naik koridor 1, turun di halte BI dan nyambung naik kopaja 502 ke arah Kampung Melayu.

Kalo naik angkutan umum biasa dari Senen/Manggarai bisa naik Metromini No. 17 Jurusan Pasar Senen – Manggarai, kalo dari Kampung Rambutan, naik Kopaja No. 57 Jurusan – Cililitan – Tanah Abang, Dari Lebak Bulus atau Mampang silakan naik Kopaja No. 20 Jurusan Pasar Senen – Lebakbulus, tapi ingat rute kembali dariLebak Bulus menuju Pasar Senen tidak lewat Planetarium.

2. Wisata Kota Tua Jakarta

Yang ini pas buat yang gemar fotografi. Karena kota tua, bangunan-bangunannya ya bangunan tua, dan banyak juga terdapat Museum. Lokasinya sih di seputaran Stasiun Beos (Jakarta Kota). Stasiun Beos itu sendiri juga termasuk bangunan wisata kota tua. Tidak jauh dari situ terdapat Museum Bank Mandiri dan Museum Batavia/Museum Fatahillah/Museum Sejarah Jakarta. Kalau mau ke Museum Bank Mandiri cukup nyebrang pake TPO (terowongan penyeberangan orang) dari arah stasiun kota ke Museum/ halte Busway.

Museum Fatahillah

Ada yang khas di wisata kota tua ini, yaitu ojek sepeda. Ojeknya rata-rata juga berusia lanjut, mungkin biar selaras dengan kota tua.

ojek sepeda

Misalnya di sekitar Museum Fatahillah. Dengan tarif sekitar Rp 30.000 (kalo belum naik), maka anda akan diantar ke pelabuhan sunda kelapa, menara syahbandar, museum bahari, jembatan kota intan dan toko merah. Saya nggak menerangkan sejarah bangunan-bangunan itu, karena tukang ojek sepeda itu yang akan menerangkannya (jadi guide). Jadi ongkos ojek itu sebenarnya juga meliputi jasa guide.

Karena lokasi kota tua di sekitar Stasiun Jakarta Kota, maka angkutannya paling pas ya naik KRL. Atau bisa juga naik busway koridor 1. Kalo naik angkutan lainnya, yang jurusan kota, misalnya Metromini 85, Lebak Bulus – Kota, atau Mayasari Bhakti P17 (kampung Rambutan-Kota).

3. Setu Babakan

Ini perkampungan cagar budaya Betawi, lokasinya di Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Bangunan rumahnya khas Betawi. Disini bisa dijumpai makanan khas betawi seperti Kerak telor, Ketupat Sayur dan lain-lain (makanan aje lu pikirin). Disini juga bisa mancing di Setu/Danau. Ada juga tempat mainan anak dan penjualan souvenir.

“Kalo ente pake angkot, kagak usah bayar. Masa masuk kampung bayar, lu pikir gue preman?  Kalo lu bawa kendaraan, nyoh parkir disono, paling seceng !” (wah aku kok iso dadi wong betawi?).

Kampung Setu Babakan

Angkotnye gampang, dari Blok M naik aje Kopaja 616 tujuan Cipedak. Itu Kopaja lewat Lenteng Agung (ISTN). Jadi kalo lu naik KRL, turun aje di Lenteng Agung. Kalo lu naik Busway, turun aje di terminal blok M.

Kalo lu dari Terminal Depok, lu naik aje angkot D 128, minta diturunin di kampung Setu Babakan ye!

4. Monumen Pancasila Sakti (Lubang Buaya)

Ini kayaknya bukan obyek wisata. Kayaknya obyek horor. Tapi gimana lagi, horor kan juga wisata. Cuma kalo ditanya anak-anak agak susah jawabnnya. “Penderitaan itu pedih Jendral !” (masih teringat filem masa kecil dulu, G30S/PKI).

Disini ada diorama mengenai peristiwa itu. Hii… “Penderitaan itu pedih Jendral !”.  Srettt…sretttt.

Diorama Monumen Pancasila Sakti

Lokasinya di Lubang Buaya, Pondok Gede, Jakarta Timur. Kalo angkutannya angkot KWK  T-05A dari Kampung Rambutan. Kalo dari UKI (Cawang) naik 461 ke arah Pd. Gede turun di Monumen Pancasila Sakti. Dari Cililitan: Naik T04 ke arah Pondok Gede turun di Monumen Pancasila Sakti. Dari Pondok Gede: Naik angkutan umum 461, K40, T04 yang ke arah Cililitan turun di Monumen Pancasila Sakti.

“Libur t’lah tiba ! Libur t’lah tiba… Hatiiiii ku gembiraaaa…!”

Ya, liburan sekolah sudah tiba. Mau kemana ini ???

Di Daerah Jakarta dan sekitarnya, ada banyak tempat yang mudah dicapai oleh angkutan umum.

1. Taman Margasatwa Ragunan

Gadjah di Ragunan

Disinilah tempat ‘madakno rupo‘ di Jakarta. Tempat hiburan yang murah meriah. Harga tiketnya cuma Rp 4.000. Disini banyak binatang (jelas, kan kebun binatang), ada danau wisatanya dan ada bumi perkemahan. Lebih baik membawa tikar untuk lesehan setelah penat berjalan-jalan. Kalo tidak mau bawa, bisa beli sebelum pintu masuk, cuma goceng. Atau kalo mau di dalam juga ada yang menyediakan sewanya (sudah dihampar). Banyak warung makanan dan asongan (sayangnya ini cukup mengganggu karena terlalu banyak), jadi jangan kuatir kehausan atau kelaparan. Masalah harga dan rasa ya silakan tanggung sendiri.

Walk in Ragunan

Ada banyak angkutan umum yang singgah disini.

Transportasi utama adalah Bis Transjakarta koridor 6 (Ragunan – Dukuh Atas).

Jika dari Pulogadung, naik koridor 4, turun halte Halimun, pindah koridor 6, kemudian keluar ke Halte Dukuh Atas 2, karena koridor 6 yang ini dari Ragunan. Lalu pindah ke koridor 6 juga, tapi arah sebaliknya, yang ke Ragunan.

Jika dari Blok M, ini agak muter, karena jika naik Koridor 1, harus transit ke Dukuh Atas ke Dukuh Atas 2, untuk pindah ke Koridor 6 tujuan Ragunan. Jadi secara jarak lebih baik nggak pake Busway, melainkan naik Metromini 77 jurusan Ragunan Blok M.

Jika dari Kalideres, naik Koridor 3, turun di Halte Dukuh Atas, kemudian naik koridor 1, dan transit ke Dukuh Atas ke Dukuh Atas 2, untuk pindah ke Koridor 6 tujuan Ragunan.

Jika dari Kampung rambutan, naik Koridor 7, pindah ke Koridor 9 di Halte Pasar Kramatjati, turun di Halte Kuningan Barat, jalan ke Halte Kuningan Timur, akhirnya akan ketemu Koridor 6 disitu yang menuju Ragunan.

Jika dari Lebak Bulus…. mendingan nggak naik busway dari situ deh. Soalnya akan dibawa dulu ke Harmoni, padahal kan udah dekat Ragunan….. jadi  naik Kopaja P20 ke Mampang, dari situ naik Busway Koridor 6 ke Ragunan. Atau kalo mau langsung dari lebak bulus naik saja KWK 011 jurusan Pasar Minggu.

Selain Busway, banyak Angkutan lainnya. Jika dari Tanah Abang, bisa naik Kopaja 19 dan Kopaja 985 yang melalui Blok M. Kalau dari Kampung Melayu bisa naik Kopaja 68 dan 602 yang melalui Pasar Minggu. Dari Depok bisa ke Pondok Labu dulu (naik 105 atau S16), terus bisa naik Kopaja atau Mikrolet M20 ke Ragunan, atau dari Cinere naik 61.

Jika Dari Taman Mini bisa naik Mikrolet Merah (KWK) 15A.

Jika naik KRL, stasiun yang terdekat adalah stasiun Tanjung Barat atau Stasiun Pasar Minggu. Untuk pilihan angkutan, mendingan ke Stasiun Pasar Minggu, karena dekat terminal, meskipun di Stasiun Tanjung Barat lebih cepat karena jalur menuju Ragunan searah, naik KWK S15.

2. Monas

Belum ke Jakarta namanya kalo belum pernah ke Monumen Nasional (Monas), tugu setinggi 132 meter.  Tugu ini dimahkotai lidah api yang dilapisi  emas.  Monas dibuka setiap hari mulai pukul 08.00 – 15.00. Pada hari Senin pekan terakhir setiap bulannya ditutup untuk umum. Di Ruang Kemerdekaan di Monas, disimpan naskah asli proklamasi.

Lokasinya sangat strategis karena di tengah kota dan dekat Stasiun Gambir. Disana ada Diorama Sejarah Perjuangan Bangsa, taman, dan melihat Jakarta dari Puncak Monas. Kalau hari Minggu pagi banyak orang berjualan dan berolahraga.

Monas, lanskap Jakarta

Angkutan Utama adalah KRL, turun Stasiun Gambir. Dari situ Monas sudah kelihatan. Namun karena saat ini (sebelum single operation KRL), cuma KRL Ekspres yang berhenti di Monas. Kalo KRL lain berhenti didekat situ (stasiun Juanda atau Gondangdia terus naik Bajaj/ojek). Nanti kalo single operation berjalan, dari semua stasiun jalur Depok/Bogor bisa, misalnya dari Pasar Minggu, dari Lenteng, dari Cawang.

Kalo naik Busway,  yang lewat Gambir/Monas adalah Koridor 2. tapi jangan lupa tanyakan transitnya. Misalnya dari Cawang, naik koridor 9 ke halte Semanggi, transit ke halte Benhil (Bendungan Hilir), terus naik koridor 1 ke halte Harmoni untuk pindah ke Koridor 2, sampe ke halte senen, pindah koridor 2 arah sebaliknya.

Kalau naik bis biasa, misalnya dari Blok M, naik PPD P42 tujuan Senen. Kalo dari Kampung Rambutan naik aja PPD PAC79 jurusan Kota. Dari Slipi bisa naik P77. Tapi pengalaman saya, paling enak memang busway.

3. Ancol

Ini tempat wisata yang populer banget. Ada Dunia Fantasi, Gelanggang Samudra, Seaworld, Kolam Renang (atlantis), Pasar Seni, Outbond, dan tentu saja pantai.

Halilintar di Dufan

Tempat ini bisa dijangkau KRL langsung dari Bogor/Depok dan Bekasi, namun khusus hanya hari Minggu. Jadwalnya silakan lihat di sini. Kalo pas bukan hari Minggu, bisa turun di Stasiun Jakarta Kota, lalu naik Mikrolet 15A jurusan Priuk. Atau turun di Stasiun Senen, lalu naik Busway Koridor 5 tujuan Ancol.

Bus Transjakarta juga nggak mau ketinggalan . Koridor 5 siap mengantar sampai Ancol, tinggal tanyakan saja transit di mana. Umumnya transit di halte Senen.

Kalo naik angkutan umum biasa, bisa dari Kampung Rambutan naik PPD P31, jurusan Kampung Rambutan – Ancol. Kalo dari Blok M naik aja Steady Safe 116 atau Jasa Utama P125 jurusan Tanjung Priuk (kalo bis itu masih ada). Kalo dari Grogol naik PPD P32 jurusan Ancol.

Karena wahananya sangat banyak di Ancol, sebaiknya berangkat pagi. Jika mau masuk ke Dufan, siap-siap bawa baju ganti, karena banyak permainan basah-basahan, dan tentu saja uang yang cukup, karena rata-rata tiket di Ancol relatif mahal bagi masyarakat kebanyakan. Maka itu kalau sudah kesana ya seharian, sayang duitnya udah bayar mahal kalo, cuma sebentar (masa kalah sama naik bis P54, bayar cuma Rp 2.500, bisa 3 jam).

4. Taman Mini Indonesia Indah

Ini tempat wisata legendaris. Disini sambil berwisata juga belajar mengenal daerah-daerah di Nusantara. Nggak perlu keliling Indonesia, cukup mampir di anjungan-anjungan yang mewakili provinsi-provinsi di Indonesia, hanya dengan merogoh kocek Rp 10.000.

Seulawah di TMII

Selain itu, ada museum-museum yang bisa menambah pengetahuan, biar nggak kuper. Contohnya ada Museum Transportasi (ini yang pas dengan blog ini), Museum Listrik, Museum Keprajuritan, Museum Komodo dan banyak lagi. Selain itu ada Snow bay tempat berenang, Teater Imax, Taman Burung. Ada Aeromovel (yang cuma ada 2 didunia, satunya lagi di Brasil), Kereta Gantung, dan…. wah pokoknya banyak coba klik aja http://www.tamanmini.com.

sepur kluthuk di museum transport TMII

Mau kesana gampang, angkutannya bisa pake metromini T45 dari Pulogadung. Dari Bekasi bisa naik KWK40 jurusan Kampung Rambutan. Kalau dari arah selatan, misalnya Ragunan, bisa naik KWK S15 A. Dari Depok, silakan naik KWK S19. Dari Cililitan bisa naik KWK T01, T02 dan T05.

Meskipun gak ada jalur KRL, jangan kuatir masih ada busway, yaitu Koridor 9, Pinang Ranti-Pluit. Kalo dari Blok M misalnya, bisa naik koridor 1, terus berhenti di Halte Benhil, dan pindah ke Halte Semanggi. Disini anda akan melewati transit busway terpanjang di indonesia. Terus naik Koridor 9 menuju Pinang Ranti, dan turun di Halte Garuda (TMII).

Empat dulu yah…nanti dilanjutkan lagi dengan obyek wisata lain. Capek kan keliling satu obyek wisata aja bisa makan waktu seharian.